Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Lima Puluh Lima


Maaf telat habis pulang joging biar bertenaga nulisnya 😁


Sudah beberapa kali Raymond mengirim pesan pada Bella tapi Bella tak pernah menanggapinya. "Aish... berani-beraninya dia nipu gue, katanya bersedia kencan satu hari sama gue, tapi malah cuek-cuek aja."


Drrrtt...Drrrtt...


Ponselnya bergetar, dia pikir dari Bella, tapi rupanya dari sahabatnya.


"Ada apa, Kal?"


"Tolongin gue Ray, emergency nih."


Raymond bergegas menemui Haikal di tempat yang dijanjikan. Rupanya itu cuma akal-akalan Haikal agar Raymond segera pergi untuk membantunya. Haikal sudah mencari kesana kemari, bahkan meminta Raymond untuk menemaninya tapi gak ketemu juga apa yang diinginkan Ghisell.


"Mau nyari keujung dunia juga gak bakalan ada buah markisa yang gak ada bijinya." Protes Raymond.


"Ya siapa tau ada kan? Gue juga baru tau bentuk buah itu sekarang." Haikal belum pernah makan buah markisa makanya terasa asing, dia masih ingin mencarinya, bahkan sudah banyak buah markisa yang dia buka untuk melihat ada bijinya atau tidak, tinggal tersisa satu dus buah markisa yang masih bersegel.


"Iya markisa itu isinya biji semua. Gue pikir lu minta bantuan apaan, katanya emergency, lah rupanya nyari buah markisa yang gak ada bijinya. Itu artinya bini lu ngerjain lu!"


"Masa sih Ghisell ngerjain gue?"


"Ya mungkin dia gemes sama lu. Tapi Kal, lu yakin gak apa-apa satu kantor sama Vira?" Raymond malah membahas mantan tunangannya Haikal.


Haikal menjawabnya dengan santai "Gue ngasih waktu satu bulan, kalau selama satu bulan dia gak benar kerjanya, ya harus terima aja kalau gue memecatnya."


Raymond membaca pesan dari Luna, "Nah tuh bini lu malah asik ngerumpi sama adik gue dan si Ebell."


Haikal membulatkan mata mendengarnya. "Yang bener?"


"Mending kita cepat pulang, gue jadi gak sabar pengen makan spageti buatan nyokap."


"Perasaan tante Jesika bisanya masak spageti aja?"


"Nah emang iya, tapi rasanya beuh mantap."


Sementara itu di apartemen, Ghisell kedatangan tamu ada Luna dan Bella, awalnya Luna ingin mengirim spageti untuk kakaknya buatan sang mama, tapi karena Raymond tidak ada dia menemui Bella dan meminta Bella untuk mengantarkannya ke apartemen Ghisell, mungkin karena sudah lama tidak bertemu pasti agak canggung.


"Ya ampun jadi kamu ngerjain Haikal?" Luna dan Bella tertawa renyah saat mendengar ucapan Ghisell yang meminta Haikal untuk mencari buah markisa yang gak ada bijinya.


Pada akhirnya spageti untuk Raymond malah jadi santapan ketiga wanita cantik itu.


"Kalau dia masih nyari juga sampai sekarang, fix dia cinta mati sama kamu." Ucap Bella, dia yang paling banyak porsinya makan spageti yang dibawa Luna.


"Seingat aku dia belum pernah bilang cinta sih, dia cuma bilang ingin bertanggungjawab dan terus godain aku." Ghisell mencoba mengingat kapan Haikal bilang cinta padanya, kayaknya gak pernah.


"Aku udah lama kenal Haikal, dia orangnya gak mudah jatuh cinta, malah cuek-cuek aja sama cewek. Dia bisa lupa diri sama kamu berarti dia emang beneran hatinya kecantol sama kamu." Luna mencoba menjelaskan tentang apa yang dia tau soal Haikal.


Ghisell jadi merasa yakin, cinta pertama Luna adalah suaminya, bagaimana bisa dia mulai membuka hati buat Haikal pasti saingannya banyak sekali, salah satunya mantan tunangannya itu. Dia yakin malah lebih makan hati dibandingkan Rafael yang hanya ada Chika pengganggunya.


Luna rasa Ghisell sudah tau kalau Haikal adalah cinta pertama yang sering dia curhatkan itu "Pasti kamu tau sekarang ya Sell, siapa cinta pertama aku. Tapi kamu tenang aja di darahku gak ada keturunan pelakor, aku pasti akan cepat move on."


"Kenapa gak sama Kak Rafael aja? Jadi judulnya jodoh yang tertukar." Bella malah mengajak bercanda.


Luna jadi teringat dengan Rafael yang tiba-tiba menciumnya. "Ish... janganlah. Walaupun dia kakaknya Haikal, tapi aku gak mau punya pacar kayak si kuyang itu."


"Kuyang?" Ghisell mengerutkan dahinya, bisa-bisanya Luna menyebutkan mantan terkasihnya kuyang.


Sementara Bella malah tertawa meledak, " Astaga kuyang jihahaha..."


Ghisell tidak bisa menjawab, dia juga gak tau kenapa betah pacaran sama Rafael, mungkin karena Rafael pria pertama kali yang dia sukai.


"Kamu kan sekretarisnya kak Rafael, Jangan-jangan kamu yang kirim bunga buat Ghisell ya?" Bella mengatakan itu dengan nada menekan ke Luna dengan menyipitkan matanya.


Luna merasa malu sekali, "Ya gitu deh."


"Lain kali jangan kirim aku bunga Luna, aku gak mau mama tau kak Rafael sering kirim bunga ke kantor. Aku pasti kena omel." Ghisell memang tidak bisa menerima bunga itu.


"Aduh gimana ya? Nanti aku bakal dipecat sama Kak Rafael!" Luna lebih takut kena omel sang mama jika dipecat oleh Rafael.


"Ya udah kamu kirim ke rumah sakit kakak kamu aja, yang penting Rafael taunya kamu ngirim bunga." Bella malah mengusulkan agar bunga itu di kirim ke Raymond.


"Nah ide bagus sih, soalnya Kak Rafael suka minta nota pembelian bunganya makanya aku gak bisa bohong."


Ghisell hanya tertawa kecil saja mendengar pembicaraan kedua temannya. Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar ada orang yang membuka pintu.


Siapa lagi kalau bukan Haikal dan Raymond.


Raymond melongo saat melihat spagetinya habis di makan ketiga wanita itu.


Spageti gue?


Padahal spageti buatan mamanya rasanya beda dari yang lain. Dia menelan ludah saat melihat Bella melahap suapan terakhirnya, kedua matanya yang awalnya fokus ke spageti malah ke bibirnya yang sedang mengunyah spageti.


Astaga! Bibirnya sangat menggoda. kata hati Raymond.


Haikal membawa satu dus markisa ke atas meja. Dia menatap Ghisell dengan tatapan kesal. Raymond tau pasti akan terjadi perang disana. Dia mengajak Luna dan Bella keluar dari sana.


"Lebih baik kita pindah ke apartemen aku," ajak Raymond.


"Idih ngapain ke apartemen kamu. Mending aku pulang aja ke apartemen aku." Bella malah melengos pergi, diikuti Raymond dan Luna.


Ghisell tampak gugup merasa tidak nyaman saat Haikal menatapnya dengan lekat "Kenapa menatapku seperti itu?"


Haikal membungkukan badannya mengurung Ghisell yang duduk di atas kursi, kedua tangannya bertumpu pada lengan kursi agar Ghisell tidak berkutik. "Kamu mengerjaiku!"


Entah mengapa suara berat itu terdengar begitu menggoda, Ghisell pura-pura biasa saja padahal dia sangat grogi, dia malah tertawa kecil, "Ya ampun, aku cuma bercanda, aku kira kamu gak akan mencari sampai segitunya. Udah tau markisa isinya biji semua, ngapain dicari?"


Haikal semakin mendekatkan jaraknya "Karena kamu sudah ngerjain aku. Itu artinya aku harus menghukummu!"


"Hukum?"Jantung Ghisell terus detak begitu kencang, dia tidak tau hukuman apa yang akan Haikal berikan padanya.


Entah mengapa Ghisell jadi sangat menyukai aroma tubuh pria ini, aromanya malah membuat naluri kewanitaannya bangkit. Bahkan tatapan pria itu sangat menggoda, apalagi saat dia melihat bibir Haikal yang sangat menggairahkan, sungguh pria tampan ini tampak mempesona.


Ghisell merasakan keaneahan pada dirinya, memandanginya dengan menelan saliva, menggenggam erat gaunnya, merasakan tubuhnya berdesir panas dengan hati yang berdebar-debar.


Haikal mencondongkan wajahnya sehingga jarak kedua bibir mereka begitu sangat dekat, bahkan hembusan nafasnya begitu terasa menelisik jiwa, "Kamu pilih saja, makan buah markisa itu semua sampai habis atau aku yang memakan kamu?"


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...