
Erina meringis ketika menginjakkan kakinya di Hello Kitty Island. Dia tidak menyangka Bisma serius mengajaknya ke tempat itu. Erina bisa melihat begitu banyak barang bergambar maupun berbentuk hello kitty disana.
"Bisma, kamu yakin mau kesini?" Tanya Erina. Dia tidak menyukai hello kitty sehingga tempat itu tidak begitu menarik baginya.
"Tunggu sebentar ..." Ucap Erina ketika ponselnya berdering bersamaan dengan Bisma yang akan menjawab.
"Soraya." Gumam Erina sambil melihat layar ponselnya. Ketika Erina berniat menjauhi Bisma, suaminya itu lebih dulu menahan kepergiannya.
"Mau kemana?" Tanya Bisma dengan lengan yang melingkar posesif pada pinggang Erina.
"Kamu bisa menerima telpon disini."
Erina akhirnya menerima telpon di depan Bisma. Meskipun sebenarnya dia takut Soraya akan melanjutkan pembicaraan mereka tadi malam.
"Assalamualaikum, Ray." Ucap Erina setelah menggeser ikon hijau di layar ponselnya dan menempelkan benda itu pada telinganya.
Bisma berusaha mencuri dengar. Dia sangat yakin bahwa tadi malam Soraya sudah mengatakan sesuatu yang membuat pikiran Erina terbebani.
"Waalaikumsalam. Erin, lo dimana?bisa bantu gue?" Bukan suara Soraya yang Erina dengar dari sebrang sana, melainkan suara Farhan.
Erina sempat melirik kearah Bisma sebelum menjawab.
"Gue di Seoul, Han. Kenapa?" Tanya Erina. Sementara Bisma hanya terus memperhatikan Erina.
"Gue kira lo ada di rumah, Rin." Ucap Farhan tanpa menjawab pertanyaan Erina. Dia sama sekali tidak tahu kalau sahabat istrinya ada di luar negara.
"Hm, enggak. memang kenapa, Han?"
Erina mendengar Farhan menghela nafas dan ada juga suara ... tangisan?
"Soraya menangis?" Tanya Erina spontan. Farhan tidak menjawab.
"Gue tutup, Rin." Ucap Farhan kembali mengabaikan pertanyaan Erina. Karena dia merasa tidak mungkin meminta Erina datang ke rumahnya.
"Tunggu!" Teriak Erina yang membuat Bisma terkejut. Pasalnya suami Erina itu sejak tadi sedang serius menguping pembicaraan Erina dan Farhan. Orang-orang melihat kearah Erina.
Farhan mengurungkan niatnya untuk mengakhiri sambungan telpon mereka. Meskipun sebenarnya Farhan sudah tidak memiliki keberanian bicara dengan Erina.
"Erin, ada apa?" Tanya Bisma. Dia tidak pernah mendengar Erina berteriak.
Erina mengabaikan Bisma, dia hanya peduli terhadap Farhan dan apa yang akan pria itu katakan. Sementara Bisma yang merasa terabaikan hanya mampu menghela nafasnya.
Bisma kembali berusaha menguping pembicaraan Erina dan Farhan dengan tangan yang masih setia pada pinggang Erina. Dia sangat takut Erina tiba-tiba pergi meninggalkannya.
"Soraya baik-baik aja, Rin. Lo have fun aja disana ..."
"Terus kenapa Soraya nangis kalau dia baik-baik aja?" Kejar Erina. Dia tidak bisa percaya begitu saja kepada Farhan. Dia mendengar dengan jelas suami Soraya itu meminta bantuan.
"Soraya cuma sedih kehilangan anak ..."
"Maksud lo?"
"Ya, Erin. Gue dan Soraya kehilangan anak pertama kami."
Erina merasa seluruh tubuhnya melemas. Dia hampir saja terjatuh jika Bisma tidak cepat menahan tubuhnya.
"Erin ..." Lirih Bisma. Dia mendengar jelas apa yang barusan Farhan katakan kepada Erina.
Farhan yang mendengar suara Bisma akhirnya kembali bicara dengan perasaan tidak enak.
"Tapi ini cuma masalah kecil, Erin. Lo enggak perlu khawatir." Ucap Farhan yang tidak ingin merusak liburan Erina bersama sang suami.
"Farhan, pasti gue secepatnya kesana." Lalu Erina memutuskan sambungan telpon mereka secara sepihak tanpa menunggu Farhan bicara.
Sementara Farhan hanya mampu menghela nafas. Farhan merasa sudah salah menelpon Erina. Dia sama sekali tidak bermaksud mengganggu, hanya saja Farhan kesulitan membuat Soraya tenang dan pria itu hanya mengenal Erina di Jakarta.
"Bisma, aku mau pulang." Ucap Erina sambil memberi tatapan sendu. Bisma mengangguk menyiakan.
"Pulang ke hotel ya?" Tanya Bisma. Dia turut berduka atas meninggalnya anak Soraya dan Farhan.
Tapi, entah mengapa Bisma tidak rela Erina datang ke rumah duka itu. Karena Bisma takut Soraya akan membawa Erina pergi darinya. Meskipun Erina baru saja berjanji tidak akan meninggalkannya. Bisma tetap merasa takut.
"Aku mau pulang ke Indonesia ..." Ucap Erina dengan mata sendu. Bisma perlahan membuang nafasnya.
"Erin, saya turut berduka cita atas meninggalnya anak sahabat kamu, tapi kita baru sebentar disini."
"Aku mohon ..." Suara Erina berubah lirih. Bisma tidak tega mendengarnya.
"Terimakasih."
"Hm, sekarang kita kembali ke hotel untuk bersiap."
Erina mendengar nada bicara Bisma berubah. Dan hal itu membuat hatinya tidak tenang.
Erina dan Bisma tidak saling bicara selama perjalanan pulang dari N Seoul Tower. Bahkan, Erina maupun Bisma masih terus terdiam setelah keduanya memasuki kamar hotel.
"Erin, tidak bisakah kamu memahami sedikit saja perasaan saya?"
"Bisma, aku minta maaf, tapi aku harap kamu mengerti."
Bisma dan Erina saling berbicara dalam hati, mereka berdua seperti tidak memiliki keberanian untuk bicara langsung. Bisma takut menyinggung perasaan istrinya. Sementara Erina takut melukai harga diri suaminya.
Bisma tahu seharusnya dirinya lebih mengerti Erina, istrinya pasti merasa sedih atas meninggalnya anak Soraya, tapi Bisma juga membutuhkan itu ... pengertian dari istrinya.
Erina tahu seharusnya dirinya lebih mementingkan Bisma, suaminya tidak ingin mereka kembali ke Indonesia dalam waktu dekat, tapi Soraya ... sahabatnya juga penting.
"Erin ..."
"Bisma ..."
Bisma dan Erina saling memanggil. Lalu setelah itu menunduk dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Erina menggigit bagian dalam bibir bawahnya. Sementara Bisma berdehem.
"Bisma maaf--"
"Tidak apa-apa, saya tahu Soraya lebih penting." Ucap Bisma memotong perkataan Erina sambil tersenyum. Erina merasa bersalah.
"Bukan begitu, kamu juga penting." Ucap Erina cepat.
"Tapi tidak lebih penting kan?" Tanya Bisma masih dengan senyuman namun tidak berani menatap mata Erina.
"Saya mengerti posisi saya di hatimu." Bisma melanjutkan perkataannya.
Erina merasa hatinya sakit mendengar perkataan Bisma barusan. Dia tidak tahu pernikahan seperti apa yang sebenarnya sedang mereka jalani.
"Bisma ..."
"Kamu bahkan berniat meninggalkan saya karena Soraya." Ucap Bisma kembali memotong perkataan Erina.
Erina menggeleng. "Kamu salah, Bisma."
"Saya akan mandi, sebaiknya kamu berkemas supaya besok bisa pulang." Sahut Bisma dengan nada rendah.
Ini adalah pertama kalinya Bisma mengabaikan perkataan Erina dan membuat wanita itu semakin merasa bersalah. Erina memeluk Bisma dari belakang ketika suaminya melangkah menuju kamar mandi.
"Bisma, aku ... tolong jangan salah paham, kamu dan Soraya sama-sama penting bagiku, tapi sekarang Soraya sedang membutuhkan aku ... Soraya hanya memiliki aku di Jakarta."
Bisma mendengar Erina menangis dan hal itu membuat hatinya luluh, Bisma berbalik dan menatap wajah Erina yang penuh dengan air mata. Lalu dia menghapus air mata Erina.
Erina menangis karena keadaan yang membuat situasi diantara mereka rumit, Erina paling payah dalam mengutarakan perasaan dan Bisma malah salah paham terhadapnya.
"Erin, saya minta maaf." Ucap Bisma lembut. Dia menyesal sudah egois dan mendiami istrinya.
"Tolong jangan menangis." Pinta Bisma kemudian membawa Erina kedalam pelukannya dan mencium puncak kepala istrinya berkali-kali.
"Saya bodoh! Saya egois! Saya--" Bisma berhenti bicara ketika tangisan Erina mengeras. Dia merasa payah sudah sampai membuat Erina seperti itu.
"Aku tidak mungkin meninggalkan kamu karena orang lain ..." Lirih Erina masih dengan tangisan.
"Iyah saya percaya." Sahut Bisma sambil mengeratkan pelukannya.
"Jangan menangis. Kita akan pulang ke Indonesia besok." Lanjut Bisma. Dia memang selalu kalah jika menghadapi Erina atau mungkin ... Erina selalu bisa membuat Bisma kehilangan pilihan kecuali mengalah.
Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...
Regards:
©2019, lightqueensa.