
Bisma duduk di ruang kerjanya sambil memasang wajah cemberut, sudah sekitar setengah jam Bisma menunggu Erina membujuknya ke kamar, tapi masih belum ada tanda-tanda wanita itu datang, apa mungkin Erina sudah tidur duluan?
Bisma dan Erina memutuskan pulang ke mansion setelah makan malam di rumah nenek Sekar. Selama perjalanan Bisma sengaja mendiami Erina, tadinya Bisma berpikir istrinya akan peka, tapi ternyata Erina sama sekali tidak peduli.
"Tuan Bisma?" Panggil seseorang dari balik pintu ruangan kerja Bisma.
Bisma mengenali suara siapa itu, Maya, salah satu maid yang bekerja di mansion nya, bukan wanita yang saat ini sedang Bisma harapkan.
"Hm." Bisma bergumam malas menyahuti Maya.
"Tuan, anda ada di dalam?" Maya kembali bicara dengan suara yang lebih pelan, sepertinya Maya tidak mendengar Bisma yang menyahutinya.
"Nona Erin ..."
"Jangan menyebut namaku."
"Tapi bukankah..."
"Sudahlah, mungkin Bisma sedang sibuk, aku akan kembali ke kamar, terimakasih dan maaf merepotkan, kamu juga bisa kembali ke kamar."
"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi."
Kira-kira itu yang Bisma dengar dari percakapan orang yang ada di depan pintu ruang kerjanya lalu Bisma bergegas keluar dari ruang kerjanya itu.
"Erin, tunggu!" Ucap Bisma ketika melihat Erina tidak jauh dari tempatnya berdiri, Maya juga berada tepat di samping Erina berdiri.
Erina memutar tubuh mendengar suara Bisma, lalu dia melemparkan senyuman kepada suaminya itu. Sementara Maya kembali ke kamar dan memberikan ruang kepada majikannya.
"Mas, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Erina sambil berjalan menghampiri Bisma.
"Oh." Bisma mengusap tengkuknya, sebuah kebiasaan saat pria itu merasa bingung.
Bisma tidak percaya Erina berpikir dirinya sedang melakukan pekerjaan di ruang kerja, pantas saja Erina tidak datang dan membujuknya tidur di kamar, Bisma sudah salah memperhitungkan.
"Mau aku buatkan sesuatu?" Erina kembali bertanya saat sudah berdiri di hadapan Bisma.
"Mas?" Tegur Erina melihat suaminya melamun.
Bisma berdehem sebelum bicara menanggapi istrinya. "Hm, aku ingin kopi, bisa tolong buatkan untukku?"
Erina tersenyum dan mengangguk. "Hanya kopi? bagaimana cemilannya?"
Bisma mendesah melihat keantusiasan Erina, dia memang selalu kalah dari istrinya, lihat saja wajah polos Erina yang seperti tidak tahu apapun. Bisma sudah salah berharap Erina membujuknya.
Bisma sangat yakin Erina bahkan tidak menyadari kesalahannya, padahal Erina sudah berhasil membuat Bisma cemburu karena wanita itu sudah tersenyum berlebihan kepada Leo.
"Hanya kopi. Aku masih kenyang setelah makan di rumah nenek." Jawab Bisma lemas.
"Oh, baiklah." Sahut Erina lalu pergi begitu saja menuju dapur.
Bisma mengikuti Erina dari belakang sambil meruntuki kebodohannya, tidak seharusnya dia melakukan hal konyol dengan mendiami Erina tadi, Erina mana tahu suaminya ngambek.
"Mas, apa aku melakukan kesalahan di rumah nenek?" Tanya Erina saat berjalan menuju dapur.
Bisma tidak menjawab, hanya terus berjalan di belakang Erina, pria itu merasa bingung mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan istrinya.
"Mas?" Erina tiba-tiba berbalik dan membuat Bisma menabrak tubuhnya, hal itu membuat Erina hampir terjatuh ke belakang, beruntung tangan Bisma lebih cepat menahan tubuhnya.
"Hati-hati." Ucap Bisma tanpa menjawab pertanyaan Erina, dia tersenyum menyadari tangan Erina melingkar erat pada lehernya, sepertinya Erina kaget karena nyaris terjatuh.
"Apa kamu dan calon bayi kita baik-baik saja?" Tanya Bisma masih dengan senyuman di bibirnya.
Erina mengedipkan mata berkali-kali, dia merasa ada yang salah dari pertanyaan Bisma. Ha, apa Bisma masih mengira Erina hamil?
Erina buru-buru menjauhkan dirinya dari Bisma lalu setelah itu dia berdehem beberapa kali. Erina takut kalau suaranya tiba-tiba menghilang karena perkataan Bisma barusan mengejutkannya.
"Kata tidak kurang tepat, sayang. Aku hanya belum berhasil membuatmu hamil." Ucap Bisma terdengar ambigu di telinga Erina.
Belum berhasil membuatnya hamil, hm? ternyata Bisma sangat berambisi ingin memiliki anak darinya, pikir Erina sedikit frustasi.
Bagaimana Erina tidak merasa frustasi, dia saja yang akan mengandung anak mereka saja belum terlalu siap untuk memiliki anak.
"M-mas, aku akan membuat kopi sebentar." Setelah itu Erina berjalan cepat menuju dapur.
Erina sengaja mengalihkan karena takut pembicaraan mereka akan panjang nantinya, dia juga malu kalau terus membahas tentang anak.
Setibanya di dapur, Erina bergegas membuat kopi untuk suaminya, dia berharap Bisma tersandung dan lupa dengan pembahasan mereka tadi.
"Erin, kopi tidak baik untuk wanita." Tegur Bisma sambil menahan tangan Erina yang akan menyeduh dua cangkir kopi.
Bisma berdiri tepat di belakang tubuh Erina sehingga saat ini posisinya hampir memeluk tubuh istrinya itu, lalu Bisma menyimpan wadah kopi dan gula ke tempatnya.
"Lebih baik kamu minum susu." Bisma melanjutkan perkataannya dan menaruh dagunya pada bahu Erina.
"Haish, jangan bilang mas menyuruhku minum susu ibu hamil." Ucap Erina dengan nada kesal yang dibuat-buat, dia geli sendiri mengingat kekonyolan suaminya saat di Karawang.
Bisma terkekeh lucu mendengar perkataan Erina dan melingkarkan tangannya pada pinggang Erina.
"Ide bagus, siapa tahu saja setelah meminum itu kamu hamil." Ucap Bisma menanggapi Erina.
"Mana bisa minum susu ibu hamil membuatku hamil, aku hanya akan hamil kalau kita ..." Erina berhenti bicara dan berdehem, hampir saja Erina mengatakan hal yang tidak sepantasnya.
Bisma berusaha menahan tawa karenanya, dia cukup peka dengan maksud Erina, lalu Bisma mengecup leher Erina sampai meninggalkan bekasnya disana dan membisikan sesuatu.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita ..." Bisma sengaja menggantungkan kalimatnya meniru Erina, dia membalikan tubuh Erina dan membuat mereka saling berhadapan.
"Sudah lama juga kita tidak melakukannya kan?" Tanya Bisma berbisik di telinga Erina.
Erina merasa pikirannya meremang, belum apa-apa saja Bisma sudah membuatnya melayang, Erina bahkan sampai tidak menyadari Bisma sudah menggendongnya ala bridal.
"Bisma ..." Erina memekik ketika sadar Bisma menggendongnya dan Erina melingkar tangannya pada leher Bisma karena takut terjatuh.
"Sepertinya aku harus mengingatkan kembali apa yang sudah kita sepakati." Bisma mulai melangkah menuju kamar dan menaiki satu persatu anak tangga.
"Mas, aku minta maaf, tapi tolong turunkan aku, bagaimana kalau ada orang yang melihat kita?" Ucap Erina terdengar panik.
"Baiklah, aku akan memaafkanmu setelah malam ini berakhir." Bisma menyeringai saat melihat Erina membulatkan matanya, dia semakin bersemangat membawa Erina ke kamar mereka.
"Mas ..."
"Sayang, kita sudah gagal melakukannya di rumah nenek, sekarang tolong puaskan aku." Ucap Bisma menyela perkataan Erina.
Erina menelan ludahnya karena bertepatan dengan itu Bisma membuka pintu kamar mereka, sebenarnya Erina juga merindukan sentuhan Bisma, tapi bagaimana dengan nasib kopinya?
"Erin, aku sudah tidak sabar ingin melihat diriku dalam porsi kecil." Bisma perlahan meletakkan Erina di ranjang mereka, tentunya setelah menutup pintu karena Bisma harus memastikan ritual mereka malam ini bebas dari gangguan.
Dan akhirnya malam itu Bisma bisa menyalurkan hasratnya kepada Erina.
×××××××××××××××××××××××××××××××××
Ini idola Erina (Bryan byun):
"Ya ampun aku lemah sama foto ini." (Author)
Jangan lupa kasih obat buat author nya (like, favorit dan share) cerita ini, tolong aku sedang mabuk gara-gara foto diatas, butuh banget obat dari kalian. Thanks ❤
Regards,
Nur Alquinsha A.