Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Menyedihkan?


"Wahhh... Ini benar-benar kamar kita?" Tanya Lisa takjub saat masuk ke dalam kamar yang terlihat begitu mewah karena Keyrani memang memesan kamar VIP untuk ketiganya


Keyrani hanya mengangguk, kemudian melempar tubuhnya pada kasur setelah seharian perjalanan yang membuat tubuhnya terasa begitu lelah.


"Akkhh.. " Rintih Keyrani saat Lisa membaringkan tubuhnya di perut Keyrani


"Hehehe.. " Lisa hanya tertawa tanpa berniat bangun dari perut Keyrani


Sementara Rani yang melihat hal tersebut hanya menggelenkan kepalanya sembari membuka gorden jendela memperhatikan pemandangan di luar hotel yang memperlihatkan semua bangunan-bangunan yang menjulang tinggi ke atas.


Setelah melihat sekitar, Rani kembali berbalik dan berjalan menuju keduanya dan ikut merebahkan kepalanya di perut Lisa.


"Jadi apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Tanya Rani karena ketiganya belum menyusun jadwal yang akan mereka lakukan selama di Negara K itu


"Hmmmm.. Untuk sekarang mari kita tidur... " Ujar Lisa namun tiba-tiba bangun dan menggelitik pinggang Keyrani dan Rani bergantian


Sontak membuat Keyrani maupun Rani bangkit dari tidur nya sembari tertawa geli karena ulah Lisa. Hingga kemudian, Keyrani bertatapan dengan Rani dan menganggukkan kepala berniat membalas Lisa yang kini tertawa karena ulah yang dilakukannya.


Dengan sigap, Keyrani maupun Rani langsung membalas balik dan menggelitik pinggang Lisa membuat Lisa menggeliat karena geli.


"Cukup... Cukup... Aku sudah nggak kuat" Ujar Lisa memohon


Ketiganya kemudian merebahkan tubuhnya bersamaan di kasur sembari menatap langit-langit kamar.


"Aku nggak nyangka akan datang bersama kalian ke negara ini" Ujar Keyrani yang awalnya berniat pergi sendiri namun setelah melihat keduanya yang tampak murung akhirnya ia berinisiatif untuk mengajak keduanya


"Itu benar. Aku bahkan tidak pernah membayangkan, jika aku akan dekat denganmu yang selama ini kuanggap dingin" Sahut Rani mengingat dirinya yang dulu yang terlalu takut dan segan saat bertemu dengan Keyrani bahkan hanya untuk sekedar menyapa


Ketiganya menghela nafas bersamaan mengenang diri mereka masing-masing yang sudah mengalami banyak perubahan.


"Berjanjilah padaku, jangan pernah melibatkan persahabatan hanya karena perasaan. Aku tidak ingin persahabatan ini hancur" Pinta Keyrani tiba-tiba membuat keduanya menoleh ke arahnya


"Aku janji" Ujar Lisa


"Iya. Aku janji" Ujar Rani kemudian setelah beberapa saat memikirkannya


Setelah berbincang-bincang, ketiganya tanpa sadar tertidur mengingat ketiganya masih terlalu lelah setelah perjalanan jauh.


...***...


Di sisi lain, Ray yang tak kunjung mendapat kabar dari Keyrani semakin takut dan khawatir.


Ray terduduk menunduk di depan tempat tidurnya sembari memperhatikan cincin pemberian Keyrani. Sejak kepergian Keyrani, Ray tak berhenti merutuki dirinya sendiri karena malam itu, ia memilih kembali ke kamar bukannya tidur bersama dengan Keyrani, seperti yang dilakukannya selama ini.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka yang sontak membuat Ray menoleh jika saja orang yang datang adalah Jhon. Namun Ray kembali menundukkan kepalanya, memperlihatkan wajah kecewa karena bukan Jhon yang datang melainkan Alana.


"Ayo turun. Kamu belum makan seharian ini" Pinta Alana meraih lengan Ray berniat menariknya turun ke meja makan


"Aku tidak lapar" Ujar Ray lirih


"Sejak kapan sifatmu kekanak-kanakan seperti ini? Ini bahkan belum cukup 24 jam saat ia pergi, tapi kamu sudah seperti ini" Ujar Alana ketus tidak suka dengan sifat Ray yang sekarang


"Ini bukan urusan kamu" Jawab Ray masih dengan nada datarnya tidak perduli dengan perkataan Alana


"Aku tidak butuh penolakan, sekarang kita turun" Putus Alana


"Alana! " Tegur Ray sedikit meninggikan suaranya


Seketika mata Alana bergetar karena tersentak kaget karena baru kali ini Ray membentak nya.


"Kamu marah? Kamu bahkan tidak pernah meninggikan suaramu selama ini? Kamu membentak ku hanya karena gadis itu? Orang yang bahkan tidak setara denganmu! " Balas Alana ikut emosi dengan mata yang mulai berkaca-kaca


"Ini bukan soal setara atau tidak, dia adalah orang yang aku cintai dan aku tidak ingin kehilangannya lagi" Imbuh Ray


Alana kembali tertegun mendengar penuturan Ray "Selama bertahun-tahun aku menyukaimu, kamu bahkan mengetahuinya, tapi kenapa? Kenapa bukan aku? Hikkss.. " Ujar Alana memukul dada Ray dengan kepala menunduk dan air mata yang mulai jatuh berlinang


Ray terdiam. Sejak awal ia memang sudah mengetahui perasaan Alana. Namun dirinya sama sekali tidak bisa membalas perasaan itu, karena dari sejak lama hatinya sudah ia berikan pada Keyrani.


Ray mengelus bahu Alana berniat menenangkannya. Sementara Alana yang mulai sadar dengan apa yang diperbuatnya, segera menyeka air matanya.


"Turunlah, bahkan jika itu bukan aku. Ia tidak akan pernah suka jika kamu menyiksa dirimu seperti ini" Ujar Alana sebelum akhirnya meninggalkan Ray


Ray sadar dengan apa yang diperbuatnya, seperti yang dikatakan oleh Alana. Keyrai pasti akan marah jika dirinya terus menyiksa diri sendiri seperti ini.


Untuk itu, dengan langkah terpaksa, Ray berjalan turun ke bawah meski dengan tubuh yang sedikit linglung setelah seharian duduk di kamar.


Setibanya di meja makan, Ray bertemu dengan Rian yang juga sudah berada di meja makan menyantap makanannya dengan lahap.


"Kamu tahu kan Keyrani akan pergi?" Tanya Ray menghampiri Rian seteah melihat raut wajahnya yang seolah tidak cemas da khawatir akan kepergian Keyrani


"Iya " Jawab Rian singkat tanpa menoleh sedikitpun


"Dia kemana? Katakan padaku?" Tanya Ray menuntut


"Aku tidak tahu" Jawab Rian datar


"Rian!" Teriak Ray tiba-tiba mencengkeram kerah baju Rian


Rian menatap mata Ray tajam "Kenapa? Kamu bahkan membiarkan gadis itu tinggal dirumah ini tanpa memikirkan perasaan Keyrani. Jadi untuk apa kamu mencarinya" Bentak Rian ikut kesal dengan sikap Ray


Ray tahu. Ia tahu betul. Semua ini terjadi karena salahnya. Tapi, tetap saja ia tidak bisa membiarkan Alana tinggal sendiri di luar sana karena ia masih merasa bertanggung jawab akan Alana.


Ray perlahan melepaskan cengkraman nya dan berpindah pada bahu Rian dengan kepala yang kini menunduk.


"Aku mohon katakan padaku.. " Pinta Ray terisak


"Percuma bertanya padaku, karena aku juga tidak tahu Keyrani ada dimana" Balas Rian melepas tangan Ray dari pundaknya dan berjalan pergi meninggalkan Ray yang kini terduduk di lantai


Rian yang berniat ke kamarnya, berpapasan dengan Alana yang ternyata memperhatikan keduanya sedari tadi.


Alana terdiam di tempat, tanpa berniat menghampiri Ray yang kini terlihat begitu menyedihkan.


"Apa kamu akan memperlihatkan ekspresi seperti itu, jika aku yang menggantikan Keyrani pergi" Batin Alana sedih


Alana tahu, jika Ray sudah memiliki seseorang yang dicintainya dari sejak ia menyatakan perasaanya. Tapi ia tidak pernah menyangka jika ternyata gadis itu, benar-benar berarti bagi hidup Ray.