Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #35


Bisma duduk di kasur sambil menatap pintu balkon. Sudah sekitar lima belas menit Erina meninggalkan kamar dan sampai sekarang wanita itu belum kembali. Bisma ingin sekali berteriak supaya Erina segera masuk kamar, tapi Bisma sudah terlanjur meminta Erina untuk tidak mengganggu. Dan akan sangat tidak mungkin kalau Bisma tiba-tiba mengganggu Erina.


"Erin, jika dalam hitungan ketiga kamu belum kembali, saya akan membuat kamu tidak bisa keluar kamar selama beberapa hari." Bisma bergidik dengan perkataannya sendiri. Dia tidak tahu setan apa yang baru saja memasuki tubuhnya sampai berkata seperti itu.


Lima menit kemudian, Bisma masih menunggu Erina sambil menatap pintu balkon. Sementara Erina sepertinya masih belum selesai mengobrol dengan sahabatnya. Entah apa yang kedua wanita itu bicarakan, Bisma hanya tahu Erina harus segera masuk kamar karena cuacanya dingin. Dan Erina hanya memakai gaun tidur tipis.


"Saya serius, Erin! kalau dalam hitungan ketiga ..."


"Bisma, kamu belum tidur?" Tanya Erina tiba-tiba muncul dari pintu balkon dan memotong Bisma yang bergumam tidak jelas, Bisma bersyukur dirinya sedang bersandar pada sandaran ranjang sehingga dia tidak jatuh dengan tidak elit karena terkejut melihat istrinya datang.


Bisma berdehem dan memperhatikan Erina sedang menutup pintu balkon.


"Erin, apa yang kamu lakukan dibalkon?" Tanya Bisma sekedar mengalihkan pertanyaan Erina, dia tidak mungkin mengatakan bahwa sejak awal dirinya memang tidak berniat untuk tidur.


Erina berbalik menatap Bisma dan perlahan berjalan menghampiri tempat tidur. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Bisma karena merasa jarak mereka kurang nyaman untuk saling bicara.


"Soraya menelpon, aku mengangkatnya disana." Jawab Erina ketika sudah duduk di samping Bisma. Dia heran mengapa suaminya belum tidur. Pasalnya tadi Bisma mengatakan sudah mengantuk dan memintanya untuk tidak mengganggu.


"Kenapa kamu belum tidur?" Erina mengulang pertanyaan yang tadi belum Bisma jawab lalu bersandar pada bahu suaminya. Dia merasa bimbang setelah Soraya menelpon.


"Gisella memang selingkuhan pemimpin agensinya. Tapi menurut gue, hal itu tidak bisa dijadikan alasan Gisella dan Bisma tidak punya hubungan. Gisella wanita penggoda, bisa aja kan Bisma tergoda sama dia?"


"Gisella bisa tahu nomer hp Bisma, lo tidak curiga? Oke, mungkin mengenai ulang tahun Gisella bisa mendapatkan itu dari internet. Tapi menurut gue, Bisma tidak mungkin mencantumkan nomer hp disana."


"Terus pertemuan diantara mereka? Erin, lo pernah cerita kalau saat Bisma dan Gisella bertemu, Bisma megang hp lo, apa lo tidak merasa ada yang aneh? Mungkin Bisma sengaja, Erin!"


"Kalau iyah Bisma bertemu Gisella hanya untuk mencaritahu siapa yang nelpon dia waktu itu ... terus kenapa Bisma harus ngambil handphone lo?"


"Erin, gue tidak mau lo menyesal, tidak ada yang salah lo bertahan. Bercerai memang tidak baik kan? Tapi lebih baik lo memastikan dulu perasaan diantara kalian! Jangan sampe anak kalian lahir tanpa kasih sayang."


Erina memejamkan mata mengingat perkataan Soraya dan mendadak ragu dengan keputusannya. Meskipun ada bagian dirinya yang berkata bahwa Soraya hanya terlalu khawatir padanya, ada dirinya yang lain lagi membenarkan perkataan Soraya. Dan yang membenarkan perkataan Soraya lebih kuat dibandingkan yang lainnya.


Bisma merasakan kebimbangan Erina dan hal itu membuatnya terheran. Sebelum Erina pergi ke balkon, Bisma masih mendengar Erina senang membicarakan idolanya yang katanya tampan, tapi entah mengapa sekarang Erina mendadak terlihat murung.


"Saya mendadak tidak bisa tidur. Kamu kenapa?" Tangan Bisma tergerak untuk menyentuh bahu Erina. Dia tidak tahu apa yang sudah Erina dan sahabatnya bicarakan. Tetapi sepertinya Erina sedang kepikiran akan sesuatu.


Erina tidak menjawab. Dia teringat janji Bisma sebelum mereka berangkat ke Seoul, Bisma berjanji akan memberi bukti bahwa memang dia merupakan pria terbaik untuk Erina. Dan hati Erina kembali dihujani kebimbangan.


"Bryan ganteng banget ya, Erin?!" Tanya Bisma. Dia kebingungan mencari bahan pembicaraan sehingga menyinggung hal itu. Erina kembali mengabaikan pertanyaan Bisma.


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur." Erina menjauhkan dirinya dari Bisma dan membuat tangan Bisma yang ada dibahunya terjatuh keatas kasur. Lalu dia menatap Bisma lembut.


Bisma merasakan sesuatu dari tatapan istrinya, Erina sepertinya memang sedang kepikiran akan sesuatu dan Bisma tidak tahu hal apa itu. Dia hanya berharap bukan sesuatu yang buruk.


"Iyah saya tidur, kamu juga ya?"


"Hm."


Bisma bisa melihat Erina tidur dengan membelakanginya, persis seperti yang sebelumnya Bisma lakukan terhadap Erina. Dan hal itu membuat Bisma menyalahkan dirinya sendiri.


Jika saja tadi ... ah sudahlah, mungkin Erina memang sedang membutuhkan waktu dan ingin beristirahat, lagipula sekarang sudah lewat tengah malam.


Bisma membaringkan tubuhnya disamping Erina dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang, dia tidak peduli meskipun Erina akan memaki dirinya yang tadi menolak dipeluk.


"Selamat malam, istriku." Bisik Bisma ditelinga Erina.


Erina mengulas senyuman. Dia masih belum menutup matanya dan sengaja membelakangi Bisma supaya suaminya tidak tahu kalau dirinya belum mengantuk. Lalu tangan Erina meyentuh lengan Bisma yang saat ini berada di pinggangnya.


"Maaf ... aku hanya butuh waktu membuat diriku yakin untuk percaya padamu" Lirih Erina dalam hatinya.



Erina terbangun ketika menyadari sudah tidak ada pria yang semalam memeluknya. Kemudian mata Erina menelusuri setiap sudut kamar, pria itu tidak bisa dia temukan. Sepertinya Bisma sedang pergi keluar.


"Erin, kamu sudah bangun?" Tanya Bisma. Pria itu baru keluar dari kamar mandi dan mengumbar senyumannya kepada Erina.


Erina tersenyum tipis dan hanya bergumam menanggapi suaminya. Bisma semakin mengembangkan senyumannya, Bisma senang melihat Erina tersenyum padanya meskipun istrinya itu tidak memberikan jawaban yang memuaskan hatinya.


"Saya bantu." Ucap Bisma ketika Erina akan mengikat rambutnya. Dia dengan telaten membantu Erina mengikat rambut. Sementara Erina terdiam.


"Erin, saya sudah memesan sarapan." Ucap Bisma berusaha mencari topik pembicaraan. Dia kemudian memeluk Erina dari belakang. Entah mengapa sejak semalam Bisma merasa khawatir Erina akan meninggalkannya.


"Hm, maaf aku terlambat bangun." Ucap Erina dan membiarkan Bisma memeluknya. Lagipula Erina selalu nyaman berada dalam pelukan Bisma meskipun sekarang masih ada sedikit keraguan dalam hatinya.


"Tidak apa-apa. Oh ya, kamu ingin pergi kemana?" Tanya Bisma antusias. Dan entah mengapa nada bicara Bisma membuat Erina merasa bersalah.


"Aku tidak tahu tempat yang bagus disini, bagaimana kalau kamu saja yang memilih tempatnya?" Erina balik bertanya. Dia sudah biasa bersikap seolah tidak memiliki masalah sebelum menikah. Dan tidak ada salahnya dia sekarang menerapkan kebiasaannya.


Bisma kurang percaya Erina tidak tahu tempat yang bagus di negara ini, tapi Bisma memilih untuk tidak mendebat istrinya. Lagipula Bisma juga sudah memiliki daftar tempat yang akan mereka kunjungi. Bisma bertanya hanya untuk memastikan tidak ada tempat yang akan mereka lewatkan.


"Bagaimana, Bisma?! Jangan bilang kamu juga tidak mengetahuinya!" Ucap Erina dan membuat lamunan Bisma buyar. Kemudian wanita itu berbalik sambil memegang tangan Bisma sehingga tangan Bisma masih melingkar pada pinggangnya.


"Saya tahu, kita akan pergi setelah sarapan."



Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...


Regards:


©2019, lightqueensa.