
Sore ini Rafeal masih memikirkan perkataan pembantu yang sering membantu beres-beres di apartemen Haikal. Namun Haikal menyuruhnya untuk tidak repot-repot membantu mereka lagi karena Haikal dan Ghisell akan membagi-bagi tugas mereka. Pagi hari sebelum berangkat kerja, dia menanyakan apapun tentang adiknya dan Ghisell disana.
"Maaf Tuan, jangan bilang pada nyonya Karin dan Tuan Bara. Tapi bibik perhatikan kayaknya mereka tidur terpisah." jelas Bik Tita kepada Rafael. Dia terpaksa mengatakannya karena Rafael terus mendesaknya.
Bik Tita memang disuruh Karin untuk membantu beres-beres di apartemen Haikal pada siang hari saja, karena Karin tidak ingin menantunya kecapean apalagi Ghisell sedang hamil plus kerja juga.
"Beneran Bik?" Rafael tercengang mendengarnya.
"Iya saya curiga karena Tuan Haikal melarang saya untuk tidak membereskan kamar, cuma pernah saat saya pagi-pagi sekali kesana, saya melihat Nona Ghisell keluar dari kamar yang berbeda."
Rafael sudah menduga Ghisell tidak akan bisa menerima Haikal, karena dia tau Ghisell sangat setia padanya selama empat tahun ini. Bisa dibilang Ghisell cinta mati padanya makanya selalu memaafkan dia jika dia melakukan kesalahan. Ini membuat dia semakin yakin untuk menunggu Ghisell sampai waktunya tiba. Dia percaya akan kekuatan cinta mereka.
Bughh...
Lamunanya dikejutkan oleh berkas-berkas yang berjatuhan karena Luna kewalahan membawa berkas yang begitu banyak.
Rafeal merasa kesal selama satu minggu ini Luna bukannya membantu pekerjaan tapi malah menambah beban pekerjaannya.
"Ya ampun Luna, bisa gak sekali aja kerja yang benar?"
"Yang benar aja dong kak, masa aku harus bawa berkas sebanyak ini." Luna menang tidak mempan di omelin olennya.
"Ya udah kamu keluar aja dari ruanganku. Aku lagi banyak pekerjaan."
"Mau aku bantu kak?"
"Gak usah. Kamu malah nambah pekerjaan aku.".
Dengan cemburut Luna segera keluar dari Ruangan CEO itu, " Ish... ya ampun pengen banget aku bejek-bejek tuh orang."
...****************...
Hari sudah mulai gelap, setelah berkeliling kesana kemari akhirnya Haikal dan Ghisell berhasil menemukan alamat Abah Atar, Abah Atar menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Bahkan Haikal menjelaskan maksud dan tujuan mereka menemui Abah Atar.
"Sebenarnya saya juga sudah menjelaskan semuanya kepada pedagang disana bahwa tanah yang kami pakai adalah milik Adva, tapi kami sudah membayar uang sewa tempat untuk berjualan disana tahun ini." Abah Atar mencoba menjelaskan semuanya.
"Iya untuk itu kami akan memproses hukum kepada orang yang telah menjual tanah itu karena merugikan dua belah pihak, Adva sudah membelinya dan secara hukum Adva adalah pemilik lahan tersebut , tapi disisi lain para pedagang merasa dirugikan karena sudah membayar sewa tempat disana."
Ghisell memilih diam saja, karena dia sama sekali belum tau rencana Haikal bagaimana.
"Sebenarnya kalau saya tidak masalah pak, tapi sebagian besar pedagang disana bukan orang mampu yang jika mereka berhenti berjualan disana, keluarga mereka tidak akan makan. Karena itu mereka sangat sensitif tiap mendengar nama Adva."
"Lahan kosong di sekitar pasar itu milik Neo Grup, memang tidak seluas wilayah pasar tapi saya ingin membangun pusat perbelanjaan disana yang nanti bangunanya akan di tingkat ke atas, bagaimana kalau pasar nanti berpindah kesana?"
Ghisell baru tau lahan kosong disana milik Neo Grup, mengapa Haikal tidak pernah bilang padanya.
"Kalau masalah itu saya akan bermusyawarah dulu dengan para pedagang lainnya. kebetulan nanti saya akan kesana lagi, saya akan mencoba membicarakan semua ini secara baik-baik pada mereka." pasar disana kebetulan buka 24 jam.
"Ya sudah," Haikal memberikan kartu Identitasnya, "Hubungi saya jika setuju."
"Iya, pak." Abah Atar mengambil kartu Identitas yang diberikan Haikal.
...****************...
Karena sudah malam hari, Haikal tidak mungkin langsung pulang begitu saja, mengingat tujuh jam perjalanan dari kota C ke kota A.
"Ini sudah malam. Bagaimana kalau menginap di hotel saja?" Usul Haikal sambil fokus menyetir mobil.
"Ya sudah, dua kamar ya." Ghisell memperingatinya.
"Padahal satu kamar lebih irit." Haikal menggodanya.
"Sejak kapan kamu mengirit keuangan? Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan." Ghisell mendelikiknya.
Haikal hanya tersenyum simpul.
"Kenapa tidak bilang sama aku kalau Neo Grup membeli lahan disana?" Ghisell sangat penasaran.
"Karena pemilik lahan itu baru hari ini memutuskan untuk menjualnya. Saat aku tau permasalahan Adva dan pasar, aku sudah menawarkan diri untuk membelinya tapi sayangnya belum ada keputusan. Baru hari ini keputusannya setelah diurus oleh asisten aku."
Mereka sudah mencari beberapa hotel dan motel didaerah sana, namun tidak ada kamar yang kosong juga, sampai akhirnya dia menemukan satu hotel yang hanya kosong satu kamar saja.
"Maaf Pak, kebetulan disini hanya ada satu kamar yang kosong." kata resepsionis disana.
Haikal sudah lelah mencarinya, "Ya udah gak apa-apa, saya ambil aja."
Ghisell membulatkan mata, "Kenapa ngambilnya? Kita bisa cari hotel lain!" protesnya.
"Kemana lagi? Kita ngubek-ngubek daerah sini dari tadi."
Ghisell terpaksa mengikuti Haikal menuju kamar hotel yang dia sewa.
Ini untuk kedua kalinya mereka satunya kamar lagi, entah mengapa jantung Ghisell berdebar-debar tidak menentu. Dia duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel apa saja yang dia buka. Sementara Haikal mengecek ponselnya berharap ada kabar baik dari Abah Atar.
Haikal merasa gerah, "Aku mandi dulu ya. Kamu gak mau mandi?"
Mandi bagaimana disini ada kamu.
"Nanti aja." ketus Ghisell.
"Hmm... ya udah, aku mandi ya."
Setelah sekian lama membersihkan diri Haikal keluar dengan telanjang dada, hanya menggunakan celana panjang saja, selama satu minggu ini Ghisell sudah terbiasa melihat roti sobek itu, perut Haikal yang berotot dan seksi, Ghisell menelan saliva melihatnya, dia segera mengalihkan pandangannya.
Namun saat Haikal mau memakai baju, dia melihat di punggung Haikal, ada beberapa bulatan biru lebam disana.
"Haikal kamu terluka?" Ghisell berjalan menghampiri Haikal dan mengusap dengan lembut punggung Haikal yang lebam itu.
Punggung Haikal memang sakit, tapi menurutnya tidak seberapa dibandingkan dengan sentuhan tangan Ghisell dipunggungnya.
"Aku cari salep luka dulu ya."
Namun Haikal mencegah Ghisell pergi dengan memegang lengannya, lalu menariknya dan menyatukan kedua bibir mereka. Selama tinggal bersama di apartemen Haikal berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyentuh Ghisell, bahkan menciumnya pun tidak karena takut kebablasan, dia hanya mengelus perutnya saja itu juga ingin atas dasar anak. Namun malam ini dia terangsang dengan sentuhan Ghisell dipunggungnya, dia benar-benar menginginkannya malam ini. Tapi dia tidak ingin memaksanya, Haikal melepaskan ciuman itu dengan nafas tersenggal-senggal.
Ghisell tau apa yang diinginkan Haikal, sejujurnya dia terangsang dengan ciuman tadi, tapi gengsinya masih tinggi.
"Aku akan menyerahkan diriku malam ini padamu jika rencanamu berhasil, itu hadiahnya, itu juga kalau berhasil." Ghisell mengatakan itu seraya berjalan keluar dari kamar hotel untuk membawa salep luka di dalam mobil.
Haikal hanya terpaku mendengar ucapan Ghisell, padahal niatnya hadiah yang dia minta bukan itu, dia ingin Ghisell menciumnya, tapi Ghisell malah akan melakukannya lebih dari itu. Haikal jadi tidak sabar menunggu kabar dari Abah Atar.
Saat masuk ke dalam mobil, bukannya membawa salep luka, tapi Ghisell malah menepuk-nepuk jidatnya begitu menyadari apa yang dia ucapkan pada Haikal tadi, "Astaga! Kenapa jadi aku yang menawarkan diri?"
"Hm oke, itu cuma hadiah, satu kali saja, itu karena aku tau pasti hadiah yang dia pinta dariku pasti ingin melakukan itu. Jadi bukan aku yang minta, aku hanya mengabulkan permintaannya. Itu juga kalau rencananya berhasil." Ghisell terus bermonolog sendiri.
Drrrrtt...Drrrrtt...
Haikal mendapatkan pesan dari Abah Atar, entah mengapa baru kali ini dia merasa sedang uji nyali untuk membaca pesan dari seseorang. Rasanya mendebarkan berharap isi pesannya sesuai harapannya.
Haikal membulatkan mata saat membaca pesan dari Abah Atar.
[Kami sudah bermusyawarah, kami memutuskan untuk menyetujui saran yang pak Haikal usulkan. Tolong tepati janji bapak.]
Perasaan Haikal jadi tidak karuan, rasanya dia seperti akan mendapatkan harta karun malam ini.
Maaf typonya bertebaran, bangun kesiangan langsung nulis aja dah padahal masih ngantuk, demi reader tercinta. Minta kopinya? hehe... Mau yang hot level berapa? Othor mau belajar dulu ke bang Gibran. Diharapkan besok sebelum membaca kurung dulu suami atau istrinya. Kalau gak punya sama othor aja nangis bareng 😁😁 Salam es batu 🧊🧊
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...