
Soraya tidak tahu pasti masalah yang sedang Erina hadapi, Farhan hanya memberitahu bahwa Erina pergi sebentar untuk mengurus sesuatu, lalu setelah beberapa jam wanita itu kembali dengan tampang hancur.
Setelah pindah ke ruang rawat, Soraya dan Erina sempat mengobrol, banyak hal yang mereka bicarakan, dan Soraya sama sekali tidak melihat hal aneh dari Erina, malah Erina masih sempat mengajak Soraya bercanda.
Soraya tidak mengerti alasan Erina terlihat begitu hancur sampai meminta maaf padanya, tapi mendengar apa yang Erina katakan barusan, Soraya sangat yakin Bisma menjadi dalang dari kehancuran sahabatnya itu.
"Lo kenapa, Rin?" Tanya Soraya yang ikut merasa sedih melihat Erina.
"Gue baik-baik aja, serius." Jawab Erina tanpa bisa menahan air yang menerobos keluar dari matanya.
"Kalau lo baik-baik aja, lo tidak mungkin nangis, bilang sama gue ada apa? apa yang udah Bisma lakukan sampe lo seperti ini?" Tanya Soraya gregetan sambil memegangi kedua bahu Erina.
Erina semakin terisak. "Ternyata sesakit ini dan gue baru tahu kalau rasanya lebih sakit dari rasa sakit gue selama ini."
"Erin, gue tidak mengerti apa yang lo bicarakan, lo bisa cerita pelan-pelan sama gue." Soraya menghapus air mata Erina dengan ibu jarinya.
Farhan yang sudah tidak tahan melihat kedua wanita di hadapannya, segera angkat bicara. "Sudah malam sebaiknya kalian istirahat."
Soraya mengabaikan Farhan dan menatap Erina penuh harap. "Rin?" Lirihnya saat Erin belum mengatakan apapun padanya.
Farhan menghela nafas. "Bisma selingkuh, dan cowok itu tidak datang untuk klarifikasi." Ucapnya membantu Erina menjawab Soraya.
Soraya melihat Farhan sebentar lalu kembali menatap Erina. "Rin, serius? Bisma selingkuh?"
Erina mengangguk dan langsung memeluk Soraya, mungkin untuk sekarang hanya itu yang Erina butuhkan, tempat untuk menumpahkan kesedihannya.
Erina merasa tidak ada salahnya kalau sesekali dirinya terlihat lemah di depan orang lain, dunia tidak akan tertawa hanya karena itu, dan memang dunia tidak memiliki hak untuk tertawa.
"Gue nyerah, Ray. Gue mau cerai sama Bisma." Lirih Erina.
"Lo punya masalah sebesar ini, tapi lo bilang baik-baik aja? Erin, bagaimana bisa?" Tanya Soraya tanpa menanggapi perkataan Erina.
Masalahnya, Soraya tahu Erina mengatakan itu hanya karena emosi, Soraya yakin Erina belum memikirkan ke depannya kalau Erina sampai cerai.
Farhan memalingkan wajahnya saat melihat kedua wanita itu menangis sambil memeluk satu sama lain, Farhan merasakan sakit yang mereka rasakan dan hal itu membuatnya merasa menjadi pria gagal.
"Gue sudah tidak mau bertemu Bisma, tolong bantu gue sembunyi dari dia." Erina semakin erat memeluk Soraya begitu juga sebaliknya.
"Gue pasti bantu lo, tapi lo yakin Bisma selingkuh?" Tanya Soraya hati-hati, takut Erina merasa tidak di percayai.
Berhubung Erina tidak menjawab, Farhan kembali angkat bicara. "Beritanya sudah tersebar, Bisma ketahuan mesra sama Gisella."
"Serius, sampe di ketahui media?" Tanya Soraya tidak menyangka.
"Parahnya, Erin tahu dari televisi dan Bisma tidak memberitahu klarifikasi apapun, malah pergi entah kemana." Farhan menyambar dengan nada kesal.
"Bisma pergi ke rumah neneknya." Sahut Erina memberitahu, kurang menerima perkataan Farhan barusan, lalu Erina melepaskan pelukannya dari Soraya.
"Bisa jadi itu alesan Bisma, supaya dia ketemuan sama Gisella." Giliran Soraya yang menyambar dan memojokan Bisma menjadi pihak bersalah.
Erina terdiam sambil menimbang perkataan Soraya. "Ya ... lo bener, emang gue yang terlalu naif."
Farhan kurang menyetujui pemikiran Soraya dan Erina, memang benar Farhan kesal terhadap Bisma yang pergi tanpa memberikan klarifikasi pada Erina, tapi Farhan tahu bahwa Bisma di telpon neneknya.
Kebetulan Farhan tanpa sengaja mendengar Bisma dan neneknya telponan, Farhan mengatakan Bisma pergi entah kemana hanya karena kesal dengan kebodohan pria itu, seharusnya Bisma melakukan klarifikasi sebelum pergi.
"Bisma tidak mungkin ketemuan sama Gisella." Ucap Farhan tiba-tiba, membuat Soraya dan Erina menatap padanya.
"Kenapa kamu bisa yakin Bisma dan Gisella tidak ketemuan?" Tanya Soraya sambil memandangi suaminya galak.
Farhan menarik nafas sebelum menjawab. "Bisma tidak menyukai Gisella, jadi untuk apa mereka ketemuan? kalau pun iyah Bisma sedang bersama Gisella, mungkin wanita itu yang berusaha mendekati Bisma."
Soraya mendengus tidak menyangka atas apa yang barusan dia dengar. "Kalau Bisma tidak menyukai Gisella, terus kenapa mereka bermesraan?" Balasnya tidak mau kalah.
Bisma berada di klub malam, pria itu sedang membutuhkan ketenangan, dan entah kenapa malah tempat itu yang Bisma datangi.
Bisma tidak suka pergi ke klub malam sebelumnya, bahkan saat Leo mengajak pun Bisma Selalu menolak dengan alasan Erina sudah menunggunya di mansion.
Tapi sekarang, disaat Erina benar-benar sedang menunggunya, Bisma malah bersantai di klub malam sambil meminum wine dan menonton orang-orang yang ada di lantai dansa.
"Kamu masih bisa minum rupanya." Ucap seseorang yang tiba-tiba merebut gelas berisi wine dari tangan Bisma.
Bisma berdecak sambil memandangi orang di depannya jengkel. "Kembalikan padaku!"
"Aku tidak akan membiarkan kamu minum." Lalu orang itu meneguk habis wine milik Bisma dan kembali bicara.
"Berhenti minum atau aku akan melapor pada istrimu." Ucap orang itu memberi ancaman.
Bisma mengeram. "Leo, kamu pikir kamu siapa berani mengancamku?"
Ya, orang itu adalah Leo, Bisma sengaja menyuruh Leo datang untuk menemaninya dan sekarang malah mengacau.
Leo mengabaikankan ocehan Bisma. "Aku sudah membereskan semuanya, besok orang yang menyebar rumor tentang kamu dan Gisella akan melakukan klarifikasi."
Bisma menyimak perkataan Leo lalu mengambil sebotol wine dan berniat meneguknya, namun tangan Leo lebih cepat merebut wine itu.
"Bisma, kamu tidak biasa mabuk, sebenarnya apa yang terjadi? masalahmu sudah selesai, kenapa kamu terlihat putus asa?" Tanya Leo tidak mengerti.
Bisma tidak begitu memperdulikan wine yang Leo ambil, lagipula Bisma bisa kembali memesannya kalau Bisma memang menginginkan wine itu.
"Nenek menyuruhku menceraikan Erin." Lirih Bisma, lalu mengusap wajahnya kasar.
Leo tidak terkejut mendengarnya, karena nenek Sekar memang selalu mengatur kehidupan Bisma, sehingga hal itu sudah sangat biasa.
Leo menghela nafasnya. "Terus kamu mau?" Tanyanya.
"Tentu saja tidak, aku mencintai Erin, mana mungkin aku menceraikan dia?!" Jawab Bisma.
"Lalu apa masalahnya? Erin tidak meminta cerai padamu bukan?" Tanya Leo.
Bisma terdiam, memang benar Erina tidak meminta cerai padanya, tapi ini pertama kalinya Bisma tidak menuruti keinginan neneknya.
Dan lagi, entah kenapa Bisma tidak memiliki keberanian untuk sekedar bertemu istrinya, takut Erina bertanya dan Bisma tidak mampu menjawabnya.
"Jangan membuat pengorbanan Karina untukmu sia-sia, Karin ingin kamu hidup bahagia bersama wanita yang kamu cintai, ingat?"
Bisma menatap Leo tajam. "Karin tidak berkorban untukku, dia pergi atas keinginannya sendiri."
"Kalau kamu tidak mabuk dan bermain dengan wanita di klub waktu itu, Karin tidak akan memilih mati." Ucap Leo mengingatkan.
Karina adalah anak ibu Maria, usianya lebih muda satu tahun dari Erina, gadis itu meninggal dua tahun yang lalu dan entah atas dasar apa Leo mengungkit kematiannya.
"Aku tahu Karin tidak memiliki hubungan dengan masalahmu, tapi tidak bisakah kamu menjadikan kematian Karin sebagai pelajaran?"
Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...
Regards:
©2019, lightqueensa.