Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Empat Puluh Empat


Hari ini telah tiba saatnya, sebuah hari dimana ikrar janji suci telah mengikat sepasang kaum adam dan hawa ke dalam sebuah bentuk pernikahan, pernikahan ini hanya dihadiri keluarga saja dan dilaksanakan di sebuah Vila Indah Resident milik keluarga Haikal yang tetap di dekorasi menjadi tempat yang indah.


Mau tidak mau namun beginilah faktanya bahwa sekarang ini Ghisell telah menjadi istri dari Haikal Sebastian Keano, seseorang yang harusnya menjadi adik iparnya kini malah menjadi suaminya dan membuat kekasih hati berubah status menjadi kakak iparnya.


Pernikahan mereka sama sekali tidak mengubah status Ghea dan Karin kini telah resmi menjadi besanan. Sebuah pernikahan yang mengharu biru, tapi tidak ingin meninggalkan sebuah jejak pernikahanan yang menyedihkan. Mereka berusaha untuk terlihat bahagia di dalam pernikahan kedua anaknya.


Ghisell menyadari tidak ada kehadiran Rafael disana, dia rasa memang seharusnya begitu, dia takut tangisannya akan pecah jika Rafael hadir disana. Dia terpaksa terus tersenyum terutama di depan Omah dan Opahnya yang tidak tau apa-apa masalah ini.


Pandangan Haikal tak bisa lepas memandangi wanita yang kini telah menjadi istrinya itu, ingin sekali dia mengatakan cantik tapi entah mengapa dia menjadi malu untuk mengatakannya.


Mulai hari ini kamu adalah milikku, aku akan berjanji akan membuat kamu bahagia dan menjadi suami yang baik untukmu dan ayah yang baik untuk anak kita. gumam hati Haikal.


"Ya ampun, jangan cuma dipandangi aja. Di cium juga boleh, kalian udah halal." Seru Omah Rosa.


Mereka semua yang ada disana terkekeh membuat Haikal malu karena ketahuan mencuri-curi pandang kepada istrinya.


Karena Omah Rosa terus mendesaknya, akhirnya Haikal memberanikan diri mencium kening Ghisell, bak pria polos yang seakan pertama kalinya melakukannya, padahal faktanya mereka sudah lebih dari sekedar ciuman. Ghisell pasrah saja dari pada Omah dan Opahnya menaruh curiga.


Padahal aku sudah bilang jangan pernah menyentuhku. gerutu hati Ghisell.


Namun entah mengapa ciuman yang mendarat dikeningnya itu telah memberikannya rasa nyaman, dia rasa bukan dirinya yang nyaman, tapi bayi yang dikandungnya.


Ya bayi ini merasa nyaman pada ayahnya, bukan aku.


Malamnya... Mereka masih berada di Vila karena keluarga Gibran memutuskan untuk bermalam disana, sementara keluarga Bara dan Karin tidak bisa ikut bermalam disana, mereka tidak enak dengan Rafael, setelah selesai makan malam, mereka berpamitan untuk pulang.


Malam ini terpaksa Ghisell harus satu kamar dengan Haikal, mereka tidak mungkin tidur di kamar terpisah di depan keluarganya.


Saat itu Ghisell memutuskan untuk mandi, dari siang dia belum sempat mandi karena menghargai keluarganya dan keluarga Haikal yang sedang berkumpul bersama.


Namun langkahnya terhenti saat melihat Omah Rosa memberikan satu gelas jamu pada Haikal.


"Jamu apa ini Omah?" tanya Haikal.


"Ini jamu penambah stamina. Pengantin laki-laki wajib meminum ini. Biar kamu kuat lho, uh apalagi pengantin baru."


Haikal dengan ragu-ragu mengambil segelas jamu itu dari tangan Omah Rosa.


Ya ampun Omah! Ghisell jadi gregetan sama Omah yang satu ini, makin tua makin jadi. Dia tidak bisa membiarkan Haikal meminum jamu itu, dia segera berjalan dengan cepat merebut jamu itu dari tangan Haikal.


Omah Rosa sangat kaget tiba-tiba Ghisell datang dan mengambil jamu kuat itu agar Haikal tidak meminumnya.


"Biar jamu ini Haikal minum setelah mandi, kamu belum mandi kan sayang?" tanya Ghisell dengan menggertakan giginya menatap Haikal.


Haikal tau apa yang dimaksud Ghisell "Ah iya Omah, aku belum mandi. Nanti aku minum di kamar saja."


"Oh ya udah silahkan, mandi bareng sekalian hehe..." Omah Rosa sepertinya merasa muda lagi.


Wajah Ghisell merah merona mendengar perkataan Omah Rosa. Ghisell terpaksa masuk ke kamar bersama Haikal, padahal dia ingin sekali mandi, gak mungkin dia mandi di kamar mandi luar sementara kamar yang mereka tempati di dalamnya ada kamar mandi. Kamar yang mereka akan tempati malam ini tidak begitu besar, padahal di kamar pribadi Ghisell tersedia sofa.


Ya ampun masa kita akan tidur di satu ranjang yang sama. Keluh hati Ghisell sambil keluar dari kamar mandi, dia memandangi ranjang kebesaran yang telah di hias itu, bahkan dia tidak tau kapan kamar mereka dihias indah seperti itu.


Dia jadi gugup begitu menyadari bahwa di kamar itu ada Haikal, namum Haikal bersikap tenang dan biasa saja, dia malah tiduran di atas ranjang sambil bersiul.


"Ya ampun kamu belum mandi, kenapa malah tiduran disana?" protes Ghisell.


"Memangnya kenapa aku harus mandi?" tanya Haikal sambil bangkit dari rebahannya.


"Ya aku gak mau satu kamar dengan orang yang gak steril, apalagi aku lagi hamil." ketus Ghisell.


Haikal tersenyum manis, dia baru teringat dengan calon bayinya, dia sedikit membungkukan badan mengelus perut Ghisell dengan lembut yang rata itu membuat Ghisell gugup.


"Maafkan papamu ini yang gak bisa steril, iya iya papa akan mandi." Haikal mengajak bicara calon bayinya.


Tadinya Ghisell ingin menepis tangan Haikal yang mengelus perutnya, tapi begitu menyadari Haikal sedang mengajak bicara calon bayi mereka, Ghisell jadi serba salah harus bersikap bagaimana.


Haikal menegakan kembali badannya, senyumannya masih mengembang memandangi wanita yang kini jadi istrinya, "Ya udah aku mandi dulu ya."


"Kamu mandi di kamar mandi yang ada di luar aja. Kamu kan cowok pasti gak akan lama mandinya jadi gak akan ketahuan Omah. Aku udah gerah, aku mau mandi sekarang."


"Ya udah kita mandi bersama aja." Haikal malah ingin menggoda Ghisell sambil mendekatkan badannya pada Ghisell.


Ghisell replek mundur "Ih ogah. Cepat keluar sana. Nanti kamu masuk ke kamar setelah aku beres mandi. Cuma satu jam."


"Satu jam? Ya ampun lama banget mandinya." keluh Haikal. Dia terpaksa keluar dari kamarnya, Ghisell memang begitu sangat merawat diri dan kulitnya, bahkan kulitnya begitu mulus, putih dan lembut bisa dibilang mungkin semut aja akan tergelincir disana. Sebagai seorang pri normal Haikal pasti menginginkannya malam ini tapi dia akan berusaha untuk menahan diri, dia ingin melakukannya tanpa ada keterpaksaan.


Setelah sekian lama membersihkan diri, Ghisell keluar dari kamarnya dengam menggunakan handuk, dia dengan santai membuka kopernya, Ghisell terpekik kaget saat melihat isi koper itu hanya ada beberapa lingerie saja. Sama sekali tidak ada pakaian yang biasa dia gunakan sehari-hari.


"Astaga! Omaahhh!" Ghisell terus mengumpat, dia yakin siapa lagi yang akan melakukannya selain Omah Rosa.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar Haikal mengetuk pintu kamar pengantin itu.


"Ghisell, kamu sudah selesai kan ? Aku masuk yah?"


Othor mendukungmu Omah! 😅


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...