
Bisma melangkahkan kakinya menuju ruang operasi dengan tergesa-gesa, dia sudah tahu keberadaan Soraya, untungnya pasien bernama Soraya di rumah sakit permata hanya satu, sehingga Bisma tidak terlalu sulit menemukannya.
Bisma menghentikan langkahnya saat melihat Erina berdiri di depan ruang operasi, wanitanya itu berjalan kesana kemari, terlihat sedang berharap cemas, Bisma sempat menarik nafas sebelum melanjutkan langkahnya dan menghampiri keberadaan Erina.
"Erin?" Panggil Bisma, jaraknya dengan Erina sudah lumayan dekat.
Erina berhenti mondar mandir, wanita itu menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya dan melihat keberadaan Bisma tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Bisma?" Gumam Erina sambil menarik sedikit sudut bibirnya, lalu wanita itu berlari menghampiri Bisma dan memeluknya, membuat Bisma terpaku.
"Soraya di operasi, aku takut terjadi sesuatu sama dia." Lirih Erina sambil memeluk erat Bisma, tidak peduli tentang Bisma yang sudah bertemu dengan wanita lain.
Erina membutuhkan pelukan Bisma yang selalu menenangkan baginya, wanita itu benar-benar ketakutan, bahkan Bisma bisa merasakan tubuh Erina yang bergetar.
Bisma bersyukur sepertinya Erina belum mengetahui gosip murahan tentang dirinya, buktinya wanita itu masih mau memeluk Bisma dan Bisma segera membalas pelukannya.
Bisma mengusap punggung Erina untuk menenangkan istrinya. "Soraya pasti baik-baik saja." Sahut Bisma lalu mencium puncak kepala Erina.
Bisma tidak pernah melihat Erina ketakutan sebelumnya, dan sekarang istrinya terlihat sangat ketakutan, membuat Bisma khawatir pada istrinya itu, Bisma takut Erina malah sakit karena terlalu banyak pikiran.
Bisma melihat kearah Farhan yang duduk di depan ruang operasi, tidak jauh berbeda dari Erina, pria itu terlihat kacau dengan rambut yang acak-acakan, penampilannya sangat berbeda saat mereka bertemu di cafe.
"Kenapa kamu tidak menelpon saya, kalau mau pergi kesini?" Tanya Bisma.
Erina tidak menjawab, hanya semakin erat memeluk Bisma, wanita itu tidak sadar bahwa Bisma memang sudah sangat berpengaruh baginya, dan Erina selalu menyangkal kenyataan.
Erina mulai memiliki perasaan sayang pada Bisma, namun perasaan itu belum seberapa di bandingkan rasa takutnya, takut terkhianati, takut sakit hati, yang paling utama Erina takut dan belum siap merasa kecewa.
"Kamu sudah makan siang?" Tanya Bisma berusaha mencari topik pembicaraan supaya Erina bisa lebih sedikit tenang.
Rasanya, Bisma ingin sekali meledek Erina yang sangat erat memeluk tubuhnya dan membuat orang-orang memperhatikan mereka berdua, tapi keadaan tidak memungkinkan, Bisma tidak mungkin meledek istrinya disituasi seperti ini.
Bisma merasakan Erina menggeleng dalam pelukannya. "Mana bisa aku makan, kalau keadaan sahabat aku aja belum pasti?" Suara wanita itu mulai terisak, membuat Bisma merasa sakit.
"Soraya bakal ngomel kalau dia tahu kamu tidak makan gara-gara dia, mau setelah operasi nanti Soraya ngomel?" Tanya Bisma yang secara tidak langsung membujuk istrinya makan.
Erina terdiam sambil membayangkan Soraya mengomel padahal sahabatnya itu baru selesai operasi, detik berikutnya Erina berpikir. "Memang setelah operasi Soraya langsung sadar?"
"Erin?" Panggil Bisma lembut saat istrinya itu tidak memberi respon.
"Saya mengerti kamu cemas sama keadaan Soraya, tapi saya juga khawatir sama kamu, saya takut kamu sakit, kita makan dulu ya?" Bisma berusaha membujuk Erina.
Erina akhirnya luluh dan mengangguk. "Sebenarnya kamu tidak perlu khawatir, aku tidak mungkin sakit hanya gara-gara telat makan, tapi sepertinya kamu belum makan, aku akan menemani kamu makan."
Bisma terkekeh, disaat seperti ini istrinya malah membuat Bisma gemas. "Ya, temani saya makan, dan kamu juga harus makan, kamu tidak pernah tahu kapan kamu akan sakit kan?"
Erina tidak menjawab lalu melepaskan pelukannya. "Kita ajak Farhan ya?"
Bisma merasa pertanyaan Erina adalah permohonan, sehingga Bisma langsung mengiyakannya, apapun supaya Erina tidak terlalu bersedih dan ketakutan.
Erina menarik sedikit sudut bibirnya lalu menghampiri keberadaan Farhan dan Bisma mengikutinya dari belakang. "Han, gue sama Bisma mau makan, lo ikut kita ya?"
Farhan mengangkat wajah menatap Erina. "Kalian aja, gue gak laper." pria itu menolak Erina dengan halus disertai senyumam yang terlihat di paksakan.
"Saya tahu kamu khawatir sama istri kamu, tapi setelah ini kamu butuh tenaga buat jaga Soraya dan anak kalian." Ucap Bisma membantu Erina.
Erina akan bicara, tapi Bisma lebih dulu mencegahnya. "Yaudah, kita makan duluan, nanti sekalian bawa makan buat kamu ya?"
Farhan mengangguk. "Sekali lagi maaf udah ngerepotin kalian berdua."
"Tidak perlu sungkan, kalian berharga bagi Erin, berarti berharga bagi saya, saya juga belum bantu apapun kan?" Bisma tersenyum hangat lalu melanjutkan kalimatnya.
"Kalau begitu, saya dan Erin pergi dulu ya?"
Bisma mengajak Erina ke restoran yang tidak jauh dari rumah sakit, keduanya sudah memesan dan sedang menunggu pesanan mereka datang.
Erina tidak perlu bertanya dari mana Bisma mengetahui dirinya sedang berada di rumah sakit permata, karena pasti pak Asep yang memberitahunya.
"Erin?" Bisma tidak hentinya memanggil Erina, tidak membiarkan istrinya melamun atau bersedih.
"Ya?" Sahut Erina menatap Bisma yang juga sedang menatap padanya.
"Kenapa kamu tidak menelpon saya, kalau mau pergi ke rumah sakit?" Bisma mengulangi pertanyaan yang sebelumnya belum Erina jawab.
"Aku hanya tidak mau mengganggu kamu yang sedang bertemu dengan wanita lain." Jawab Erina, wajahnya sudah terlihat lebih tenang.
Bisma berdehem, ternyata Erina sudah mengetahui gosip tentang dirinya dan Gisella, istrinya tadi biasa saja karena sedang bersedih dan hal itu lebih membuat Bisma khawatir.
"Wanita yang telponan sama kamu di balkon, siapa dia?" Tanya Erina, dia penasaran sampai melupakan tentang dirinya yang seharusnya tidak peduli tentang itu.
Bisma tertegun, berusaha mencerna perkataan Erina, detik berikutnya pria itu tertawa lega karena bukan Gisella yang istrinya bicarakan lalu Bisma berkata. "Wanita? Leo, maksud kamu? saya telponan sama dia!"
"Leo sekretaris kamu?" Tanya Erina memastikan dan Bisma mengangguk membenarkan.
Erina menatap selidik Bisma. "Leo, mana mungkin? kalian homo?"
"Heh! apa maksud kamu? meskipun Leo belum punya kekasih, dia masih lelaki normal, sementara saya? kamu sudah membuktikan sendiri bukan?" Bisma menatap Erina dengan tenang, dia bersyukur Erina sepertinya belum tahu mengenai Gisella.
Erina berdehem berusaha untuk mengabaikan pertanyaan terakhir Bisma, meskipun Erina yakin suaminya sudah melihat wajah memerahnya. "Lalu, kenapa kamu mengatakan 'aku baik-baik saja, jangan khawatir, terimakasih' bisa jelaskan itu?"
"Jadi, apa kamu cemburu pada Leo?" Tanya Bisma menggoda Erina, pria itu senang istrinya sudah mulai melupakan tentang Soraya yang sedang menjalani operasi.
"Aku tidak cemburu." Erina dengan cepat menyangkalnya, meskipun sebenarnya Erina sempat cemburu pada wanita yang telponan dengan Bisma di balkon.
Tapi, setelah mengetahui Bisma tidak telponan dengan wanita, mana mungkin Erina mengaku cemburu pada Leo si sekretaris suaminya, itu akan merusak harga diri Erina.
"Tidak apa-apa, kalau cemburu bilang saja, saya malah senang bisa membuat istri saya ini cemburu." Bisma tersenyum, dan Erina merasa Bisma sedang meledeknya.
"Makanan sudah datang, sebaiknya kita makan." Sahut Erina yang langsung mengalihkan, tidak ingin membiarkan Bisma terus memojokinya.
Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...
Regards:
©2019, lightqueensa.