Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #85



Erina dan Bisma tiba di mansion jam empat sore, mereka sengaja mengambil penerbangan sore supaya bisa lebih lama menikmati keindahan pulau Dewata. Erina merasa sangat puas dengan liburan mereka kali ini, Bali sudah menjadi saksi di mulai nya kehidupan baru nya bersama Bisma sebagai pasangan yang saling mencintai.


"Maya?" Panggil Erina ketika keluar kamar dan melihat Maya berjalan melewati kamar nya.


Erina baru selesai membereskan pakaian nya dan juga Bisma ke dalam lemari, kebetulan di tempat menginap mereka tersedia laundry sehingga Erina dan Bisma tidak perlu membawa pakaian kotor ke mansion, semua pakaian sudah di laundry.


"Sayang ..." Ucap Bisma tiba-tiba memeluk Erina dari belakang sehingga menyela Erina dan Maya, pria itu baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, bahkan rambut nya masih terlihat basah.


Tadinya, Bisma berniat mengajak Erina istirahat, tapi berhubung Erina keluar dari kamar, Bisma akhirnya mengikuti sang istri. Maya menunduk tidak berani melihat mereka karena takut mendapat teguran dari majikan laki-laki nya.


"Jangan seperti ini, mas." Ucap Erina pelan, namun Bisma seperti tidak mendengarkannya. "mas, tidak enak di lihat Maya." Erina semakin memelankan suaranya, bahkan nyaris berbisik dan Bisma sama sekali tidak menggubris nya.


"Mas!" Erina meninggikan suaranya, Bisma tidak bisa diajak bicara baik-baik dan membuatnya geram, masalahnya Erina tidak enak dengan keberadaan Maya, terlebih Erina yang memanggil maid itu dan membuat langkahnya terhenti.


Bisma berhenti memeluk Erina dengan bibir yang di tarik ke bawah, tadi siang saat mereka masih di Bali Erina masih bersikap manis padanya, bahkan beberapa menit sebelum Bisma mandi wanita itu masih bersikap sangat baik, tapi sekarang berubah hanya karena kehadiran Maya.


Erina sempat melihat ekspresi wajah Bisma sebelum bicara kepada maid yang masih menundukan wajahnya itu. "Maya, tolong kamu panggil yang lain kesini, aku memiliki sedikit hadiah untuk kalian." Ucap Erina mengabaikan Bisma yang sekarang terlihat menyedihkan.


"Baik, nyonya. permisi." Ucap Maya, lalu wanita itu bergegas pergi tanpa mau berlama-lama berada disana, Maya takut majikan laki-lakinya kembali membuat dirinya dan yang lain susah, Bisma terlihat sedang kesal di mata Maya.


"Mas, jangan bersikap seperti tadi di depan Maya atau orang bayaran kamu lainnya." Ucap Erina mengingatkan setelah memastikan Maya menjauh dari tempat mereka berdiri, sikap Bisma benar-benar sudah membuat Erina tidak nyaman.


"Oh, baiklah." Sahut Bisma langsung mengubah ekspresi wajahnya, lalu menarik tubuh Erina ke dalam pelukannya, sekarang Bisma bisa lebih leluasa memeluk tubuh munggil istrinya dengan posisi mereka yang saling berhadapan.


"Mas ..."


"Tidak ada orang bayaranku disini." Ucap Bisma menyela Erina, sepertinya Erina sudah salah bicara, Bisma memang lebih sering menempel semenjak liburan ke Bali atau mungkin semenjak bulan madu kedua mereka di pulau Dewata.


Well, tujuan utama Erina dan Bisma pergi ke Bali memang untuk bulan madu atau mengganti bulan madu mereka di Korea selatan yang kurang lancar, hanya saja Bisma sengaja memakai liburan sebagai topeng untuk tujuan utamanya.


"Baiklah, tapi mereka pasti akan datang kesini, jadi bisa lepaskan pelukan kamu?" Tanya Erina tanpa menolak pelukan suaminya, Erina hanya menunggu Bisma melepaskan pelukan itu, tapi Bisma masih enggan melepaskan pelukannya.


"Lima menit, tolong biarkan mas memelukmu, baru setelah itu mas akan melepaskan kamu, hm?" Ucap Bisma berusaha negosiasi dan malah semakin mendekap tubuh Erina. Bukan apa-apa, Bisma hanya sedang ingin memeluk Erina.


"Bagaimana kalau mereka datang?" Tanya Erina, namun tangannya bergerak menyentuh punggung Bisma dan membalas pelukan suaminya itu. Erina tidak bisa membayangkan saat mereka memiliki anak nanti. memanja dua orang sekaligus?


"Mas yakin mereka akan datang setelah mas puas memelukmu." Jawab Bisma sambil tersenyum melihat keempat wanita yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka, keempat maid sudah datang, tapi Bisma berpura-pura tidak tahu.


Bisma bukan sengaja pamer kemesraan dengan istrinya, dia melakukan itu untuk mengobati rasa kesalnya karena tadi Erina membentaknya di depan Maya, lagipula Bisma juga sudah lama tidak menjahili maid di mansionnya.


"Mas, sudah lima menit." Ucap Erina, padahal mereka baru dua menit saling berpelukan, Erina hanya merasa harus berjaga-jaga barangkali Maya dan yang lainnya lebih cepat datang, Erina tidak ingin menjadi bahan tontonan para maid.


Erina tidak melihat para maid karena posisinya saat ini sedang membelakangi keempat wanita itu, Erina berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Bisma, tapi hasilnya nihil. Semakin Erina berusaha, Bisma semakin memeluknya erat.


"Sayang, kenapa kamu sangat khawatir mereka melihat kita seperti ini? kita sudah menikah, mas yakin mereka juga akan mengerti!" Ucap Bisma sambil menahan tawa melihat para maid yang menunduk tidak berani menatap padanya.


Keempat dayang istrinya benar-benar membuat Bisma gemas, tidak salah Bisma memilih untuk mempertahankan mereka. Selain Bisma di kelilingi banyak wanita cantik, Bisma juga bisa mengerjai dan menjahili mereka berempat.


Bisma tidak bermaksud memuji wanita lain selain istrinya, memang kenyataannya semua wanita di dunia ini cantik, hanya saja tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Erina, istri Bisma itu bukan hanya wajahnya yang terlihat cantik.


"Mas, aku hanya ingin memberikan oleh-oleh kepada mereka. tolong lepaskan pelukanmu, kita bisa melanjutkannya di kamar setelah aku selesai dengan oleh-oleh itu." Ucap Erina membujuk Bisma supaya melepaskan pelukan nya.


Bisma melepaskan pelukannya, Erina nyaris tidak percaya Bisma mempan terhadap bujukan seperti itu, tapi Erina juga merasa senang akhirnya bisa terlepas dari pelukan Bisma, Erina hampir saja mati dalam pelukan suaminya sendiri.


"Baiklah, kalian berempat cepat selesaikan urusan kalian dengan istriku." Ucap Bisma dan membuat Erina membalikan tubuhnya menatap keempat maid yang sudah berdiri tidak jauh darinya, sepertinya mereka sudah lama datang.


Erina kontan menatap Bisma. "Mas, apa mereka sudah lama berada disana? kenapa tidak daritadi mas mengatakan kedatangan mereka padaku, hm?" Tanyanya sedikit berbisik tidak ingin sampai Maya dan yang lainnya mendengar itu.


"Kamu tidak bertanya, makanya mas diam." Jawab Bisma memasang wajah sok polos dan berhasil membuat Erina memutar matanya. Meskipun perkataan Bisma masuk akal, Erina tetap kesal terhadap suaminya yang terkesan mengada-ada.


"Mas ..."


"Jangan terlalu lama bersama mereka, mas akan menunggu kamu di kamar." Ucap Bisma tidak membiarkan Erina protes, lalu pria itu bergegas masuk ke dalam kamar dan berniat menunggu Erina disana untuk melanjutkan yang tertunda.


Erina mendengus tidak percaya, Bisma pergi begitu saja setelah membuatnya malu di depan para maid, tapi Erina memilih untuk menebalkan muka, lalu meminta maid menunggu sebentar saat Erina mengambil oleh-oleh di kamar.


Erina masuk kedalam kamar setelah memberikan oleh-oleh yang dia beli dari pasar seni ubud, tidak lupa Erina juga memberikan makanan khas pulau Dewata pada mereka. Erina harap Maya dan yang lainnya menyukai hadiah kecil darinya itu.


"Sudah selesai?" Tanya Bisma berpura-pura fokus terhadap laptop meskipun sebenarnya pria itu sudah menanti kedatangan Erina, bahkan sedari tadi Bisma terus memperhatikan Erina yang keluar masuk kamar melalui sudut matanya.


"Mas, bisa antar aku ke tempat ibu Maria?" Tanya Erina tanpa menjawab pertanyaan Bisma. Karena wanita itu percaya Bisma mengetahu jawabannya, Erina menyadari saat Bisma terus memperhatikan dirinya. "aku akan mengantar oleh-oleh ..."


"Besok saja, sekarang kemarilah." Ucap Bisma memotong perkataan Erina, lalu Bisma menutup laptop di pangkuannya dan menatap Erina. Bukan sedang di pengaruhi hasratnya, Bisma hanya ingin menagih janji Erina kepadanya.


Lagipula, Bisma tidak berniat melakukan apapun selain mengajak Erina istirahat dan memeluk wanita itu, Bisma bukan pria kejam yang akan meminta macam-macam saat istrinya kelelahan, mereka baru tiba di mansion satu jam yang lalu.


Sebenarnya, Erina ingin menemui ibu Maria bukan sekedar untuk memberi oleh-oleh atau melihat keadaan pengasuh suaminya itu, Erina juga ingin memastikan bahwa mimpinya tadi malam tidak berarti apapun selain bunga tidur.


Erina bermimpi ibu Maria menitipkan Bisma, wanita tua itu mengatakan sudah waktunya beliau pergi, Erina khawatir mimpi itu pertanda sesuatu, ibu Maria sedang sakit parah, makanya Erina ingin memastikan ibu Maria baik-baik saja.


"Baiklah, sesuai permintaanmu ratuku." Ucap Bisma, lalu pria itu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Erina. "tapi kamu harus berjanji akan istirahat setelah menemui ibu Maria." lanjutnya memberi Erina syarat.


Erina mengangguk semangat dan langsung menggapit tangan Bisma, lalu mereka berjalan menuju pavilun belakang tanpa mengatakan apapun lagi, Erina berdoa dalam hati berharap tidak terjadi apapun terhadap ibu Maria.


Bisma menyadari sesuatu yang tidak beres, Erina sepertinya lupa membawa oleh-oleh yang katanya ingin di berikan kepada ibu Maria, tapi Bisma memilih untuk tidak mengingatkan istrinya barangkali melupakan tentang hal itu.


"Erin ..." Bisma menghentikan perkataannya ketika tiba di depan paviliun dan mendengar suara gelas terjatuh dari dalam sana. Tadinya Bisma berniat menanyakan alasan Erina tiba-tiba ingin menemui ibu Maria di paviliun nya.


Tapi, suara gaduh di dalam paviliun membuat perhatian Bisma teralihkan, pria itu berlari masuk ke dalam pavilun dengan di ikuti Erina di belakang nya, kebetulan pintu paviliun tidak terkunci sehingga mereka berdua bisa masuk.


"Ibu ..." Suara Bisma tercekat ketika melihat ibu Maria terjatuh di lantai dengan pecahan gelas di samping wanita tua itu. Bisma bergegas menghampiri ibu Maria dan membawa kepala ibu pengasuh itu ke dalam pangkuannya.


"Mas, apa yang terjadi?" Tanya Erina ketika tiba di tempat suaminya dan Erina langsung mendekati Bisma sehingga bisa melihat dengan jelas wajah pucat ibu Maria dan juga wajah panik Bisma yang saat itu memeriksa denyut nadi ibu Maria.


Bisma tiba-tiba menjatuhkan tangan ibu Maria dengan pandangan yang terlihat kosong. Erina yang melihat itu ikut merasa panik, melihat dari ekspresi Bisma sepertinya terjadi sesuatu dan membuat Erina ikut memegang tangan ibu Maria.


"Mas ..."


"Ibu Maria sudah pergi." Ucap Bisma menatap kosong Erina yang juga sedang menatap padanya. Erina menutup mulutnya dengan telapak tangan, tidak menyangka bahwa mimpinya tadi malam benar-benar menjadi kenyataan.


"Mas, apa ini benar terjadi? mungkin kita salah, aku akan menelpon dokter!" Erina berniat beranjak pergi untuk mengambil ponsel yang dia tinggalkan di kamar, tapi tangan Bisma lebih dulu menahan tangannya, lalu pria itu mengatakan.


"Tidak ada gunanya menelpon dokter, ibu Maria sudah benar-benar pergi meninggalkan aku, sama seperti ibuku dan yang lainnya. ibu Maria juga meninggalkan aku sendirian."


×××××××××××××××××××××××××××××××××××××××


Leo baru saja keluar dari apartemen Krystal saat mendapat telpon dari Bisma, pria itu memang tidak langsung pulang ke apartemen dan mampir ke apartemen tunangan nya lebih dulu, tadinya hanya untuk membantu mengangkat koper, tapi Krystal menahannya selama sekitar satu jam.


"Ya, Bisma. ada apa?" Tanya Leo terdengar ketus, Leo masih kesal terhadap Bisma mengingat kejadian kemarin saat Leo terusir dari kamar sahabatnya itu. Bisma mengusir Leo tanpa mengucapkan terimakasih sudah mengkemas.


"Leo, ini aku. bisa datang ke mansion? mas Bisma mungkin membutuhkanmu." Sahut seorang wanita dari sebrang telpon, Leo meyakini bahwa wanita itu adalah Erina, istri Bisma terdengar menahan tangis entah apa yang sedang terjadi.


Leo mungkin akan langsung menolak datang ke mansion Bisma kalau saja Erina menelpon dengan lebih tenang, tanpa melihat wajahnya pun Leo tahu Erina sedang panik dan hampir menangis, apa mungkin Erina dan Bisma kecelakaan?


Tidak! sepertinya bukan itu alasannya, Erina tidak mungkin meminta Leo datang ke mansion kalau memang Erina dan Bisma mengalami kecelakaan, sepertinya terjadi sesuatu terhadap Bisma, apa mungkin Bisma terjatuh dari tangga?


"Leo, kamu mendengarku? aku mohon datanglah ke mansion, ibu Maria meninggal dan mas Bisma tidak bisa aku ajak bicara, keberadaanmu benar-benar di butuhkan! aku bingung harus bagaimana sekarang?" terdengar isakan di akhir kalimatnya.


Leo tertegun untuk beberapa, lalu pria itu mengatakan akan datang ke mansion Bisma dan mematikan sambungan telpon mereka, Leo berbalik menatap pintu apartemen Krystal dan hendak mengetuk pintu, tapi Leo mengurungkan niatnya dan berlari meninggalkan tempat itu.


Leo sangat tahu bagaimana pentingnya ibu Maria untuk Bisma, selain Bisma menganggap ibu Maria sebagai pengganti ibunya yang sudah lebih dulu meninggal, Bisma juga berusaha menjaga ibu Maria untuk menepati janjinya kepada Karina, sahabatnya pasti terpukul dan merasa bersalah.


Leo tiba di mansion Bisma setelah lima belas menit menempuh perjalanan, berhubung Leo tidak menemukan keberadaan Bisma dan Erina atau maid di dalam mansion, pria itu akhirnya bergegas pergi ke paviliun karena Bisma dan Erina berkemungkinan besar berada disana.


"Leo, akhirnya kamu datang, mas Bisma ada di dalam, aku sudah berusaha bicara padanya, tapi mas Bisma terus mengabaikanku." Ucap Erina ketika Leo tiba di depan paviliun ibu Maria, wanita itu terlihat sangat sedih mengatakannya.


"Mas Bisma juga melarang mang Asep dan yang lainnya menyentuh jenazah ibu Maria." Lanjut Erina masih dengan ekspresi yang sama.


Leo tidak memberikan tanggapan berarti, dia hanya menepuk pelan bahu Erina dan berjalan masuk ke dalam paviliun. Leo bisa melihat sahabat bodohnya hanya terdiam menatap mayat ibu Maria, posisi Bisma masih sama seperti saat pertama kali mengetahui ibu Maria meninggal.


Erina menyusul dari belakang tubuh Leo, melihat suaminya benar-benar membuat Erina sedih, Erina belum pernah melihat Bisma hancur seperti itu atau mungkin Erina tidak menyadari kalau dirinya pernah membuat keadaan Bisma seperti sekarang saat Erina akan meninggalkannya.


"Bisma, semua orang akan mati, kenapa kamu seperti ini dan membuat istrimu khawatir? kamu tahu istrimu sampai panik menelponku?" Ucap Leo seolah mengomeli Bisma, padahal Leo sendiri sedih melihat ibu Maria berbaring di lantai.


Meskipun ibu Maria hanya wanita yang di bayar untuk menjaga Bisma, hubungan Leo dan ibu Maria sangat baik. Karena ibu Maria juga memperlakukan Leo seperti anaknya sendiri. Leo nyaris tidak percaya ibu Maria pergi secepat ini.


Bisma menatap Leo sebentar, lalu pria itu beralih kepada Erina yang berdiri di belakang sahabatnya dan Bisma baru menyadari istrinya menangis. "Erin, mas minta maaf, maaf sudah membuat kamu khawatir, mas benar-benar minta maaf."


××××××××××××××××××××××××××××××××××××


"Kesedihan abadi itu adalah salah satu bukti bahwa kamu tidak tahu caranya untuk move on."


"Tidak salah kamu menginginkan kebahagiaan, yang salah itu ketika kamu ingin bahagia tanpa mau mengikuti proses. Hey, tidak ada satupun yang instan di dunia ini."


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dan follow akun mangatoon aku. thanks ❤


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: lightqueensha.