Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #60


Keesokan harinya, tepat jam delapan pagi, Erina dan Bisma menunggu kedatangan sang mantan pasangan, baru saja Bisma mendapat kabar Leo masih berada dalam perjalan karena terjebak macet. Sementara Krystal juga belum menunjukkan tanda-tanda kedatangannya.


Erina ingin sekali memaki Bisma yang baru menelpon Leo sekitar lima belas menit lalu, tapi mengingat alasan Bisma lupa menelpon Leo membuat wanita itu memilih diam dan hanya menghela nafasnya, bagaimanapun Erina ikut mengambil peran dalam membuat Bisma lupa.


Tadi malam, Erina memohon kepada Bisma sehingga mereka melakukan beberapa ronde sebelum akhirnya mereka sama-sama tertidur. Bahkan sekarang Erina merasa seluruh tubuhnya remuk, padahal tadi malam Erina masih sangat menikmatinya. Ah, Erina malu mengingatnya.


"Erin ..." Panggil Bisma pelan, dia mengakui kesalahannya, andai saja kemarin Bisma langsung menelpon Leo, pasti sekarang tidak akan ada ekspresi kesal dan jengkel di wajah Erina.


"Maaf." Lirih Bisma merasa bersalah ketika melihat Erina melihat padanya.


"Mas, mereka datang." Ucap Erina dan memberi kode kepada Bisma untuk menutup mulutnya, mereka harus terlihat tenang dan natural, sehingga Erina mengabaikan perkataan Bisma.


"Maaf telat." Bukan hanya Leo yang mengatakan itu, Krystal menyahut dan mengatakan hal yang sama, Krystal datang terburu-buru hanya untuk memastikan perkataan Erina kemarin.


Leo dan Krystal saling memandang untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mereka sama-sama membuang muka. Leo masih kepikiran tentang Krystal yang kemarin memeluk Bisma.


Sebenarnya, Leo sangat malas bertemu Bisma yang kemarin diam saja saat Krystal memeluk pria itu, tapi berhadapan dengan Bisma berarti akan mengancam terhadap pekerjaannya.


Leo hanya bisa memilih untuk menuruti Bisma karena tidak ingin mengambil resiko kehilangan pekerjaannya. Leo harus ingat kalau Bisma bisa saja membuangnya begitu saja dari kantor.


"Kalian sudah datang? duduklah!" Ucap Erina kepada Leo dan Krystal, sang mantan pasangan menurut tanpa mau saling menatap.


Leo merasa ada yang dangkal ketika Erina mengucapkan kata 'kalian' dan 'sudah datang' seperti mereka sudah memiliki janji sebelum bertemu, tapi Leo berpura-pura tidak peduli.


Erina tersenyum simpul, lalu menatap Krystal dan berkata. "Aku tahu kamu akan datang."


Erina tidak bermaksud ikut campur dengan urusan pribadi Leo maupun Krystal, dia hanya berniat membantu Krystal menemukan jawaban atas apa yang wanita itu tanyakan kemarin, makanya Erina sengaja mempertemukan mereka.


Leo memicingkan mata mendengar perkataan Erina, ada hal yang tidak bisa Leo mengerti, Erina dan Krystal sepertinya memang sengaja bertemu, tapi Leo tidak mengerti alasan mantan kekasih dan istri bos nya janjian bertemu di tempat ini.


"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, ada kesalahpahaman diantara kita." Ucap Erina, lalu mengangkat tangan kanannya dan mengangkat tangan kanan Bisma dengan tangan lainnya, berusaha menunjukkan cincin pada jari mereka.


"Pernikahan kami sudah hampir satu bulan." Ucap Erina sambil menurunkan kedua tangannya setelah memastikan Krystal melihat cincinnya.


Erina tidak bermaksud menekankan kepada Krystal bahwa pria yang Krystal peluk kemarin adalah suaminya, Erina hanya ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Erina juga berniat memberitahu Krystal kalau Leo belum menikah.


Krystal menatap lurus Erina, entah kenapa pikirannya mendadak kosong. Krystal merasa lega karena ternyata Erina bukan istri Leo, tapi ada sesuatu yang mengganggunya dan Krystal tidak tahu pasti hal apa yang menganggunya itu.


Leo menatap Bisma berusaha meminta penjelasan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Sementara Bisma hanya mampu mengangkat bahu karena Erina menyuruhnya diam. Bisma memang pria penurut khusus untuk Erina.


"Kamu sudah salah mengira, aku bukan istri Leo, aku bahkan tidak tahu banyak tentang Leo kecuali dia yang bekerja sebagai sekretaris pribadi suamiku" Ucap Erina menjelaskan.


Leo berusaha keras mencerna perkataan Erina, dia menatap Krystal yang membuang wajah darinya. Leo juga membutuhkan penjelasan, tapi Bisma membisu dan menutup rapat mulutnya.


"Leo, apa ini alasan kamu belum memiliki kekasih? kamu masih menyukai nona Krystal?" Tanya Erina beralih kepada Leo.


Terkesan sok akrab memang, tapi Erina harus melakukannya supaya rencananya berhasil. Karena menurut cerita Bisma selama perjalan menuju tempat mereka berada saat ini, Leo juga masih sangat mencintai Krystal.


Leo speechless mendapat pertanyaan seperti itu dari Erina, memang benar Leo belum memiliki kekasih karena belum bisa melupakan Krystal, tapi Leo masih bingung darimana Erina tahu mengenai hubungannya dengan Krystal.


"Leo, istriku bertanya padamu." Tegur Bisma merasa tidak betah berada disana, masalahnya Bisma terus teringat dengan kejadian kemarin.


Bisma merasa pelukan Krystal membekas juga mengingatkannya dengan masa lalu mereka, dia pernah menjadi pelampiasan Krystal yang sakit hati terhadap Leo, sebenarnya selama ini ada rahasia yang Bisma simpan sendiri.


Bisma baru ingat kalau Erina bukan wanita pertama yang berciuman dengannya, Krystal menjadi wanita pertama itu, Krystal pernah mencium paksa Bisma tepat di bibirnya dan Bisma merasa sudah menghianati Erina.


Leo berdehem sebelum menjawab. "Nona Erin, saya rasa kamu yang sudah salah paham, saya--"


"Leo, jangan mengatakan sesuatu yang akan membuat kamu menyesal, sebaiknya kalian bicara, aku dan Bisma akan pergi." Ucap Erina memotong perkataan Leo, lalu beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan Bisma.


Bisma berdiri sesuai keinginan Erina, dia melirik kearah Krystal yang menundukkan wajahnya. Bisma bisa melihat tangan wanita itu terkepal di bawah meja, sepertinya Leo dan Krystal memang membutuhkan waktu untuk saling bicara.


"Kami duluan!" Lanjut Erina, lalu menarik tangan Bisma dan pergi meninggalkan meja mereka.


Leo mendesah ketika melihat Erina dan Bisma berjalan cepat keluar dari restoran. Leo tidak tahu hal baik apa yang akan dirinya katakan pada sang mantan kekasih yang dulu meninggalkannya.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, aku makan telatur setiap hari dan aku juga meminum vitamin, aku masih mengikuti apa yang kamu katakan waktu itu." Jawab Leo datar.


Krystal berdehem mendengarnya, dia ingat kalau dulu Leo tidak pernah makan teratur. Karena Leo tidak memiliki orang tua yang akan menyiapkan makannya, Leo memang jarang sekali makan.


Satu-satunya keluarga Leo adalah Bisma, tapi meskipun Bisma mengajaknya makan bersama, Leo selalu memiliki alasan untuk menolak, dia tidak ingin menjadi beban bagi temannya itu.


Leo pernah bercinta dengan kekasih satu malamnya di kamar Bisma dan meminta Bisma supaya tidak protes, tapi itu hanya karena Leo merasa frustasi setelah di tinggalkan Krystal.


"Oh." Krystal menganguk mengerti meskipun sedikit terganggu dengan kalimat terakhir yang Leo katakan. Apa benar Leo menurutinya?


"Leo--"


"Krystal, apa kamu tidak merasa memiliki hal yang harus kamu jelaskan padaku?" Tanya Leo memotong perkataan Krystal.


"Kenapa kamu bersembunyi dariku? apa salahku?" Leo membuang nafas sebentar.


"Kamu sudah tahu alasannya--"


"Tidak, aku sama sekali tidak tahu alasannya. aku memang tidur dengan mantan kekasihku, tapi saat itu aku di jebak karena dia tidak terima aku putuskan." Leo kembali menyela Krystal.


"Krystal, aku tidak pernah selingkuh darimu, karena kamu lah selingkuhanku itu, tapi aku memutuskan untuk menjadikan kamu satu-satunya sampai akhirnya hari sial datang padaku dan kamu meninggalkan aku."


Leo menatap sendu Krystal ketika mengatakan hal itu, lalu tertawa miris.


"Aku sudah berusaha meyakinkan diriku bahwa aku sudah melakukan kesalahan padamu sehingga kamu memilih pergi, tapi fakta bahwa aku sudah melakukan yang terbaik supaya kamu tidak tersakiti terus menyiksaku."


Leo mengambil nafas sejenak sebelum kembali bicara. "Kenapa harus seperti ini? kenapa kamu begitu membenciku? kenapa rasanya sesakit ini saat kamu memilih meninggalkanku?"


Leo berhenti bicara karena dadanya terasa sesak, Krystal sudah sejak tadi meneteskan air matanya mendengar perkataan Leo.


"Leo, aku tidak pernah membencimu, sedetik pun aku tidak pernah merasakan benci terhadapmu."


Sementara itu di tempat lain, Bisma masih belum melajukan mobilnya, pria itu terus terdiam dan membuat Erina terheran padanya.


"Mas, kenapa? apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya Erina.


Bisma menoleh cepat kearah Erina dan mengangguk. "Hm. Erin, aku belum mendapatkan ciuman pagiku hari ini."


Erina berdehem keras mendengarnya, dia tidak menyangka suaminya berubah menjadi pria yang sedikit mesum sejak kemarin.


Sebenarnya, Bisma terganggu karena bayangan di masa lalu, tapi Bisma tidak mungkin mengatakan itu kepada Erina. Takut Erina marah padanya.


Bisma mendekatkan dirinya kepada Erina ketika istrinya itu terdiam, Bisma berniat mencium bibir tipis Erina tapi Erina lebih cepat mendorongnya.


"Mas, aku takut ada orang yang melihat kita." Ucap Erina pelan dan membuat Bisma terkekeh.


"Tidak ada yang akan melihat kita di dalam mobil, ayolah!" Bisma merengek ingin mendapatkan ciuman paginya karena ingin menghapus ingatan yang sangat mengganggunya di masa lalu.


"Benarkah?" Tanya Erina sambil menengok keluar kaca mobil, dia tidak begitu yakin dengan perkataan Bisma barusan.


"Hm, benar. aku tidak berani membohongimu." Jawab Bisma memasang wajah serius.


"Oh." Erina menelan ludahnya, lalu mendekatkan dirinya kearah Bisma dan mengecup bibir suaminya itu dengan lembut.


Bisma tersenyum, lalu menahan tengkuk Erina dan membalas ciuman Erina tidak kalah lembut, tidak hanya ciuman singkat seperti niat Erina, mereka melakukan ciuman lebih lama dari itu, bahkan sangat lama sampai keduanya merasa kekurangan oksigen.


××××××××××××××××××××××××××××××××××××××


Laki-laki seperti apa yang kalian pilih? Leo si playboy insyaf atau Bisma si laki-laki tanpa mantan? Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya...


Regards,


Nur Alquinsha A.