Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #43


"ERIN!"


Suara teriakan dari rumah Soraya mengalihkan perhatian Bisma dan Leo, mereka mendengar nada panik dari orang yang memanggil nama Erina, dan hal itu membuat Bisma bergegas turun dari mobil.


Leo mengikuti dan berlari di belakang Bisma karena takut terjadi sesuatu terhadap Erina, mungkin Bisma akan membutuhkan bantuan darinya, Leo ingat istri Bisma masih terlihat pucat sebelum keluar mobil.


"Bangun, Erin! Lo kenapa? Erina!"


Bisma dan Leo melihat Erina sudah tidak sadarkan diri di pangkuan Soraya ketika mereka memasuki rumah itu, ada Farhan juga disana, Bisma hendak mendekati Erina, tetapi Soraya dengan cepat mencegahnya.


"Jangan mendekat!" Bentak Soraya sambil memberi tatapan benci kepada Bisma karena merasa bahwa Bisma menjadi penyebab Erina pingsan.


"Lo ... apa yang sudah lo lakukan?" Tuding Soraya, lalu menyerahkan Erina kepada Farhan, sementara Soraya sendiri menghampiri Bisma yang berdiri tidak jauh darinya.


Bisma dan Leo menatap wanita itu tidak mengerti, pasalnya mereka baru saja datang dan lebih pantas bertanya hal itu, Bisma juga tidak tahu mengapa Soraya terlihat tidak suka padanya.


"Soraya ..." Lirih Farhan ketika melihat istrinya sudah berdiri di depan Bisma. Dia takut Soraya terlalu ikut campur dengan pernikahan Erina.


Farhan ingat, di malam yang sama saat anak mereka meninggal, Soraya dan Erina bicara melalui telpon. Farhan tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, Farhan hanya mendengar Soraya mengatakan ...


"Erin, gue tidak mau lo menyesal, tidak ada yang salah lo bertahan. Bercerai memang tidak baik kan? Tapi lebih baik lo memastikan dulu perasaan diantara kalian! Jangan sampe anak kalian lahir tanpa kasih sayang."


Malam itu Farhan terbangun, dia tanpa sengaja mendengar Soraya berbicara dengan Erina melalui telpon. Awalnya Farhan tidak tahu alasan kedua wanita itu telponan lewat tengah malam, sekitar jam dua pagi.


Tapi, Farhan akhirnya mengerti setelah kemarin menelpon Erina. Dia merasa Soraya sengaja menelpon Erina yang sedang berada di luar negeri. Karena Farhan tahu pasti Erina sedang bulan madu bersama Bisma.


"Pergi dari rumah gue! Lo tidak pantas ada disini!" Soraya mendorong Bisma, membuat pria itu sedikit terhuyung ke belakang.


"Tunggu, nona Soraya! Saya rasa kamu tidak berhak mengusir Bisma karena meskipun ini rumahmu, Bisma suami nona Erin dan mana mungkin Bisma pergi sementara istrinya pingsan disini?!"


Leo berusaha menengahi karena Bisma hanya diam dengan perkataan Soraya. Bahkan, ketika Soraya mendorongnya, Bisma tidak melakukan perlawanan dan hanya menatap kosong Soraya.


Lalu Bisma melihat Erina masih belum sadarkan diri, dia ingin menghampiri Erina karena khawatir, tapi mengingat Erina begitu peduli terhadap Soraya seakan menghalanginya.


Tidak hanya itu, Bisma melihat Soraya juga peduli terhadap Erina, meski dengan cara yang egois, Soraya seperti sedang berusaha melindungi sahabatnya dari ... Bisma?


"Ya, laki-laki brengsek ini memang suami Erina, tapi pernikahan mereka terjadi bukan karena cinta, Erina disini hanya menjadi korban ..." Soraya memberi jeda pada kalimatnya.


"Kalian para orang kaya tidak akan mengerti penderitaan Erin, sebaiknya kalian berdua pergi!" Soraya bicara keras tepat di hadapan Bisma dan membuat pria itu memejamkan mata.


Pandangan Bisma dari Erina teralih, dia menatap Soraya yang memberikan tatapan kebencian padanya, Bisma tidak begitu mengerti dengan apa yang barusan Soraya katakan.


"Erin tidak membutuhkan perdebatan kalian! Soraya, lebih baik mengurus sahabat kamu dan berhenti berdebat!" Pungkas Farhan.


Farhan tahu pria yang datang bersama Bisma akan kembali membuka suara sehingga dia bicara lebih dulu sebelum menjadi runyam. Soraya yang memang penurut terhadap suami membiarkan Bisma dan menghampiri Erina.


"Tolong bawa Erin ke kamar." Pinta Soraya pada Farhan, dia menggenggam tangan Erina yang terasa dingin di tangannya. Bisma nampak keberatan.


"Saya bisa menggendong Erin dan mengantar kalian ke rumah sakit ..."


"Tidak perlu! Gue bisa merawat Erin!" Ucap Soraya memotong perkataan Bisma karena tahu Erina paling tidak suka pergi ke rumah sakit.


Farhan memandangi Bisma, dia tahu betul alasan Bisma menawarkan diri untuk menggendong Erina, pria itu pasti tidak ingin atau mungkin tidak rela istrinya di gendong oleh pria lain.


"Bisma, kamu bisa menggendong Erin ke kamar." Farhan menarik nafasnya sejenak dan melemparkan senyuman. Sementara Soraya memberi tatapan tajam kepada suaminya.


Bisma tersenyum tipis mengetahui itu, dia berniat menggendong Erina, tapi Soraya kembali menghalanginya, Leo dan Farhan yang melihatnya menghela nafas mereka.


"Tidak usah repot-repot, Farhan masih bisa menggendong Erin." Ucap Soraya, dia bukan wanita pencemburu jika diantara mereka adalah Erina.


"Wanita bernama Soraya ini rela kalau suaminya menggendong wanita lain?" Leo tidak habis pikir, dia baru kali ini bertemu wanita seperti Soraya.


Biasanya, wanita yang Leo temui tidak akan rela kekasih hatinya bersentuhan dengan wanita lain, meskipun wanita yang disentuh itu sahabatnya sendiri. Karena memang tidak ada kata 'sahabat' dalam urusan cinta.


"Tapi ..." Bisma ingin sekali memprotes, tapi bayangan Erina menghentikannya, Bisma ingat malam itu Erina berniat meninggalkan dirinya setelah telponan dengan Soraya.


Bisma sadar bahwa dirinya tidak lebih penting dari Soraya. Meskipun Erina pernah mengatakan bahwa Bisma juga penting bagi wanita itu, Bisma malah lebih percaya Soraya lebih penting bagi Erina.


"Baiklah, saya menyerahkan Erin kepada kalian." Bisma melanjutkan kalimatnya dengan setengah hati. Dia tersenyum namun tangannya terkepal.


"Bagus!" Sambar Soraya sinis.


"Tapi, saya harap kamu tidak mengusir saya dari sini, saya ingin memastikan keadaan Erin." Bisma menatap lantai, dia tidak cukup berani terus melihat tatapan kebencian Soraya.


"Kalian terlalu banyak basa-basi, aku takut nona Erin tidak tertolong." Ucap Leo sedikit geram. Dia melihat wajah Erina pucat sementara yang lainnya malah sibuk berdebat.


 ****


"Kadang mereka juga membuat aku cemburu ..." Farhan mengatakan itu sambil menatap Soraya dan Erina.


Farhan, Bisma dan Leo sedang berada di depan sebuah kamar, mereka sedang memandangi kedua wanita yang ada di dalam kamar itu. Erina sudah sadarkan diri dan Soraya sedang menyuapinya bubur, mereka terlihat seperti saudara yang saling menyayangi.


Saat Erina membuka mata, Bisma dan Leo menyaksikan hal mengharukan, Soraya maupun Erina menghawatirkan satu sama lain. Erina meminta maaf karena datang terlambat sementara Soraya minta maaf sudah membuat Erina khawatir padanya.


"... aku akan menjadi orang ketiga saat mereka bersama." Lanjut Farhan, lalu mengalihkan pandangannya dan tersenyum sambil menatap Bisma, dia berharap Bisma bisa seperti dirinya yang memahami Soraya dan Erina.


"Soraya dan Erina ... kalian tidak akan menyangka bagaimana mereka bertemu." Farhan kembali menatap Soraya dan Erina. Sementara Bisma dan Leo hanya terus mengikuti arah pandangan Farhan.


"Kalau orang lain bertemu pasangan dari sosial media, Soraya dan Erina malah menemukan saudara disana."


Bisma membisu, dia menunggu Farhan kembali bicara. Sementara Leo hanya menyimak, Bisma sudah mengusirnya saat mereka masih berada di mobil, namun Leo enggan untuk pergi.


"Kamu tahu alasan Erin datang ke Jakarta?" Tanya Leo, dia melihat Bisma sekilas, lalu kembali menatap lurus Soraya dan Erina.


"Erin memiliki masalah serius dengan keluarganya ... kata lainnya Erin sedang berusaha lari dari masalahnya."


Bisma tertegun, dia tidak tahu bahwa istrinya memiliki masalah dengan keluarganya. Karena dulu Bisma tidak sempat bertanya mengenai keluarga istrinya, Bisma hanya fokus tentang hal yang membuat Erina bahagia.


"Kalau kamu mau, aku bisa bercerita sedikit hal yang aku ketahui tentang istrimu."


 _____


Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Dan teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau instagram (@light.queensha) Terimakasih ...


Regards:


©2019, lightqueensa.