
Malam ini Kota A
Karin dan Bara di undang oleh Jesika dan Jo untuk datang ke kediaman mereka karena telah memergoki kedua anak mereka sedang ehm ehm di kamar Luna.
Beberapa kali Rafael mengelak dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi tak ada satupun yang percaya.
Padahal kejadian sebenarnya seperti ini...
Flashback On...
Sore itu, Rafael menggendong Luna membawanya masuk ke dalam kamar milik Luna, dia membaringkan tubuh Luna di atas ranjang.
Namun mungkin karena pengaruh alkohol, akal sehat Luna tidak ada disana, dia merasakan tubuhnya kepanasan, dia terduduk di atas rajang dan membuka bajunya "Ughhhh... panas sekali."
Rafael yang hendak pergi, dia terbelalak saat melihat Luna membuka bajunya, hanya memakai bra saja.
"Luna, kamu ini apa-apaan?" Rafael terpaksa naik ke atas ranjang, dia ingin memakaikan kembali baju Luna karena hawa sore ini sangat dingin, dia tidak ingin Luna kedinginan.
"Ish...dasar mesum. Kenapa kenapa kamu disini kuyang?" Luna malah terkekeh sambil menolak untuk dipakaikan kembali bajunya.
"Ku-kuyang??" Rafael memelototkan matanya, dia tidak terima pria tampan seperti dia di sebut kuyang.
Luna malah cekikikan, "Hehe iya kamu itu kuyang yang paling menyebalkan, apa kamu tau setiap hari aku gondok sama sikap kamu yang arogan itu, ingin sekali aku menjewer telinga kamu." Luna mengatakannya sambil menjewer telinga Rafael. Luna akan menyesal melakukan ini semua jika dia tersadar nanti.
"Aish..." Rafael menepis tangan Luna yang menjewer telinganya.
Namun Luna tidak bisa diam, dia mecubit kedua pipi Rafael, "Dan aku ingin mencubit kedua pipi kamu juga."
"Luna!" Bentak Rafael, dia melepaskan tangan Luna yang mencubit kedua pipinya, tapi matanya malah salah fokus ke Luna yang tidak memakai baju, hanya memakai bra warna hitam saja, tubuh Luna terlihat begitu sangat mulus. Sampai Rafael meneguk saliva dengan kasar.
Mungkin jika dia dalam keadaan sama-sama mabuk dia bisa lupa diri, beruntung sore ini dia tidak minum sama sekali jadi dia yakin tidak akan khilaf.
Luna mencubit kembali kedua pipi Rafael "Bahkan kamu juga yang sudah merenggut ciuman pertama aku, dasar kuyang mesum."
"Aish... cepat pakai baju kamu, nanti di kira aku ngapa-ngapain kamu." Rafael ingin memakaikan bajunya pada Luna.
Namun tiba-tiba Luna mengecup bibir Rafael, Rafael terdiam ketika kedua bibir itu menempel. "Aku harus cium kamu kembali biar impas."
Rafael hanya terpaku saat mendapatkan kecupan bibir dari Luna. Sore dingin itu menimbulkan hawa yang sangat panas disekuju tubuhnya apalagi begitu terlihat jelas belahan dada Luna dan perutnya yang mulus, Rafael tak bisa berpikir jernih. Dia juga lelaki biasa yang memiliki hasrat seperti lelaki lainnya.
Luna yang dikuasai alkohol, dia sama sekali tidak berpikir bahwa tindakannya ini salah, karena orang mabuk akan bertindak sesuka hatinya sesuai keinginannya, "Ternyata bibir kamu manis." Dia mencium kembali bibir Rafael dan me lu mat bibirnya dengan lembut.
Oh shitttt...
Hasrat Rafael terpancing , dia menggapai tengkuk Luna dan menciumnya bibirnya dengan brutal, dia yakin Luna tidak akan ingat ciuman panas mereka, lagi pula Luna yang memulai, bukan dirinya.
Luna ikut memagut bibir Rafael, mereka saling bersilat lidah dan bertukar saliva dengan menggebu-gebu.
Rafael tersadar kembali, dia tidak boleh memanfaatkan situasi ini, dia melepaskan ciuman, tapi Luna yang menahannya, Luna yang sedang mabuk telah dikuasai hawa naf su, dia malah membuka kemeja yang dipakai Rafael dengan kasar sampai beberapa kancingnya berjatuhan.
"Luna!" Rafael menutup kedua dadanya, ini pertama kalinya dia telanjang dada di depan perempuan.
"Aku akan menghajar kamu kuyang menyebalkan." Luna seperti sedang kerasukan iblis, dia mencium kembali bibir Rafael dengan brutal, sampai Rafael kehilangan keseimbangan, kedua tubuh itu ambruk sehingga posisi Luna berada di atasnya.
"Luna berhenti arrrggghhh " Hati Rafael ingin berhenti, dia memiliki tenaga yang kuat untuk melawan Luna. Tapi tubuhnya berkata tidak, dia tidak bisa menolak saat Luna memberikan beberapa tanda merah di tubuh dan lehernya.
Rafael tidak bisa menahan diri lagi, apalagi merasakan sesak di bawah sana, dia membalikan posisinya berada di atas Luna, mencium bibir Luna dengan ganas, sementara tangannya mulai meremas bulatan kenyal yang masih ditutupi bra.
"Aahhh..." Luna mende sah.
Luna mencium kembali bibirnya dengan begitu naf su, bahkan tangannya terus meraba-raba badan Rafael.
"Ya ampun, apa yang kalian lakukan?"
Perkataan Jesika menghentikan aktivitas panas mereka, kebetulan pintu kamar Luna terbuka karena Rafael tadinya hanya berniat mengantarkan Luna saja ke kamar.
Jesika saat itu baru pulang ke rumah dan langsung ingin melihat kondisi Luna yang kata ART disana bahwa Luna sedang mabuk parah dan Rafael yang menggendongnya ke kamar.
Flashback off...
Karena sudah meminum obat pengar, Luna malam ini sudah sedikit tersadar dari mabuknya.
Dia terus beradu mulut dengan Rafael.
"Kamu yang memulai." Rafael tidak ingin disalahkan, dia merasa bahwa dirinya korban.
"Masa aku yang memulai, yang benar aja kak." Luna tidak habis pikir bagaimana mungkin ada wanita yang akan memperkosa laki-laki. "Pasti kakak kan yang buka baju aku?"
Rafael tidak terima dituduh seperti itu, "Kamu yang buka sendiri bahkan merayu aku."
Bara mencoba menjadi penengah, "Terlepas siapa yang salah, yang pasti kalian suka sama suka melakukannya," Lalu pandangannya beralih ke Jo dan Jesika "Kami dari pihak laki-laki akan mempertanggungjawabkan atas perbuatan Rafael, anak kami."
Rafael tercengang, tidak terima dengan keputusan papanya, "Kita gak melakukan di luar batas, Pa."
"Iya sekarang tidak, gak tau kan kalau kedepannya." Karin menyetujui keputusan Bara.
"Tapi aku disini korban, Ma. Kalau gak percaya lihat apa yang sudah dilakukan Luna padaku." Rafael terpaksa membuka bajunya, malah dia memperlihatkan dua kancing yang copot gara-gara Luna.
Mereka terpekik kaget melihat banyak tanda merah di badan Rafael, bahkan baru menyadari di lehernya pun juga ada. Pandangan mereka yang ada disana bergantian ke arah Luna yang lehernya bersih tak ada tanda merah disana.
"Ya ampun, Luna kamu malu-maluin mama ya." Jesika sangat malu atas apa yang diperbuat anaknya , dia juga memang melihat saat itu Rafael yang berada di bawah Luna.
"Gak mungkin, Ma. Masa Luna ngelakuin itu." Luna terus mengelak.
"Terus siapa yang membuat tanda merah begini? Masa aku sendiri." Rafael malah ikut memojokan Luna.
"Ehmm!" Jo berdehem membuat semua yang ada disana terdiam, "Karena disini Luna yang salah, biar Luna yang bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan pada Rafael. Bagaimana kalau kita menikahkan mereka besok? Biar mereka gak sampai kebablasan, apalagi mereka pacaran." Jo tidak ingin Luna jebol duluan sebelum menikah , dia tau malam ini mereka tidak sampai menembus gawang.
"Nikah? Besok?" Sewot Luna dan Rafael mengatakannya dengan bersamaan.
"Sepertinya mereka sudah pada tidak kuat buat menunggu besok, kita nikahkan saja mereka malam ini." Bara memutuskan untuk menikahkan mereka malam ini juga.
Luna dan Rafael semakin tercengang mendengarkan ucapan Bara. Berniat menolong malah menjadi malapetaka buat Rafael, hampir saja keperjakaannya di renggut oleh Luna malam ini.
Nah kan si Luna jadi pusing gara-gara ulahnya.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...