Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Enam Puluh Tiga


Tring...Tring...


Ponsel Karin berdering rupanya dari orang penting, dia segera mengangkat panggilan telepon itu dan meninggalkan dapur. "Mama angkat dulu telepon ya."


Ghisell menganggukan kepala "Iya, Ma."


Rupanya yang belum dimasak tinggal udang saja, Ghisell memang alergi udang tapi tidak ada salahnya memasak udang itu untuk Haikal, suaminya. Ghisell yang baru memasak ayam crispy, dia mulai mengiris bawang dengan hati-hati.


"Ghisell!"


Suara Rafael itu membuatnya kaget sampai tidak sengaja pisau itu sedikit mengenai jari telunjuknya, tentu saja jarinya itu terluka dan berdarah.


"Awhhh.." Ghisell meringis.


Rafael terkejut melihatnya, dia langsung meraih jari Ghisell yang terluka, "Tangan kamu berdarah."


"Gak apa-apa kok kak, aku bisa sendiri." Ghisell menarik tangannya.


Tapi Rafael tidak mendengarnya , dia membawa kotak P3K yang gak jauh dari sana, dan mengobati luka di tangan Ghisell lalu menutup luka itu dengan plester. Walaupun Ghisell sudah beberapa menolak bantuannya tapi Rafael tidak mendengarnya , dia tidak ingin melihat wanita yang dicintainya itu terluka.


Rafael menggenggam tangannya dengan erat, sampai badan mereka begitu dekat.


"Kak..."


"Kakak sudah tau kamu dan Haikal pisah kamar, pernikahan kalian hanya sementara. Karena itu tolong jangan bersikap dingin pada kakak. Ini adalah ujian buat kita, kita pasti bersama kembali. Kakak berusaha tegar menerima semua ini dan akan menungu kamu." Rafael mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


Ghisell mengkerutkan dahinya, dia tidak mengerti darimana Rafael tau dia dan Haikal pisah kamar. Sampai dia tidak menyadari saat tangan Rafael mengusap lembut pipinya untuk membersihkan percikan tepung terigu dipipi Ghisell.


Tanpa mereka sadari Haikal melihat itu semua dan mendengar pembicaraan mereka. Tadinya dia ingin menyusul Ghisell ke dapur, tapi langkahnya terhenti saya melihat Rafael yang memegang tangan Ghisell bahkan wajah Ghisell. Dadanya bergejolak menahan amarah, tapi dia tidak ingin kedua orang tuanya sedih jika dia dan Rafael bertengkar.


Haikal merasa dia adalah orang ketiga diantara mereka. Haikal memilih pergi dari ruangan itu, menganggap dia tidak melihat dan mendengarnya, walaupun hatinya sangat sakit.


Setelah jam 08.30 pagi akhirnya semua masakan sudah terhidangkan di atas meja makan, keluarga besar Bara menikmati sarapan pagi mereka,kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan kehadiran Ghisell.


Sambil sarapan, mereka yang ada disana, bercanda gurau, menceritakan apa saja yang penting menarik di bahas, termasuk kehamilan Ghisell yang sangat dinanti akan kehadiran cucu mereka nanti.


Tak seperti biasanya Haikal lebih banyak diam, bayangan saat Rafael begitu sangat perhatian pada Ghisell dan menyentuh pipi Ghisell termasuk ucapan Rafael yang meyakinkan Ghisell akan menunggunya membuat hati Haikal sangat sakit, dia manusia biasa yang pastinya sangat cemburu. Dia pikir semalam saat Ghisell memintanya untuk tidur bersamanya itu karena Ghisell sudah mulai menerima kehadirannya, rupanya dia berharap terlalu jauh.


Bahkan saat mengantar Ghisell ke Kantor Adva pun, Haikal tidak mengucapkan sepatah katapun.


"Kamu mau langsung berangkat ke Kota C?" tanya Ghisell, dia merasa tidak enak hati melihat Haikal yang diam dari tadi, biasanya dia cerewet.


"Iya," jawab Haikal dengan singkat, Asistennya dan Vira berangkat duluan, dia memilih menyusul menyetir sendiri.


Haikal hanya mengangguk. Membiarkan Ghisell keluar dari mobilnya.


Ghisell terus meracau di dalam hatinya sambil berjalan di basement sana karena kesal Haikal terus mendiamkannya.


Dia itu kenapa?


Kenapa sikapnya berubah dingin seperti itu?


Sama sekali gak mau mengucapkan apa gitu kan dia gak sebentar perginya?


Padahal dia sudah rela membuang rasa malunya saat menawarkan diri untuk tidur bersama Haikal, tapi ternyata pagi ini sikap Haikal malah berubah.


Begitu di depan lift Ghisell menekan tombol lift, sehingga pintu lift itu terbuka, namun saat dia akan masuk ke dalam lift itu, tiba-tiba ada yang menarik tangannya, dan memeluk erat tubuhnya.


Ghisell terpekik kaget. Haikal memang ahli dalam membuat jantungnya hampir mau meloncat, Haikal tidak ingin pergi dengan perasaan kesal, karena itu dia ingin memeluk Ghisell untuk menenangkan hatinya walaupun dia tau dia hanya bisa memiliki tubuhnya, bukan hatinya.


Ghisell pun diam saat Haikal memeluknya begitu erat, pelukan itu sangat membuatnya nyaman. Haikal melepaskan pelukan, dia memandangi wajah Ghisell dengan tatapan sendu dan mencium kening Ghisell dengan lembut.


Mata Ghisell terpenjam, lagi-lagi Ghisell merasa sangat nyaman, kecupan dikeningnya itu membuat Ghisell yang tadinya kesal dengan sikap Haikal kini menjadi tenang.


"Aku pergi dulu. Jaga dirimu dan anak kita baik-baik." Haikal mengatakannya dengan nada datar.


Ghisell hanya menganggukan kepala, pikirannya ngeblank karena Haikal membuat jantungnya hampir mau copot.


Haikal membungkuk sebentar mencium perut Ghisell. Setelah itu dia tidak mengucapkan apa-apa lagi, Haikal masuk kembali ke dalam mobil.


"Haikal..." Sepertinya Ghisell ingin mengatakan sesuatu.


Namun Haikal tidak mendengarnya, dia segera melajukan mobilnya meninggalkan area basement. Ghisell menatap mobil Haikal yang kini telah melaju kian menjauh, entah kenapa hatinya tidak rela di tinggal Haikal pergi, padahal hanya pergi sementara tapi kenapa hatinya merasa tidak tenang.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...