
"Pulang nanti tidak perlu menungguku, aku akan pulang dengan Rian" Ujar Keyrani yang saat ini berada di mobil bersama dengan Ray yang masih fokus menyetir sementara Alana duduk di belakang sembari memainkan ponselnya
"Rian?" Ucap Ray menoleh ke arah Keyrani
"Iya. Aku ingin kerumah Jeri" Balas Keyrani
"Bukankah dia belum pindah? Apa yang ingin kamu lakukan disana? Dengan Rian?" Tanya Ray masih dengan sikap posesif nya
"Oh, aku lupa memberitahumu. Dia akan pindah hari ini"
"Biarkan aku mengantarmu kalau begitu" Putus Ray pada akhirnya
"Tidak Ray.. Jangan bilang kamu ingin absen lagi, aku tidak setuju. Dan lagi aku sudah punya janji dengan Rian dan yang lainnya jadi kamu kalau mau gabung bisa datang belakangan setelah urusanmu di kampus selesai" Tolak Keyrani tidak setuju jika Ray selalu mengubah jadwalnya di kampus hanya karena dirinya
"Baiklah.. Aku akan menyusulmu nanti" Balas Ray pasrah mengikuti perkataan Keyrani
Sementara Alana yang sedari tadi mendengar percakapan keduanya ikut penasaran.
"Kak Jeri akan pindah?" Tanya Alana memberanikan diri
"Hmmm... " Gumam Keyrani mengangguk
"Ini bukan karena aku kan?" Tanya Alana jika saja kepindahan Jeri karena keberadaannya yang juga saat ini menempati kamar yang dimiliki Jeri pada awalnya
Keyrani kembali berbalik saat mendengar pertanyaan dadakan Alana yang kini memasang wajah bersalah "Tidak.. Tidak.. Ini bukan karena kamu. Jeri pindah karena memang ia sudah lama merencanakannya. Jadi tidak perlu menyalahkan dirimu" Ujar Keyrani menenangkan Alana yang tampak murung
Meski Keyrani mengatakan hal tersebut, Alana masih tetap merasa tidak enak pada Jeri.
"Itu benar Alana, ini bukan karena kamu. Jadi tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri" Sambung Ray membenarkan perkataan Keyrani
"Oh iya, jika kamu tidak sibuk, kamu bisa ikut denganku" Ujar Keyrani menawarkan
"Aku boleh ikut?"
"Iya. Mengapa tidak.. " Balas Keyrani dengan senang hati
"Hmm.. Kalau begitu aku akan ikut denganmu" Putus Alana kemudian
Sudut bibir Ray terangjat sedikit melihat interaksi keduanya. Ada kebahagiaan yang dirasakan Ray melihat keduanya terlihat akrab, terutama Keyrani yang sudah menganggap dan memperlakukan Alana layaknya adiknya sendiri.
...***...
Seperti biasa sebelum kelas dimulai, Keyrani akan menghabiskan waktu di kantin bersama dengan teman-temannya.
"Jadwal kalian udah pada kosong kan?" Tanya Keyrani memastikan karena sejak semalam ia sudah menyuruh semuanya untuk mengosongkan kegiatan selain jadwal kuliah
"Iya. Emang kita mau kemana?" Tanya Dafa
"Ke rumah Jeri"
"Kak Jeri udah balik?" Tanya Dafa kembali dengan exited
"Iya. Kak Jeri udah balik beberapa hari yang lalu"
"Dia udah balik.. " Batin Rani yang sedari tadi hanya mendengar tanpa merespon
Sejak kepergian Jeri, Rani belum sempat mengucapkan Terima kasih setelah Jeri memperbaiki mobilnya.
"Kamu ikut kan?" Tanya Keyrani pada Rani yang sedari tadi diam
"Iya aku ikut" Jawab Rani cepat sembari mengangguk
"Kamu bawa mobil?" Tanya Dafa yang kemudian diangguki oleh Rani "Kalau begitu aku ikut denganmu, motorku lagi di bengkel" Sambungnya kemudian
"Oh iya, kalau bisa Alana juga ikut denganmu" Ujar Keyrani teringat jika Alana juga ikut dengan mereka
"Alana?" Tanya Dafa asing dengan nama tersebut
"Aku belum pernah mengatakannya?"
"Belum. Memangnya dia siapa?" Jawab Dafa menggelengkan kepalanya berbeda dengan Rani yang sudah pernah mendengarnya dari Keyrani saat berada di Negara K dulu
"Aku bingung harus bagaimana menjelaskannya, anggap saja dia adik angkat ku" Jawab Keyrani kebingungan mengungkap identitas Alana
"Oh.. Apa dia tidak masalah ikut dengan kita"
"Hmm.. Aku akan bertanya padanya nanti" Ujar Keyrani tidak tahu
"Kalau begitu aku pergi dulu. Kalian bisa lanjut" Imbuh Dafa bangkit dari duduknya kemudian beranjak pergi meninggalkan keduanya, masih dengan sikap sok kerennya membuat Keyrani dan Rani hanya bisa menggelengkan kepala pasrah dengan sikapnya
...***...
"Kamu sudah menghubungi yang lain?" Tanya Rani
"Iya. Dafa, Rian dan Alana sedang menuju kesini" Jawab Keyrani memperlihatkan lahar ponselnya
"Bagaimana dengan Aaron dan Lisa?"
"Mereka akan menyusul di belakang, Lisa masih memiliki satu kelas lagi"
"Oh.. " Respon Rani memasang wajah yang sulit diartikan
Bersamaan dengan itu, Dafa dan Rian juga datang menghampiri keduanya.
"Ayo.. " Ajak Rian saat tiba di dekat keduanya
"Tunggu.. Alana masih belum datang" Jawab Keyrani
"Alana?" Ucap Rian dengan alis bertaut
"Iya. Alana juga ikut" Jawab Keyrani bertepatan dengan kedatangan Alana "itu dia" Ucap Keyrani sontak berdiri saat melihat Alana
"Maaf.. Aku terlambat" Ujar Alana kemudian sembari mengatur nafasnya setelah berlari tadi
"Tidak.. Kami juga baru tiba" Ujar Keyrani "Oh iya, aku akan ikut dengan Rani, jadi kamu dengan Rian" Ujar Keyrani tiba-tiba membuat Rian sontak menatapnya
"Tapi Key.. "Ucap Rian berniat menolak namun langsung di potong oleh Keyrani
"Tidak perlu khawatir denganku" Potong Keyrani meyakinkan
"Itu benar, Keyrani aman bersama ku" Sela Dafa merangkul bahu Keyrani
Karena tidak punya pilihan lain, Rian akhirnya mengangguk sembari menghela nafasnya pasrah.
Setelah keputusan dadakan itu, mereka kemudian berangkat dengan Keyrani sebagai penunjuk jalannya.
...***...
20 menit kemudian...
Kelimanya tiba di rumah Jeri yang langsung disambut oleh Jeri di pintu masuk setelah mendapat pesan dari Keyrani.
"Ayo masuk" Ajak Jeri mempersilahkan mereka masuk
Rani yang berjalan paling belakang, tanpa sengaja bertatapan dengan Jeri. Pria yang sudah lama tidak dilihatnya itu. Rani hanya melempar seutas senyum singkat yang juga dibalas senyuman oleh Jeri.
Rani menghembuskan nafasnya sembari mengusap dadanya. Setelah sekian lama tidak bertemu, Rani hanya bisa tersenyum singkat tanpa berani menatap mata Jeri lama.
"Kalian bisa berkeliling jika kalian mau" Ujar Jeri mempersilahkan
"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi" Imbuh Dafa antusias sementara yang lainnya memilih duduk di sofa ruang tamu
Begitu pula dengan Keyrani yang kini berada di dapur menambil minuman.
"Kita masih belum berkenalan, aku Rani" Ujar Rani memulai pembicaraan setelah melihat Alana sedikit bingung untuk bereaksi dengan mereka
"Aku Alana" Jawab Alana menerima uluran tangan Rani
"Dan aku Dafa.. " Sela Dafa
"Alana.. " Balas Alana sembari tersenyum ramah
"Karena kamu adik Keyrani, jadi kamu juga bisa menganggapku sebagai Kakak" Ujar Dafa tiba-tiba membuat Rani sontak menjitak kepalanya
"Sstt... " Ringis Dafa mengusap kepalanya
"Tidak perlu menghiraukannya.. " Tukas Rani yang hanya bisa disenyumi oleh Alana
"Adik?" Gumam Rian heran yang ternyata didengar oleh Dafa
"Iya. Itu kata Keyrani" Balas Dafa menggangguk
Alana yang mendengarnya sedikit tertegun, karena ternyata Keyrani benar-benar menganggapnya sebagai Adik bukan sebagai saingan.
"Aku akan ke dapur.. " Ujar Rani berniat menghampiri Keyrani jika saja ia membutuhkan bantuan "Kamu ingin ikut?" Tanya Rani berbalik kembali karena ia merasa tidak tenang meninggalkan Alana dengan dua orang aneh itu
"Iya" Jawab Alana bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke dapur mengikuti Rani