
Haikal tidak ingin mama dan papanya meminta maaf kepada orang tua Ghisell atas perbuatannya, dia tidak ingin orang tuanya harus merendahkan diri atas kesalahan yang diperbuat anaknya. Karena ini semua murni kesalahannya, dia sendiri yamg harus menanggung semua itu, dia yang harus minta maaf bahkan merendahkan diri sampai bersujud pun dia bersedia.
Ditengah perjalanan Haikal begitu sangat gugup sampai mengeluarkan keringat dingin, dia rasa dia pantas mendapatkan pukulan lagi dari calon mertuanya nanti.
Maafkan aku kak, jika akhirnya aku harus memperjuangkan Ghisell. lirih hati Haikal.
Haikal mencoba merancang kata-kata, dia harus mengucapkannya dengan baik dan benar, dia harus meyakinkan kedua orang tua Ghisell kalau dia sangat serius ingin menikahi anaknya.
Haikal menekan klakson mobil begitu tiba di depan gerbang rumah yang megah itu, ada seorang security keluar dari gerbang sana. "Oh ini Mas yang kemari mengantarkan Nona Ghisell ya." sapanya.
"Iya, Emm... Om Gibran dan Tante Ghea nya ada?"
"Oh ada, kebetulan Tuan Gibran sedang ada di halaman belakang, Tuan berpesan jika mas datang lagi kesini , Tuan menyuruh mas untuk menemuinya."
Deg!
Jantung Haikal berdetak begitu hebat. Rupanya kedatangannya telah dinanti, dia harus mempersiapkan hati dan tubuhnya jika harus terluka lagi, padahal luka bekas pukulan Rafael aja masih terasa sakitnya.
Setelah memarkirkan mobil di halaman depan rumah, atas petunjuk dari security Haikal berjalan ke halaman bagian belakang rumah, langkahnya terasa begitu sangat berat, seakan dia akan menemui seorang algojo yang akan menembak mati dia.
Dari kejauhan dia melihat sosok laki-laki yang terlihat tampan dan berwibawa dia usianya yang mungkin sekitar 48 tahunan. Pantas saja Ghisell begitu sangat cantik karena dia memiliki seorang mama dan papa yang good looking. Sama halnya dengan dirinya yang memiliki orang tua yang tak kalah good looking juga. Itulah yang ada dipikiran Haikal untuk membuang rasa gugupnya. Namun Haikal semakin gugup karena pria itu kini menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
Dan akhirnya dia tiba, dia melihat Gibran sedang duduk santai di kursi besi yang ada di taman.
"Se-selamat siang om." sapa Haikal dengan gugup.
Gibran menatap tajam ke arahnya, semakin membuat Haikal gugup. "Kamu Haikal?"
"Iya om, saya Haikal." Haikal bersimpuh di depan Gibran, tidak peduli celanya akan kotor mengenai rerumputan disana.
Gibran hanya diam, hanya suara helaan nafas yang terdengar.
"Saya datang kesini untuk meminta maaf atas semua kesalahan saya..."
Gibran memotong pembicaraan Haikal, "Ghisell sudah menjelaskan semuanya."
"Iya om, karena itu saya ingin bertanggug jawab. Izinkan saya menikahi Ghisell om. Saya ingin menikahinya bukan hanya bentuk rasa tanggung jawan semata, tapi karena saya sangat mencintai putri om. Saya akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahan saya, bahkan saya rela jika om memukul saya." Haikal tidak menyangka dia akan lancar mengatakan itu semua.
"Kamu mencintai Ghisell?" Gibran mengerutkan dahinya. Dia memperhatikan Haikal, ingin tau apa yang diucapkan Haikal itu tulus atau tidak.
"Iya om, waktu itu saya tidak tau dia calon ipar saya. Saya mencintainya sebelum tau dia calon ipar saya."
Gibran terdiam sejenak "Kamu rela melakukan apa saja? Itu artinya aku boleh menghukum kamu?"
"Iya om, tentu saja."
"Tunggu sebentar!" Gibran segera masuk ke dalam rumah.
Haikal jadi deg-degan. Apa yang akan dilakukan Gibran padanya?
Begitu terkejutnya Haikal saat melihat calon mertuanya membawa suatu benda yang belum terlihat jelas benda apa itu, hanya saja gagangnya panjang terbuat dari besi.
"Jangan bunuh dulu aku om, aku ingin menikahi Ghisell, aku ingin melihat wajah anakku." Haikal mengatakannya dengan nada memohon.
Gibran yang tadinya ingin terlihat tegas, dia jadi ingin menahan tawa, "Om tidak bisa memukulmu karena wajahmu sudah babak belur. Ini mesin potong rumput. Tadinya om mau menyuruh tukang kebun kesini. Karena kamu bilang mau melakukan apa saja, om ingin kamu bersihkan rerumputan di halaman ini."
Haikal merasa lega, ternyata hukumannya hanya memotong rumput "Oh siap om, aku bersedia." Haikal segera mengambil mesin pemotong rumput itu dari tangan Gibran.
"Bukan hanya disini, tapi kesana." Gibran menunjuk ke arah yang lumayan jauh karena rumah Gibran memiliki halaman yang saaaangat luas.
Haikal membulatkan matanya, "Sa-sampai kesana om?" Haikal menunjuk ke arah sebuah Vila, sampai Vila itu terlihat seperti miniautur saking juahnya.
"Kalau gak sangggup biar...."
"Saya sanggup om." jawab Haikal dengan mantap.
"Hmm... ya udah."
Begitu Gibran pergi, Haikal segera menghidupkan mesin potong rumput itu dan mulai membabat rerumputan yang sudah mulai meninggi.
Gibran memperhatikan dari kejauhan, dia segera masuk ke dalam rumah saat istrinya memanggil namanya. Rupanya tamu yang dia tunggu datang juga, kakek dan neneknya Ghisell.
Gibran menyambut dengan hangat kedatangan kedua orang tuanya. "Mama, Papa."
"Mana cucuku?" tanya Opah Reza. Karena Ghisell satu-satunya cucu wanita yang dia punya, Opah Reza begitu sangat menyayangi Ghisell.
"Ghisell sedang di vila halaman belakang." jawab Gibran.
Ghea memperhatikan orang yang sedang memotong rumput, "Papa sudah menyewa tukang kebun?"
"Bukan, itu calon suaminya Ghisell."
Ghea membulatkan matanya, "Siapa?" Perasaan dia belum memutuskan dengan siapa Ghisell akan menikah.
"Haikal." jawab Gibran dengan santai.
"Ck! Ya ampun Ghea, masa kamu tidak tau calon suami anakmu sendiri." Omah Rosa berdecak. Dia memang belum berubah, masih cerewet seperti dulu.
"Bukan begitu..." Ghea hanya bisa menggaruk kepalanya, bingung untuk menjelaskannya. Bisa-bisanya suaminya langsung menobatkan Haikal calon suami Ghisell tanpa bilang dulu padanya, walaupun dia juga memang memilih lebih baik Haikal yang menikahi Ghisell berhubung Haikal adalah ayah dari janin yang dikandung Ghisell.
Sebagai sama-sama seorang laki-laki, Gibran sangat tau apa yang diucapkan Haikal itu tulus. Dia ingin menikahi Ghisell bukan bentuk keterpaksaan karena sebuah rasa tanggung jawab semata, tapi pria itu sangat mencintai anaknya, dari sorot mata Haikal mewakili semua itu.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...