Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Enam Puluh Delapan


Tinggal beberapa menit lagi Ghisell akan sampai di pasar yang ada di kota C itu, jantung Ghisell terus meletup-letup membayangkan dia mungkin akan bertemu Haikal disana karena di pinggir pasar itu adalah proyek yang dijalankan Neo Grup.


Dari hatinya yang terdalam, dia memang ingin melihat pria itu, entah pengaruh janin atau karena dirinya sendiri yang pasti dia ingin melihatnya secara langsung walaupun dari kejauhan. Dia sudah kecewa dan kesal pada Haikal yang tak pernah memberi kabar padanya selama satu minggu ini, padahal hatinya sangat tidak tenang dengan keberadaan mantan tunangannya Haikal.


Raymond memang sangaja tidak memberitahu Haikal tentang Ghisell yang akan datang ke kota C karena dia ingin memberikan kejutan pada sahabatnya itu.


Begitu tiba di pasar, dia dan Bella langsung saja ke lokasi pasar, tak ada yang marah akan kehadiran mereka mungkin karena mereka sudah bersepakat akan pindah ke lahan sebelah.


Selama dua jam Ghisell sibuk memperhatikan area pasar itu, tapi dia tidak fokus karena matanya malah tertuju pada konstruksi pembangunan disebelah pasar, namun orang yang dicari tidak terlihat sama sekali.


Kemana dia?


Ghisell malah pergi ke tempat yang akan di jadikan pasar itu, dia memperhatikan bangunan yang masih belum jadi itu, karena sudah sore para pekerja bangunan sudah tidak ada lagi disana.


Bella ingin mengikutinya, tapi tiba-tiba ada yang menariknya. "Raymond?"


Rupanya Raymond mengikuti mereka dari belakang, Haikal memang tidak tau Ghisell akan datang, jadi Raymond sengaja meminta Haikal untuk menemuinya di konstruksi pembangunan pasar itu.


"Udah, jangan ikutin Ghisell. Nanti Haikal akan datang kok."


"Tapi..."


"Mending kita cari makan, aku lapar." Raymond malah malah menarik tangan Bella membawanya pergi mencari tempat makan.


Sementara itu Ghisell terus berjalan kesana, memasuki rangka bangunan tersebut, sangat sepi, berharap sekali Haikal ada disana, ingin sekali melihatnya walau dari kejauhan karena dia masih tidak bisa menurunkan gengsinya jadi tersiksa sendiri. Tapi rasanya Haikal tidak akan pergi lagi kesana karena hari sudah mulai sore.


"Bella, lebih baik kita pulang." Ghisell mengatakannya seraya membalikan badan, dia terkejut saat melihat Haikal ada di hadapannya.


"Ghisell? Kenapa kamu ada disini?" Sepertinya Haikal baru tiba disana.


Ghisell celingak celinguk mencari keberadaan Bella, "Aku ingin memantau pasar, kamu tau sendiri kan pasar itu nanti akan dipakai Departemen Store Adva." Ghisell mengatakannya dengan gugup karena pria yang dia rindukan kini berada di depannya.


Haikal malah nyengir, dia tau ini kerjaan Raymond yang ingin mempertemukan mereka "Harusnya kamu disana dong, bukan disini."


"Emm... ya aku tau, aku cuma penasaran aja sama tempat ini."


"Penasaran sama tempatnya atau sama aku, Hm?" Haikal malah mencondongkan badannya, dia menatap dengan intens kedua bola mata Ghisell.


Ghisell menatap kesal karena Haikal sama sekali tidak minta maaf atau tidak ingin menjelaskan mengapa dia tidak menghubunginya selama ini "Buat aku aku penasaran sama kamu? Orang yang sama sekali gak ingat sama sekali sama istrinya." Ghisell mengatakannya dengan emosi, dia memilih pergi meninggalkan Haikal.


Tapi Haikal malah menahannya dengan memegang kedua lengannya, dia tidak bisa membiarkan Ghisell pergi begitu saja.


"Lepaskan!"


"Buat apa aku marah? Lepasin aku!" Ghisell mengatakannya dengan nada tinggi


"Itu kamu marah."


Ghisell menghela nafas, dia mencoba menurunkan emosinya, "Apa aku tidak boleh marah jika pria yang berstatus masih suaminya tidak menghubungi istrinya sama sekali apalagi dia bekerja dengan mantannya?"


Haikal malah tersenyum miring, "Kamu cemburu?"


"Nggak!" Ghisell malah mengelak.


"Itu artinya kamu cemburu." Haikal malah menggodanya.


Ghisell menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan, dia malah makin emosi dengan reaksi Haikal yang malah menggodanya bukannya menjelaskan mengapa dia tidak menghubungi selama ini.


"Apa aku salah jika aku marah? Aku tiap hari menunggu kamu memberi kabar atau menanyakan kabarku, tapi kamu malah melupakan aku begitu saja. Seolah aku gak penting lagi kan buat kamu." Emosi Ghisell meledak, dia mengatakannya dengan semua amarahnya yang bergejolak di dada.


"Ghisell..."


Ghisell tidak memberi kesempatan untuk Haikal menjelaskannya, "Kamu sama sekali gak mengkhawatirkan aku, dan mungkin sudah gak peduli lagi padaku kan? Ya buat apa peduli padaku yang...Mmmphhh..."


Haikal langsung menyambar bibir Ghisell, membuat Ghisell yang sedang nyerocos tiba-tiba berhenti karena Haikal menyumpal mulutnya, Ghisell ingin melepaskan diri dan memukul-mukul dada Haikal tapi Haikal malah semakin memeluk pinggang Ghisell dengan erat membuat kedua tubuh itu menempel, dia mencium Ghisell dengan sangat brutal mungkin karena menahan rindu yang begitu menggebu di dalam dada.


Ghisell tidak bisa melepaskan diri, karena Haikal memeluk pinggangnya begitu kuat dan mencium bibirnya dengan penuh naf su, sampai dia hampir kehabisan nafas.


Haikal segera melepaskan ciumannya, dia tau Ghisell hampir tidak bisa bernafas gara-gara dirinya. Lalu menarik Ghisell membawanya pergi meninggalkan konstruksi pasar itu karena cuaca begitu mendung takut keburu hujan turun.


"Haikal, lepas. Kamu mau bawa aku kemana?" Ghisell terus berontak. "Aku mau pulang."


Air hujan sudah mulai berjatuhan berlomba-lomba mengenai bumi. Menimbulkan hawa yang sangat dingin.


"Gak bisa, aku tidak akan membiarkan kamu pulang begitu saja."


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnyal...