Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Tujuh Puluh Dua


"Hai...khal..." Ghisell sudah tidak bisa mengontrol dirinya, sentuhan itu begitu memabukan. Dia menjepit jemari Haikal yang bermain di intinya, mencengangkan seprai dengan kuat saat merasakan miliknya telah banjir.


"Ahhhhh..." Jeritan Ghisell sangat terdengar dengan begitu indah di telinga Haikal.


Haikal tersenyum puas karena telah berhasil menaklukkan Ghisell. Dia memposisikan dirinya di antara kedua paha Ghisell dan mengarahkan miliknya yang sudah berdiri tegak siap masuk ke dalam.


"Ahhhhh.." Ghisell merintih saat ada yang memasuki miliknya, di mencengkram punggung Haikal yang sudah mulai bergerak diatasnya.


Haikal memaju mundurkan pinggulnya, menusuk Ghisell lebih dalam.


"Haikal!" Ghisell tak kuat merasakan rasa geli yang ada di bawahnya.


Bahkan mulut Haikal tiada henti menyedot bulatan indah di dadanya disertai dengan lidah yang terus bergerilya disana, membuat Ghisell terus menggelinjang.


Haikal mempercepat gerakannya ketika merasakan milik Ghisell mulai berkedut, Haikal mengerang merasakan miliknya dijepit keras oleh Ghisell, sehingga hentakan kerasnya membuat Ghisell mengeluarkan cairannya.


"Ahhhhh...." Ghisell mengerang penuh rasa kenikmatan, dia memeluk dengan kuat kepala Haikal yang sedang asik bermain dengan buah dadanya.


Haikal mengusap keringat yang bercucuran di kening Ghisell, dia mencium bibirnya, lalu kembali menggerakkan miliknya, Haikal menghentak-hentakan miliknya dengan kuat.


Ghisell melebarkan pahanya agar Haikal semakin bergerak dengan bebas, dia melilitkan kedua kakinya di atas pinggang Haikal yang terus bergerak diatasnya, dia merasakan milik Haikal semakin membesar di dalamnya.


"Kamu masih sempit, Ghisell." Haikal menyeringai saat merasakan juniornya dijepit dengan sangat sempit membuatnya berkedut-kedut penuh rasa nikmat, kejantanannya terus keluar masuk memompa intinya.


"Aghhh...ahhh..." Akhirnya desa han keduanya bersaut memenuhi kamar di Vila sana saat sama-sama merasakan pelepasan.


Entah berapa kali mereka melakukannya, yang pasti saat ini Ghisell sedang tertidur pulas karena kelelahan, tubuh indahnya hanya ditutupi selimut saja.


Haikal yang baru habis mandi dan sudah berpakaian lengkap dia tersenyum lebar memperhatikan sang istri yang masih terlelap, padahal waktu sudah menunjukkan jam 8 malam.


"Ghisell." Haikal membangunkan Ghisell dengan lembut. "Ayo bangun, kita harus makan, kasihan anak kita pasti kelaparan."


"Emmmhh..." Ghisell malas untuk bangun. "Aku masih ngantuk." rengeknya dengan manja.


Untuk pertama kalinya Haikal melihat Ghisell yang merengek manja seperti itu, sangat menggemaskan. Kalau tidak kasihan pada Ghisell, dia pasti sudah menerkamnya lagi.


"Itu ada Bella lho di luar."


"Bella?" Ghisell langsung membuka mata saat teringat dia yang membawa Bella kesini, tapi malah asik bertempur dengan Haikal.


Ghisell langsung berdiri menutupi badannya dengan selimut karena malu ada Haikal disana.


Haikal hanya terkekeh geli, "Ya ampun kita sudah melakukannya beberapa kali, kenapa masih malu?"


Wajah Ghisell merah merona, jika dalam keadaan sedang terbuai naf su mungkin dia tidak memikirkan rasa malunya, tapi jika dalam keadaan santai begini, dia baru menyadari rasa malunya itu. Ghisell masuk ke kamar mandi dengan membawa selimutnya masuk ke dalam.


...****************...


Hujan sudah reda dari masih senja, karena itu malam ini langit terlihat cerah , bahkan terlihat dengan jelas banyak bintang yang berkerlap kerlip di angkasa.


Ghisell menengadah memandangi indahnya pemandangan malam ini. Rupanya di depan Vila sedang mengadakan makan malam bersama.


Mereka sengaja memasak sendiri, ada yang sedang membakar ayam, ada juga yang sedang memasak di dapur.


"Ghisell!"


"Bella!"


Kedua sahabat itu berpelukan seperti satu tahun tidak bertemu saja karena harus menjalani tugas pertempuran di medan area.


"Apa kamu yang merencanakan semua ini?" Ghisell jadi teringat tiba-tiba Bella meninggalkan dirinya.


"Hehe... habisnya aku gemes sama hubungan kalian."


"Hhh..." Ghisell hanya bisa mendengus, dia tidak bisa marah karena jebakan yang dilakukan sahabatnya malah begitu manis.


Kedua sahabat itu memilih untuk membakar ayam saja, sambil membicarakan apa saja yang dibicarakan, Raymond membiarkan kedua sahabat itu berduaan membakar ayam, dia memilih duduk menghangatkan tubuhnya dengan duduk di depan api unggun.


Sementara Vira mendengus kesal memperhatikan Ghisell yang sangat ceria sekali, dia sangat sakit membayangkan Haikal dan Ghisell yang mengunci diri mereka di dalam Vila selama 4 jam, pasti pikirannya sudah kesana. Malam itu juga dia meminta resign pada Haikal. Haikal malah senang jadi dia tidak perlu bersusah payah memecatnya.


"Kenapa mau resign?" tanya Haikal sekedar basa basi. Saat itu dia dan Vira sedang berada di dalam Vila , ditemani Jerry juga.


"Karena pekerjaan begini gak cocok buat aku." Vira mengatakannya dengan cemberut.


"Hmm ya udah, sekarang udah malam. Kamu pulangnya besok aja." Haikal masih punya hati nurani , dia tidak mungkin membiarkan seorang wanita pulang malam-malam begini, apalagi dia tau suasana jalan begitu sepi di daerah sini.


Haikal sudah menduganya, Vira yang aslinya manja itu tidak akan sanggup bekerja lama di lapangan. Vira mengangguk saja, dengan perasaan kesal dia keluar dari Vila, dia berpapasan dengan Ghisell yang akan masuk ke dalam Vila. Vira menatapnya dengan tatapan sinis. Ghisell hanya mengusap dada semoga dia tidak bertemu lagi dengan wanita itu.


Saat Ghisell masuk ke dalam, Jerry memilih keluar meninggalkan tuannya yang sedang di landa bucin.


Ghisell sangat gugup ketika Haikal menatap dirinya, "Semua masakan sudah matang. Emm... tadi aku membakar ayam, siapa tau kamu mau mencoba mencicipi bakar ayam buatan aku?"


Haikal sangat senang mendengarnya, tentu saja dia dengan senang hati ingin memakan ayam bakar buatan istrinya itu. "Tentu saja, aku mau sekali."


Haikal yang selama satu minggu ini tidak berselera makan, kini dia makan dengan begitu lahap, sampai para karyawan disana menatapnya dengan penuh keheranan. Ghisell sangat senang karena ayam bakar buatannya di makan Haikal sampai habis, dia juga menikmati makan malamnya di malam hari ini, bahkan Haikal sesekali menyuapi dirinya.


Setelah selesai makan, mereka yang ada disana mungkin sekitar 12 orang, mengadakan permainan truth or dare, sebuah permainan klasik yang harus menjawab pertanyaan dengan jujur.


Yang pertama kali memutar botol adalah Raymond, dia memutar botol sampai botol berhenti berputar dan mengarahkan tutup botolnya pada siapapun, botol itu malah berhenti mengarah pada sahabatnya.


Raymond memikirin apa yang ingin dia tanyakan pada Haikal "Apa lu oh maksudnya kamu punya harapan yang ingin kamu capai?"


Haikal memegang tangan Ghisell yang kebetulan duduk disampingnya, "Aku ingin terus hidup bersama dengan istri dan anak-anak kami."


"Uh so sweet." banyak yang mengatakan itu ketika mendengar jawaban dari Haikal.


Ghisell memandangi Haikal, perkataan itu menyentuh hatinya.


Giliran Haikal yang memutar botol , ternyata tutup botolnya mengarah pada asistennya.


"Apa aku menyebalkan?" tanya Haikal pada Jerry.


Pertanyaan itu membuat yang ada disana pada tertawa, kadang Haikal memang menyebalkan kalau lagi mode serius.


"Kadang." jawab Jerry, dia memang harus menjawab jujur.


Haikal terbelalak mendengarnya, dia menyesal seharusnya dia bertanya apa dia orangnya baik atau tampan atau apalah. Mereka pada menahan tawa saat mendengarnya.


"Wah... awas aja aku potong gaji kamu." canda Haikal.


Jerry hanya menggaruk kepala, padahal dia kan harus menjawab jujur apa adanya.


Kini giliran Jerry yang memutar botol, botol itu berputar di atas meja lesehan, lalu berhenti mengarah ke Vira. Jerry bingung bertanya apa pada Vira.


"Kenangan apa yang tidak pernah kamu lupakan?"


Vira menatap Haikal, "Kenangan saat aku dan tunanganku masih bersama, namun sayangnya ada wanita yang menggodanya dengan membuatnya dirinya hamil untuk merebut tunanganku."


"Wah kasihaan sekali kamu, Vira."


"Murahan sekali wanita itu."


Mereka yang ada disana tidak tau kalau Vira adalah mantan tunangan Haikal, jadi tidak tau siapa yang di maksud oleh Vira.


Emosi Haikal terpancing, dia sangat marah tapi Ghisell memegang tangannya dan menggelengkan kepala, dia sadar jika dia marah pada Vira secara tidak langsung dia akan membuat mereka yang ada disana tau bahwa wanita yang di maksud Vira itu adalah Ghisell, dia tidak ingin Ghisell dipandang rendah oleh siapapun karena Ghisell sama sekali tidak menggoda dirinya.


Bella sebagai sahabat hanya bisa mengelus punggung Ghisell untuk menenangkannya dan menatap tajam pada Vira.


Kini Giliran Vira memutar botol. Saat Vira memutar botol, entah sengaja atau tidak, botol itu mengarah ke arah Ghisell. Vira menatap Ghisell dengan tajam, "Apa alasan kamu menikah dengan CEO kami?"


Seperti biasa, novel othor gak akan panjang, jangan kaget kalau tiba-tiba end.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...