
Erina dan Bisma kembali mendapat sambutan di rumah utama keluarga Radhika, bukan hanya dari para pelayan, nenek Sekar juga secara khusus menyambut kedatangan mereka dan berdiri di depan pintu rumahnya sambil tersenyum.
"Assalamualaikum, nek." Ucap Erina lalu mencium tangan nenek Sekar seperti yang biasa wanita itu lakukan kepada nenek mertuanya.
Nenek Sekar semakin tersenyum lalu beliau menyentuh sekilas kepala Erina sebagai tanda sayang kepada menantunya. "Walaikumsalam, nenek pikir kalian tidak akan datang."
Erina menarik kedua sudut bibirnya mengikuti apa yang nenek Sekar lakukan. Erina tahu hubungan antara suaminya dan nenek Sekar kurang baik, mungkin itu yang membuat nenek Sekar berpikir mereka tidak akan datang.
Bisma memilih diam dan memperhatikan dua wanita di depannya, dia merasa malas untuk sekedar basa-basi dengan sang nenek. Karena pertemuan terakhir mereka pekan lalu terus menghantui pikiran Bisma tanpa bisa terlupakan.
"Mana mungkin kami tidak datang. Oh ya, bagaimana keadaan nenek?" Tanya Erina disertai senyuman yang membuat Bisma memutar mata.
Bisma tidak suka melihat Erina tersenyum pada wanita tua yang menyuruh mereka bercerai, dia masih ingat setiap kata yang nenek Sekar ucapkan saat terakhir kali mereka bertemu dan hal itu benar-benar membuat Bisma emosi.
"Seperti yang kamu lihat, nenek sangat sehat, Ayo masuk, kita bicara di dalam." Ucap nenek Sekar mengajak cucu dan menantunya masuk rumah.
Bisma menahan langkah Erina dengan tangan yang melingkar posesif pada pinggang istrinya itu, lalu dia menatap nenek Sekar seolah mengancam supaya sang nenek tidak menjadi penyebab kehancuran dalam rumah tangganya.
"Mas, ada apa?" Tanya Erina heran, pasalnya Bisma terlihat tidak rela Erina masuk kedalam rumah nenek Sekar atau mungkin Bisma hanya keberatan merasa Erina tinggalkan. Entahlah.
"Tetap berada disampingku." Ucap Bisma lalu menarik tubuh Erina supaya menjaga jarak dari nenek Sekar. "Aku tidak ingin jauh darimu."
Erina berdehem, entah kenapa dia ingin sekali menerkam Bisma. Mungkin karena selama di Karawang Erina yang selalu mengharapkan perhatian dan Bisma mengabaikannya, Erina menjadi gemas sendiri melihat suaminya.
"Mas, aku tidak berniat pergi, aku hanya ingin masuk kedalam rumah nenek." Ucap Erina berusaha menghargai keberadaan nenek Sekar yang saat ini sedang menatap mereka.
"Erin, Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Bisma mengabaikan perkataan Erina karena belum siap dengan apa yang akan mereka bicarakan di dalam rumah. Bisma takut menyangkut perceraian.
"Tapi--" Erina hendak menolak karena merasa tidak enak terhadap nenek Sekar, tapi sang nenek lebih cepat menyela perkataan Erina.
"Tidak apa-apa, kalian berdua bicaralah, nenek akan menunggu di dalam, ayo." Nenek Sekar langsung mengajak para pelayan masuk kedalam rumah tanpa mengatakan apapun lagi.
Erina menarik nafas setelah memastikan nenek Sekar dan para pelayan masuk ke dalam rumah, lalu Erina menatap Bisma yang juga sedang menatap padanya dengan tatapan kosong.
"Mas, ap-- mmphhh." Tanpa diduga, Bisma membungkam mulut Erina dengan bibirnya.
Bisma perlahan memejamkan mata, tangan kirinya menyentuh lembut wajah Erina sementara tangan kanannya sedikit menekan tengkuk wanita itu. Bisma melampiaskan emosinya dengan melahap habis bibir ranum Erina.
Erina tidak membalas perlakuan Bisma, tapi juga tidak berusaha menolaknya. Erina menyadari ada sesuatu yang membuat Bisma seperti ini, Erina merasa ciuman sekarang berasal dari sesuatu yang terjadi antara Bisma dan nenek Sekar.
Erina tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia masih belum menemukan titik terang mengenai apa yang sudah terjadi antara Bisma dan sang nenek. Erina masih terus berharap tidak terjadi hal buruk, semoga semuanya baik-baik saja.
"Mas ..." Erina terengah-engah ketika Bisma berhenti mencium bibirnya, wajah mereka masih berdekatan dan hanya terpisah jarak beberapa senti, bahkan kening mereka saling bersentuhan.
"Erin, tolong jangan dengarkan apapun yang akan nenek katakan nanti." Ucap Bisma kembali memperkuat dugaan Erina terhadap sesuatu yang sudah terjadi antara Bisma dan neneknya.
"Tapi, kenapa aku tidak boleh mendengarkan perkataan nenek?" Tanya Erina lembut sambil memejamkan mata dan merasakan hembusan nafas Bisma yang menyentuh kulit wajahnya.
"Aku mohon ..." Ucap Bisma melirih tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan Erina.
*****
Erina dan Bisma berada di ruang keluarga bersama nenek Sekar, mereka bersantai sambil meminum teh dan Bisma yang tidak ingin jauh dari Erina terus menempel pada istrinya. Nenek Sekar saja sampai menggelengkan kepala melihat kelakuan cucu semata wajahnya itu.
"Mas ..." Lirih Erina ketika Bisma semakin menempel padanya, lihat saja bagaimana Bisma memeluk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Erina di depan nenek Sekar.
Bisma menghiraukan Erina yang merasa tidak nyaman dengan perlakuannya. Bisma takut nenek Sekar tiba-tiba mengatakan hal yang membuat Erina meninggalkan keluarga mereka, jadi pria itu terus mendekap Erina untuk berjaga-jaga barangkali Erina benar-benar berniat pergi.
Bisma belum percaya Erina akan mengikuti sesuai apa yang telah mereka bicarakan.
Nenek Sekar sendiri hanya memandang geli kelakuan cucunya, tadinya beliau meminta Bisma dan Erina datang untuk meminta maaf karena sudah meminta keduanya bercerai. Ah ralat, nenek Sekar ingin meminta maaf karena sudah menyuruh Bisma menceraikan Erina.
"Bisma?" Panggil nenek Sekar kepada cucunya dan membuat Bisma menoleh padanya.
"Hm, kenapa?" Sahut Bisma terkesan ketus, dia sebenarnya malas datang ke rumah itu, kalau bukan Erina yang mengajaknya.
"Aku minta maaf atas apa yang pernah aku katakan, mulai sekarang aku tidak akan ikut campur dengan hidupmu, aku benar-benar minta maaf padamu." Ucap nenek Sekar menyesal.
"Kenapa nenek tiba-tiba minta maaf?" Pikir Erina sambil menatap nenek Sekar dan Bisma secara bergantian, dia bisa melihat pandangan Bisma lurus kepada nenek Sekar.
"Tidak perlu membahasnya, aku saja sudah lupa dengan apa yang pernah nenek katakan." Ucap Bisma berbohong tentunya, sebenarnya Bisma masih sangat memikirkan perkataan neneknya, bahkan Bisma enggan datang karena hal itu.
Tapi, Bisma merasa tidak nyaman karena nenek Sekar meminta maaf padanya, meskipun sang nenek sudah melakukan kesalahan, Bisma tidak pernah mengharapkan permintaan neneknya, dia hanya ingin nenek Sekar mengerti dirinya.
"Mas ..." Tegur Erina merasa bahwa Bisma terlalu kasar terhadap nenek Sekar.
Nenek Sekar tersenyum simpul. "Tidak apa-apa, Erin. Nenek mengerti Bisma marah, tapi setidaknya nenek bisa lega setelah meminta maaf padanya, silahkan nikmati waktu kalian."
Nenek Sekar beranjak dari tempat duduknya, dia berniat meninggalkan ruangan itu supaya Bisma bisa lebih leluasa bermanja-manja pada Erina, namun suara Bisma lebih dulu menahan kepergian wanita tua itu dari ruang keluarga.
"Nenek menyuruh kami datang kesini hanya untuk mengatakan itu?" Tanya Bisma lalu melepaskan Erina dari pelukannya dan menjauhkan dirinya dari sang istri.
"Mas ..." Erina kembali menegur dan Bisma masih saja mengabaikan teguran darinya.
Nenek Sekar berbalik dan menatap Bisma yang juga menatap padanya, Erina merasa takut akan ada pertengkaran hebat antas keluarga, terlebih saat melihat cara mereka saling menatap.
"Kalau hanya meminta maaf, kenapa nenek tidak menelponku? kenapa harus menyuruh kami datang kesini?" Tanya Bisma lagi.
"Kamu membenciku, jadi aku ragu kamu akan menerima telpon dariku." Jawab nenek Sekar tenang, namun membuat emosi Bisma bangkit.
"Baguslah kalau nenek sadar betapa bencinya aku padamu." Ucap Bisma tajam, padahal dalam hatinya Bisma menangis, Bisma tidak membenci neneknya.
"Bisma, tolong hentikan! kenapa kamu jahat pada nenekmu sendiri?"
*****
Jangan lupa dukung cerita ini dengan cara: like, favorit dan share. Makasih ❤ Oh ya, aku bakal ada cerita baru nanti judulnya [bukan] Pelakor, nanti ceritanya akan update setiap hari rabu (setiap libur kerja) Coba deh kalian kepoin instagram aku, nanti aku share info disana ...