
Erina berusaha memejamkan matanya, dia tidak begitu siap untuk melihat Bisma, suaminya sedang mandi dan pikiran Erina mendadak kotor, Erina terus teringat perkataan Soraya. Dia merasa gelisah, saat mandi tadi dia mengecek darah bulanannya sudah tidak ada dan perkataan Soraya terus mengganggu pikirannya, dia juga ingat setelah Soraya menelpon suasana antara dirinya dan Bisma mendadak berubah menjadi canggung.
Tidak lama Erina mendengar suara pintu kamar mandi dan suara langkah kaki mendekatinya, Erina semakin gelisah, tapi Erina bersikap sebiasa mungkin seolah dia sudah tidur. Dia tidak ingin berada dalam situasi canggung seperti apa yang terjadi di mobil, atau mungkin situasi yang lebih parah dari itu, misalnya Bisma tiba-tiba membahas tentang perkataan Soraya.
"Erin ..." Bisma menahan tangannya yang akan menyentuh Erina, dia berniat membangunkan istrinya untuk makan terlebih dahulu, tapi suara dering ponsel menghentikannya.
Erina merasakan Bisma melangkah menjauhinya dan membuka sedikit matanya, Erina bisa melihat Bisma berdiri di dekat lemari hanya berbalut handuk yang melingkar pada pinggang.
Erina meringis, dia sudah memberi contoh memakai baju di kamar mandi, kenapa Bisma tidak mengikutinya? Jika seperti ini, bagaimana bisa Erina menghadapi rasa gelisahnya?
"Katakan aku dan Erin sedang di Seoul, kami akan tinggal disini selama dua minggu, jika memang ada hal penting dan mendesak sebaiknya menelpon langsung padaku."
Erina kembali menutup matanya saat menyadari Bisma akan berbalik, sepertinya ada hal yang membuat Bisma tidak senang, nada bicara Bisma terdengar begitu kesal dan sepertinya Bisma kembali menghampirinya.
Lalu, Erina merasakan Bisma meraih tangannya dan tiba-tiba menciumnya, Erina sudah tidak gelisah, dia malah merasa heran dengan sikap Bisma padanya dan bertanya-tanya siapa yang barusan menelpon suaminya.
Bisma sendiri baru menerima telpon dari Leo, sahabatnya mengatakan nenek Sekar datang ke kantor dan mengatakan ingin bertemu dengannya, katanya ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
Hal itu yang membuat Bisma tidak senang, dia ingat terakhir kali bertemu nenek Soraya, neneknya menyuruhnya menceraikan Erina dan dia yakin hal penting yang neneknya maksud adalah tentang perceraian itu.
"Saya tidak akan membiarkan nenek mengatur hidup saya lagi." Gumam Bisma yang membuat Erina bingung.
Namun, kebingungan Erina teralih saat Bisma tiba-tiba mencium keningnya, Erina membuka mata dan refleks mendorong tubuh Bisma supaya menjauh darinya. Dia takut Bisma hanya sedang mencari kesempatan.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Erina bak gadis yang kesuciannya terancam, belum menyadari Bisma hampir jatuh karena ulahnya.
Ketika Erina menyadari apa yang baru saja dirinya perbuat, Erina berpikir sikap sembrononya akan membuat Bisma marah, tapi Bisma malah tersenyum dan mengacak rambut Erina dengan sangat lembut.
"Maaf, saya sudah mengganggu tidur kamu ya?" Tanya Bisma. Padahal tadi dia memang berniat membangunkan Erina karena istrinya belum makan.
Erina menatap Bisma dengan perasaan yang campur aduk, antara malu, bingung dan merasa bersalah, tidak seharusnya dia mendorong Bisma dan membuat dirinya malu karena mungkin Bisma tahu bahwa dirinya hanya berpura-pura tidur, tapi meskipun begitu Erina tetap tidak berekspresi apapun, datar.
"Siapa yang menelpon?" Tanya Erina mengabaikan pertanyaan Bisma. Dia mengambil posisi untuk duduk.
Erina tidak tahu mengapa dirinya malah lebih peduli mengenai orang yang sudah membuat suaminya tidak senang disaat dia baru saja membuat dirinya malu. Entahlah! Erina juga bingung dengan dirinya sendiri.
"Oh?" Bisma terkejut Erina tahu ada yang menelponnya, tapi pada detik berikutnya dia kembali tersenyum. "Leo, dia yang menelpon saya."
"Kamu jangan berpikir macam-macam, saya tidak mungkin telponan dengan wanita lain." Bisma menatap jahil Erina sambil mengingat reaksi Erina setelah menerima telpon Gisella.
Bisma sedikit terlibur, setidaknya Erina pernah merasa cemburu meskipun saat itu masih berpura-pura tidak peduli, Bisma semakin yakin bisa membuat pernikahan mereka bertahan sampai maut yang memisahkan.
Lagipula, nenek Sekar tidak berhak untuk mengaturnya, Bisma sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri untuk hidupnya, tidak perlu lagi campur tangan nenek Sekar meskipun Bisma ingat ibunya selalu meminta dia untuk menurut pada neneknya.
Tapi Bisma sangat yakin ibunya akan mendukung keputusannya melawan sang nenek, karena dulu Bisma juga pernah berjanji untuk tidak menyakiti wanita, dan menurut Bisma perceraian akan membuat wanita tersakiti.
Meskipun Bisma tahu Erina tidak atau mungkin belum mencintainya, Bisma yakin perceraian akan tetap membuat wanita tersakiti, banyak orang yang akan memandang rendah Erina dan Bisma tidak akan membiarkannya.
"Hm, aku lihat sepertinya ada yang membuat kamu tidak senang, apa ada masalah?" Tanya Erina yang tidak terlalu mendengarkan perkataan suaminya barusan. Dia bersyukur ternyata dirinya masih mampu sedikit bersikap tenang di depan Bisma.
Bisma menyadari satu hal, Erina tadi hanya berpura-pura tidur, istrinya mungkin merasa kurang nyaman padanya, Bisma ingat Erina terus diam semenjak Soraya membahas tentang membuat anak, dan Bisma tidak ingin semakin membuat Erina tidak nyaman terhadapnya, sehingga memilih untuk memakai baju di kamar mandi.
"Erin, kamu tidak suka makanan disini?" Bisma akhirnya bicara setelah sekitar lima belas menit mereka saling diam sambil menikmati hidangan yang di siapkan pihak hotel untuk mereka, sebenarnya hanya Bisma yang menikmatinya, sementara Erina sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Oh?" Lamunan Erina membuyar, dia sempat memikirkan tentang schedule Bryan, menurut info yang Erina dapatkan, idolanya itu mengadakan fansign di COEX artium dan Erina ingin sekali menghadirinya.
"Aku tidak pernah memilih makanan." Jawab Erina disertai senyuman lalu mulai menikmati hidangannya. Bisma terdiam dan memandangi istrinya.
"Erin, sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan." Ucap Bisma dan mendadak ingat ketika Erina bertanya mengenai siapa yang menelponnya.
"Kamu masih memikirkan siapa yang menelpon saya?" Tebak Bisma asal. Sampai sekarang dia masih selalu dihantui kesalahpahaman istrinya. "Saya tidak berbohong, tadi memang Leo yang menelpon."
Erina hampir tersedak, dia tidak tahu darimana Bisma bisa berpikir begitu, dia bertanya siapa yang menelpon hanya karena suaminya terlihat tidak senang, Erina takut terjadi masalah dan sebagai seorang istri dia hanya sedang mengkhawatirkan suaminya.
Erina tidak menyangka Bisma malah berpikir dirinya ... ah sudahlah.
"Iya tahu." Sahut Erina menanggapi Bisma.
"Tahu apa?" Tanya Bisma merasa tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya Erina ketahui. Dia mendadak bodoh jika berhadapan dengan istrinya itu.
"Aku tahu kamu tidak bohong." Jawab Erina cepat lalu menghela nafasnya.
"Bisma, kamu tahu dimana COEX artium?" Tanya Erina berusaha untuk mengalihkan suaminya dan tanpa menyadari bahwa dirinya menyingung tempat itu pada suaminya. "Bisa mengantar aku kesana?"
Erina sudah menahan diri untuk tidak memperlihatkan jiwa penggemarnya di depan Bisma, karena dia tahu tidak banyak orang akan menerimanya, termasuk Bisma, kenyataan tentang dirinya penggemar k-pop.
Erina tahu penggemar k-pop selalu dan akan terus di pandang rendah oleh orang lain, tanpa mereka coba untuk mengerti bahwa sebagian dari penggemar k-pop menggantungkan hidupnya pada idolanya.
Ya, Erina termasuk penggemar yang mengantungkan hidupnya pada idolanya, Bryan, jika Erina tidak pernah melihat dan mengenal pria itu, Erina pasti sudah bunuh diri.
Erina tahu seharusnya tuhan lah yang menjadi alasan Erina bertahan, dan Erina akan dianggap tidak beriman, tapi sekali lagi, tidak akan ada yang mengerti Erina dan dunianya.
Ketika ayah yang seharusnya menjadi pelindung keluarga, malah menyakiti semua anggota keluarganya. Ketika angan dan cita-citanya hanya menjadi impian tanpa mampu meraihnya.
Lalu Erina melihat Bryan, pria yang bahkan menyampaikan permintaan maaf ketika orang lain lebih dulu membuatnya terusik, sang idola cahaya dalam kegelapan hidup Erina.
Bisma terdiam untuk beberapa saat sambil memperhatikan wajah istrinya. "Saya tahu, kita bisa pergi setelah makan."
Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...
Regards:
©2019, lightqueensa.