Hasrat Satu Malam With Calon Ipar

Hasrat Satu Malam With Calon Ipar
Enam Puluh Tujuh


Seperti biasa, hampir tiap pagi Rafael menyempatkan diri untuk berlari pagi, biasanya dia suka joging di halaman rumah bagian belakang, tapi karena merasa bosan dengan suasana disana, Rafael ingin berlari di jogging track.


Rafael sengaja berlari dari rumah ke jogging track, dia menutup telinganya dengan headset agar tidak mendengar suara apapun. Dia ingin fokus berlari, ingin menyibukkan dirinya dari pagi sampai malam dengan joging, bekerja, tidur, hanya itu rutinitasnya agar bisa sedikit melupakan rasa sakit hatinya.


Saat merasa lelah, dia duduk dulu di kursi yang tersedia di jogging track tersebut untuk minum dulu dengan nafas terengah-engah, setelah itu dia berlari kembali.


"Hihihihi..."


Namun entah kenapa ada beberapa orang yang seperti sedang mentertawakan dirinya, tapi dia tidak ingin berburuk sangka, Rafael merasa dirinya nyaris sempurna, tidak ada yang yang harus ditertawakan di dirinya.


Rafael masih terus saja berlari mengayunkan kakinya dan mengepalkan kedua tangannya.


Dia berhenti berlari saat ada yang menepuk pundaknya, "Kak Rafael!"


Rafael membuka headset di telinganya. Dia menoleh ke belakang, dia menghela nafas saat melihat siapa orang yang menepuk pundaknya, ternyata dia Luna. "Ya ampun kamu lagi, kamu sengaja ngikutin aku kesini kan? Emang gak puas bertemu aku di kantor?" Rafael mengatakannya dengan nada sombong.


Anak-anaknya Bara memang pada percaya diri sekali, ya mau gimana lagi emang faktanya pada tampan seperti papanya.


Hah? Luna merasa heran dengan tingkat percaya dirinya pria yang satu ini. "Ishh... ngapain aku ngikutin kak Rafael, aku cuma mau beritahu aja, itu celana kakak kotor,"


Rafael mengerutkan dahi, "Masa?"


Rafael meraba-raba celana bagian bokongnya, rupanya ada sisa coklat disana, mungkin tadi Rafael tidak melihat-lihat dulu saat dia duduk di kursi besi.


"Aishh...!" Rafael mendengus kesal.


Jepret!


Luna malah memotretnya.


"Itu ngapain kamu memotonya?" bentak Rafael.


Luna malah cengengesan, dia memperlihatkan kondisi celana Rafael bagian belakang itu, "Nah ini kondisi celana kakak, kayak yang BAB di celana aja iiihhh..."


Rafael membulatkan matanya, pantas saja tadi orang-orang pada mentertawakannya rupanya mentertawakan celananya. Rasanya sangat malu setengah mati, ingin rasanya dia menggali tanah dan bersembunyi disana.


"Aishhh... kenapa hidupku harus sial begini." gerutunya, dia menutup noda kecoklatan itu di celana bagian belakangnya dengan tangannya karena melihat beberapa orang yang sedang berlari terus memperhatikan dirinya .


"Hihihi..." Orang-orang yang melewatinya pada cekikikan.


Muka Rafael merah padam, sangat malu sekali, runtuh sudah harga dirinya gara-gara coklat itu.


Luna masa bodoh saja, yang penting dia sudah memberitahunya, dia memilih melanjutkan joggingnya lagi tapi di tahan oleh Rafael dengan menarik kupluk switernya sampai Luna tidak bisa berlari.


"E-eh terus kamu mau kemana? Kamu asisten aku, masa tega ninggalin aku disaat aku sedang ketiban sial begini."


"Ish!" Dengan kesal Luna menepis tangan Rafael yang menarik kupluk switernya, "Ini di luar jam kerja kak, gak ada yang namanya asisten dan CEO. Aku ngasih tau kakak sebagai bentuk kemanusiaan,"


"Nah itu karena sebagian bentuk kemanusiaan, aku pinjam switer kamu, kamu pakai baju lagi kan di dalam." Rafael harus menutup noda coklat di celana dengan switer dengan cara mengikat bagian tangannya di pinggang.


"Gak mau, aku cuma pakai tang top kak." Luna menolak untuk melepaskan switernya.


"Ya gak apa-apa, malah jaman sekarang banyak yang pakai bekini, cepat lepasin switernya!" Rafael mengatakannya dengan nada memaksa.


"Gak mau lah, ini masih pagi banget, dingin sekali. Siapa suruh duduk sembarangan." Luna malah cekikikan seolah sedang mengolok-oloknya, "Daaaahhh kakak." Dia segera mengayunkan kakinya untuk berlari.


Namun Rafael tidak terima dengan sikap Luna, dia menarik lengan Luna hingga Luna kehilangan keseimbangannya, hampir saja dia terjatuh untung tubuh itu menuburuk badan Rafael, sampai tak sengaja memeluknya.


Rafael hanya terpaku saat tubuh Luna bertubrukna dengannya.


Luna segera menjauhkan tubuhnya, dia menatap kesal pada Rafael, dia segera membuka switer yang berwarna pink itu dan memberikannya pada Rafael. "Nih! Kakak butuh ini kan?"


"Ka-kamu pakai lagi aja." Rafael memakaikan lagi switer itu ke tubuh Luna.


"Loh katanya tadi pinjam?" Luna tidak mengerti dengan jalan pikiran pria arogan yang satu ini. Padahal dia sudah terbiasa memakainya, tadi dia menolak karena udara masih dingin.


"Gak jadi." Rafael memilih menanggung malu dengan noda coklat di bokongnya dari pada harus membuat anak orang berpenampilan sek si gara-gara dirinya.


Rafael memilih pergi, namun Luna malah mengikutinya dibelakang, sambil kedua tangannya mencubit kaos yang di pakai Rafael.


"Ngapain kamu mengikuti aku!" bentak Rafael.


"Biar orang-orang gak mentertawakan kak Rafael lagi. Paling juga mereka akan melihat kita seperti pasangan bucin." Luna terus berjalan di belakang Rafael, dia bisa menghalangi noda coklat yang ada di celana bagian belakang Rafael itu, agar orang lain tidak begitu jelas melihatnya.


Rafael tersenyum tipis mendengarnya.


Luna terus berjalan di belakang Rafael dengan jarak mereka yang sangat dekat, tak peduli orang mau berkata apa pada mereka.


"Karena aku sudah menolong kak Rafael, bersikap baiklah padaku."


"Ogah!"


"Ish!"


Beruntung Luna datang kesana membawa mobil jadi dia bisa mengantar Rafael sampai ke depan rumah. Rafael sama sekali tidak menawarinya untuk mampir, "Ya sudah aku pulang dulu. Awas jangan telat datang ke kantor."


"Ya ampun bilang terimakasih atau apa kek," Luna merasa kesal dengan pria yang satu ini padahal dia sudah menolongnya sampai mengantarnya ke depan rumah.


Rafael tidak menggubris perkataannya , dia memilih keluar dari mobil Luna. Namun dia malah melihat sang mama disana.


Karin mengetuk kaca mobil Luna, padahal Luna hampir saja mau menyalahkan stater mobilnya.


Tok...Tok...Tok...


Terdengar ada yang mengetuk kaca mobil Luna, Luna segera membuka pintu dan keluar dari sana begitu tau siapa yang mengetuk kaca mobilnya, dia ingin menyapa Karin, "Pagi tante."


"Pagi juga Luna sayang, kenapa gak mampir ke rumah? Kita sarapan bareng."


"Aduh gak usah tante, Luna gak mau merepotin."


"Enggak kok, malah tante senang kalau Luna mau makan disini, oh ternyata Rafael joging bareng kamu ya?"


Karin melirik Rafael yang tengah berdiri disana, "Rafael ayo ajak pacar kamu ke masuk ke dalam."


Rafael baru menyadari status Luna yang menjadi pacar bohongannya , dia terpaksa mengiyakan, dia menarik tangan Luna, "Ayo ikut!"


Karin malah memukul lengan Rafael, "Ishh... ya ampun pegang tangan yang romantis dong kayak yang menarik kucing aja." Karin memelototkan mata saat melihat celana Rafael di bagian belakangnya, "Rafael kamu jorok sekali, itu celana kamu!"


Wibawa Rafael sebagai CEO yang dingin dan kalem yang biasa dia tunjukkan pada Luna hilang sudah kalau di depan emaknya.


Maaf telat up othor jogging dulu seperti Rafael, mumpung hari sabtu, sambil ngintilin mereka 😁😁**Mumpung libur othor up tiga bab**!


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...