
Sebelum pulang, Haikal mengajak Ghisell sarapan pagi di sebuah restoran, dia memesan banyak makanan untuk Ghisell.
"Ya ampun kamu pikir aku beruang makan sebanyak itu?" protes Ghisell.
"Emang kamu gak capek dengan semalam? Tenagamu pasti banyak terkuras, kasihan anak kita pasti kelaparan."
Karena merasa lapar, Ghisell pasrah saja, melahap makanan yang dipesan Haikal.
Haikal tersenyum memperhatikan Ghisell yang makan begitu lahap, sampai dia tidak fokus dengan makanannya sendiri. Dia malah fokus ke satu nasi yang menempel di bibir Ghisell, Haikal membersihkannya membuat aliran darah di tubuh Ghisell berdesir kembali saat tangan Haikal menyentuhnya. Dia tidak mengerti mengapa tubuhnya seperti itu setiap bersentuhan dengan Haikal.
Ghisell menepis tangan Haikal, "A-aku bisa sendiri."
"Kenapa wajahmu merah begitu?" Haikal memperhatikan wajah Ghisell, membuat Ghisell salah tingkah.
"Aku biasa aja."
"Kalau anak kita ingin dijengukin papanya, kamu bilang aja ya. Aku selalu bersedia." Haikal mengatakannya dengan tersenyum menggoda.
"Gak, semalam juga sudah cukup."
"Yakin nih?" Haikal paling senang melihat Ghisell salah tingkah. "Nanti kalau anak kita kangen papanya gimana, itu sebuah kebutuhan juga lho, kita bisa melakukannya jika sama-sama mau, nanti lama-lama kamu bisa jatuh cinta...emmhhh."
Haikal tidak meneruskan perkatannya karena Ghisell malah menyumpal mulutnya dengan makanan agar Haikal berhenti menggodanya.
"Astaga. Ini kebanyakan tau." protes Haikal, dia terpaksa mengunyah makanan yang disuapin Ghisell.
Ghisell hanya bisa menahan tawa melihat mulut Haikal yang penuh dengan makanan, pria itu memang kadang menyebalkan, kadang juga bisa membuatnya tertawa dengan tingkah konyolnya.
...****************...
Rafael tersenyum saat melihat pesannya ceklis biru, artinya Ghisell membaca pesan darinya, walaupun dia tidak pernah membalas pesannya. Saat itu Rafael baru tiba di kantor, dia melihat Luna yang baru sampai juga.
"Pagi kak." Luna tersenyum ramah pada bosnya itu.
Tapi Rafael sama sekali tidak membalas sapaan dari Luna, dia memasuki lift itu berduaan dengan Luna.
"Luna, nanti jam 10 kamu beli bunga yang biasa aku beli dan suruh kurir untuk mengirimnya." suruh Rafael.
"Buat Ghisell lagi kak?"
"Ya."
Luna menghela nafas, "Padahal Haikal adik kakak lho kok bisa kakak kirim bunga ke istri adik sendiri." Luna memang mencintai Haikal tapi dia tidak tega jika orang yang dicintainya disakiti.
"Hanya kirim bunga, apa salahnya?"
"Kayaknya kak Rafael harus belajar menghargai perasaan orang deh kak. Aku juga begitu tau Haikal akan menikah, aku berusaha membuang semua perasaan aku. Cinta tak harus memiliki."
Rafael malah tertawa kecil, "Kamu terlalu banyak menonton film."
"Memangnya kakak gak kasihan sama Haikal?"
"Apa Haikal kasihan sama aku?" Rafael tersinggung dengan ucapan Luna, "Dia yang merebut Ghisell dariku, pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi. Tapi kenapa semua orang selalu menyuruhku mengalah?"
"Ya aku tau masalah itu dari kak Raymond. Ghisell sedang hamil anak Haikal. Tapi dengan mereka tinggal satu atap perasaan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Lebih baik kakak berusaha move on dari Ghisell."
"Aku sudah mencobanya tapi tetap tidak bisa. Aku gak mau tau kamu kirim bunga itu buat Ghisell nanti siang, kalau tidak kamu aku pecat."
"Ya ampun, masa cuma perkara bunga aja aku dipecat!"
Kalau bukan karena hukuman dari mamanya, Luna tidak mau bekerja dengan pria yang menyebalkan seperti Rafael.
...****************...
Sekitar jam dua siang, Ghisell baru sampai di kantor Adva. Semua karyawan yang berpapasan dengannya menahan tawa saat melihat ada tiga plester menempel di lehernya.
Bahkan saat dia bertemu Bella, Bella malah cekikikan tak bisa menahan tawa, "Haikal ganas betul ya, katanya gak cinta kok bisa kalian ngelakuin itu?" saat itu mereka ada di Ruang Manager. Untuk sementara Ghisell masih jadi Manager Adva karena Ghisell belum memiliki pengalaman bekerja.
Wajah Ghisell merah merona menahan malu "Cuma hadiah kok, dia yang minta hadiahnya ingin itu, jadi mau gak mau aku harus mengabulkannya."
"Oh hadiah karena berhasil menyelesaikan masalah Adva dengan warga pasar kemarin itu?"
"Ya."
Bella mencoba menggodanya, "Awas ketagihan lho Sell, kata orang ya Sell hormon ibu hamil itu meningkat lho."
"Ya tapi gak berlaku buat aku."
Ghisell memperhatikan ada bunga di atas meja, Bella tau apa yang diperhatikan oleh Ghisell. "Itu bunga gak ada nama pengirimnya lagi Sell, apa mungkin dari kak Rafael?"
Ghisell menghela nafas, "Mungkin. Kamu simpan dimana aja Bell, aku gak bisa menerima bunga itu."
"Tapi boleh aku tanya sesuatu."
"Tanya apa?"
"Apa kamu masih mencintai Kak Rafael?"
Ghisell terdiam sejenak, "Gak tau Bell, aku juga gak tau tentang hati aku saat ini."
...****************...
Mungkin karena hati Haikal sedang berbunga-bunga, pikirannya tak bisa lepas dari kejadian semalam, rasanya seperti mimpi dia bisa melakukan malam panas bersama Ghisell.
Ghisell memang selalu ada di dekatnya, tapi dia merasa hatinya jauh dari jangkauannya.
Haikal mengirim pesan pada wanita yang status menjadi istrinya itu.
[Apa ada makanan yang kamu inginkan? Nanti aku belikan sekalian pulang!]
Ghisell memang tidak ingin diantar jemput olehnya, dia memilih pulang dan berangkat bareng Bella.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!"
Rupanya sang asisten, Jerry.
"Maaf tuan, ada tuan Fredy dan Nona Vira ingin bertemu dengan anda."
Haikal mengerutkan dahinya, untuk apa mereka ingin menemuinya. "Suruh mereka masuk!"
Asisten Jerry pun keluar dari ruangan CEO itu dan menyuruh sang tamu masuk ke dalam.
Haikal berusaha bersikap ramah kepada pria yang hampir saja menjadi mertuanya itu.
"Siang Om." Haikal menyapanya dengan penuh rasa hormat walaupun Om Fredy akhir-akhir ini selalu bersikap dingin padanya.
Om Fredy masih bersikap dingin, berbeda dengan Vira, "Hai Haikal, aku kangen banget sama kamu." Vira hampir saja mau memeluknya tapi Haikal langsung menghindar.
Vira merasa tersinggung dengan sikap Haikal yang malah mundur saat dia mau memeluknya. Dia hanya mengerucutkan bibirnya menatap kesal pada pria yang sangat dia rindukan itu malah menolak dipeluk olehnya.
"Silahkan duduk Om, Vira!" Haikal menyuruh sang tamu duduk.
Mereka pun duduk di kursi Sofa yang tersedia di ruang CEO itu.
"Om datang kesini gak mau basa basi, Papamu sudah 10 tahun bekerjasama dengan Om dan Om memiliki saham di Neo Grup, kebetulan posisi project manager sedang kosong, Vira yang akan mengisi posisi itu."
Haikal tidak ingin berurusan dengan Vira lagi "Tapi Om..."
"Jangan campurkan urusan pribadi dengan pekerjaan, Haikal. Kamu sebagai CEO harusnya bisa bersikap profesional."
Ucapan Om Fredy memang ada benarnya, apalagi dia juga memiliki saham di Neo Grup, Haikal tidak bisa menolaknya, dia yakin bisa menjaga jarak dengan Vira.
Vira tak bisa lepas memandangi Haikal, dia seharusnya marah padanya karena memutuskan perjodohan mereka secara sepihak, tapi jika dia marah Haikal malah akan semakin menghindar darinya.
Drrrtt...Drrrtt...
Rupanya ada balasan dari Ghisell, Haikal nampak sumringah membaca balasan dari Ghisell. Baru kali ini Vira melihat Haikal tersenyum seperti itu, dia bisa tebak pasti dari wanita yang telah merebut Haikal darinya.
Aku akan merebutmu kembali darinya, aku yang mencintaimu dari dulu Haikal. kata hati Vira.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...