
Satu tahun kemudian...
Saat ini Luna tengah hamil, usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan, perutnya yang buncit membuatnya tidak bisa beraktivitas dengan bebas. Selama hamil, yang ngidam malah Rafael, dan ngidamnya aneh-aneh karena semuanya harus berhubungan dengan Luna, ingin selalu memakan masakan sang istri walaupun kurang enak tapi menurut dia masakan Luna sangat enak, karena itu tiap hari dia selalu ingin membawa bekal dari rumah.
Belum lagi dia ingin selalu di dekat Luna, rasanya dia sangat mual jika tidak bisa mencium aroma tubuh istrinya. Dia juga tidak bisa tidur jika tidak memeluk sang istri.
"Sayang, ini sudah malam, ayo cepat kita tidur." ajak Rafael dengan sikap coolnya.
"Bentar lagi kak, filmnya belum selesai." Luna masih asik menonton TV di sofa.
Rafael yang sudah dilanda ngantuk tak bisa menunggu lebih lama lagi, Tanpa basa basi lagi Rafael segera menggendong Luna, Luna terpekik kaget sampai reflek mengalungkan tangannya ke leher Rafael, "Kak..."
Rafael membaringkan tubuh Luna di atas ranjang, dia memeluk tubuh istrinya tak lupa menyelimuti keduanya dengan selimut.
"Padahal sebentar lagi...mmmphhh.."
Rafael tidak ingin mendengar protes Luna, dia menyumpalnya dengan bibirnya, Rafael mempererat pelukannya dan memperdalam ciumannya. "Jangan tidur terlalu malam, kasian anak kita kalau harus di ajak bergadang."
Luna menurut saja, dia membalas pelukan Rafael.
Walaupun Chika beberapa kali mendekati Rafael lagi dengan mencoba menarik simpati Rafael berpura-pura sakit atau apa, Rafael tidak mempedulikannya karena ada hati yang harus dia jaga, yaitu perasaan Luna, istri tercintanya.
...****************...
Sementara itu selama satu tahun ini Bella belum hamil juga, padahal dia sudah hampir tiap hari melakukannya bersama Raymond. Raymond sama sekali tidak mempermasalahkan itu malah dia sudah memeriksa kondisinya sendiri dah istrinya yang tidak ada masalah sama sekali pada mereka, mungkin belum saatnya saja.
"Ghisell sudah punya anak, Luna lagi hamil, sementara aku belum hamil juga." lirih Bella, satu hal yang paling dia takutkan, dia takut Raymond akan mencari wanita lain jika istrinya tidak hamil juga, apalagi dia tau masa lalu Raymond bagaimana, walaupun selama ini Raymond sangat setia padanya.
"Ini baru satu tahun kita menikah sayang, jangan terlalu dipikirkan, yang penting kita usaha terus iya kan hm?" Raymond mengatakannya sambil memeluk erat tubuh polos sang istri, karena baru saja mereka habis bercinta entah ke babak berapa hari ini.
"Tapi bagaimana kalau ternyata aku mandul?"
"Aku udah meriksa kamu, kamu gak mandul."
"Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa hamil juga? Apa kamu akan menikahi lagi?"
Raymond terkekeh geli, dia menghujani kecupan di wajah istrinya saking gemas dengan pertanyaannya. "Kamu kebanyakan baca novel, sayang."
"Tapi memang banyak pria yang begitu kan?"
"Kalau tujuan aku menikah hanya untuk punya anak, buat apa aku merjuangin kamu? Tujuan utama aku menikah dengan kamu karena ingin hidup dengan kamu, dan ingin punya anak dari rahim kamu. Jika seandainya kamu tidak bisa hamil pun kita bisa adopsi anak, yang penting aku hidup selamanya sama kamu,"
"Maaf..."
"Maaf kenapa?" Raymond mengerutkan dahinya.
Bella terkekeh, dia membawa sesuatu di atas nakas yang di tutupi dengan kertas, dia memberikan tespek pada Raymond.
Raymond langsung duduk memperhatikan tespek yang memperlihatkan ada garis dua itu, "Ka-kamu hamil sayang?"
"Iya, sebelum aku ngasih tau kamu, aku ingin tau dulu bagaimana sikap kamu jika seandainya aku mandul."
Raymond menindih tubuh Bella yang saat itu tubuh mereka sama-sama polos tanpa busana, hanya di tutupi selimut tebal. "Kamu gak percaya aku?"
"Aku percaya, tapi ada kalanya pria jadi tidak setia dengan alasan ingin memiliki anak." Bella tersentak saat merasakan ada yang menerobos masuk ke dalam di bawah sana, "Ahhhh...yang."
Raymond menggerakkan pinggulnya, dia mencium bibir Bella dan menatap lekat wajahnya, "Makasih sayang, aku sangat bahagia akhirnya kita akan memiliki anak. Karena itu aku harus berkenalan dengan anak kita."
Bella ikut menggerakkan badannya, meraba-raba punggung Raymond.
"Apa kamu diam-diam diperiksa ke dokter?"
"Aku diperiksa oleh mama Jesika, katanya usia kandunganku sudah menginjak satu bulan. Aku memeriksanya tadi siang."
"Padahal tadi sore aku bertemu mama, mama tidak bilang apa-apa, tapi pantas saja mama kelihatan senang begitu dan menitipkan banyak makanan untukmu,"
"Karena aku yang bilang sama mama kalau aku ingin aku sendiri yang memberitahu kamu, sayang." Padahal Raymond melakukannya dengan lembut tapi Bella tak bisa menahan erangannya "Ahh...sayang...ahhh...!"
...****************...
Sesuai janji Haikal, setelah anak mereka lahir, Haikal dan Ghisell akan pindah rumah. Sudah satu bulan mereka menempati rumah mewah itu, rumah itu memiliki halaman yang begitu luas.
Bahkan terdapat paviliun yang tak kalah mewahnya di belakang rumah itu.
Bayi mereka kini baru menginjak usia 5 bulan, sosok bayi yang begitu tampan seperti papanya, bayi itu bernama Nicholas Sebastian Adelardo, mereka sengaja membawa nama keluarga mereka di dalam kepanjangan nama sang anak.
Karena Haikal tidak ingin Ghisell kecapean, Haikal mulai mempekerjakan beberapa ART di rumahnya, untuk membantu Ghisell dalam pekerjaan rumah termasuk mengurus Nicho.
Agar privasi tetap terjaga, Haikal menyediakan rumah khusus untuk para ART di belakang rumah, para ART hanya bekerja dari pagi sampai sore saja, malamnya mereka gunakan untuk beristirahat.
Malam ini Haikal sedang menggendong Nicho, membiarkan sang putra tidur di pangkuannya, dia tersenyum penuh rasa gemas memperhatikan Nicho yang tidur begitu pulas, Haikal mencium pipi Nicho dengan lembut. Lalu menidurkannya di kasur bayi.
Haikal menyelimuti tubuh Nicho dengan selimut bayi , tak ada bosannya Haikal terus memperhatikan sang putra. "Selamat tidur Nichoku sayang." Haikal mengusap dengan lembut pipi Nicho.
Ghisell yang baru masuk ke kamar membuatkan segelas kopi untuk Haikal, dia tersenyum memperhatikan Haikal yang sedang memandangi Nicho, Ghisell menghampirinya dan memeluk Haikal dari belakang, "Nicho sudah tidur?" bisiknya.
"Iya," Haikal membalikan posisi menjadi dia yang memeluk Ghisell dari belakang, "Lihat anak kita, mirip banget sama aku, sayang."
"Hmm... padahal aku yang melahirkannya tapi kenapa Nicho mirip sama kamu semua." gerutu Ghisell, dia memang mengakui Nicho mirip sekali dengan Haikal.
"Ada ko yang mirip sama kamu, sayang."
"Apanya, sayang?"
"Itu mata dan idungnya."
"Ya hanya itu." Ghisell mengerucutkan bibirnya.
"Nah itu warna rambutnya agak kecoklatan, mirip sama kamu."
"Hmm...iya lah, tapi wajahnya persis banget kayak kamu, sayang. Pasti anak kita akan digilai banyak wanita juga kalau sudah dewasa, aku harus memiliki tenaga ekstra untuk menjaganya, belum lagi menjaga suamiku yang kenapa sekarang kliennya kebanyakan cewek dibandingkan cowok." Ghisell mengatakannya dengan nada kesal.
Haikal paling gemas kalau melihat sang istri manyun seperti itu, dia merengkuh pinggang Ghisell membalikan badannya agar mereka saling berhadapan, dia paling tidak tahan jika melihat Ghisell yang memakai lingerie sek si seperti itu "Yang penting aku setia sama kamu. Dan aku profesional, saat ada klien yang bersifat tidak profesional ya aku batalkan kerjasamanya."
"Hm... Iya aku tau."
"Lagian istriku ini galak sekali gak akan ada yang berani macam-macam sama aku, pasti takut dicakar sama kamu. Dan satu hal lagi, aku mati rasa sama cewek lain, aku cuma mencintai kamu, hanya tergoda olehmu, bahkan melihat kamu memakai pakaian tertutup pun tetap saja membuat aku tergoda, sayang."
Haikal mengikis jarak diantara mereka, "Karena itu ayo kita bikin adiknya Nicho, aku akan mengalah, kita buat anak yang mirip dengan kamu."
"Itu kopinya belum diminum, sayang."
Haikal melepaskan Ghisell, dia berjalan mendekati meja dan membawa secangkir kopi di atas meja lalu menyeruputnya sampai habis. Setelah itu dia menggendong Ghisell membawanya ke atas ranjang.
Haikal menindih tubuh Ghisell dan mencium bibirnya dengan rakus, walaupun sudah melahirkan dan menjadi seorang ibu, tapi Ghisell pandai merawat diri, dia masih terlihat seperti seorang gadis bahkan perutnya masih terlihat rata, apalagi dibawah sana masih sempit, membuat Haikal selalu saja di buat tergila-gila pada sang istri.
Ghisell membalikan posisi mereka, menjadi dia yang dia di atas Haikal, "Aku dengar kalau ingin punya anak mirip dengan mamanya, harus mamanya yang mendominasi."
Haikal malah senang mendengar perkataan Ghisell, "Lakukanlah!"
Ghisell membuka kancing piyama Haikal dan mencium bibir Haikal, lalu ciuman itu turun ke leher...
Ting-Tong
Suara bell mengangganggu aktivitas panas mereka, Haikal dan Ghisell segera bangkit. Haikal mengancingkan kembali piyama tidurnya. Dia berjalan ke luar dari kamar, begini resikonya memiliki rumah yang luas, Haikal harus berjalan dengan melewati beberapa ruangan.
Haikal melihat layar di dinding dekat pintu, dia menghela nafas saat begitu tau siapa sang tamu.
Ceklek!
Haikal membuka pintu, rupanya seorang pria yang wajahnya hampir Ghisell menjadi tamunya malam ini.
"Hallo, bother." sang tamu menepuk pundak Haikal.
"Oh Hai, Galvin." sapa Haikal, kepala Haikal merasa sakit atas bawahnya karena hasratnya malam ini begitu menggebu-gebu tapi terjeda oleh suara bell rumah.
Galvin memang sudah 4 bulan pulang ke Indonesia.
"Galvin!" seru Ghisell.
Galvin dan Ghisell saling berpelukan. Saat itu Ghisell menutup lingerienya dengan gaun.
"Nicko mana? Nah aku bawain mainan buat dia."
"Nicho lagi tidur." Ghisell merebut paper bag dari tangan Galvin, "Biar nanti aku yang berikan mainan ini buat dia."
Galvin mengacak-acak rambut Ghisell, "Astaga! Gak nyangka banget adek aku dah jadi mama."
"Kapan nyusul, Vin?" tanya Haikal, dia memang lumayan akrab dengan Galvin selama 4 bulan ini.
"Gue belum kepikiran buat nikah. Hm... ya udah, gue pulang dulu, sorry nih ganggu aktivitas kalian." Galvin terkekeh sambil menunjuk leher Haikal yang ada tanda merah.
Ghisell sangat malu sekali, wajahnya memerah saat melihat ada tanda mahakarya di leher Haikal.
Setelah Galvin pulang, Haikal masuk ke dalam kamar memperhatikan tanda merah di lehernya, "Wah kamu terlalu ganas sayang, bagaimana kalau orang kantor pada lihat."
"Baguslah, itu stanpel alami pertanda kalau pria itu sudah beristri."
"Ya udah, kita lanjutkan lagi yang tadi." Haikal menggendong Ghisell kembali dan membaringkannya di atas ranjang...
"Oa...Oa..."
Tangisan Nicho menjeda lagi aktivitas panas mereka, Ghisell segera bangkit dan menggendong Nicho yang sedang menangis di kasur bayi, "Cup...cup...jangan nangis ya Nicho sayang." Ghisell duduk dipinggir ranjang, membuka kancing lingerienya memberikan ASI pada Nicho.
Haikal membuka bra yang menutupi dada Ghisell bagian kiri, "Papanya juga mau neenen." katanya sambil melu mat buah dada Ghisell.
"Ahhh... Haikal."
Haikal berhenti menganggu, dia duduk sambil memeluk Ghisell dari belakang yang sedang menyusui Nicho, sampai Nicho tertidur kembali.
Dan akhirnya setelah beberapa kali dijeda, terjadilah pergulatan panas di malam hari itu, dalam urusan ranjang mereka selalu berusaha untuk saling memuaskan, mereka juga saling perhatian dan pengertian, dan yang paling utama saling percaya dan setia, membuat rumah tangga mereka semakin harmonis dan panas. Ditambah dengan kehadiran Nicho membuat rumah tangga mereka semakin berwarna.
...TAMAT...
...****************...
Nah ini novel tentang saudara kembarnya Ghisell.
Khusus yang baru mampir ke novel saya, siapa tau mau mampir ke novel cerita cinta terlarang yang berjudul GAIRAH CINTA ADIK IPAR, ini kisah mama dan papanya Ghisell
Atau juga ke kisah mama papanya Haikal, genre romantis fantasi action, MENIKAHI GADIS KOMA (ARWAH CANTIK)
Atau mau genre romantis action, RANJANG BALAS DENDAM SANG MAFIA (Mencintaimu atau Membunuhmu)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terimakasih yang sudah membaca novel ini dari awal sampai akhir, dan saya mau ngasih pulsa 20k buat beberapa orang yang beruntung, ada 5 orang yang memberikan gift tertinggi, dan 10 orang dengan komentar terpilih yang rajin komen dari awal bab sampai akhir, walaupun semua komentar pada bagus dan banyak yang rajin komentar juga tapi maafkan saya karena keterbatasan dana ini hehe.. semoga rezekinya nanti di novel saya yang lainnya. 🙏🙏
Saya mau rehat dulu sebentar, belum membuat novel lagi.🙏🙏
Gift
2.Komen
Salam es batu 🧊🧊 hehe...
Terimakasih atas dukungannya 🙏