
Sambil menyetir mobil, Vano sekali-kali memperhatikan kaleng minuman bersoda yang diberikan Luna itu, "Ah sayang sekali seharusnya tadi aku meminta nomor ponselnya." Vano mengatakannya dengan nada menyesal.
Sepertinya dia terkena syndrom jatuh cinta pada pandangan pertama sama Luna. Sampai wajah Luna terus saja berputar di otaknya.
"Arrghh... bodoh sekali kamu Vano!" Vano mengatai dirinya sendiri, "Kalau nanti aku ketemu lagi dengannya, aku akan terus mendekatinya sampai dia jadi milikku." Walaupun dia tidak yakin akan bertemu lagi dengan Luna atau tidak.
Sementara itu Luna telah sampai di depan rumah, dia memarkirkan mobilnya disana.
Rupanya Luna salah sangka pada Rafael, Luna pikir Rafael sedang asik rebahan di rumah, ternyata dia sedang sibuk membereskan rumah.
Ya Bara memang mengajarkan kedua anaknya untuk tidak manja dan mandiri, Bara melakukannya karena kedua anaknya nanti akan memiliki tanggungjawab besar sebagai seorang suami dan ayah. Karena itu mereka tidak selalu mengandalkan jasa orang lain selagi dia sanggup melakukannya.
Semenjak menikah dengan Karin, Bara terpaksa memperkerjakan ART karena tidak ingin Karin kecapean, itu juga Bara menyediakan rumah khusus ART di belakang rumah.
Namun Rafael merasa dia tidak begitu membutuhkan jasa ART, dia menolak bantuan dari sang mama yang akan menugaskan satu atau dua ART kesana.
Rafael bukanlah seorang pria pemalas, bahkan dulu dia dan Haikal sering dilatih untuk disiplin dalam hal apapun, dilatih belajar, termasuk belajar memasak dari sang papa.
Rafael tak sengaja melihat Luna yang sedang kesusahan membawa dua kantong kresek, dia menyeretnya sampai ke teras rumah dengan terengah-engah mungkin saking beratnya.
Rafael mendengus "Dasar manja!"
Rafael turun dari tangga lipat, dia berjalan menghampiri Luna dan merebut dua kantong kresek itu dari tangan Luna.
Luna terperangah begitu Rafael merebut dua kantong kresek besar yang berisi belanjaanya itu.
"Sekarang giliran kamu yang membersihkan jendela. Mumpung hari minggu rumah ini harus benar-benar steril." perintah Rafael dengan nada datar.
"Hah?" Luna terkejut mendengarnya, baru aja dia merasa tersentuh dengan perlakuan Rafael, eh sekarang malah main nyuruh lagi.
Berbeda dengan Luna, Luna memang sangat di manja oleh mamanya karena Jesika dulunya anak yang sangat manja "Aku gak tau gimana caranya..."
Rafael tidak ingin mendengarkannya, "Awas harus bersih!"
Rafael berjalan dengan santai membawa dua kantong kresek besar itu, baginya sama sekali gak berat.
Luna terus mengumpat, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh kedua orang tuanya, dia sangat kebingungan bagaimana caranya membersihkan jendela itu, dia terpaksa naik ke atas tangga lipat karena jendela yang akan dibersihkan begitu tinggi.
Rafael membawa semua belanjaan yang tadi dibeli Luna , begitu sampai di dapur dia memasukan semuanya ke dalam kulkas dengan ditata begitu sangat rapi karena dia sangat suka kerapihan.
Setelah itu Rafael pergi menemui Luna kembali, dia ingin melihat pekerjaan Luna apakah Luna bisa membersihkan kaca jendela itu. Dia memelototkan matanya begitu melihat kondisi kaca jendela yang malah makin terlihat kotor.
Luna yang sedang fokus membersihkan jendela dia terlonjak gara-gara mendengar ucapan Rafael yang membuatnya sangat kaget, sampai kehilangan keseimbangan tubuhnya, membuat anak tangga itu bergerak-gerak. "Aaa...aaaahhh..." Luna seketika langsung panik.
"Oh Luna!" Dengan sigap Rafael berlari menghampiri Luna begitu melihat Luna yang akan terjatuh dari tangga.
Bughhh...
Luna terjatuh mengenai badan Rafael.
Bukannya terjadi scene romantis seperti di sinetron yang ada di TV, tapi malah faktanya badan Rafael terasa remuk, dia sulit untuk bergerak. "Arrrggghhh punggungku." Rafael memegang punggungnya yang sakit.
Luna segera bangkit karena tubuhnya menindih tubuh Rafael, dia menjadi panik melihat Rafael yang merasakan punggungnya kesakitan. "Oh ya ampun, kakak gak apa-apa kan?"
Luna ingin memanggil ambulan tapi Rafael melarangnya, dia cuma meminta Luna untuk memenpelkan koyo ke punggungnya.
Akhirnya mereka sedang duduk sofa ruang tengah.
"Kenapa kak Rafael buka baju?" Luna hampir menjerit begitu melihat Rafael membuka bajunya, sampai dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tidak sanggup melihat perut Rafael yang kotak-kotak dan teramat sixpack itu.
"Kenapa harus merasa polos begitu, padahal kamu sudah mencicipi tubuhku sampai banyak tanda merah dibadanku." Rafael mengatakannya dengan santai.
"Ih waktu itu kan aku sedang mabuk kak." Luna sama sekali tidak merasa bersalah.
"Nah justru sedang mabuk itu adalah wujud asli seseorang," Rafael tersenyum smrik, dia berbisik "Rupanya aslinya tanpa kamu sadari kamu itu sangat ganas."
Luna menelan saliva mendengarnya. Dia refleks mencubit lengan Rafael. "Dasar kuyang mesum."
"Arrrghhh..." Rafael memegang lengannya. "Kamu bilang apa tadi?" Rafael tidak terima disebut kuyang mesum.
Luna segera berlari dia takut Rafael akan menerkamnya.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...