
Haikal semakin mencondongkan badannya, dia mencium bibir Ghisell membuat Ghisell membelakakan matanya, dia menciumnya dengan nafas yang begitu menggebu sampai Ghisell tak diberi kesempatan untuk bicara, dia terbawa suasana sampai tak terasa lidah itu masuk menyusuri disetiap inci rongga mulut, dengan lihai sang indra perasa bermain disana meningkatkan hasrat yang bergelora dijiwa.
Perlahan mulut itu turun ke bawah menyusuri disetiap inci leher Ghisell, menciumnya disertai dengan sesapan yang kuat, Ghisell tak bisa menolaknya, tubuhnya tidak sinkron dengan akal pikirannya, tubuhnya memang merindukan sentuhan itu.
Sentuhan pria ini rasanya begitu candu untuknya sampai di tidak bisa menolak dengan apa yang akan Haikal lakukan pada tubuhnya.
Tangannya tidak tinggal diam, dia meremas benda lembut yang menonjol didada Ghisell, bahkan tangan itu dengan cepat membuka beberapa kancing di gaun Ghisell paling atas, ciuman itu turun dengan perlahan ke bawah lalu menarik bra yang masih dipakai Ghisell ke bawah, dia langsung menyesap bulatan yang indah disebelah kanan itu.
Ghisell terus mengigit bibir bawahnya dan kedua tangan mecengkram dengan kuat gaun yang masih dia pakainya, dia tidak ingin suara desa han yang memalukan itu keluar dari mulutnya.
Tring... Tring...
Suara panggilan telepon membuyarkan hasrat mereka, tapi karena sudah sangat ber naf su, Haikal masih terus menyesap dada Ghisell, bahkan lidahnya bergerilya dibagian pucuknya.
Tring... Tring...
Untuk kedua kalinya ponsel itu berdering.
Ghisell tanpa sengaja melihat di layar ponsel Haikal yang tergeletak di atas meja, dia melihat nama Vira terpampang dengan jelas. Membuat gairahnya memudar.
Bahkan saat Haikal ingin kembali mencium bibirnya, Ghisell menghalanginya dengan tangan. Haikal yang sedang dilanda Gairah begitu besar, tidak menghiraukan itu, dia ingin mencium Ghisell kembali. Tapi Ghisell menolak.
"Aku pilih makan buah markisa." Ghisell menatapnya dengan tajam.
Haikal sangat kecewa mendengarnya "Mengapa memilih itu? Akui saja kamu juga sangat menginginkannya." Haikal yang dilanda naf su yang menggebu tidak terima Ghisell mengakhiri permainan panas mereka.
"Bukannya kamu menyuruhku memilih?" Ghisell mengancingkan kembali gaunnya yang telah dibuka Haikal.
Haikal terpaksa mengalah dengan perasaan penuh kecewa, karena dia tidak ingin memaksa Ghisell untuk melakukannya, kepalanya terasa pusing jika tidak menuntaskan hasratnya, dia terpaksa pergi ke kamar mandi untuk bersolo karir.
Entah mengapa Ghisell merasa kesal saat melihat mantan tunangan Haikal menelpon Haikal, oke cuma sekali saat di hotel itu, tapi sekarang menelponnya lagi, apa mungkin mereka sering berkomunikasi?
Ghisell teringat lagi dengan ucapannya yang tak akan membatasi Haikal untuk dekat dengan siapapun juga, apa itu artinya dia tidak bisa melarang atau marah pada Haikal jika dia dekat dengan wanita lain, termasuk mantan tunangannya.
Karena itu dia tidak akan merelakan tubuhnya jika Haikal memiliki hubungan dengan wanita lain.
Setelah sekian lama bersolo karir di kamar mandi, Haikal menghampiri Ghisell kembali, dia melihat Ghisell yang habis memakan dua buah markisa dengan menyipitkan matanya, mungkin karena masam.
Dia merasa gemas melihatnya, tanpa basa basi Haikal merebut buah markisa itu, dia malah menggendong Ghisell ala bridal style, Ghisell sangat kaget tiba-tiba Haikal menggendongnya, dia mencoba berontak dengan terus menggerakkan kaki dan tangannya.
"Haikal!"
Haikal dengan tenang membawa tubuh ramping itu masuk ke dalam kamar. Dia membaringkan tubuh Ghisell diatas kasur dan menyelimuti tubuh itu.
"Jangan memaksakan memakannya jika tidak suka hanya demi tidak ingin disentuh olehku." ucap Haikal dengan nada datar mungkin kecewa ketika naf su sudah di ubun-ubun tapi Ghisell malah menghentikannya
Ghisell hanya terdiam mendengar ucapan Haikal, tatapan matanya terlihat kecewa.
Setelah mengatakan itu, Haikal keluar dari kamar Ghisell.
"Bagaimana bisa dia meminta aku untuk berhubungan in tim dengannya sementara dia masih berhubungan dengan mantannya." Ghisell mengatakan itu dengan nada kesal.
Di kamar sebelah, Haikal melihat ada beberapa panggilan dari Vira, dia mengerutkan dahinya untuk apa Vira menelponnya malam-malam.
Tring...Tring...
Vira menelponnya lagi. Tapi Haikal malah merejectnya dan menonaktifkan ponselnya untuk malam ini.
Paginya...
Seperti biasa Haikal memasak untuk sarapan pagi, pagi ini dia memasak nasi goreng, makanan kesukaan Ghisell. Dia kembali ceria lupakan rasa kesalnya yang semalam karena Ghisell menolak bercinta dengannya.
"Bagaimana? Enak gak?" tanya Haikal memandangi Ghisell yang tengah makan.
"Enak." jawab Ghisell, dia begitu lahap memakan nasi goreng buatan suami.
Haikal memainkan nasi goreng miliknya dengan sendok "Besok aku harus ke kota C, memantau proyek pembangunan pasar itu secara langsung, entah berapa hari atau sampai satu minggu, kamu gak apa-apa kan ditinggal sendirian?"
"Hmm...ya udah." jawab Ghisell dengan santai, bukanlah ini yang dia mau? Tidak melihat orang itu di apartemen ini? Tapi kenapa rasanya dia merasa sedih ditinggal Haikal yang suka bersikap konyol padanya.
Haikal rasa dia harus jujur pada Ghisell, walaupun Ghisell tidak membatasi dia dekat dengan siapapun tapi dia rasa Ghisell harus tau mengenai Vira.
"Kebetulan project managernya itu Vira, mantan tunanganku."
Ghisell yang tengah makan langsung tersendak, "Ohookk!" Dia sangat kaget sekaligus kesal bagaimana bisa Haikal berada di luar kota bersama mantan tunangannya.
Padahal mereka datang kesana bukan berdua, tapi ada asisten Haikal, Jerry, dan juga ada beberapa karyawan lainnya yang bertugas di lapangan.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...