
Beberapa hari telah berlalu.... Setiap berada di rumah, Luna memilih menyibukkan dirinya dengan menulis cerita daripada harus berantem dengan Rafael yang tetap akhirnya dia yang kalah.
Namun tetap saja Rafael selalu mengganggunya.
"Luna, tolong buatkan teh manis."
"Luna, kenapa teh ini rasanya asin?"
"Luna, tolong ini..."
"Luna, tolong itu..."
Luna merasa jengkel karena ulahnya, makanya selama 4 hari ini dia hanya menulis 3 bab saja. Tapi dia ingin tau dulu pendapat Vano mengenai ceritanya, Vano memang ingin memeriksa tulisannya agar dia bisa memberikan saran dengan jelas pada Luna.
Luna membawa karya tulisannya dalam bentuk sebuah lembaran kertas, dia melihat Rafael yang sedang menonton sepak bola.
"Kak, bolehkan aku pergi sebentar?" Walaupun Rafael tidak mengakuinya istri tetap saja status mereka suami istri jadi Luna harus meminta izin dulu pada Rafael.
"Mau kemana?" tanya Rafael dengan nada dingin.
"Menemui Mas Vano."
Rafael terlonjak, dia segera menghampiri Luna. "Ketemu Vano?"
Kenapa Luna selalu memanggil Vano itu Mas?
"Iya, kak. Aku mau memperlihatkan cerita aku, siapa tau dia memiliki saran pada cerita aku ini atau mungkin ada yang bisa di koreksi." Luna menunjukkan beberapa lembaran kertas di tangannya.
Rafael menghela nafas, "Luna kamu kan kerja jadi asisten pluss sekretaris aku, apa uang yang aku berikan kurang?"
"Ya ampun ini bukan masalah uang kak, tapi ini soal hobby. Aku hanya ingin menyalurkan bakat aku aja siapa tau kan ternyata cerita karangan aku bisa dibaca orang banyak, itu sudah menjadi kebanggaan tersendiri. Ya seperti author kesayangan aku, Df_14." (Wah tidak menyangka Luna fans othor 😅)
Rafael mendengus, "Df_14 apaan, gak jelas begitu." (Asli Rafael minta di hajar 🤛)
"Aku janjian di Cafe terdekat kok, Kak."
Rafael terpaksa mengizinkannya, " Ya terserah kamu, kalau mau pergi silahkan."
Luna tersenyum lebar, "Wah makasih ya kak. Kak Rafael emang kuyang ku deh."
Rafael langsung mendelik.
"Kakakku tersayang maksudnya." Luna mengedipkan mata pada Rafael lalu segera pergi meninggalkan rumah yang megah itu dengan mengendarai mobilnya.
Rafael menatap mobil yang jaraknya semakin menjauh itu dari balik jendela.
"Hmm... iya Mas." Luna tidak ingin basa basi, dia memberikan beberapa lembar kertas itu pada Vano, "Aku mau Mas Vano memeriksa cerita aku, siapa tau ada yang harus aku koreksi."
"Bagaimana kalau kita makan dulu?" Vano memang ingin makan malam bersama Luna.
"Kebetulan aku sudah makan Mas."
"Oh ya udah, gak apa-apa." Vano langsung saja membaca cerita yang dibuat Luna, dia tertawa kecil karena ada dua kata yang menggelitiki perutnya, "Kuyang mesum? Memang ada kuyang mesum ya?"
"Oh itu cuma panggilan dari protagonis wanita ke protagonis pria."
"Maksudnya panggilan kesayangan ya." goda Vano.
"Oh bukan, cuma iseng aja kan si protagonis pria ini emang menyebalkan dan menyeramkan kalau marah, tapi dia suka cium protagonis wanita sembarangan, makanya protagonis wanita memanggilnya kuyang mesum."
Vano manggut-manggut saja, dia membaca kembali cerita yang ditulis oleh Luna.
Prenggg!!!
Terdengar suara barang berjatuhan ke lantai karena tanpa sengaja pria bertopi hitam itu bertabrakan dengan waitress disana.
Sontak Luna langsung menoleh ke arah sumber suara , dia terbelalak saat melihat wajah pria bertopi hitam itu.
"Kak Rafael?"
Vano yang tengah sibuk membaca, dia ikut menoleh juga begitu mendengar Luna menyebut nama Rafael.
Aishhh... Rafael mengerutkan dahinya.
Rafael berpura-pura baru melihat mereka, padahal dari tadi dia sedang mengawasi mereka. Bagi dia bagaimanapun Luna masih berstatus istrinya jadi dia harus memastikan kalau Luna tidak macam-macam dengan pria lian.
Rafael melambaikan tangan pada Luna dan Vano, "Ha-hai..." sapanya dengan kikuk.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya....