Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Hilang


Ray masih berdiri di depan meja rias mengeringkan rambut Keyrani yang hanya diam menatap Ray dari cermin.


"Mengapa kamu begitu tampan Ray.. " Ujar Keyrani lekat menatap pantulan Ray. Memperhatikan setiap bagian wajahnya.


"Jangan memancing ku Key.. " Imbuh Ray menatap Keyrani sekilas


"Siapa yang memancingmu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya" Balas Keyrani


Ray kemudian mematikan hairdryer dan meletakkannya kembali di laci meja. Lalu kembali berdiri di belakang Keyrani dan balas menatapnya di cermin.


"Key.. Ayo menikah. Meskipun aku mengusulkan untuk bertunangan, tapi sejujurnya aku tidak terlalu menginginkannya"  Ujar Ray kemudian berlutut di depan Keyrani mengutarakan isi hatinya yang sesungguhnya


"Tapi Ray,... Aku masih.. " Keyrani terbata bingung harus berkata apa mengingat dirinya belum pernah memikirkan hal ini setelah percakapan keduanya di rumah Jeri kemarin


Ray yang melihat Keyrani kebingungan, mengeratkan genggaman tangannya "Sudahlah. Sepertinya aku terlalu terburu-buru, ini masa depan kamu. Kamu harus memikirkannya matang-matang. Aku akan menunggu" Sela Ray mencoba mengerti meski dengan helaan nafas


Mendengar penuturan Ray, membuat Keyrani menunduk tak kuasa menatap Ray.


"Sebaiknya aku mandi" Tutur Ray melepas genggamannya dan berjalan menuju ke kamar mandi meninggalkan Keyrani yang kini mulai merutuki dirinya sendiri


"Apa dia marah?" Gumam Keyrani yang hanya bisa menatap punggung Ray


Di sisi lain Ray yang hanya bisa menahan kekecewaan berdiri di bawah shower. Kecewa akan dirinya yang masih belum bisa membuat Keyrani mempercayakan masa depannya pada dirinya.


"Apa benar aku yang terlalu terburu-buru" Ujar Ray lirih sembari mengusap wajahnya


...***...


20 menit berlalu..


Ray yang sedari tadi berada di kamar mandi, akhirnya keluar dengan piyama yang dikenakannya dan rambut yang masih basah.


Tanpa berniat mengeringkan rambutnya, Ray menghampiri Keyrani yang kini terbaring di kasur dan berbaring di sampingnya. Ray memeluk Keyrani erat dari belakang.


"Ray... " Panggil Keyrani dengan suara berat masih dengan mata tertutup


Rambut Ray yang basah membuatnya sontak terbangun karena Ray menempatkan kepalanya tepat di leher Keyrani.


"Rambut kamu basah..." Ujar Keyrani perlahan berbalik menghadap Ray


"Hmm... " Gumam Ray tidak bergerak


"Ray.. " Panggil Keyrani menggoyang tubuh Ray


"Hmm.. "


"Ayo bangun.. Rambutmu basah.. Kamu bisa sakit jika tidak mengeringkan nya" Ujar Keyrani bangun dari tidurnya dan menarik Ray bangun


"Kamu marah?" Tanya Keyrani


Ray segera menggelengkan kepalanya cepat. Ketimbang marah, ia lebih merasa kecewa akan dirinya karena satu-satunya alasan Keyrani masih belum setuju menikah dengannya pasti karena dirinya.


"Serius?" Tanya Keyrani tidak percaya


"Iya. Aku tidak marah. Tidak perlu memikirkannya lagi" Ujar Ray perlahan mengecup kening Keyrani


"Kalau begitu, biar aku keringkan rambutmu" Timpal Keyrani segera berlari mengambil hairdryer tadi


...***...


Sejak percakapan semalam, baik Keyrani maupun Ray. Keduanya masih belum bertemu sejak pagi tadi. Keyrani yang terbangun sekitar pukul 8 pagi, sudah tidak mendapati Ray di sampingnya. Ia bahkan tidak mendapat balasan dari pesannya.


"Ada apa denganmu?" Tanya Rani bingung melihat raut wajah Keyrani yang sedari tadi tida bersemangat dan hanya menghela nafasnya


"Ray tidak membalas panggilan ku" Ujar Keyrani menatap ponselnya


"Mungkin dia sibuk. Kamu tidak perlu khawatir. Dengan sifatnya itu, dia tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja jika bukan karena urusan penting" Ujar Rani menenangkan


"Apa iya? Sepertinya semalam aku membuatnya kecewa" Timpal Keyrani memukul pelan kepalanya menyesali perbuatannya itu


"Kalian bertengkar?"


Keyrani menggeleng "Tidak. Hanya saja semalam dia memintaku menikah dengannya"


"Menikah? Jangan bilang kamu menolaknya" Tebak Rani menatap Keyrani serius


Keyrani mengangguk pelan mengiyakan tebakan Rani.


"Tapi kenapa Key? Semua orang juga tahu, bagaimana perasaan Ray padamu dan kamu juga mencintainya. Jadi kenapa kamu menolaknya" Tutur Rani tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya ini


"Tentu saja. Dimana lagi, kamu bisa mendapatkan orang setulus Ray. Dan lagi, aku dan Jeri juga sudah sampai tahap ini"


"Hah? Kamu dan Jeri? Kamu sudah yakin?"


"Hmm.. Lagi pula aku dan dia... " Jawab Rani dengan maksud tersirat


Keyrani menghela nafasnya panjang "sepertinya aku benar-benar salah" Putusnya


"Sudahlah, berhenti memikirkannya. Lagi pula sejak pagi tadi, Jeri juga pergi. Mungkin keduanya bersama"


"Baiklah. Sebaiknya aku kembali ke kamar, barang kali dia sudah pulang" Ujar Keyrani lesuh sembari bangkit dari duduknya meninggalkan Rani yang masih berniat duduk disana


Ting...


Belum sempat Keyrani melangkah masuk ke dalam lift. Sebuah notifikasi tiba-tiba berbunyi. Dengan cepat Keyrani memeriksanya jika saja pesan itu berasa dari Ray.


Sekali lagi ia menghela nafasnya kecewa karena ternyata pesan tersebut tidak berasal dari Ray melainkan dari Sean yang tiba-tiba mengajaknya bertemu.


Keyrani segera berbalik kembali dan mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar karena Sean memintanya bertemu saat ini juga.


"Kenapa dia berbalik?" Gumam Rani menatap Keyrani yang kini perlahan keluar dari hotel namun kembali mengalihkan perhatiannya dan tidak terlalu memikirkannya


...***...


Malam harinya, Ray kembali ke kamar setelah pukul 8 malam. Tanpa mencari keberadaan Keyrani, ia memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu.


15 menit berlalu...


Ray keluar dari kamar mandi, namun belum melihat tanda kedatangan Keyrani. Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi yang lainnya.


"Apa Keyrani bersama denganmu?" Tanya Ray setelah panggilannya terhubung dengan Jeri yang merupakan orang pertama yang paling mungkin bersama dengan Keyrani


"Tidak. Dia tidak ada disini. Bukankah dia bersama denganmu? " ujar Jeri dan balik bertanya


"Dia tidak bersamaku. Aku baru saja kembali. Mungkin dia bersama dengan yang lainnya" Ujar Ray


"Itu tidak mungkin, karena sekarang aku sedang bersama yang lainnya kecuali kamu dan Keyrani"


Mendengar penuturan Jeri, sontak membuat Ray seketika panik "Kalian dimana?" Tanyanya kemudian


"Di kafe" Jawab Jeri yang juga ikut panik


Dengan cepat Ray segera mematikan panggilannya dan segera berlari keluar menghampiri mereka.


...***...


"Apa yang terjadi?" Tanya Rian penasaran setelah melihat raut wajah Jeri yang seketika berubah panik


"Keyrani tidak bersama Ray" Jawab Jeri serius


Mendengar hal tersebut, semuanya sontak menghentikan gerakannya dan menatap Jeri khawatir.


Bertepatan dengan itu, Ray tiba dan menghampiri mereka dengan raut wajah yang sama dengan Jeri.


"Bukankah Keyrani bersama dengan Kakak" Ujar Rian segera


"Aku baru saja datang. Sejak pagi tadi aku belum bertemu dengannya"


Rani yang mendengarnya sontak berdiri dan mengingat kejadian pagi tadi saat ia bertemu dengan Keyrani.


"Aku bertemu dengannya tadi pagi" Ujar Rani membuatnya yang lainnya menatapnya meminta penjelasan


"Dan aku juga melihatnya keluar dari hotel. Aku pikir dia keluar bertemu dengan Pak Ray, karena Pak Ray tidak membalas pesannya jadi aku pikir dia pergi bertemu denganmu"


"Dia tidak menemuiku, karena aku mematikan ponselku seharian ini" Ujar Ray geram dengan tangan yang perlahan mengepal


"Jadi bagaimana? Keyrani tidak mungkin hilang kan?" Ujar Rani mulai panik


Ray tidak menjawab dan memilih pergi meninggalkan yang lainnya dengan raut wajah penuh emosi bercampur cemas.


"Kalian disini, biar aku dan Ray yang mengatasinya" Ujar Jeri lalu mengikuti Ray


"Kak.. Aku ikut" Imbuh Rian yang juga ikut panik


"Kamu disini bersama yang lainnya. Masalah ini, biar aku dan Ray yang mengatasinya" Ujar Jeri menenangkan dan tidak ingin melibatkan semuanya