Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Merona


Keyrani yang tengah duduk bersama dengan Rani dikagetkan dengan kedatangan Aaron dan yang lainnya. Ketiganya langsung duduk sembari meletakkan nampan berisi pesanan mereka.


"Hi.." Sapa Aaron pada Rani yang hanya disambut senyuman oleh Rani yang kini merasa canggung


"Apa yang kalian lakukan disini, bukankah disana masih banyak meja yang kosong" Tutur Keyrani menunjuk meja-meja yang masih kosong di sekitar mereka


"Wajar bagi teman untuk berbagi meja" Jawab Rian membuat ketiganya berbalik heran je arahnya yang tiba-tiba saja berbicara


"Benar sekali, bukankah kita sudah berteman" Sambung Aaron kembali antusias


"Terserah kalian" Ujar Keyrani menghela nafasnya pasrah dan kembali mengunyah makanannya


"Oh iya, dia siapa?" Tanya Aaron menunjuk Rani


"Dia Rani, wakil ketua kelas aku" Jawab Keyrani


"Rani" Ujar Rani tersenyum


"Aku Aaron" Balas Aaron "Yang jelek ini Dafa dan yang kaku ini Rian" Ujar Aaron memperkenalkan keduanya sesuka hati


Mendengar perkataan Aaron, tangan Dafa naik menimpuk kepalan Aaron geram. Begitu pun dengan Rian yang kini menatap tajam ke arahnya.


"Salah sendiri, suka banget isengin orang haha" Ujar Keyrani tertawa melihat tingkah ketiganya


"Sepertinya suasana hatimu sedang bagus" Ujar Dafa melihat Keyrani tertawa "Aku masih ingat wajah cuek mu saat pertama kali bertemu dan sekarang kamu sudah bisa tertawa seperti itu" Sambung Dafa


"Anggaplah kamu benar kali ini" Balas Keyrani


"Jadi apa yang membuatmu senang kali ini?" Tanya Aaron penasaran


"Kali ini aku akan memberitahumu" Ujar Keyrani menghentikan ucapannya membuat ketiganya semakin penasaran "Jadi, Aku baru saja bertemu dengan sahabat lamaku yang sudah menghilang sejak 11 tahun yang lalu" Lanjut Keyrani kemudian


"11 tahun?" Tanya Aaron sedikit tercengang


"Yap.. 11 tahun dan sekarang aku bertemu dengannya lagi" Jawab Keyrani senang hanya dengan memikirkannya


"Sepertinya dia sangat berharga bagimu hingga kamu memasang wajah seperti itu" Sela Rian yang sedari tadi memperhatikan wajah bahagia Keyrani yang jarang ditampilkan nya


"Dia memang orang yang berharga bagiku, dia orang pertama yang menyemangatiku saat aku bersedih" Ujar Keyrani


"Aku juga bisa seperti dia" Sela Aaron sedikit iri


"Aku tahu kamu akan berkata seperti itu" Ujar Keyrani kepada Aaron karena selama ini Aaron memang selalu ada di sekitarnya menghiburnya "Baiklah. kita sudahi sampai disini sesi curhat Keyrani. Karena aku harus segera masuk ke kelas. Bukan begitu wakil ketua kelas?" Tanya Keyrani menghentikan pembahasan sembari tersenyum menunggu jawaban dari Rani


"Iya. 10 menit lagi kuliah akan dimulai" Jawab Rani melirik ke arah jam tangannya


"Kalau begitu kami pamit dulu. Kalian silahkan lanjutkan" Ujar Keyrani pamit kemudian beranjak pergi meninggalkan ketiganya diikutin oleh Rani


"Aku juga ingin menjadi orang berharga bagi Keyrani" Gumam Aaron setelah kepergian Keyrani


"Bukankah sudah kukatakan berhenti berjalan di tempat" Ujar Dafa kepada Aaron yang selama ini tidak pernah berusaha mengejar Keyrani


Aaron menghela nafasnya panjang sembari memanyunkan bingung. Bukan karena dirinya tidak ingin mengejar Keyrani, hanya saja Ia belum siap untuk merasakan penolakan. Karena Ia begitu yakin dia dan Keyrani tidak akan pernah bisa melebihi kata teman.


Sementara itu, Rian yang diam-diam juga menaruh hati pada Keyrani sedikit merasa bersalah pada sahabatnya Aaron. Ia benar-benar tidak menyangka dirinya akan menyukai perempuan yang juga disukai oleh sahabatnya sendiri. Entah seperti apa rasa kecewa yang akan dirasakan Aaron saat mengetahui perasaan Rian pada Keyrani.


Di sisi lain, terdapat Keyrani dan Rani yang saat ini berjalan di Koridor menuju ke kelas bersama sembari berbincang


"Aku tidak menyangka kamu akrab dengan mereka bertiga" Ujar Rani


"Oh, kami tidak seakrab yang kamu pikirkan" Ujar Keyrani karena kenyataannya memang seperti itu dirinya masih belum bisa dikatakan akrab dengan ketiganya


"Mungkin kamu tidak tahu, tapi ketiganya begitu terkenal di kampus ini. Aaron yang terkenal karena wajahnya yang tampan dan sifatnya yang periang dan ramah terhadap mahasiswa lain. Sementara Dafa merupakan seorang selebram, wajahnya tampan namun juga terlihat cantik. Dan yang terakhir Rian, meskipun sikapnya dingin dan kaku masih banyak dari mahasiswa yang menyukainya karena wajah tampannya itu" Tutur Rani menjelaskan ketiganya


"Ternyata mereka begitu terkenal, sepertinya aku benar-benar kudet"


"Aku benar-benar kaget saat mereka menghampirimu dan bahkan berkenalan denganku" Ujar Rani sembari tersenyum membayangkan dirinya


"Hanya dengan melihat wajahmu saat ini, aku bisa tahu jika kamu menyukai salah satunya" Ujar Keyrani menyenggol lengan Rani "Katakan padaku siapa?" Sambung Keyrani menaikkan satu alisnya


Rani tersenyum malu sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Keyrani "Aaron" Jawabnya sembari menutup wajahnya yang mungkin sudah memerah karena menahan malu


"Hah? Aku pikir tadinya Rian" Ujar Keyrani sedikit kaget dan tidak menyangka nama Aaron akan disebut


"Yang paling ganteng dari ketiganya memang Rian. Hanya saja aku lebih menyukai pria yang lucu dan periang seperti Aaron" Tutur Rani dengan wajah yang semakin merona


"Wajahmu benar-benar memerah saat ini" Ujar Keyrani iseng mengerjai Rani kemudian berbelok masuk ke dalam kelas meninggalkan Rani yang kini menutupi wajahnya


Rani pun masuk ke dalam kelas mengikuti Keyrani. Beberapa mahasiswa melirik penasaran ke arahnya karena wajahnya yang semerah tomat.


"Ada apa dengan wajahmu? Kamu sakit?" Tanya seorang mahasiswa saat ini melihat wajah Rani


"Tadi a..aku habis makan cabe. Aku kepedasan, makanya wajahku memerah" Jawab Rani gelagalapan sembari mencari alasan


Sementara Keyrani yang melihat tingkah Rani hanya bisa tertawa. Ia tidak menyangka Rani akan semerona itu karena di goda olehnya.


"Kamu tahu, tadi pagi aku tersenyum ke arah Keyrani dan dia balas tersenyum ke arahku. Ternyata yang kamu katakan benar" Bisik mahasiswa itu kemudian kepada Rani


"Aku juga, tadi aku mencoba tersenyum dan dia membalasnya kembali. Sepertinya kita salah karena beranggapan buruk tentangnya" Sambung mahasiswa lainnya


"Sudahlah, lain kali kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari sampulnya saja" Ujar Rani karena dirinya yang saat ini benar-benar ingin akrab dengan Keyrani


Di sisi lain, Keyrani Samar-samar mendengar apa yang dikatakan Mahasiswa tersebut. Ada rasa syukur dalam dirinya jika orang lain beranggapan baik terhadap dirinya. Meski sebenarnya Keyrani tidak terlalu perduli dengan pendapat orang lain.


Dari awal dirinya kuliah, Ia memang tidak terlalu bisa bergaul dengan mahasiswa lainnya karena kehadiran Lisa. Yang menurutnya sudah cukup menemani kehidupan sehari-hari nya selama kuliah. Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain, sekali lagi Keyrani disadarkan bahwa masa depan tidak ada yang tahu. Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan, yang akhirnya menentukan dan memutuskan adalah Tuhan.