Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #81


Leo mengeryitkan dahi ketika melihat Krystal mengambil beberapa makanan dan minuman dari minibar yang tersedia di kamar itu, mereka baru makan malam bersama di restoran, tapi sepertinya Krystal belum juga merasa kenyang.


"Krystal, kamu yakin mau makan itu semua?" Tanya Leo melihat begitu banyaknya makanan dan minuman yang Krystal ambil dari minibar.


Krystal melihat makanan dan minuman yang memenuhi kedua tangannya, sebenarnya Krystal tidak terlalu yakin bisa menghabiskan semua itu, Krystal sengaja mengambil banyak makanan dan minuman hanya untuk mengalihkan pikirannya.


"Hm, kamu tenang saja, aku pasti akan membayar makananku sendiri." Lalu Krystal membawa makanan dan minuman di tangannya ke balkon.


Leo tertawa pelan mendengar penuturan Krystal barusan, sepertinya Krystal percaya tentang 'mengirit pengeluaran', Leo tentu saja tidak keberatan Krystal mengambil semua itu, lagipula Bisma yang nanti akan membayar semuanya.


Jangan salah paham! Leo juga tidak keberatan membayar semua yang Krystal ambil, Leo memiliki cukup banyak uang untuk membayar semua yang akan Krystal makan, tapi Leo kurang yakin perut kecil Krystal bisa menampungnya.


"Leo, kamu tidur duluan, aku akan menghabiskan makananku terlebih dahulu." Teriak Krystal dari arah balkon, suaranya terdengar begitu nyaring.


Leo mendesah tidak percaya, ternyata Krystal berusaha menghindar dengan makanan dan minuman itu sebagai alasannya. Krystal pasti tidak ingin berada dalam suasana canggung ketika mereka berdua tidur di ranjang yang sama.


Leo mengikuti Krystal ke balkon, lalu duduk di samping wanita itu, kebetulan terdapat sofa untuk mereka bersantai disana. Krystal mengumpat dalam hati karena Leo mengikutinya dan hanya melirik pria itu dengan sudut matanya.


"Krystal, apa kamu tidak merasa kalau kita memiliki banyak hal yang perlu di bicarakan?" Tanya Leo tanpa melihat lawan bicaranya.


"Leo, kamu tidur duluan saja, aku masih ingin--"


"Kita berdua sudah tunangan, tapi entah kenapa aku selalu merasa kalau kita hanya orang asing." Ucap Leo menginterupsi perkataan Krystal.


Krystal membatalkan niatnya untuk membuka bungkus snack di tangannya, lalu menatap Leo yang masih menatap lurus ke depan. Bukan hanya Leo yang merasakan itu, Krystal juga merasa hubungan mereka seperti tidak berarti apapun.


"Itu hanya perasaanmu. Leo, aku tidak berniat menghindarimu, aku kesini hanya untuk makan." Ucap Krystal dan membuat Leo mendengus.


"Barusan kamu menjelaskan kalau kamu memang berusaha menghindariku." Ucap Leo kesal, lalu menatap lawan bicara sekaligus tunangannya itu.


Tidak seperti yang ada dalam pikiran Erina atau yang lainnya, hubungan Leo dan Krystal terkesan kaku meskipun mereka sudah bertunangan. Leo sampai merengek supaya Bisma memesan dua kamar karena ingin lebih dekat dengan Krystal.


Bayangkan saja! Leo harus datang langsung ke apartemen Krystal hanya untuk mengetahui tunangannya masih hidup atau tidak. Karena alat komunikasi tidak terlalu berfungsi untuk mereka, Krystal tidak pernah mau menghubungi Leo.


Leo tidak pernah menceritakan itu kepada Bisma atau siapapun sehingga tidak ada yang tahu kalau Leo dan Krystal masih seperti orang asing, mereka masih sangat kaku dan tidak seperti pasangan yang sudah bertunangan lainnya.


"Jangan menggigit bibirmu!" Ucap Leo menegur ketika Krystal sedang menggigit bibir bawahnya.


"Krystal, aku bilang jangan menggigit bibirmu!" Leo mengulangi perkataannya karena Krystal masih terus menggigit bibirnya. Krystal bukan sengaja membantah Leo, dia hanya terbiasa menggigit bibirnya ketika bingung untuk bicara.


"Krys ..." Leo menggeram, dia merebut snack dari tangan Krystal kemudian membuka bungkusnya dan mengembalikan snack itu kepada Krystal. "Makan saja ini! jangan menggigit bibirmu!"


Leo mengalihkan pandangannya karena tidak ingin terlalu lama melihat bibir Krystal, dia takut tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium bibir itu. Karena Leo masih termasuk pria normal yang memiliki hasrat yang harus terpenuhi.


Krystal berdecak dan menatap snack itu tanpa berniat mengambilnya. Krystal merasa kesal terhadap sikap Leo padanya, Leo tidak pernah bersikap romantis dan hanya terus membuatnya merasa canggung saat mereka bersama.


Memang benar yang orang lain katakan, menjalin hubungan bersama mantan kekasih akan berbeda rasanya dengan pertama kali mereka pacaran. Meskipun hubungan Krystal dan Leo lebih serius dari sebelumnya, tetap tidak ada yang spesial.


Krystal ingin kembali seperti dulu saat mereka masih kuliah, Leo selalu berhasil menciptakan suasana romantis meskipun saat itu Leo membohongi Krystal, tapi setidaknya mereka tidak pernah tidak memiliki bahan pembicaraan.


Dulu, hampir setiap hari Leo mengucapkan kata-kata manis saat bertemu Krystal, tapi sekarang hubungan mereka sudah seperti sayur tanpa garam. Hambar. Dan lagi, pembicaraan diantara mereka hanya sebatas hal ringan.


"Kamu saja yang makan, aku sudah tidak lapar." Krystal beranjak dari sofa, lalu berjalan masuk menuju kamar dan meninggalkan Leo yang memandanginya dengan tatapan bingung.


Leo sama sekali tidak tahu alasan Krystal terlihat begitu kesal. Leo merasa dirinya lebih berhak untuk itu. Karena Krystal sengaja menghindar ketika Leo berusaha untuk lebih dekat. Lihatlah! bahkan Krystal sengaja meninggalkan Leo.


Leo melihat snack yang ada di tangannya, lalu menghembuskan nafas berat. Tadinya Leo membuka bungkus snack itu supaya Krystal berhenti menggigit bibirnya, Leo tidak ingin sampai lepas kendali dan meniduri Krystal.


Leo memang brengsek saat masih kuliah, dia berkomitmen cinta berarti harus mau naik ke ranjangnya. Leo memiliki banyak kekasih juga karena hampir semua gadis yang menyukai Leo dengan suka rela naik ke ranjang pria itu.


Tapi, Leo memberi pengecualian untuk Krystal, Leo sama sekali tidak tertarik membawa wanita itu ke ranjangnya. Ah ralat! Leo pernah ingin mengajak Krystal ke ranjangnya, tapi kemudian Leo sadar bahwa Krystal tidak pantas untuk itu.


Leo sangat menghargai Krystal, dia tidak ingin menyentuh wanita itu sebelum saksi pernikahan mengucapkan kata sah. Leo ingin malam pertama mereka benar-benar menjadi malam pertamanya menyentuh setiap inci tubuh calon istrinya itu.


Leo mengambil ponselnya dari saku celana dan berniat mencari sesuatu yang menarik disana, lalu tidak lama ada orang mengirim pesan via whatsapp. Leo langsung membuka pesan itu, ternyata hanya pesan singkat dari Bisma.


Bisma: awas khilaf!


Leo mendecih tanpa berniat membalas pesan dari sahabatnya itu, Leo kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku karena tidak ada hal menarik yang bisa di temukan, lalu Leo berbaring di sofa yang di desain khusus untuk bersantai.


Sebelum memesan kamar, Leo menarik tangan Bisma supaya menjauh dari tempat resepsionis, kebetulan saat itu Erina dan Krystal sedang pergi ke toilet sehingga Leo memiliki kesempatan untuk mengajak Bisma bekerjasama dengannya.


"Bisma, bisa bantu aku?" Tanya Leo memasang wajah semelas mungkin supaya Bisma mau berbaik hati membantunya.


Bisma mengangkat sebelah alisnya, tidak biasanya Leo meminta bantuan sambil memasang ekspresi menjijikan seperti itu, Bisma hanya memandangi Leo tanpa mengatakan apapun.


"Bisma, ayolah! tolong bantu aku sekali ini saja!" Leo merengek sambil memasang ekspresi yang lebih menjijikan dari sebelumnya. Bisma ingin sekali muntah melihat wajah itu.


"Baiklah. Memang bantuan seperti apa yang kamu inginkan?" Tanya Bisma masih setia terhadap wajah datarnya. Bisma benar-benar merasa mual kalau terus menatap wajah memohon Leo.


Bisma berpikir sejenak, dia mengira Leo meminta bantuan untuk hal-hal yang merepotkan, tapi ternyata hanya ingin memesan dua kamar. Tentu saja Bisma tidak keberatan untuk itu, membayar sewa kamar tidak akan membuatnya bangkrut.


"Kalau masalah itu, kamu tenang saja aku sudah memesan dua kamar untuk kalian berdua." Ucap Bisma sambil mengangkat sedikit sudut bibirnya.


Leo mengerti 'kalian' yang Bisma maksud, tapi bukan itu yang Leo inginkan. "Tidak! bukan begitu maksudku, aku tahu kamu sudah memesan dua kamar untuk aku dan Krystal, tapi ..."


Leo menggantung kalimatnya dan melihat ke segala arah barangkali ada yang menguping pembicaraan mereka, lalu Leo mendekatkan bibirnya pada telinga Bisma dan berbisik sesuatu.


"Aku mau dua kamar itu untuk kita berempat supaya aku dan Krystal bisa tidur di kamar yang sama." Bisik Leo tepat pada telinga Bisma.


Bisma melotot, lalu menjauhkan dirinya dari Leo dan menatap sahabatnya itu. "Kamu mau satu kamar dengan Krystal? jangan bilang kamu ..."


"Aku berjanji tidak akan macam-macam." Ucap Leo menyela perkataan Bisma dan membuat sahabatnya itu tertawa keras.


Bisma memang sempat berpikir Leo ingin satu kamar dengan Krystal untuk melakukan hal yang iya-iya, tapi perkataan Leo barusan benar-benar memberikan hiburan tersendiri.


"Kenapa harus mengatakan itu padaku? aku tidak melarang kamu untuk macam-macam, aku hanya tidak yakin istriku akan membiarkan kalian tidur bersama." Tutur Bisma dengan sisa tawanya.


"Istrimu tidak akan memperdulikannya." Ucap Leo yang merasa bahwa dirinya sangat mengenal Erina, wanita itu acuh terhadap apapun.


"Baiklah, tapi kalau kedua wanita itu protes kamu harus mengurusnya sendiri." Putus Bisma, lalu mereka kembali ke tempat resepsionis dan langsung mengambil kunci untuk dua kamar.


Leo meringis mengingat itu semua, ternyata Bisma bisa menyebalkan juga. Ah tidak! selama ini Bisma memang menyebalkan, tapi sekarang Bisma menyebalkan untuk hal yang berbeda. Jangan khilaf katanya? Leo bahkan kesulitan untuk sekedar mengobrol dengan Krystal.


Sementara itu Bisma menatap layar ponselnya yang terdapat hasil ketikan Erina disana. Bisma tidak menyangka Erina menghabiskan waktu dua belas menit hanya untuk mengetik kata awas dan khilaf yang di akhiri oleh tanda seru itu. Bisma menarik sudut bibirnya, Erina benar-benar lucu.


Ya, memang bukan Bisma yang mengetik pesan itu melainkan Erina, ternyata Leo salah menduga Erina tidak akan peduli, Erina ternyata sangat peduli mengenai Leo dan Krystal yang tidur satu kamar, Erina sampai berpikir keras hanya untuk mengetik pesan supaya Leo tidak macam-macam.


Erina tidak berniat ikut campur, dia hanya mengkhawatirkan masa depan Krystal, bagaimana pun mereka sama-sama wanita. Meskipun Leo dan Krystal sudah bertunangan, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap hubungan itu, Erina takut Krystal menyesal.


Lagipula, Leo dan Krystal harus ingat tentang dosa yang akan mereka berdua tanggung kalau sampai berhubungan badan tanpa terikatan pernikahan. Erina juga berniat baik untuk mengingatkan saudara seagamanya. Bukankah lebih baik berhubungan badan setelah menikah?


"Mas, kenapa kamu tersenyum?" Tanya Erina sambil memicing curiga kepada Bisma yang sedang tiduran di pangkuannya.


"Tidak apa-apa." Jawab Bisma, lalu menyimpan ponsel itu ke samping tempat tidurnya. "Sudah malam, ayo tidur, besok kita pergi ke pantai."


Bisma menggeser tubuhnya dan meletakan kepalanya di bantal supaya Erina yang sedang duduk juga bisa tiduran. Bisma menepuk bantal di sampingnya meminta Erina tidur disana, tapi sepertinya Erina masih enggan untuk tidur.


"Mas, bagaimana kalau sebelum tidur kita nonton? mas bawa laptop kan?" Tanya Erina tanpa menuruti Bisma untuk tidur disampingnya.


"Besok saja, sekarang kita tidur." Sahut Bisma yang menolak ajakan Erina secara halus.


"Mas ..." Erina merengek, ekspresi wajahnya hampir sama dengan yang Leo tunjukan, tapi Bisma tidak merasa hal itu menjijikan. Tentu saja karena Bisma mencintai Erina.


Bisma tidak tega membiarkan Erina terus merengek seperti itu, tidak biasa juga Erina sampai mau memohon padanya dan Bisma merasa harus menuruti keinginan istrinya.


"Baiklah." Bisma bangun dan mengambil laptop, lalu meletakan benda itu di pangkuannya. "Kamu mau nonton apa, hm?"


Erina tersenyum lebar dan mendekati suaminya bersiap untuk menonton. "Kita nonton Hotel del Luna, dramanya sangat bagus."


Erina sudah pernah menonton drama fantasi itu, tapi hanya sampai episode 5 dan Erina sangat penasaran dengan kisah di hotel del Luna selanjutnya, sekarang Erina bisa lebih berani menonton karena ada Bisma di sampingnya.


Bisma mengetik itu dengan semangat, setahu Bisma istrinya sangat menyukai drama Korea yang terdapat adegan-adegan dewasa di dalamnya, mungkin malam ini mereka akan terpancing untuk melakukan bulan madu kedua.


Tadinya, Bisma tidak berniat melakukan apapun di malam pertama mereka liburan di Bali, Bisma berniat membiarkan Erina beristirahat karena mungkin Erina kelelahan setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam.


Tapi, sepertinya Erina tidak merasa lelah dan Bisma merasa bahwa ini adalah kesempatan yang tuhan berikan supaya mereka melakukan usaha untuk memiliki anak malam ini, kita akan melihat apa yang terjadi setelah menonton drama.


"Baiklah, hotel del Luna, mari kita tonton." Ucap Bisma menantikan adegan dewasa dari drama Korea tersebut. Bisma tidak sabar menunggu hasil dari menonton drama ini, mungkin Bisma juga bisa belajar dari pemeran dramanya.


Bisma tidak tahu mengapa dirinya berubah mesum semenjak menikah dengan Erina, istrinya itu memang berhasil mengubah banyak hal dalam hidup Bisma, termasuk dunia yang Bisma miliki. Ha, Bisma selalu fokus terhadap pekerjaan sebelum menikahi Erina, tapi sekarang Bisma bahkan mau liburan demi menyenangkan Erina.


×××××××××××××××××××××××××××××××××××


"Kata teman saya, kebahagian bukan untuk dicari, tetapi diciptakan. Dan memang benar, tidak ada jalan untuk mencari kebahagiaan, tetapi selalu ada cara untuk bahagia dengan diri sendiri."


"Jangan mau berada di posisi memperbaiki kesalahan. Karena yang bisa kamu lakukan nanti hanyalah melakukan hal sebaik mungkin supaya dia teralihkan dari kesalahanmu sebelumnya."


"Kalau tawa berarti bahagia dan air mata berarti derita, lantas mengapa banyak orang yang tertawa sampai mengeluarkan air mata? setahuku kebanyakan dari mereka tidak menderita dan tidak sedang berusaha bahagia!"


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya: like, favorit dan share. Thanks ❤


Regards,


Nur Alquinsha A.