
Ceklek!
Terdengar suara seseorang membuka pintu, orang itu menyembul dari balik pintu dan langsung menyapa Rafael dan Luna dengan ramah, "Selamat siang..." Pria itu terdiam sambil berdiri saat melihat sosok wanita yang sedang bersama Rafael. Dia sangat tidak menyangka akhirnya bisa bertemu lagi dengan gadis itu.
"Luna?"
Luna membulatkan mata begitu melihat pria yang menolongnya kemarin, "Mas Vano?"
Rafael memandangi mereka dengan tatapan penuh tanda tanya. "Kalian saling mengenal?" tanya Rafael dengan mengerutkan dahinya.
Vano mengembangkan senyumnya memandangi Luna, Luna membalas senyumannya sebagai bentuk sopan santun, Vano ikut bergabung duduk bersama mereka, "Apa dia asisten baru kamu Raf?"
"Iya, yang dulu udah pensiun. Tapi darimana kalian saling menengal?" Rafael sangat penasaran mengapa Luna dan Vano saling mengenal.
"Kemarin kita kenalan di mini market, belanjaan dia banyak banget. Makanya aku bantu."
Pandangan Vano tak bisa lepas dari wajah cantik Luna. "Aku gak menyangka bisa bertemu lagi dengan kamu. Senang sekali bisa bertemu kembali."
Luna merasa bingung harus bersikap bagaimana, gak mungkin kan dia harus bersikap manis kepada pria lain di depan suaminya. Suaminya? Bahkan Rafael sudah bilang tidak menganggap Luna itu istrinya, seakan mereka hanya tinggal satu rumah saja antara CEO dan Asisten makanya Rafael suka nyuruh seenaknya sama dia.
Luna teringat dengan pesan Rafael yang jangan membuat dia malu dan jangan mengecewakan klien, karena itu dia harus bersikap ramah pada Vano dengan tersenyum manis, "Aku juga senang bisa bertemu kembali dengan Mas Vano."
Rafael mendengus memandangi Luna saat memanggil Vano dengan kata Mas, "Panggil Vano Pak, kita sedang meeting."
Vano malah terkekeh, dia menatap Luna "Oh gak apa-apa, panggil aja aku Mas." Pandangan Vano beralih ke Rafael "Kita kan disini pada saling kenal jadi kita bicara santai aja, Raf."
Rafael mengalah saja, dia memperhatikan Vano yang sekali-kali melirik Luna, sepertinya Vano memiliki ketertarikan pada wanita yang berstatus istri sementaranya itu.
Vano mencoba memulai pembicaraan "Seperti biasa setiap tahun Bagaskara Media akan mengadakan pesta ulang tahun perusahaan, dan kami ingin merayakan pesta itu di hotel milik K Grup."
"Bagaskara Media?" Luna membulatkan matanya begitu mendengar Bagaskara Media, salah satu perusahaan penerbit buku terbesar di negara ini.
"Wah dulu waktu sekolah aku sering mengisi mading dengan cerpen-cerpen aku." Dan cerpen Luna tak lain adalah tentang dia dan Haikal, sampai Bella dan Ghisell bosan membacanya.
"Oke, kalau begitu...." Rafael tidak diberi kesempatan untuk bicara, karena Luna dan Vano malah tengah asik mengobrol.
"Jadi kamu punya ketertarikan dalam dunia menulis Luna? Baguslah kamu bisa mengirim kumpulan cerpen kamu ke saya, atau juga kalau kamu bisa buat novel, boleh sekali novelnya ke saya kan." Dengan begitu Vano memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan asisten temannya itu.
Luna malah tertawa kecil, "Aduh nggak deh Mas, aku cuma iseng aja dulu. Udah lama gak pernah nulis lagi. Pernah sih mencoba sekali nulis secara online di NovelAja tapi banyak yang komen pedas katanya novel aku gak menarik, makanya aku shock dan gak mau nulis lagi."
Vano menganggukan kepala, dia berpikir sejenak "Kalau begitu kamu coba nulis aja satu atau dua bab dulu, biar aku nanti periksa, aku akan kasih masukan nanti kalau ada yang perlu di koreksi."
Lagi-lagi Rafael tidak diberi kesempatan untuk berbicara, seakan dia hanya makluk astral yang tidak mereka anggap keberadaannya. Baru juga mau mangap sudah keduluan sama mereka. "Eu..."
"Ah nggak deh Mas, itu udah lama banget apalagi sekarang aku sudah bekerja menjadi asisten Pak Rafael."
Good Girl, jawaban yang bagus.
"Pekerjaan dan hobby itu beda lho Luna, kamu tetap bekerja , dan setelah bekerja baru kamu sambil rebahan di kamar menyalurkan hobby kamu dengan menulis." Vano mencoba untuk membujuk Luna agar mau mengembang bakatnya dengan begitu dia juga bisa bertemu lagi dengan Luna.
Luna berpikir sejenak gak ada salahnya juga dia mencoba untuk menulis dari pada tiap hari bertengkar terus dengan Rafael, lebih baik dia menyibukkan dirinya untuk menulis di rumah jadi gak selalu melihat wajah menyebalkan pria arogan itu, "Emm... boleh juga sih di coba."
Rafael memelototkan matanya begitu mendengar jawaban Luna. Entah mengapa dia merasa tidak suka dengan jawaban Luna atas bujukan dari Vano. Rahangnya terasa begitu sangat mengeras.
Vano memberikan kartu id nya pada Luna yang tentu saja disana tertera nomor telepon Vano, "Nanti hubungi aku jika kamu memerlukan aku untuk memeriksa karya kamu."
Luna mengambil kartu Id milik Vano, "Terimakasih Mas Vano."
Preeengg!
Suara sendok yang jatuh ke lantai itu menghentikan pembicaraan mereka, menyadarkan mereka akan kehadiran Rafael disana.
"Oh Rafael, maaf nih kita keasikan ngobrol hehe..." ucap Vano, mungkin saking semangatnya mengobrol dengan Luna sampai melupakan pembahasan meeting hari ini.
"Oh tidak apa-apa, tadi sendoknya gak sengaja ke senggol tangan."
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutn...