Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #20


Siang hari, sekitar jam dua belas, Bisma baru pulang ke mansion, lebih lambat dari rencana awal karena Bisma harus menemui seseorang terlebih dahulu.


"Erin, saya pulang." Teriak Bisma saat memasuki mansion, tidak mendapat sahutan dari istrinya, Bisma berpikir Erina berada di kamar dan dia bergegas menuju kamar mereka.


Bisma berlari kecil menaiki anak tangga, tidak sabar mengajak Erina pergi ke puncak seperti apa yang istrinya itu sukai, Bisma ingin memberikan ketenangan untuk Erina.


Selain memberi Erina ketenangan, Bisma juga ingin menghibur Erina, tadi malam wanita itu mengatakan bahwa dia merasa di benci seluruh dunia dan berkata tidak memiliki siapapun.


Bisma ingin membuat Erina berhenti memikirkan itu, Erina harus tahu bahwa wanita itu memiliki Bisma, Bisma akan berpihak pada Erina meskipun seluruh dunia membenci mereka.


"Erin?" Bisma membuka pintu kamar, namun tidak menemukan keberadaan istrinya, sampai Bisma membuka kamar mandi pun, Erina tidak ada disana, dan membuat Bisma panik.


"Maya?" Teriak Bisma sambil berjalan keluar kamar.


Bisma ingat Erina sedang salah paham terhadapnya, Bisma takut Erina sengaja tidak menuruti keinginannya dan berniat menghindari Bisma seperti yang pernah istrinya lakukan.


"Ya, tuan?" Sahut Maya takut, maid yang seumuran dengan istri Bisma itu menunduk tidak berani saat menghampiri majikannya, dan sepertinya Erina yang menjadi penyebabnya.


"Dimana istri saya?" Tanya Bisma yang membuat Maya semakin menunduk.


"Nyonya Erin ..." Maya tidak sanggup memberitahu Bisma kalau istrinya pergi dari mansion.


"Iyah, dimana istri saya, Maya?" Tanya Bisma menekan Maya.


"Istrimu pergi ke rumah sakit." Bukan Maya yang menjawab, melainkan ibu Maria, wanita itu datang bersama maid lainnya.


"Rumah sakit? kenapa tidak ada yang memberitahu saya Erina ke rumah sakit? apa yang sudah terjadi? kenapa istri saya ke rumah sakit?" Tanya Bisma tidak sabaran.


Ibu Maria menghela nafas. "Istrimu baik-baik saja, hanya menjenguk teman yang lahiran, kamu tidak perlu terlalu khawatir, Bisma." Jawabnya.


Bisma bernafas lega, setidaknya Erina baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup. "Ibu tahu dimana rumah sakitnya? saya akan menyusul Erin!"


"Istrimu bilang akan pergi sebentar, dia pergi bersama pak Asep, jadi ibu rasa kamu tidak perlu menyusulnya." Ucap ibu Maria menjelaskan.


"Erin pergi bersama pak Asep?" Tanya Bisma memastikan.


"Iya, tuan." Jawab para maid, mereka masih menunduk, takut Bisma marah karena Erina pergi bersama pak Asep, mereka tahu tentang majikannya yang sudah melarang pak Asep menyetir.


"Pak Asep pasti bisa jaga Erin." Ucap ibu Maria berusaha meyakinkan Bisma supaya pria itu tidak terlalu khawatir.


Bisma menghela nafas. "Yasudah kalau begitu, kalian bisa kembali pada kerjaan kalian." Ucap Bisma pada para maid.


"Baik tuan, permisi." Ucap para maid serentak, akhirnya mereka bisa bernafas lega karena selamat dari amukan Bisma.


Lalu, Bisma melihat kearah ibu Maria.


"Ibu, bagaimana kondisi kesehatanmu?" Tanya Bisma setelah memastikan para maid pergi, selama ini Bisma selalu lupa untuk bertanya tentang itu pada ibu Maria.


Ibu Maria tersenyum. "Alhamdulillah ibu sehat, kalau begitu ibu kembali ke paviliun ya?" Pamitnya, tanpa menuggu jawaban ibu Maria pergi meninggalkan Bisma begitu saja.


Bisma menatap kepergian ibu Maria, dia tahu ibu Maria berbohong, wanita itu tidak benar-benar dalam keadaan baik, dokter sendiri yang mengatakan penyakit ibu Maria semakin parah.


Bisma tidak tahu pasti penyakit apa yang di derita ibu Maria, dokter seperti menyembunyikan penyakit ibu Maria darinya, Bisma hanya tahu penyakit ibu Maria mematikan.


Setelah ibu Maria menghilang dari pandangannya, Bisma memutuskan untuk pergi ke ruang tengah dan menonton televisi sambil menunggu Erina pulang, Bisma berharap istrinya cepat pulang supaya mereka bisa segera pergi ke puncak.


"Sialan, wanita itu sengaja menjebak saya." Rahang Bisma mengeras.


Bisma bergegas meraih ponselnya dan menghubungi nomer Gisella, Bisma bertemu Gisella untuk mengingatkan bahwa dirinya sudah menikah dan menyuruh Gisella berhenti mengganggu, Bisma tidak menyangka wanita licik itu menimbulkan masalah.


Well, wanita yang mengucapkan selamat ulang tahun via telpon yang Erina angkat, dia adalah Gisella, wanita itu juga yang membuat Bisma pulang lebih siang, setelah Bisma bertemu Leo di tempat biasa mereka, Gisella mengirim pesan singkat pada Bisma dan mengajak bertemu.


Bisma menemui Gisella untuk menepati janjinya pada Erina dan mencaritahu siapa pemilik nomer tanpa nama yang semalam menelponnya, tapi saat Bisma datang di cafe tempat mereka bertemu, Gisella ada disana dan langsung memeluknya.


Wanita itu mengatakan. "Akhirnya kamu datang, aku sudah lama menunggumu." Bak seorang kekasih, Gisella mencium Bisma tanpa bisa Bisma hindari dan setelahnya Bisma memarahi Gisella habis-habisan.


Namun, media malah meng-klaim Bisma dan Gisella di temukan bermesraan di cafe, bahkan dalam berita itu mengatakan Bisma memperlakukan Gisella dengan baik layaknya sepasang kekasih lainnya, apalagi kalau Bisma tidak dijebak?


"Hallo, sayang. Aku sudah mengira kamu akan menelpon. Oh ya, bagaimana dengan istrimu, apa dia sudah siap untuk kamu tinggalkan? atau malah istrimu yang akan lebih dulu meninggalkanmu?" Suara tawa terdengar setelah Gisella bicara.


Bisma mengepalkan tangannya. "Saya sudah memberi kamu peringatan, kamu berada dalam masalah sekarang." Ucapnya yang tidak bisa menahan emosinya.


Tawa Gisella kembali terdengar. "Baiklah, aku akan menunggunya, tapi bukankah sebelum itu kamu harus lebih dulu menyelesaikan masalahmu bersama istrimu?"


Bisma tidak menanggapi dan langsung mematikan telpon mereka secara sepihak, Bisma mengaku Gisella benar, Bisma harus lebih dulu mengurus masalahnya, pria itu harus bertemu Erina dan menjelaskan pada istrinya mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Bisma tidak akan membiarkan Erina mempercayai gosip murahan itu.


"Maya?" Teriak Bisma sambil mematikan televisi, lalu dia bergegas mencari keberadaan maid Maya.


"Ya, tuan? anda manggil saya?" Tanya Maya menghampiri Bisma.


"Hm, kamu tahu istri saya pergi ke rumah sakit mana?" Bisma balik bertanya pada Maya, pria itu terkesan terburu-buru, saking takut Erina kembali menghindarinya setelah mengetahui berita tidak benar mengenai dirinya.


"Maaf tuan, saya tidak tahu, apa perlu saya tanya ibu Maria?" Tawar Maya dengan hormat.


"Tidak usah, saya bisa nanya pak Asep, terimakasih." Lalu Bisma meninggalkan Maya dan menyambar kunci mobilnya sambil berusaha menghubungi pak Asep.


Tidak lama pak Asep menerima panggilan Bisma. "Assalamu'alaikum." Sapa pak Asep dari sebrang telpon.


"Wa'alaikumsalam." Bisma membalas salam pak Asep sebelum bertanya. "Pak, dimana istri saya? Erin lagi sama bapak kan?"


Suara helaan nafas pak Asep terdengar. "Maaf Bisma, bapak tidak tahu Erin dimana, istri kamu menyuruh bapak pulang duluan, tapi bapak sengaja nunggu istri kamu keluar dan dia belum juga keluar dari jam sembilan."


"Memang kalian di rumah sakit mana?" Tanya Bisma yang tidak terlalu memperdulikan penjelasan pak Asep, hanya peduli dengan keberadaan istrinya.


"Rumah sakit permata." Jawab pak Asep.


"Yaudah, bapak pulang aja, biar Erin nanti pulang sama saya, saya akan pergi kesana." Bisma mengakhiri telpon mereka, pria itu masuk kedalam mobilnya dan mulai melajukan mobil itu ke rumah sakit permata.


Teman Erina berarti Soraya kan? Semoga Erina tidak melihat berita murahan itu!



Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...


Regards:


©2019, lightqueensa.