Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #26


Bisma sudah kehilangan kata-kata untuk menanggapi Erina, memang benar dia tidak menjelaskan langsung mengenai rumor itu, tapi tidak bisakah Erina mengerti alasannya?


Bisma tidak memiliki keberanian untuk membahas itu, Bisma ingat bagaimana sikap Erina saat Gisella duduk di pangkuannya, Erina mengatakan tidak peduli dan setelah itu menghindarinya.


Bisma tidak ingin hal itu terulang, dia tidak sanggup kalau Erina sampai menghindarinya, sehingga Bisma memutuskan untuk membereskan dulu rumor yang membawa namanya.


Tapi, Bisma tidak menyangka kalau yang terjadi malah Erina berniat meninggalkannya untuk selamanya,  Bisma tidak siap dan tidak akan pernah siap untuk menerima itu.


"Kamu tidak bisa menjawab kan?" Tanya Erina masih dengan nada sinis.


Bisma menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Saya bisa saja mengatakan alasan saya, tapi apa kamu bisa menerimanya? maksud saya ... apa kamu akan memahaminya?"


"Erin, bisakah kamu percaya bahwa saya dan ayah saya berbeda?" Bisma hampir saja meneteskan air mata, bicara dengan Erina membuat matanya memanas.


Sebenarnya, Erina tidak tega melihat wajah sedih suaminya, Erina merasa dirinya jahat, tapi rasa takut Erina terhadap sakit mengalahkan segalanya, Erina tidak bisa kalah begitu saja.


"Kalau kamu percaya padaku dan pernikahan kita, apapun alasanmu, kamu akan tetap mengatakannya." Sahut Erina tanpa menjawab pertanyaan terakhir Bisma.


"Baiklah, saya memang salah, lalu sekarang bagaimana? saya tidak mau bercerai darimu!" Ucap Bisma kembali menegaskan hal itu.


"Jangan meninggalkan saya seperti yang lain, saya tidak ingin sendirian." Lirih Bisma.


Giliran Erina menghela nafasnya. "Beri aku waktu paling sedikit satu bulan, aku akan memikirkan kembali keputusanku."


"Baiklah, saya akan memberimu waktu, itu tidak masalah asalkan kamu tetap berada di samping saya." Bisma terlihat senang.


"Aku ingin tinggal di rumah Soraya selama aku memikirkan keputusanku." Ucap Erina menghancurkan kesenangan Bisma.


"Kamu akan pergi dari mansion?" Tanya Bisma tidak menyangka.


"Aku sudah membawa barangku dari mansion, kalau kamu tidak setuju, kita bisa langsung bercerai." Jawab Erina tanpa ingin bernegosiasi.


"Tapi saya sudah mengurus bulan madu kita besok." Ucap Bisma memberitahu.


Bisma tidak percaya Erina akan meninggalkannya, bahkan wanita itu mengatakan sudah membawa barangnya dari mansion, setelah ini Bisma harus memarahi para maid yang sudah membiarkan Erina pergi.


"Bulan madu? apa disaat seperti ini masih pantas membicarakan itu?" Tanya Erina.


"Erin." Lirih Bisma. Lalu seorang pelayan restoran menghampiri meja mereka dengan membawa nampan.


"Pesanan anda, selamat menikmati." Ucap pelayan itu ramah.


"Terimakasih, kamu bisa pergi." Ucap Erina saat melihat Bisma mengabaikan pelayan dan membuat pelayan itu terdiam di tempatnya.


"Hm, permisi." Sahut pelayan itu kemudian meninggalkan meja Bisma dan Erina.


Lihatlah! Pelayan saja sampai kecewa karena Bisma mengabaikannya, Erina semakin merasa tidak pantas menjadi pendamping Bisma, terlebih kalau Erina ingat bagaimana komentar orang mengenai Bisma dan Gisella.


Sebelum mereka bertemu, Erina sudah melihat klarifikasi mengenai rumor yang melibatkan Bisma dan Gisella, tapi ada beberapa komentar yang membuat Erina sakit hati sehingga merasa harus memilih perceraian.


Erina dan Bisma saling terdiam setelah pelayan meninggalkan meja mereka, keduanya memandangi satu sama lain dengan pikiran masing-masing, dan Erina yang tidak betah berada di situasi seperti itu akhirnya lebih dulu bicara.


"Bisma, makanlah." Suruh Erina supaya mereka bisa cepat meninggalkan restoran.


"Saya tidak lapar." Sahut Bisma tanpa melirik pada makanan, hanya terus menatap wanita di depannya.


"Kamu harus makan, jangan sampai kamu sakit." Bagaimana pun mereka masih suami-istri, Erina tidak ingin menambah dosa dengan membiarkan suaminya menahan lapar.


"Masih peduli kamu terhadap kesehatan saya?" Tanya Bisma sambil tersenyum meremehkan dan menyimpan beberapa lembar uang diatas meja.


"Erin, maaf kalau saya egois." Bisma beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah cepat menghampiri Erina dan menarik tangan wanita itu untuk meninggalkan restoran.


Erina berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Bisma, tapi tenaga Erina tidak cukup kuat untuk itu, sehingga Erina hanya memilih pasrah.


"Maaf." Lirih Bisma pelan, bukan dia yang ingin menyakiti Erina, keadaan yang memaksanya, Bisma tidak bisa membiarkan Erina meninggalkannya.


Erina tidak merespon, wanita itu memilih diam sampai Bisma menghentikan sebuah taksi dan menarik tangannya untuk masuk kedalam taksi tersebut, Erina tetap membungkam mulutnya.


Sementara Bisma terlihat mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi seseorang setelah mengatakan arah tujuan mereka, sepertinya Erina sudah membuat suaminya emosi sampai pria itu terus mengeram pada ponselnya.


"Leo, kamu ingat tugas yang saya berikan kemarin? lalu kenapa kamu tidak melakukannya dengan baik? dasar tidak becus!" Omel Bisma.


Erina menghela nafas mendengar Bisma bicara dengan seseorang di telpon, tidak terlalu mengerti alasan Bisma sampai memarahi Leo dan Erina memilih untuk tetap diam.



Bisma kembali menarik tangan Erina dan membawa istrinya masuk kedalam mansion tanpa ingin mendapat penolakan, Erina sendiri tidak berani membantah karena tahu Bisma sedang di kuasai amarahnya.


"Siapa yang sudah membantu istri saya mengemasi barangnya?" Teriak Bisma saat memasuki mansion, membuat para maid berkumpul tanpa kecuali.


Erina memejamkan matanya sejenak dan menghela nafasnya. "Tidak ada yang membantuku, aku membereskan barangku sendiri." Jawab Erina.


Bisma tidak mendengarkan Erina. Karena yang ingin Bisma dengar hanya jawaban dari keempat maid, berani sekali mereka membiarkan istrinya pergi begitu saja dari mansion.


"Kalau tidak ada yang menjawab, saya akan memecat kalian semua." Ucap Bisma mengancam para maid.


"Aku sudah menjawab, apa itu belum cukup?" Tanya Erina yang tidak suka Bisma memarahi para maid atas apa yang terjadi diantara mereka.


Rahang Bisma mengeras, lalu pria itu kembali menarik tangan Erina tanpa menjawab pertanyaan istrinya terlebih dahulu, Bisma membawa Erina menuju kamar mereka.


Setelah tiba di kamar dan mengunci pintunya, Bisma melepaskan tangan Erina sementara dirinya membuka lemari pakaian Erina yang sudah benar-benar kosong.


"Kita akan tetap pergi bulan madu, saya bisa membeli pakaian kita, jadi tidak perlu membawa apapun kesana." Ucap Bisma tanpa menutup kembali pintu lemarinya.


"Bisma!" Sertak Erina, merasa tidak tahan melihat kelakuan suaminya.


"Saya tidak mau mendengar kamu membahas perceraian, dan jangan terlalu berharap bisa lepas dari saya." Ucap Bisma menegaskan namun dengan suara lirih.


"Erin, saya dan ayah saya berbeda, saya tidak akan menyakiti wanita seperti yang ayah saya lakukan." Lanjut Bisma sambil meneteskan air matanya dan membuat hati Erina terasa perih.


Erina tidak tahu siapa pihak egois diantara mereka, tapi melihat Bisma sampai menangis seperti itu, Erina merasa sudah egois karena mementingkan keselamatan hatinya tanpa memperdulikan yang lain.


"Ibu pasti kecewa kalau tahu kita akan bercerai, jadi saya mohon berhenti membicarakannya, saya tidak ingin membuat ibu kecewa untuk yang kedua kalinya." Ucap Bisma terisak.


Bisma merasakan kakinya melemas sehingga dia terduduk di lantai, tanpa mau menatap Erina yang mungkin masih memperlihatkan wajah kebenciannya.


Erina ikut meneteskan air matanya, melihat Bisma seperti itu membuat hatinya luluh dan perlahan Erina mendekati Bisma.


"Aku minta maaf, aku tidak akan membicarakan perceraian lagi." Ucapnya sambil memeluk Bisma.


Erina berpikir bahwa ada baiknya mengabaikan komentar orang lain terhadap dirinya dan mementingkan perasaan pasangannya.



Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...


Regards:


©2019, lightqueensa.