
Erina berhenti tertawa saat menyadari Bisma terdiam sambil menatap padanya, Bisma masih bertelanjang dada dengan tangan yang memegang handuk, mereka saling menatap tanpa mengatakan apapun dalam waktu yang cukup lama sampai akhirnya Erina bicara.
"Bisma, kamu membuat aku takut." Lirih Erina menghentikan keheningan diantara mereka.
"Kenapa takut, hm?" Tanya Bisma pada detik berikutnya sambil tersenyum, lalu memakai polo monochrome di hadapan Erina.
"Sebelum pergi ke kamar mandi, kamu masih baik-baik saja, kenapa sekarang--" Erina menghentikan perkataannya, dia menunduk dengan tangan kanan yang menyentuh sudut matanya yang berair akibat tertawa.
Erina sudah berusaha menghibur Bisma sampai mengesampingkan harga dirinya yang kelewat tinggi itu, tapi apa yang Bisma lakukan? Bisma malah membuat Erina tampak konyol saat Erina tertawa barusan!
Bisma tertegun melihat Erina menghapus air matanya, lalu bergegas mendekati Erina dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Kenapa menangis?" Tanya Bisma lembut sambil mencium puncak kepala Erina berkali-kali.
"Saya hanya merindukan ibu. Erin, kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran, saya tidak ingin kepala kamu sakit lagi." Lanjut Bisma pelan.
Well, sebenarnya mimpi bertemu ibu sudah mengganggu pikiran Bisma sejak tadi pagi, tapi Bisma tidak memperlihatkan apa yang mengganggu pikirannya karena tidak ingin hal itu juga membebani pikiran Erina.
"Maaf ..." Lanjut Bisma ketika Erina hanya terdiam tanpa membalas pelukan darinya.
"Tidak, kamu tidak perlu meminta maaf, aku bisa memahami kalau kamu merindukan ibumu, tapi jangan bersikap aneh seperti tadi." Sahut Erina cepat, takut Bisma salah paham.
Bisma tertawa pelan untuk mencairkan suasana, lalu mengeratkan pelukannya dan kembali mencium puncak kepala Erina.
"Apa saya baru saja bersikap aneh?" Bisma masih terkekeh ketika bertanya, Erina menjawabnya dengan anggukan.
"Kamu bisa mengatakan padaku kalau mau pergi ke makam ibumu, kita bisa pergi bersama, asal kamu tidak bersikap aneh, aku tidak menyukainya." Ucap Erina lagi.
Bisma menghela nafasnya dan melepaskan pelukan mereka.
"Apa kepalamu masih sakit?" Tanya Bisma mengalihkan dengan tangannya yang memegangi kedua bahu Erina.
"Aku tidak sedang membahas itu, Bisma." Ucap Erina tanpa menjawab Bisma, dia mengaku bahwa kepalanya kembali sakit, tapi untuk sekarang hal itu tidak begitu penting.
"Erin ..."
"Kita tidak perlu pergi ke rumah sakit, aku akan mengantar kamu menemui ibumu."
"Tidak perlu! saya akan tetap mengantar kamu ke rumah sakit!"
"Bisma!"
"Tolong jangan membantah! Saya tidak ingin berdebat!"
"Baiklah, terserah!"
Erina mengakhiri perdebatan mereka, lalu mengambil barang-barang yang sudah di kemas dalam sebuah tas dan keluar dari kamar begitu saja meninggalkan Bisma.
Bisma memejamkan mata dan mengambil nafasnya, dia tidak bermaksud membuat Erina kesal atau mungkin marah. Bisma hanya ingin memastikan Erina baik-baik saja.
"Maaf ..." Lirih Bisma.
Sementara itu, Erina tiba di ruang tamu dengan wajah muram dan membuat orang-orang yang berada di ruangan itu menatap heran padanya, terlebih mereka sempat mendengar perbedatan yang terjadi.
"Erin, lo sama Bisma berantem?" Tanya Soraya yang menghampiri Erina. Sementara Leo dan Farhan hanya memperhatikan.
Erina tidak menjawab, dia hanya menatap Soraya dengan pandangan kosong.
"Gue pulang ya, Raya?" Ucap Erina masih dengan tatapan kosongnya.
Soraya hendak menahan Erina, namun kedatangan Bisma diantara mereka menghentikan wanita itu, Soraya akhirnya membiarkan Erina keluar dari rumahnya.
"Kami tidak bertengkar." Ucap Bisma kepada Soraya seolah mewakili jawaban Erina.
Bisma tersenyum tipis. "Kalau begitu saya pamit, maaf sudah merepotkan kalian."
"Ha, kalian tidak merepotkan sama sekali, gue yang harusnya minta maaf karena sudah mengganggu bulan madu kalian." Sahut Soraya tanpa menatap Bisma.
Farhan tersenyum melihatnya. "Baguslah, hubungan kalian sepertinya sudah membaik." Gumamnya dalam hati.
Bisma tidak terlalu menanggapi perkataan Soraya. Karena ada hal yang lebih penting, dia harus segera mengejar Erina.
"Saya berduka atas meninggalnya anak kalian, semoga tuhan cepat memberi kalian anak lagi. Maaf, saya harus segera pergi. Permisi."
Bisma kemudian beralih kepada Leo. "Ayo pergi!"
__
Suasana di mobil tidak begitu baik, Erina memilih duduk di samping Leo dan membiarkan Bisma duduk sendirian di belakang. Leo semakin yakin sudah terjadi pertengkaran antara Bisma dan Erina.
"Bisma, bagaimana kalau kamu saja yang menyetir?" Tanya Leo kepada Bisma. Dia merasa posisi duduk mereka saat ini tidak benar dan membuatnya kurang nyaman.
"Tidak, kamu saja. Tolong antar kami ke rumah sakit setelah itu ke makam ibuku." Jawab Bisma sambil menatap Erina yang sedang memandang keluar jendela mobil.
"Oh?" Leo menoleh ke belakang, lalu menatap Bisma dan Erina secara bergantian, Leo merasa ada sesuatu yang salah. "Kenapa mendadak ingin mengunjungi makam ibumu?"
Bisma menatap Leo yang juga sedang menatap padanya, dia memberi tatapan seolah mengatakan. "Jangan banyak bicara! Sekarang jalankan saja mobilnya!"
Leo yang mengerti arti tatapan Bisma akhirnya mulai melajukan mobilnya dengan sesekali menoleh kearah Erina yang duduk di sampingnya, lalu menghela nafas pelan.
"Mereka sangat senang membuat aku susah." Gumam Leo dalam hatinya.
Demi tuhan, kalau bisa memilih, Leo lebih baik melihat Bisma dan Erina bermesraan. Karena setidaknya Leo tidak perlu merasa was-was seperti sekarang, takut tiba-tiba pasangan suami-istri itu merusak mobilnya.
Leo memikirkan cara agar suasana di dalam mobil berubah, dia merasa tidak betah kalau terus berada dalam keheningan. Leo melihat sekilas pada tombol musik di dalam mobilnya dan langsung terpikirkan sebuah ide.
"Boleh aku menyetel musik?" Tanya Leo meminta ijin kepada Bisma dan Erina, dia bicara dengan hati-hati karena takut membuat kedua orang di dalam mobilnya itu marah.
"Boleh atau tidak?" Leo mengulangi pertanyaannya ketika Bisma maupun Erina terlihat enggan untuk menjawab.
"Terserah!" Jawab Bisma dan Erina bersamaan. Leo tersenyum mendengar pasangan suami-istri itu kompak.
"Baiklah, aku akan menyetel musiknya, tapi apa kalian memiliki saran, lagu apa yang sebaiknya kita dengar?" Tanya Leo sambil melirik sekilas kearah Erina.
"Terserah apa saja, asal kamu berhenti melirik istriku." Jawab Bisma datar sambil berpura-pura memainkan ponselnya.
Leo mendesah pelan, Erina berdehem lumayan keras dan menyela Leo yang baru akan membuka mulutnya.
"Bisma ..." Tidak, Erina tidak bermaksud menegur Bisma yang barusan melakukan sindiran keras terhadap Leo, wanita itu hanya merasa perlu memberitahu beberapa hal kepada suaminya.
"Hm?" Sahut Bisma tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Aku minta maaf ..." Lirih Erina, lalu mengambil nafas sejenak.
"Tapi bukankah kamu merindukan ibumu? selain itu, aku ingat kita juga belum sempat meminta restu padanya, bagaimana kalau kita pergi ke makam ibumu saja?" Erina melanjutkan kalimatnya dengan hati-hati.
Sejak awal, Erina tidak marah, Erina hanya merasa tidak enak karena Bisma terus mengutamakan dirinya dan Erina juga merasa sedikit kesal karena Bisma tidak berusaha memikirkan dirinya sendiri.
"Kamu benar, kepalaku memang sakit akibat terlalu banyak pikiran, tapi aku sendiri yang salah, karena aku terlalu memikirkan banyak hal dan bukan kamu penyebabnya."
Leo berdehem pelan dan mengurungkan niatnya untuk memutar musik ketika mendengar perkataan Erina, dia melirik spion bertepatan dengan Bisma yang menatap kearah Erina.
Apa tadi Leo mengatakan lebih baik melihat Bisma dan Erina bermesraan? tidak! sekarang Leo berubah pikiran! Leo mulai merasa tidak tenang untuk menyetir.