
Erina mengacak rambut memikirkan kebodohan yang sudah dia lakukan beberapa menit yang lalu, Erina ingat seringai yang Bisma tunjukan sebelum meninggalkan kamar dan hal itu membuat Erina sangat frustasi.
Erina seharusnya tahu bahwa pikiran Bisma tidak akan sedangkal pikiran Leo, tidak mungkin Bisma mengajak Erina ke rumah sakit hanya untuk memastikan Erina hamil atau tidak, Erina saja yang berpikir terlalu jauh.
Tidak ingin terlalu memikirkan hal itu, Erina akhirnya memutuskan untuk membereskan barang miliknya dan menyiapkan pakaian ganti untuk Bisma. Meskipun Erina tetap saja tidak bisa untuk tidak memikirkannya.
"ERIN?" Suara berat itu membuyarkan Erina dari lamunannya.
Erina dengan cepat berbalik untuk melihat orang yang memanggil namanya itu, hampir saja Erina terjatuh, beruntung tangan kekar Bisma bisa lebih cepat menahan tubuhnya.
Ya, orang yang memanggil Erina barusan adalah Bisma, pria itu baru kembali dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk. Bisma tersenyum melihat wajah shock Erina.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Bisma.
Erina terdiam untuk beberapa saat, dia merasa kinerja jantungnya mendadak tidak normal karena kaget. Tidak lama, Erina menjauh dari Bisma dan memalingkan wajahnya.
"Y-ya, aku baik-baik saja." Jawab Erina.
Bisma semakin tersenyum melihat Erina salah tingkah, lalu dia berjalan mendekati Erina dan memeluknya dari belakang, dengan begitu Bisma bisa mencium aroma tubuh istrinya.
Erina menahan nafas sebentar sebelum berkomentar. "Jangan begini, Bisma! Bagaimana kalau ada orang yang melihat?"
Bisma tidak memperdulikan perkatan Erina, dia seperti enggan melepaskan Erina dari pelukannya, lalu Bisma memejamkan mata sambil merasakan jantungnya yang selalu berdetak lebih cepat saat bersama Erina.
"Bisma!" Protes Erina.
"Hm?" Sahut Bisma tanpa membuka matanya, bahkan tangannya masih setia memeluk Erina.
"Kamu tidak dengar--"
"Saya merindukan ibu ..." Lirih Bisma memotong perkataan Erina.
Erina membisu, dia berusaha mengingat apa saja yang sudah mereka bicarakan sampai Bisma tiba-tiba mengatakan rindu ibunya. Erina sudah berusaha untuk mengingat, namun yang Erina ingat hanya hal memalukan tentang alasan Bisma mengajaknya ke rumah sakit. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?!
"Bisma, ada apa?" Tanya Erina lembut dan terkesan hati-hati.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Bisma, lalu membalikan tubuh Erina dan memeluk tubuh mungil wanita itu dari depan, lalu mengarahkan telinga Erina supaya menempel pada dada bidangnya.
"Erin, kamu bisa mendengar detak jantung saya?" Tanya Bisma mengalihkan tanpa memberikan jawaban yang Erina inginkan.
Erina ingin Bisma mengatakan apa yang terjadi, dia tidak membutuhkan kata 'tidak ada apa-apa' dari mulut suaminya. Karena Erina sangat meyakini ada sesuatu yang sudah terjadi dan Bisma sedang berusaha menyembunyikannya.
Erina bisa mendengar detak jantung Bisma seirama dengan detak jantungnya, sesaat Erina tersenyum mengetahui hal itu, tapi beberapa detik berikutnya senyuman Erina luntur. Memang apa hubungannya jantung Bisma dengan alasan merindukan ibunya?!
"Kamu menjadi wanita pertama. Erin, jantung saya tidak pernah berdetak seperti ini sebelum bertemu denganmu." Bisma melanjutkan kalimatnya sekaligus menambah pertanyaan di benak Erina.
Erina melepaskan tangan Bisma dari pinggangnya dengan perlahan kemudian mengangkat wajah, dia bisa melihat Bisma tersenyum dengan tatapan sendu, sangat berbeda dari Bisma yang tadi sempat menggodanya, Erina semakin yakin ada sesuatu yang membuat suaminya berubah secepat itu. Tapi apa?!
"Bisma, aku khawatir kamu masuk angin, lebih baik kamu memakai bajumu, aku akan pergi keluar." Ucap Erina, namun sebelum Erina benar-benar pergi, Bisma lebih dulu menahan pergelangan tangannya.
"Jangan pergi!" Pinta Bisma pelan, dia tersenyum tipis ketika Erina menatap padanya.
Erina menuruti permintaan Bisma untuk tidak meninggalkan kamar, lalu setelah itu mereka terdiam sambil menatap satu sama lain, bahkan Bisma tidak melakukan apa yang Erina suruh padanya.
Erina mungkin akan terdengar konyol saat berusaha menghibur Bisma. Lagipula Bisma tidak bersedih karena sedang putus cinta atau apalah itu, Bisma sedang rindu ibunya!
"Bisma ..." Panggil Erina pelan. Padahal saat ini mereka sedang berhadapan dan saling menatap satu sama lain.
"Kamu ..." Erina kembali menggantung perkataannya karena merasa ragu, lalu Erina memaki dirinya sendiri, bagaimana Bisma terhibur kalau Erina saja kaku?!
Sedetik kemudian terlintas sebuah ide dan Erina berkata. "Kamu baru saja kembali dari kamar mandi hanya memakai itu?"
Erina menunjuk handuk yang melingkar pada pinggang suaminya, Bisma menunduk untuk melihat handuk yang dirinya pakai dengan dahi berkerut.
"Ya, kenapa?" Tanya Bisma sambil memasang wajah polos. Bisma kembali menatap wajah Erina, dia tidak begitu mengerti alasan Erina membahas handuknya.
"Haish!" Erina mendengus dan berpura-pura kesal. "Kamu tidak ingat kita berada di rumah orang?" Tanyanya tanpa menjawab Bisma.
"Saya ingat, tapi kenapa? Erin, apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Bisma sedikit menuntut, dia paling tidak suka Erina menunjukan wajah kesal.
"Jadi kamu berniat memamerkan tubuhmu pada Soraya?" Tanya Erina sambil menggeleng tidak percaya, dia tidak peduli meskipun orang akan menganggapnya dramatis.
Erina hanya tidak suka melihat Bisma yang selalu menggodanya murung, meskipun Erina tahu alasan Bisma mendadak murung, tapi bukankah kurang baik terus memikirkan orang yang sudah meninggal?
Erina mengerti Bisma merindukan wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya, tapi Erina tetap tidak bisa menyukai wajah murung Bisma, dia lebih menyukai Bisma yang selalu berusaha menggodanya.
Bisma terbelalak. "Apa yang kamu katakan, Erina?"
"Kamu berniat memamerkan tubuhmu pada Soraya, aku benar kan?" Tanya Erina penuh penekanan, dia diam-diam tersenyum melihat ekspresi wajah Bisma.
"Saya berniat memamerkan tubuh saya?" Tanya Bisma tidak menerima tuduhan Erina padanya. Erina hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Bisma.
"Jangan konyol! Kenapa saya harus memamerkan tubuh pada temanmu?" Amarah Bisma terbayar dengan ciuman singkat yang Erina berikan pada bibirnya, Bisma bisa merasakan Erina memberikan sedikit lumatan, lalu Bisma melihat Erina tersenyum.
"Kalau kamu tidak berniat memamerkan tubuh, kenapa kamu kembali hanya dengan memakai itu? Bisma, apa kamu tidak tahu caranya menjaga tubuhmu agar tidak terlihat oleh orang lain?"
Erina melanjutkan kalimatnya ketika melihat Bisma hendak membuka mulut. "Kamu hanya akan menjadi milikku, cepat pakai bajumu, dasar keras kepala!"
Bisma benar-benar tidak menyangka Erina akan memakinya seperti itu, lagipula siapa yang berniat memamerkan tubuh? Bisma hanya tidak terbisa mengganti pakaian di kamar mandi!
Tapi tunggu! Bisma tidak salah dengar? Erina baru saja mengatakan bahwa Bisma hanya akan menjadi miliknya? Apa itu artinya ... Erina cemburu? Apa reaksi Erina sekarang bisa disebut sikap posesif?
"Bisma, kalau kamu tidak cepat memakai bajumu, berarti kamu mengaku mau memamerkan tubuhmu ..." Ucap Erina sambil berusaha menahan tawa melihat wajah merah Bisma.
Erina tidak tahu caranya menghibur Bisma, tapi sepertinya membuat Bisma kesal atau bahkan marah akan membuat pria itu melupakan kerinduan terhadap sang ibu.
Erina tidak keberatan kalau Bisma merindukan ibunya, dia hanya tidak mau rasa rindu itu membuat Bisma sedih. Hanya itu.
"Yak!" Bisma ingin sekali protes, tapi dia memilih untuk menuruti istrinya, Bisma tidak ingin Erina berpikir dirinya sedang berusaha menunjukkan tubuhnya pada wanita lain.
Erina akhirnya tertawa lepas melihat Bisma yang terburu-buru memakai baju, Erina merasa terlibur melihat kekhawatiran suaminya. Sementara Bisma yang merasa di tertawakan menatap Erina, dia merasa waktu berhenti untuk beberapa saat.
Bisma tidak kesal Erina mentertawakannya, dia malah senang melihat istrinya tertawa, tapi sesuatu kembali memenuhi pikirannya, Bisma teringat dengan mimpinya dan hal itu yang membuat Bisma merindukan ibunya.
Tadi malam Bisma bermimpi bertemu ibunya, mimpi itu mengingatkan Bisma pada kejadian di masa lalu, saat pertama kali Bisma melihat ibunya marah sekaligus terakhir kali Bisma merasakan kehangatan dalam pelukan ibunya.