Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Enam Puluh Lima


Haikal menyetir mobil dengan kecepatan normal, matanya berkaca-kaca, dia menggigit bibir bawah menahan rasa sakit hati yang telah ia terima di pagi hari ini.


Haikal menarik nafas dengan pelan dan menghembuskannya lagi dengan begitu berat. Rasa sedih, kecewa, kesal, cemburu, telah menumpuk di dalam dada.


Haikal mencoba untuk menenangkan hatinya bahwa dia masih memiliki waktu yang banyak untuk membuat Ghisell jatuh cinta padanya. Walaupun waktu sebanyak dan selama itu tiada artinya bila nyatanya Ghisell enggan untuk membuka hati untuknya. Dan dia akan menghargai keputusan Ghisell nanti.


Butuh waktu tujuh jam sampai ke kota C, Haikal memperhatikan lahan yang luas di depan mata, yang awalnya rerumputan liar kini telah dibersihkan, bahkan sudah banyak para pekerja bangunan yang mulai beraksi, dia memperhatikan Vira yang mencoba mengatur ini itu sesuai pekerjaannya karena dia memang harus mengawasi tugas project manager baru itu.


Haikal meronggoh ponselnya, dia ingin memberi kabar pada Ghisell bahwa dia sudah sampai di kota C, tapi entah kenapa dia merasa mungkin Ghisell tak peduli dengan kabar itu, Haikal menyimpan kembali ponselnya.


Sementara itu di kantor Utama Adva


Ghisell tidak fokus bekerja, dia terus memperhatikan ponselnya, padahal selama ini dia cuek-cuek aja dengan ponselnya itu karena tidak ada yang dia tunggu untuk menerima pesan atau telepon dari orang lain, tapi kini berbeda, dia seakan menunggu seseorang untuk mengabarinya, dia hanya ingin tau Haikal sudah sampai atau belum.


"Ya ampun Sell itu hidung kamu hampir mau jatuh lho dari tadi nunduk terus." seru Bella, dia merasa sia-sia karena dia sudah menjelaskan panjang lebar soal pekerjaannya sama sekali tidak didengar oleh Ghisell.


Ghisell berpura-pura baik-baik saja, "Ah iya ini aku lagi merhatiin handphone, siapa tau ada telepon dari klien."


Bella malah nyengir, "Masa nunggu telepon dari klien sampai segitunya."


Drrrttt....Drrrttt...


Akhirnya pesan yang ditunggu telah datang, dari pria yang masih dia beri nama COWOK NYEBELIN ITU, yang dulu sempat dia blokir, tapi terpaksa harus di buka kembali blokirannya.


[Aku sudah sampai di Kota C]


Hanya kalimat itu yang ada di kirim Haikal, Haikal berpikir Ghisell peduli atau nggak dia sudah sampai di Kota C, dia tetap harus memberitahu pada istrinya.


Ghisell langsung ingin membalas pesan dari Haikal di menit itu juga.


[Syukurlah, aku lega mendengarnya_


Ghisell berpikir sejenak, dia menggelengkan kepala, menghapus pesannya kembali.


[Oke, syukurlah]


Ghisell merasa agak kecewa karena Haikal mengirim pesannya begitu singkat gak bertanya apapun padanya, karena itu dia juga membalasnya dengan singkat.


...****************...


Satu Hari Tanpa Haikal


Ghisell merasa baik-baik saja, dia malah sama sekali tidak komunikasi dengan Haikal.


"Tumben dia tidak memberi kabar padaku? Baguslah memang seharusnya begitu." kata Ghisell sambil mengecek ponselnya. Saat itu dia sedang tiduran di kamar.


"Sudah dua hari dia tidak menelponku, baguslah, memang itu yang aku harapkan."


Namun sayangnya bayangan Haikal selalu ada di setiap sudut apartemen, membuatnya tersiksa.


Dia harus menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, padahal biasanya setiap pagi dia sangat bersantai karena Haikal yang menyiapkan sarapan untuknya. Apalagi kini apartemen begitu berantakan karena Ghisell belum sempat beres-beres, biasanya Haikal yang mengerjakan. Ghisell terpaksa membereskan semuanya.


Tiga Hari Tanpa Haikal


Seperti biasa Ghisell pergi bekerja di Adva, berusaha terlihat rilex, walaupun merasa ada sesuatu yang hilang entah apa itu.


Namun saat pulang ke Apartemen, dia merasa sepi, dia tidak bisa selalu di temani Bella karena kini Bella sudah jadian dengan Raymond, entah bagaimana ceritanya mereka jadian bahkan gak konfirmasi dulu ke othornya.


Sebentar-sebentar Ghisell melihat ponselnya, sudah tiga hari Haikal di Kota C tapi dia tidak pernah memberi kabar sama sekali pada Ghisell. Membuat Ghisell tidak enak hati dan kesal.


"Apa dia sedang asik dengan mantannya itu? Sampai lupa mengabariku?" Ghisell malam ini tidur di kamar Haikal, dia seperti orang gila yang marasa tidak bernafas jika tidak bisa mencium aroma tubuh pria itu, untung ada satu baju yang bekas Haikal pakai belum sempat di cuci, dia memeluk erat baju itu setidaknya bisa membuat dia tidak mual lagi, aroma pria itu memang sangat wangi.


Empat Hari Tanpa Haikal


Ghisell tidak fokus dan tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas apapun, hatinya sangat kacau memikirkan yang tidak-tidak tentang Haikal, walaupun Haikal macam-macam dengan Vira, apa dia berhak marah? Malah dia yang termakan omongannya sendiri yang bilang pada Haikal bahwa dia tidak membatasi Haikal untuk dekat dengan siapa saja.


Sungguh hatinya sangat sakit karena merasa di acuhkan dan dilupakan oleh Haikal, sampai dia sangat kuat selama empat hari ini tidak mengabarinya sama sekali.


Bagaimana bisa dia teringat terus pada Haikal, bayangan Haikal selalu aja ada di setiap sudut apartemen itu, apalagi saat mereka bercinta diberbagai tempat, membuatnya tersiksa membayangkan semuanya.


Bella hari ini menyempatkan diri untuk menginap di apartemen Ghisell, mereka tengah asik mengobrol di sofa, Bella menjadi pendengar setia untuk Ghisell.


"Kenapa gak coba telepon duluan aja kalau kamu emang kangen." Saran Bella.


"Kangen? Buat apa aku kangen sama orang yang sudah melupakan aku, mungkin saat ini dia tengah asik dengan mantannya." jawab Ghisell dengan nada kesal.


Hatinya sangat sakit karena Haikal telah melupakan dirinya. Padahal waktu itu Haikal menyatakan perasaannya tapi kini dengan gampangnya Haikal melupakan dirinya.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...