Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Bonchap 1


"Aku ingin kamu mengatakannya secara langsung padaku, aku ingin mendengarnya sekali lagi." pinta Haikal dengan penuh harap.


Ghisell menghembuskan nafasnya dengan pelan, dia sangat gugup sekali. Dia menatap kedua bola mata Haikal dengan tatapan penuh arti, "Aku mencintaimu, Haikal. Kamu selalu membuat aku nyaman. Aku juga tidak tau sejak dari kapan. Tapi benar-benar tidak ingin kehilangan kamu."


Haikal tersenyum penuh rasa bahagia, malam ini adalah malam yang paling bahagia untuknya, akhirnya Ghisell menyatakan perasaan padanya, Ghisell mencintai dirinya.


Haikal melingkari pinggang Ghisell , "Aku lebih mencintai kamu, Ghisell. Apa itu artinya kamu akan membatalkan permintaan kamu itu untuk berpisah denganku setelah anak kita lahir?"


"Emm... gimana ya..." Ghisell berpikir sejenak, dia ingin menggoda Haikal.


"Bukannya kamu mencintai aku, nyaman dengan aku, gak ingin kehilangan aku." Haikal mengatakannya dengan cemburut.


Ghisell tersenyum geli melihat suaminya cemberut, dia menjinjitkan kaki dan mengecup bibir Haikal.


Cup!


Haikal nampak bengong karena ini pertama kalinya Ghisell yang memulai mencium dirinya.


Ghisell sangat malu melihat Haikal bengong seperti ini, "Ishh... kenapa malah bengong?"


"Apa benar ini Ghisell?" Haikal masih merasa semua itu mimpi. Dia takut wanita di depannya ini hanya jelmaannya saja.


"Terus kamu pikir aku siapa? Kuntilanak?" Ghisell mengatakannya dengan nada kesal.


Haikal langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Ghisell, "Stttt... jangan bicara sembarangan, aku dengar konon katanya di daerah ini masih sangat angker." Haikal mengatakannya sambil berbisik.


"Haikal!" Ghisell jadi ketakutan, dia celingak celinguk memperhatikan ke sekeliling taman yang sepi itu.


Dia baru menyadari ternyata suasana disana sangat mencengkam.


"Konon katanya disini tuh..."


"Diam, jangan dilanjutkan!" bentak Ghisell. Dia menutup mulut Haikal dengan kedua tangannya.


Haikal malah memegang kedua tangan Ghisell dengan kuat, dia menceritakan kembali kisah angker di kampung itu, "Jadi ceritanya begini, dulu disini...emmhhh."


Ghisell terpaksa menyumpal bibir Haikal dengan mulutnya karena tangannya di pegang kuat oleh Haikal , Ghisell tidak ingin mendengarkan cerita seram itu.


Padahal ini yang diharapkan Haikal, dia menekan tengkuk Ghisell memperdalam ciuman mereka. Kerlap kerlip cahaya kunang-kunang dan indahnya malam bertabur bintang di angkasa menyaksikan betapa bahagianya mereka malam ini.


Haikal melepaskan ciumannya , "Aku hanya bercanda." katanya dengan tertawa geli.


Ghisell mencubit lengan Haikal, "Ishhh.."


"Aw aw sakit." Haikal mengusap lengannya yang bekas di cubit Ghisell.


Setelah pergi dari taman, mereka menemui dua sejoli yang sedang bermesraan di depan api unggun.


Saat itu Raymond hampir saja mencium bibir Bella tapi mereka terperanjat saat mendengar suara deheman.


"Ehm!"


"Belum halal! Belum halal!" Haikal malah mengejek Bella dan Raymond.


Dua pasangan itu sedang duduk di depan api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka.


"Cie... yang udah plong nih ngungkapin perasaannya." Goda Bella pada sahabatnya itu.


Wajah Ghisell merah merona, "Kan kamu yang bilang aku harus bisa jujur dengan perasaan aku."


"Selain dengan kak Rafael, Ghisell pernah kencan dengan siapa lagi?" tanya Haikal pada Bella.


"Nggak sih, cuma kak Rafael aja mantan Ghisell." Bella tahu betul tentang Ghisell karena dia adalah teman yang paling nyaman untuk Ghisell mencurahkan hatinya.


"Kalau Haikal ini dulu orangnya gak mau berhubungan dengan siapapun, tapi bikin banyak cewek patah hati." Raymond menceritakan soal Haikal, bahkan adiknya sendiri di buat patah hati. "Lu ingat gak sama si Maura?" tanya Raymond pada Haikal.


"Maura? Maura yang mana?"


"Maura yang cintanya di tolak sama lu, gue pernah gak sengaja bertemu dengan dia, dia langsung nanyain lu gitu aja."


Ya Ghisell sudah tau resikonya punya suami Haikal seperti apa, pria yang memiliki sejuta pesona, dia harus siap kedepannya menghalau banyak pelakor yang berniat menggoda suaminya.


Kring! Kring!


Tiba-tiba ponsel Haikal dan Raymond sama-sama berdering.


Mereka berdua saling menatap karena ponsel mereka berdering di waktu yang bersamaan.


"Dasar bestie, kok bisa ada yang menelepon kalian di waktu yang bersamaan?" celetuk Bella.


"Gak tau nih." Raymond segera mengangkat telepon dari Mamanya.


Begitu juga Haikal, dia mengangkat telepon dari sang mama, "Ada apa, Ma?"


Mereka sama-sama terkejut saat mendengar kabar tentang Rafael dan Luna.


"Apa? Kak Rafael menikah malam ini?"


"Apa? Luna menikah malam ini?"


Haikal dan Raymond mengatakannya hampir bersamaan, mereka saling berpandangan kembali sambil bengong, karena kabar itu sungguh mengejutkan mereka.


Kenapa bonchap? Karena di bagian bonchap bukan hanya fokus ke satu pasangan saja.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...