
"Erin, jangan mendiami saya seperti ini, saya dan Krystal tidak memiliki hubungan apapun, saya mohon percayalah."
Erina berusaha mentulikan telinganya saat Bisma tidak berhenti menjelaskan, mereka sudah tiba di mansion dan Erina mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.
"Erin!" Teriak Bisma frustasi dan membuat para penghuni mansion takut, kecuali Erina tentunya, istri Bisma itu malah terlihat santai dan meneruskan langkahnya menuju kamar.
"Erin, saya akan melompat dari sini kalau kamu terus mendiami saya." Ucap Bisma mengancam Erina ketika mereka tiba di anak tangga paling atas.
Erina menghela nafas, lalu menghadapkan dirinya kepada Bisma. "Baiklah, silahkan lompat, aku akan melihatmu."
"A-apa? kamu benar-benar ingin saya melompat dari tempat ini? Erin, kenapa kamu tega sekali?" Komentar Bisma tidak menyangka dengan apa yang dia dengar.
Erina mengangkat bahu acuh. "Aku tidak menginginkannya, kamu sendiri yang mengatakan akan lompat dari sana."
Bisma menganga tidak percaya, ternyata benar apa yang di katakan Leo, istrinya itu memang kejam. Ah, mengingat Leo membuat Bisma ingin sekali mencekik sahabatnya itu. Leo pergi begitu saja tanpa berniat membantu.
"Kamu tidak berniat mencegah saya?" Tanya Bisma, dia tidak memperdulikan keberadaan para maid di bawah tangga sana.
"Tidak, kenapa aku harus mencegahmu?" Erina membalikan pertanyaan sambil memasang wajah polos.
"Jadi kamu senang kalau saya mati?" Tanya Bisma memelas.
"Kamu belum tentu mati kalau lompat dari sana." Jawab Erina enteng.
DAMN! Bisma ingin sekali membawa Erina ke dalam kamar dan membuat wanita itu memohon ampun di bawahnya, tapi Bisma tahu kalau hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Erina berbeda dengan wanita lain.
"Erin, apa sebatas itu cintamu pada saya?" Tanya Bisma dengan mata yang berkaca-kaca.
Erina kembali menghela nafas sebelum menanggapi perkataan Bisma. "Suamiku, kamu baru saja berpelukan dengan wanita lain di hadapanku dan sekarang kamu membicarakan cinta?"
"Saya dan Krystal tidak berpelukan, Krystal yang memeluk saya secara paksa." Sahut Bisma meluruskan.
"Baiklah, tapi kamu tidak menolak pelukannya bukan?" Tanya Erina masih bersikap tenang.
"Sudah saya katakan, Krystal memeluk saya secara paksa. Erin, kamu melihatnya sendiri kan?" Bisma benar-benar frustasi menghadapi istrinya itu. Erina sangat sulit diajak bicara.
"Aku melihat kamu diam saja di peluk oleh wanita bernama Krystal itu." Sahut Erina sesuai fakta yang dia lihat.
"Erin ..."
"Jadi, apa hubungan Leo dan wanita tadi?" Tanya Erina mengalihkan pembicaraan.
"Hah?" Bisma berusaha mencerna pertanyaan Erina barusan. Bagaimana Erina tahu?
Well, Krystal adalah mantan kekasih Leo, makanya Leo mengatakan Bisma penghianat. Karena sampai detik ini Leo masih sangat mencintai mantan kekasihya itu.
Tapi, Bisma tidak berani mengambil kesimpulan bahwa Erina mengetahui tentang hubungan Leo dan Krystal, mungkin saja pendengaran Bisma sedang mengalami gangguan karena terlalu frustasi.
"Aku melihat ada sesuatu diantara Leo dan wanita bernama Krystal." Ucap Erina membuat Bisma mengerjapkan matanya polos.
Erina memutar mata. "Haish, aku tahu Krystal memelukmu untuk memanasi Leo."
"Kamu tahu itu? Lalu kenapa kamu marah?" Tanya Bisma tanpa memperdulikan pertanyaan Erina, dia hanya peduli dengan hal yang tadi membuat istrinya marah.
"Jawab dulu pertanyaanku." Ucap Erina kembali mengabaikan pertanyaan Bisma.
"Leo dan Krystal pernah menjadi pasangan kekasih saat kuliah." Ucap Bisma pada akhirnya, meskipun sebenarnya dia kurang tertarik membicarakan itu.
"Pantas saja!" Erina sudah menduganya, dia bisa melihat bahwa Leo dan Krystal memang saling mencintai.
Bagaimana Erina bisa tahu? Erina tanpa sengaja melihat seorang wanita yang terus memperhatikan mereka di restoran dan wanita itu baru menghampiri saat Leo antusias mengatakan ingin menggendong bayi.
Bisma terlihat tidak memperdulikan ekspresi Erina saat wanita itu mengetahui fakta tentang Leo dan Krystal, dia lebih peduli dengan alasan Erina mendiaminya.
"Jadi apa alasan kamu mendiami saya? kalau kamu tahu Krystal dan Leo memiliki hubungan, kenapa kamu terus mengabaikan saya?" Tanya Bisma belum menyerah.
Erina masih enggan menjawab, dia melirik kearah maid yang ada di ujung tangga bawah.
"Aku tidak bisa menjawab kalau mereka melihatku seperti itu." Ucap Erina setengah berbisik.
Bisma melihat arah pandangan Erina, lalu berdehem untuk menetralkan suaranya.
"Kalian jangan berdiri terus disana, saya tidak membayar kalian untuk menonton kami." Ucap Bisma pada pada maid. Karena jarak mereka, Bisma bicara dengan berteriak.
Para maid langsung kelabakan dan bergegas pergi meninggalkan tempat mereka setelah sebelumnya meminta maaf kepada Bisma dan Erina karena sudah mengganggu.
"Mereka sudah pergi, sekarang kamu bisa menjawab pertanyaan saya?" Bisma menantikan jawaban Erina, tapi istrinya itu malah berjalan meninggalkannya.
"Yak, Erina!" Bisma kembali berteriak saking frustasinya menghadapi sang istri.
Erina diam-diam tersenyum mendengar Bisma berteriak, dia memang tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Bisma, suaminya itu harus menerima sedikit pelajaran karena sudah berani berpelukan di hadapannya.
×××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Erina menghentikan langkah ketika Bisma tiba-tiba memeluknya dari belakang, dia tidak melakukan apapun hanya membiarkan Bisma terus memeluknya.
"Erin, saya mencintaimu, hanya kamu, tidak ada wanita lain dan saya tidak suka berpelukan dengan wanita lain selain kamu." Ucap Bisma melirih.
"Bisma--"
"Kamu boleh menampar saya atau melakukan apapun sesukamu, asal jangan mengabaikan saya apalagi berani meninggalkan saya." Ucap Bisma memotong perkataan Erina.
Erina menghela nafas, lalu membalikan tubuhnya menghadap Bisma. "Hey, apa yang kamu bicarakan, aku tidak berniat meninggalkanmu."
Bisma memejamkan mata saat tangan lembut Erina menyentuh wajahnya, tanpa sadar sudut matanya berair, diabaikan Erina sudah benar-benar membuatnya takut.
"Erin, tolong jangan mengabaikan saya." Ucap Bisma kemudian menatap mata Erina dengan mata berairnya.
Erina terkejut melihat Bisma menangis, Erina mengabaikan Bisma supaya suaminya itu mengerti bahwa dia tidak suka melihat Bisma berpelukan dengan wanita lain.
Erina sama sekali tidak bermaksud membuat Bisma menangis seperti itu, dia menghapus air mata Bisma dengan sangat lembut, lalu berkata. "Calon ayah mana boleh menangis."
"Bisma, aku sudah melakukan kesalahan sebelumnya, tapi aku berjanji tidak akan meninggalkanmu." Ucap Erina berusaha untuk menenangkan Bisma.
Erina yang melihat Bisma terdiam akhirnya memeluk tubuh tegap suaminya itu.
"Kamu ingat apa yang aku katakan di Seoul? Mari hidup bersama untuk waktu yang lama, aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku dan kamu adalah pasangan sempurna dengan segala kekurangan yang kita miliki."
Erina tidak bisa meramal perasaan orang lain, tapi hatinya mengatakan bahwa Bisma adalah pria baik dan tidak pantas untuk di tinggalkan.
Tadinya, Erina ingin mendiami Bisma lebih lama, dia sangat suka ketika mendengar Bisma mengucapkan kata cinta, tapi Erina tidak cukup kuat melihat pria itu menangis.
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Malam minggu doble update! Siapa yang sempat berpikir Krystal menyukai Bisma atau memiliki hubungan di masa lalu?
Oh ya, Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like, favorit dan share cerita ini kalau kalian suka sama ceritanya. Karena aku mungkin tidak akan tahu seberapa antusiasnya kalian terhadap cerita ini kalau kalian tidak meninggalkan jejak, jadi mana suara kalian? Hehe ... Bagian sebelum ini juga di like ya? 🤭
Regards,
Nur Alquinsha A.