
Di kamar sebelah Ghisell dan Haikal, di Vila.
Malam ini Raymond tidak bisa tidur karena bagaimanapun dia seorang kakak merasa shock tiba-tiba adiknya menikah secara dadakan. Tadinya di akan menghajar Rafael jika Rafael macam-macam pada adiknya tapi mamanya menjelaskan dengan panjang lebar bahwa diantara mereka tidak terjadi apa-apa, mereka hanya ingin menikah siri dulu untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan dan mamanya juga berharap Raymond bisa menikah sebelum diadakan resepsi untuk adiknya dan Rafael.
Raymond masuk ke kamar yang di tempati Bella, rupanya Bella lupa mengunci pintu. Raymond tersenyum melihat Bella yang tengah tidur. Walaupun dia sedang tidur, tapi dia terlihat sangat cantik.
Raymond membaringkan tubuhnya di samping Bella dan memeluknya, Bella mengerjap saat merasakan ada yang memeluk tubuhnya.
"Raymond? Kenapa kamu disini?"
"Ayo kita menikah, aku akan meyakinkan ayah kamu. Aku mau kita segera menikah bukan karena keduluan sama Luna, tapi aku ingin hidup bersama dengan kamu. Kita kan bertetanggaan, paling cuma pindah tempat aja ke apartemen aku."
"Kamu yakin sanggup ketemu ayah aku?"
"Tentu saja."
Bella dan Raymond jadi gagal fokus mendengar suara erangan nikmat di kamar sebelah, mungkin mereka pikir kamar di Vila ini kedap suara, serasa dunia hanya milik mereka berdua yang lainnya pindah ke konoha.
Wajah Bella jadi merah merona mendengar suara itu apalagi sekarang dia sedang bersama Raymond di kamar.
"Ray, lebih baik kamu keluar gih!" Bella malah mengusir Raymond.
"Yah kok diusir sih, jadi mau kayak seperti mereka. Luna juga sekarang pasti lagi menikmati malam yang indah bersama Rafael."
"Ishh belum saatnya." Bella reflek mendorong Raymond sampai Raymond terjatuh ke lantai.
"Arrrggghhh... pinggangku." Raymond memegang pinggangnya.
Bella mengambil raket nyamuk di atas nakas, "Awas ya kalau kamu macam-macam..." Bella melayangkan raket nyamuk ke udara, "Aku akan menghajar kamu dengan ini."
"Astaga! Punya pacar galak amat, gak kebayang malam pertama kita nanti kayak apa." Raymond terpaksa berjalan melangkah ke luar.
Namun tiba-tiba dia membalikan badannya,dan menghampiri Bella kembali memegang erat tangan Bella yang sedang memegang raket nyamuk, jadi Bella tidak bisa memukulnya. Bella sangat shock dengan perlakuan Raymond kepadanya yang secara tiba-tiba.
Raymond mencium Bella dan menyesap bibir manisnya, hanya sebentar, dia menatap kedua bola mata Bella, "Selamat malam, semoga memimpikan aku agar mimpi kamu menjadi indah."
Setelah berkata begitu, Raymond pun pergi dari kamar itu. Raymond ingin memperlakukan Bella dengan cara istimewa, karena itu dia akan terus bersabar untuk tidak melakukan di luar batas walaupun rasanya sangat sulit setiap bertemu Bella dia harus berkelahi dengan hasratnya sendiri.
Bella hanya terpaku mendapatkan serangan ciuman dadakan itu.
...****************...
Sementara itu di kota A.
Malam ini Rafael pulang membawa Luna ke rumahnya, kejadian beberapa menit sore itu malah mengikat dirinya yang kini telah menjadi suami Luna. Rasanya seperti mimpi buruk, bagaimana bisa dia menjadi seorang suami saat ini.
Begitu juga Luna, dia sangat tidak menyangka gara-gara dirinya mabuk dia harus menjadi istri dari seseorang yang di anggap paling menyebalkan di dalam hidupnya.
Arrghh... sial banget nasibku. gerutu hati Luna.
"Tante, kalau boleh tau kamar Luna dimana ya?" tanya Luna pada Karin dengan polosnya.
Karin malah terkekeh, "Ya di kamar Rafael lah, kalian kan suami istri sekarang."
Rafael dan Luna terkejut mendengarnya mungkin karena belum siap tiba-tiba harus tidur bersama lawan jenis dalam satu kamar.
"Mulai sekarang panggil tante mama ya." Karin ingin Luna memanggilnya mama.
" Oh iya Ma."
Rafael mendukung keinginan Luna "Iya, Ma. Disini kan ada banyak kamar, Rafael belum terbiasa kalau harus tidur berduaan dengan cewek."
"Ya ampun kalian itu gimana sih, sama-sama malu tapi mau, bukannya kalian harusnya senang sudah disahkan jadi bebas malu melakukan apa saja tanpa takut merasa berdosa." Karin tidak mengerti dengan jalan pemikiran anak dan orang yang menjadi menantunya ini.
Rafael terpaksa membawa Luna masuk ke dalam kamar.
"Ini semua gara-gara kamu, kenapa harus ada acara mabuk segala?" bentak Rafael begitu sampai di dalam kamar.
"Lha kok jadi nyalahin aku? Apa sore tadi aku meminta bantuan kak Rafael? Nggak kan?" Luna tidak terima di bentak seperti itu.
" Harusnya kamu berterimakasih karena kau menolong kamu!"
Luna malah tersenyum, dia berjalan mendekati Rafael, mumbuat Rafael reflek mundur dan punggungnya mentok di dinding. Dia takut Luna akan menerkamnya lagi.
Luna memandangi Rafael yang jaraknya sangat dekat denganya, "Kakak naksir aku ya sampai segitunya menolong aku?"
Rafael malah menyentil kening Luna.
"Aduhhh..." Luna memegang keningnya yang di sentil oleh Rafael.
"Biar kamu bangun dari mimpi kamu. Aku gak akan pernah naksir kamu dan tidak akan menginginkan tubuh kamu itu ok." Rafael mengatakannya sambil berjalan ke atas ranjang, dia meletakkan guling di tengah kasur. "Jangan sampai melewati batas!"
"Ish... harusnya aku yang bilang begitu." Luna langsung rebahan di atas kasur bagian kanan, dia sudah sangat ngantuk gara-gara pengaruh alkohol.
Sementara Rafael membaringkan tubuhnya di kasur bagian kiri, dia menatap dengan tajam ke arah Luna yang sedang berbaring disebelahnya walaupun hanya terhalang guling. "Awas ya jangan mencari kesempatan dan kesempitan jika aku tertidur nanti."
Luna menghela nafas, "Kenapa kakak gak tidur di sofa aja atau dilantai? Kak Rafael kan cowok."
"Lah ini kamar aku, masa aku harus mengalah. Kenapa gak kamu aja?" Rafael tidak ingin mengalah.
"Ish... aku gak pernah tidur di sembarang tempat." Luna juga tidak ingin mengalah.
Akhirnya mereka tidur dengan saling membelakangi. Rafael jadi teringat dengan perkataan Luna yang memanggilnya kuyang. Rafael malah yang melanggar, dia melewati guling itu dan membalikan posisi Luna yang sedang membelakanginya.
Luna terpekik kaget saat Rafael membalikan badan, dirinya langsung berada dibawah Rafael, "Kak Rafael!" Luna menatap Rafael yang kini berada di atasnya, jantungnya dag dig dug tidak menentu.
Rafael menatapnya dengan sorot mata tajam pada wanita yang ada di bawah kungkungannya "Kenapa waktu kamu mabuk memanggil aku kuyang?"
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...