
Bisma berdiri di depan pusara bertuliskan Monika binti Putra bersama Erina di sampingnya, Bisma memang memutuskan untuk mengunjungi makam ibunya karena tidak bisa menang debat dengan Erina.
Meskipun sebenarnya Bisma mengkhawatirkan Erina yang sering sakit kepala, dia tidak bisa melakukan apapun selain menuruti istrinya itu. Keputusan Erina memang lebih penting, Bisma merasa harus menghargainya.
Bisma memperhatikan Erina melalui sudut matanya, sudah sekitar sepuluh menit wanita itu terdiam sambil menatap pusara di depan mereka, entah apa yang sedang di pikirkannya, Erina terlihat sangat gugup.
Mereka hanya berdua disana karena Leo memilih untuk menunggu di mobil, Leo merasa kurang nyaman kalau harus mengikuti Bisma dan Erina, takut menyaksikan hal yang kurang baik untuk kesehatan hatinya. Lagi.
"Assalamualaikum, ibu ..." Ucap Erina dengan suara rendah.
Bisma berdehem pelan ketika Erina memberi salam pada makam ibunya, dia merasa apa yang Erina lakukan sangat konyol, bisa-bisanya Erina bicara pada orang yang sudah lama tertimbun dalam pusara itu.
Sebelum menikah, Bisma sering mengunjungi makam ibunya, tapi Bisma tidak pernah mengajak pusara itu bicara, Bisma datang hanya untuk membersihkan makam dan juga berdoa untuk ibunya yang berada di alam lain.
"Perkenalkan namaku Erina azkia davina, menantu anda ..." Bisma mendengar Erina menarik nafasnya sebelum kembali bicara. Bisma menoleh sekilas dan bisa melihat istrinya menunduk dengan mata terpejam.
"Ibu, suamiku sudah melewati banyak hal setelah kehilangan anda, tapi sekarang ibu bisa tenang karena ada aku yang akan menggantikan anda melindunginya."
Bisma nyaris tidak mempercayai telinganya, apa Bisma tidak salah dengar? Erina barusan mengatakan akan melindunginya? Bisma akhirnya memfokuskan pandangan pada Erina, dia memasang telinga untuk mendengar Perkataan wanita itu selanjutnya.
Erina selalu menjadi wanita yang sulit Bisma tebak, meskipun sekarang Erina mengatakan akan melindunginya, Bisma tidak akan pernah tahu apa yang akan Erina lalukan besok, setelah ini Bisma malah merasa harus mulai waspada. Takut Erina tiba-tiba menghilang.
Bisma ingat saat Erina mengajaknya hidup bersama untuk waktu yang lama, lalu malam harinya Erina malah memiliki niatan untuk meninggalkannya. Bisma takut Erina juga memiliki niat lain setelah mengatakan akan melindunginya, bagaimana kalau tiba-tiba Erina menginginkan Bisma mati?
Erina mendesah. "Aku minta maaf, seharusnya kami datang kesini sebelum menikah, tapi karena beberapa alasan kami baru bisa mengunjungi anda, aku ..."
"Erin, hentikan!" Ucap Bisma memotong perkataan Erina, dia mulai tidak tahan mendengar Erina mengoceh di depan makam.
Bisma meraih tangan Erina dengan sedikit mencengkramnya, sudah cukup drama Erina hari ini, Bisma ingin segera mengajak Erina ke rumah sakit barangkali kepala Erina mengalami masalah gara-gara sakit kepala.
Awalnya, Bisma memang tertarik mendengar perkataan Erina, tapi semuanya berubah setelah Bisma mendengar Erina meminta maaf. Entahlah, Bisma tidak suka mendengar istrinya mengucapkan kata maaf.
Bisma teringat saat Erina mengatakan. "Aku minta maaf kalau suatu hari nanti aku pergi tanpa pamit." sampai sekarang ucapan Erina itu masih terekam jelas di telinga Bisma.
Memang tidak ada hubungannya, tapi Bisma sensitif dengan kata 'maaf' yang keluar dari mulut Erina, apapun alasan Erina mengatakan maaf, Bisma tidak ingin mendengarnya.
Baiklah, Bisma mungkin berhasil menanam benihnya pada tubuh Erina dan ada sedikit harapan mereka akan tetap bersama kalau nanti Erina sampai hamil, tapi masih ada hal yang membuat Bisma khawatir.
"Sakit, Bisma ..." Lirih Erina saat merasa cengkraman Bisma menguat, Erina sudah berusaha melepaskan tangannya, tapi sulit karena tenaga Bisma lebih kuat.
Bisma melepaskan tangan Erina, dia tidak menyadari apa yang baru saja di lakukannya, Bisma teringat dengan perkataan Erina malam itu dan tangannya bertindak begitu saja.
"Maaf ..." Ucap Bisma menyesal, lalu kembali meraih tangan Erina dan mencium pergelangan tangan itu beberapa kali.
"Aku benar-benar minta maaf, aku tidak berniat menyakitimu." Lanjut Bisma.
Erina mengambil nafas sedalam mungkin. Dia tidak tahu mengapa Bisma tiba-tiba menyuruhnya berhenti bicara, padahal Erina hanya berusaha membantu Bisma. Karena Erina lelah menunggu Bisma mengucapkan kalimat rindu kepada sang ibu.
Well, Erina terdiam selama beberapa menit bukan tanpa alasan, wanita itu sengaja memberi ruang pada Bisma untuk bicara, meskipun orang yang sudah meninggal sangat mustahil mendengar perkataan Bisma, tapi setidaknya Bisma akan merasa rindunya terbayar setelah bicara pada makam sang ibu.
"Nenekmu tidak salah, bagaimana pun kamu anak pria itu dan sangat besar kemungkinan kamu akan menuruni sifat ayahmu, sekarang saja kamu sudah berani membuat seorang gadis menangis, bagaimana nanti? Bisma, kamu membuat mamah kecewa!"
Tidak, bukan Bisma yang salah, Bisma tidak melakukan hal buruk apapun pada gadis yang di maksud mamah Monika dalam mimpinya, gadis itu hanya salah satu orang yang menyukai Bisma dan Bisma menolaknya. Bisma tidak merasa melakukan kesalahan.
Mengungkit kekecewaan ibu Bisma, pertama kali Bisma membuat ibunya kecewa adalah saat itu, beberapa hari sebelum ibunya meninggal. Ha, memang bukan Karina orang pertama yang menjadi alasan ibu Bisma kecewa. Karena Karina bahkan datang setelah ibu Bisma sudah lama meninggal.
"Bisma ..." Suara lembut Erina menarik Bisma dari mimpi buruknya tadi malam.
Ya, Bisma memang selalu menganggap mimpinya itu sebagai mimpi buruk, Bisma sangat menyukai senyuman ibunya, tapi dalam mimpinya itu ibunya tidak tersenyum dan Bisma tidak menyukainya. Bisma selalu merasa terbebani setelah mimpi itu hadir.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah, tanganku baik-baik saja." Ucap Erina berusaha menenangkan Bisma, dia tidak mengerti mengapa Bisma tiba-tiba menangis.
"Bisma ..." Panggil Erina lembut, lalu mengarahkan Bisma untuk menatap padanya dan menghapus air mata suaminya itu menggunakan ibu jarinya.
"Kenapa hm? aku tahu kamu merindukan ibumu, kenapa tidak mengatakan pada ibumu kalau kamu merindukannya dan malah menangis?" Tanya Erina.
Erina sama sekali tidak tahu bahwa Bisma menangis karena mengingat perkataannya. Dan ya, Erina malah tidak tahu kalau Bisma waktu itu diam-diam mendengarnya.
Bisma menatap Erina tepat pada matanya. "Erin--"
"Bisma, aku selalu menyampaikan kegelisahanku saat mengunjungi makam nenekku, aku tahu mungkin nenek tidak akan mendengarnya, tapi setidaknya aku merasa lega karena selama nenek masih hidup, aku hanya merasakan kasih sayang darinya."
Erina sengaja memotong perkataan Bisma, dia berharap Bisma bisa mengerti maksudnya. Erina tahu kalau Bisma sama seperti dirinya, mereka sama-sama kurang mendapatkan kasih sayang karena satu-satunya orang yang menyayangi mereka sudah meninggal.
"Bisma, kenapa kamu tidak mencoba mengatakan sesuatu pada ibumu, mungkin bebanmu akan berkurang." Ucap Erina. Lagi.
"Benarkah?" Tanya Bisma spontan, lalu melanjutkannya dalam hati. "Benarkah bebanku akan berkurang, tanpa membuatmu merasa terbebani?"
Erina mengangguk dan tersenyum. "Kamu tidak akan tahu kalau tidak mencobanya." Ucapnya seolah memberitahu Bisma bahwa pria itu akan menyesal kalau tidak mencoba untuk bicara di depan makam ibunya.
Bisma hanya sedikit menarik sudut bibirnya menanggapi Erina.
"Baiklah, saya akan bicara kepada ibuku" Ucap Bisma, lalu kembali menghadap pusara ibunya dan mengambil nafasnya sejenak.
"Assalamualaikum, mah. sudah lama aku tidak mengunjungimu ..." Bisma berhenti bicara karena suaranya mendadak tercekat. Sementara Erina hanya memperhatikan.
"Mah, hari ini aku datang bersama menantumu, bagaimana menurut mamah?" Bisma merasa matanya memanas memikirkan apa yang akan dirinya katakan selanjutnya.
"Aku berjanji akan mempertahankan pernikahan kami apapun yang terjadi, aku memang sudah terlanjur menyakiti Erina, tapi aku berjanji tidak akan mengulanginya, aku tidak akan pernah meninggalkan wanitaku seperti yang suamimu lakukan. Dan aku mohon satu hal padamu ... mamah berhentilah datang dalam mimpi burukku."
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Terimakasih untuk 700k viewers nya teman-teman, aku sudah sembuh dan insyaallah bakal up setiap hari. Jangan lupa like, favorit dan share ceritanya ya ... Sekali lagi terimakasih banyak untuk kalian yang sudah membaca ceritaku. Saran dan komentar juga aku tunggu.
Regards,
Nur Alquinsha A.