
[Pa, hari ini Haikal datang ke rumah Om Gibran. Haikal akan minta maaf dengan sepenuh hati pada Om Gibran. Dan Haikal akan bertanggung jawab]
Bara yang mendapatkan pesan itu, dia sangat terkejut, padahal dia dan istrinya sudah berencana akan datang ke rumah Gibran untuk meminta maaf atas kesalahan Haikal dan menjelaskan juga bagaimana yang sebenarnya terjadi, termasuk akan membahas pertanggungjawaban Haikal..Walaupun dia merasa sangat bersalah pada Rafael, tapi Bara tidak ingin salah satu anaknya lepas tanggung jawab terhadap dengan apa yang dia perbuat, apalagi ini ada sebuah nyawa yang akan sangat membutuhkan sosok seorang ayah.
Bara segera menelpon Haikal. "Kamu dimana sekarang, Haikal?"
"Haikal di rumah Om Gibran. Udah, papa dan mama jangan kesini dulu. Haikal yang berbuat salah, Haikal yang harus meminta maaf."
"Tapi kamu gak apa-apa kan?"
"Gak apa-apa, mereka sangat baik kok Pa."
Bara sangat tau sifat Gibran, dia orangnya memang sangat baik dan gampang akrab, jadi dia merasa tidak khawatir Haikal akan di hajar olehnya, tetap saja sebagai seorang ayah dia tidak akan tega jika anaknya dipukul orang lain.
Setelah selesai teleponan, Haikal kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Et dah beneran kayak gini bukan sih." Haikal merasa sedikit kesulitan karena belum pengalaman memotong rumput, dia cuma pernah memperhatikan tukang kebun di rumahnya.
Sudah dua jam dia memotong rumput, tapi masih belum kelar juga, malah jarak vila sebagai batas akhir itu masih jauh.
Yang semangat Haikal, bahkan kamu pantas mendapatkan hukuman lebih dari ini.
Hati Haikal berusaha untuk terus menyemangatinya.
Oma Rosa begitu sangat menyayangi Ghisell, makanya dia ingin pergi ke vila untuk bertemu cucu cantiknya, apalagi mendengar kabar sang cucu akan menikah. Oma Rosa ingin memberikan makanan kesukaan Ghisell yang dia sendiri membuatnya.
Dari kejauhan dia memperhatikan calon suami Ghisell yang tengah sibuk memotong rumput, "Rajin sekali dia. Duh dasar ya si Gibran, masa calon mantu di suruh potong rumput."
Saking fokusnya memperhatikan Haikal , Oma Rosa yang lagi berjalan malah kesandung batu kecil sampai badannya ambruk ke rerumputan. "Alah! Alah! Aduh pinggangku encok!" Oma Rosa memegang pinggangnya.
Haikal sama sekali tidak menyadari itu karena jaraknya agak jauh, dia masih fokus memotong rumput, dia ingin memotong rumputnya dengan begitu rapi agar tidak mengecewakan papanya Ghisell makanya wajar kalau lama.
Saat dia membalikan badan, dia terjekut begitu melihat dari kejauhan seorang nenek sedang terbaring di rerumputan. Dia menyimpan dulu mesin pemotong rumput itu dan segera berlari menghampirinya.
"Ya ampun nenek kenapa tiduran disitu?'
"Ish, ini bukan tiduran. Kaki omah kesandung makanya jatuh. Jangan panggil nenek, panggil saja Omah." Omah Rosa merasa tua banget kalau di panggilan nenek, walau faktanya dia sudah tua.
Haikal mengira Oma Rosa sudah pikun makanya dia tiduran disana. Dia tidak tau kapan jatuhnya itu nenek.
Haikal membantu Oma Rosa berdiri, "Iya omah, omah ini omahnya Ghisell kah?"
"adu..duh pinggangku." Oma Rosa memegang pinggagnya yang encok sambil berdiri. "Iya omah ini omahnya Ghisell, Ghisell itu satu-satunya cucu perempuan, makanya omah sayang banget sama Ghisell. Kembaran Ghisell laki-laki, anak Omnya Ghisell juga laki-laki semua."
Haikal manggut-manggut saja, "Oh gitu, Ghisell beruntung dong ya, banyak yang sayang."
"Jadi kamu calon mantunya Gibran?"
Haikal membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan Omah Rosa, perasaan dia tadi Gibran hanya menyuruh memotong rumput, Gibran tidak menjawab dia akan menerima atau tidak niat dia yang akan menikahi Ghisell.
"Aduh Gibran ada-ada aja, masa nyuruh calon mantu memotong rumput." celetuk sang Omah. Dia masih mengusap-usap punggungnya.
"Omah mau kemana? Biar saya bantu?"
"Omah mau ke Vila, mau ngasih salad buah untuk Ghisell," Omah Rosa memperhatikan salad buah di dalam cup "Untung cupnya gak terbuka."
"O-oh tentu bisa omah." Haikal segera berjongkok membiarkan Omah Rosa naik ke punggungnya.
Haikal yang badannya atletis sama sekali merasa tidak berat saat menggendong Omah Rosa, gak apa-apa menggendong neneknya dulu, nanti bisa menggendong cucunya. Pikir Haikal.
Ghisell terbalalak kaget saat melihat Haikal menggendong Omah Rosa membawanya ke Vila. Hatinya bertanya-tanya mengapa ada Haikal disini dan tambah kaget lagi kenapa dia bisa gendong omahnya.
"Omah." Ghisell membantu Omah Rosa turun dari punggung Haikal.
"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Ghisell dengan nada ketus.
"Ish ya ampun Ghisell, masa nanyannya gitu sama calon suami kamu."
Hah? Kekagetan Ghisell bertambah lagi, apa mungkin mama dan papanya sudah benar-benar memutuskan untuk menikahkannya dengan ayah dari janin yang di kandungnya. Itu artinya mau gak mau di harus menjadi istri Haikal.
"Kamu harus marahin papa kamu, masa dia nyuruh calon suami kamu memotong rumput?"
Kekagetan Ghisell jadi bertambah lagi, fix berarti papanya menerima Haikal sebagai calon suaminya. Papanya bersikap jail pada Haikal itu artinya papa merasa cocok dengan Haikal. Gibran jarang bersikap jail pada orang.
"Ini salad buah buat kamu, kamu kan suka buah-buahan." Omah Rosa memberikan salad buah itu pada cucunya.
Ghisell menerimanya dengan senang hati, "Iya Omah, terimakasih." Dia menyimpan dulu salad buah itu dan membantu omahnya duduk di atas kursi disana.
Omah Rosa baru menyadari wajah Haikal babak belur akibat terkena pukulan dari Rafael. "Ish... ya ampun muka kamu kenapa? kamu suka berkelahi ya?"
Ghisell juga ikut memperhatikan wajah Haikal, walaupun mukanya ada beberapa luka lebam tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya.
Haikal hanya terhehe, "Hehe.. iya Omah, biasa lah jagoan."
Tatapan Omah Rosa beralih ke cucunya, "Ghisell cepat obati calon suamimu ini. Masa nanti diacara pernikahan wajahnya harus babak belur seperti itu."
Pernikahan? Apa beneran mereka akan dinikahkan? Ghisell dan Haikal terkejut saat mendengar ucapan sang Omah.
Haikal sangat grogi membayangkan Ghisell mengobati lukanya walaupun ada rasa bahagia yang tercipta jika itu beneran terjadi.
"Iya Oma." Ghisell segera mesuk ke dalam Vila untuk membawa kotak P3K. Dia nurut saja dari pada di omeli sang omah.
Ghisell sibuk mencari kotak P3K di dalam vila itu, terakhir papanya yang menggunakannya. Ghisell melihat kotak P3K ada di atas lemari yang tinggi, "Ya ampun papa, mentang-mentang tinggi malah seenaknya menyimpannya disana." gerutu Ghisell.
Ghisell menjinjitkan kakinya untuk meraih kotak P3K di atas sana. Tapi sayangnya dia kurang tinggi untuk meraih itu. Dia dikejutkan saat ada seseorang berada di belakangnya membawa kotak P3K itu dengan begitu mudah, siapa lagi kalau bukan Haikal. Punggung Ghisell tidak sengaja bersentuhan dengan badan Haikal yang sedang berdiri di belakangnya. Membuat Ghisell segera membalikan badan dan bergeser ke arah kanan untuk menghindarkan jaraknya dengan Haikal.
Haikal juga malah bergesar ke arah yang sama untuk sedikit menjaga jarak dari Ghisell tapi malah mereka saling berhadapan dengan jaraknya yang begitu sangat dekat, sampai tidak sengaja kedua pasang bola mata mereka saling bertemu.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...