
Erina kembali ke mansion sekitar jam sembilan siang, dia baru pulang dari tempat dokter setelah melakukan pemeriksaan dan menjalani program kehamilan. Sementara Bisma langsung pergi ke kantor setelah mengantar Erina di depan gerbang.
"Kak Erin ..." Suara itu menghentikan langkah Erina yang akan melewati ruang tamu. Erina berbalik dan mendapati keberadaan Bayu disana.
"Bayu, kamu masih belum pulang?" Tanya Erina kontan. Erina pikir Bayu yang tidak suka menunggu akan pulang karena merasa bosan.
"Kenapa kakak tidak mengatakan padaku kalau selain jatuh dari tangga, kakak keguguran dan kakak juga akan sulit hamil?" Tanya Bayu mengabaikan pertanyaan Erina padanya.
Erina tidak menjawab, dia memilih untuk menutup rapat mulutnya. Erina memang tidak pernah cerita apapun masalah yang sedang dirinya hadapi kepada adik laki-lakinya itu. Erina lebih suka memendam masalahnya sendirian.
"Kak Erin lebih terbuka terhadap orang asing dibandingkan adik kandung kakak sendiri." Ucap Bayu melirih, dia merasa kecewa sekaligus merasa gagal menjaga kakak perempuannya.
Erina masih membisu, dia tidak merasa terbuka terhadap suaminya, Bisma lebih mengetahui kecelakaan Erina karena pria itu menjadi saksi apa yang terjadi padanya beberapa hari lalu.
"Jadi ini alasan kak Erin menangis?" Tanya Bayu meskipun Erina terus mengabaikan semua perkataannya, Bayu hanya ingin mengungkapkan betapa tidak bergunanya dia untuk kakaknya itu.
"Bayu, sebaiknya kamu kembali ke Karawang, ibu pasti sendirian disana." Ucap Erina mengalihkan. Erina memiliki harapannya kembali setelah bertemu dokter, dia tidak ingin membahasnya.
"Baiklah." Putus Bayu, lalu mengambil nafas dan kembali mengatakan sesuatu sebelum Bayu benar-benar pergi meninggalkan mansion.
"Kakak masih menyimpan nomer handphone ku? kalau masih, kapan pun keluarga Bisma mengusir kakak dari tempat ini, tolong hubungi aku!"
Bayu keluar dari mansion setelah mengatakan hal itu, dia tidak tahu jelas alasan Erina menangis, tapi kalau menyangkut Erina yang sulit hamil, sepertinya kakak perempuannya khawatir tentang mertua yang mungkin mengharapkan cucu.
Erina meneteskan air matanya melihat Bayu menghilang di balik pintu, entah kenapa Erina merasa sakit pada bagian dadanya. Tidak lama Erina mengingat sesuatu, lalu dia mengambil langkah seribu untuk mengejar adik laki-lakinya.
"Bayu, tunggu!" Teriak Erina membuat langkah Bayu terhenti, adik Erina itu membalikan tubuhnya menatap sang kakak.
"Tolong jangan memberitahu ibu, aku tidak ingin membuat ibu khawatir." Ucap Erina, nada bicaranya berubah lirih.
Bayu mendengus tidak menyangka. "Memang apa salahnya kami khawatir padamu? kita ini keluarga, apa kakak lupa itu?" Tanyanya emosi.
Erina tidak menjawab, mana mungkin dia lupa kedua orang yang menjadi anggota keluarganya, Bayu dan ibu Sonya, ibu kandung mereka. Ingatan Erina tidak cukup buruk untuk melupakannya.
Tapi, Erina tetap tidak ingin membuat ibunya khawatir. Erina baru melihat ibunya hidup normal setelah kehancuran keluarga mereka, Erina tidak ingin sampai melihat air mata ibunya lagi.
"Kak Erin, kalau aku tahu kakak menangis karena ibu mertuamu mendesak kalian untuk memiliki anak, aku pasti tidak akan mengancam suamimu." Lalu Bayu menjeda kalimatnya sebentar.
"Aku tidak akan mengancam mas Bisma, aku pasti akan mengajak kalian berdua ke Karawang. Haish! bisa-bisanya ibu mertua kakak mendesak kalian disaat seperti ini. sungguh tidak tahu malu."
Bayu mengumpati ibu mertua Erina karena air matanya menetes begitu saja. Bayu adalah laki-laki dan menangis merupakan hal memalukan baginya, bahkan Bayu sengaja mengalihkan wajahnya kearah lain asal tidak menatap Erina.
Bayu tidak tahu kalau kakak iparnya sudah lama kehilangan ibu. Bahkan, Bayu juga tidak tahu kalau ayah mereka sama-sama brengsek sehingga sikap Bayu terhadap Bisma masih bisa keterlaluan meski sudah memberi restu.
Erina terdiam dan berusaha keras mencerna perkataan Bayu, dia merasa seperti kehilangan setengah kesadarannya karena Bayu mengatakan hal yang sama sekali tidak masuk akal.
Ternyata benar apa yang Leo katakan, Erina dan Bayu memang mirip, mereka bahkan sama-sama suka berpikiran negatif, dan bagaimana mungkin ibu mertua Erina mendesak ingin cucu?
"Bayu, suamiku sudah lama kehilangan orang tua." Ucap Erina sedih.
Bayu tertegun. "J-jadi orang tua suamimu sudah meninggal?" tanyanya menyambar Erina.
"Tidak, hanya ibu mas Bisma yang meninggal, tapi memang hubungan mas Bisma dan ayahnya kurang baik." Jawab Erina menjelaskan.
Bayu kembali tertegun. Kalau Erina tidak mendapat desakan dari ibu mertuanya untuk cepat hamil, lalu kenapa Erina menangis? dan masalah apa yang Bisma maksud tadi?
"Bayu, aku sengaja tidak memberitahu kalian kalau aku mengalami kecelakaan karena aku ingat sejak kecil kamu mudah sekali menangis, dan lihatlah! sekarang kamu juga menangis."
Erina tersenyum simpul dan membuat Bayu semakin tertegun dengan mata yang nyaris melompat saking terkejutnya Bayu terhadap perkataan Erina. Oh ayolah, Bayu tidak cengeng.
"Yak! siapa yang menangis? aku tidak menangis!" Ucap Bisma tidak terima meski tuduhan Erina benar dan buru-buru menghapus air matanya.
"Baiklah, kamu tidak menangis, hanya sedikit meneteskan air mata kan?" Tanya Erina meledek Bayu, lalu wanita itu tertawa lumayan keras.
Bayu tidak peduli meskipun sekarang Erina sedang mentertawakannya.
"Kak Erin, tolong jawab dengan jujur, apa kakak dan mas Bisma saling mencintai?" Tanya Bayu berubah serius meski sudah tahu jawabannya. Bayu hanya berusaha mengalihkan karena tidak ingin terus menjadi bahan tertawaan.
Erina menahan tawanya, lalu membalikan pertanyaan. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa. Kalau kalian memang benar-benar saling mencintai, apapun masalah yang kalian hadapi, pada akhirnya kalian akan tetap bersama." Lalu Bayu menepuk keningnya.
"Hampir saja lupa, temanku sedang menungguku, sekarang aku harus pergi, selamat tinggal!" Ucap Bayu dengan sedikit berteriak pada dua kata terakhir karena sudah berlari keluar mansion.
Erina menatap kepergian Bayu, mereka memang tidak pernah berhasil saat saling bicara. Karena selama ini Erina maupun Bayu selalu merasa sungkan terhadap satu sama lainnya.
××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Bisma tidak benar-benar pergi ke kantor, dia melajukan mobilnya menuju kantor polisi dimana Mario di tahan. Bisma sangat penasaran alasan pria itu menyerahkan dirinya ke kantor polisi.
Ya, ternyata kedatangan Leo ke mansion sebenarnya untuk memberitahu bahwa Mario tiba-tiba menyerahkan dirinya, Leo tidak mengatakan itu karena situasinya kurang tepat.
Bisma baru mengetahuinya saat Erina konsultasi kehamilan dan Bisma melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Leo dan ada juga pesan yang mengatakan Mario menyerahkan dirinya.
Sepanjang perjalanan menuju kantor polisi, Bisma berusaha mengingat betapa sombongnya Mario edward ketika Bisma mengajaknya bicara, pria itu bersikap sangat arogan di depan Bisma.
"Sudah aku katakan, kalau aku memang berniat membunuh istrimu, dia pasti sudah mati di tanganku, tapi apa istrimu mati sekarang?" Mario berkata dengan arogan seolah membunuh manusia merupakan perkara yang sangat mudah.
Lalu Bisma kembali teringat saat raut wajah Mario tiba-tiba berubah setelah Bisma menanggapi perkataannya. Bisma yang memang saat itu merasa geram atas perkataan dan sikap Mario, tidak bisa lagi menahan emosinya.
Bisma mengatakan. "Benar, kamu memang tidak berhasil membunuh istri saya, tapi kamu sudah membunuh anak yang ada dalam kandungan istri saya, katakan apa sebenarnya tujuan kalian? kenapa kalian berniat membunuh istri saya?"
Bisma tiba-tiba menggeram mengingatnya, entah benar atau tidak, saat itu Bisma melihat Mario si arogan shock, apa mungkin Mario menyerahkan dirinya karena itu? Mario merasa bersalah?
"Tidak, mana mungkin Mario merasa bersalah." Gumam Bisma menyangkal apa yang ada dalam pikirannya, lalu mempercepat laju mobilnya.
Setibanya di kantor polisi, Bisma langsung meminta kepada polisi untuk bertemu Mario dan kini mereka berdua sedang berada di ruang besuk tahanan, saling menatap satu sama lainnya.
"Mario, kenapa kamu tiba-tiba menyerahkan dirimu ke kantor polisi?" Tanya Bisma tanpa ingin berbasa-basi dengan lawan bicaranya itu.
Mario tertawa renyah. "Bukankah ini yang kamu inginkan? kamu ingin aku masuk penjara!"
Bisma terdiam dan berpikir, memang benar Bisma ingin mencebloskan Mario ke dalam penjara, tapi Bisma harus mengetahui alasan Mario menyerahkan dirinya, Bisma harus berhati-hati barangkali ada hal lain yang Mario rencanakan.
"Bisma, kamu tidak perlu mengetahui apapun, kamu hanya harus membuat istrimu bahagia karena masalah yang menyangkut keluarga kalian sudah aku bereskan dan pamanku juga sebentar lagi akan mengikutiku ke tempat sialan ini."
×××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Kutipan favorit. "Tidak ada yang instan di dunia ini. Bahkan, mie instan sekalipun membutuhkan proses supaya layak untuk di makan."
Gini, Erina dan rasa takutnya terhadap pernikahan, masalah yang aku buat disini cuma satu, yaitu Erina takut nikah, sederhana kan?
Dan Erina memang membutuhkan proses untuk menyesuaikan dirinya, Erina sudah berusaha menjadi istri yang baik selama dua minggu.
Tapi, orang ketiga datang ketika Erina belum berhasil dalam prosesnya itu, otomatis Erina yang belum menyimpan kepercayaan terus curiga.
Disini, bukan ceritanya yang terus berputar atau berbelat-belit. Karena yang pemeran utama wanita hadapi adalah rasa takutnya.
Menurut kalian, definisi bahagia itu apa sih? aku sendiri gak tahu apa itu bahagia, aku hanya tahu kalau aku tidak pernah merasa menderita :v
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian: like, favorit dan share. Thanks ❤
Regards,
Nur Alquinsha A.