Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Jujur


Terik matahari pagi perlahan membuat Keyrani membuka matanya. Sebuah tangan kekar melingkar di tubuhnya. Tangan Keyrani perlahan naik menyentuh wajah pria yang ada di hadapannya ini yang tak lain adalah Ray. Tangannya naik berjelajah di wajah Ray. Menyentuh mata hidung hingga bibir Ray. Memperhatikan dalam-dalam sosok pria di hadapannya ini.


Hingga kemudian Ray terbangun saat Keyrani menyentuh wajahnya. Keduanya bertatapan cukup lama dan dalam. Tangan Ray perlahan naik menggenggam tangan Keyrani kemudian mengecupnya pelan. Kemudian berpindah kembali memeluk tubuh Keyrani membawanya masuk ke dalam dekapannya.


"Tidurlah lagi" Pinta Ray yang hanya diangguki oleh Keyrani


Tak berselang lama, Keyrani kembali menutup matanya dan tidur dalam pelukan Ray. Matanya sedikit bengkak karena menangis semalam.


Sejak kejadian semalam, Ray tidak membiarkan Keyrani pergi dari kamarnya. Rasanya seolah Keyrani akan pergi meninggalkannya jika Ia membiarkannya pergi.


Setelah dirasa Keyrani tertidur, Ray melonggarkan pelukannya dan beranjak bangun sembari menutup tubuh Keyrani dengan selimut. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Keyrani.


Ray turun kebawa untuk membuat sebuah sarapan untuk Keyrani. Sarapan sederhana yang hanya terdiri dari sandwich dan susu, sekedar hanya untuk mengganjal perut kosongnya.


Setelah selesai, Ray kembali ke kamarnya membawa sarapan tersebut. Keyrani masih tertidur saat dirinya tiba di kamar. Ia pun menaruh sarapan tersebut pada meja di samping kasurnya.


Karena dirasa terik matahari semakin panas, Ray menutup tirai jendela. Kemudian ia menjatuhkan dirinya di atas sofa dekat jendela.  Sembari memperhatikan wajah Keyrani yang tengah tertidur.


"Kali ini aku tidak akan meninggalkanmu" Batin Ray yakin sembari menatap lekat wajah gadis yang dicintainya itu.


Tak berselang kemudian, Keyrani kembali terbangun dengan mendapati sebuah sarapan di samping tempat tidur. Ia kemudian bangun dan meraih sarapan tersebut. Memakannya sembari mengedarkan pandangannya mencari Ray.


Hingga kemudian Keyrani mendengar suara air mengalir dari kamar mandi yang artinya pemilik kamar tersebut saat ini sedang mandi. Ia pun melanjutkan makannya sembari menunggu Ray selesai.


Beberapa saat kemudian, Ray keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan sehelai handuk saja. Memperlihatkan otot-otot perutnya yang sixpac.


Mungkin saat ini Keyrani akan berteriak malu karena melihat pemandangan dihadapannya ini. Namun mengingat karena suasana hatinya yang masih belum stabil ia kembali memakan sandwichnya berusaha tetap tenang dan tidak terpengaruh.


"Kamu sudah bangun" Ujar Ray saat melihat Keyrani terbangun sembari berjalan menuju lemari mengambil pakaiannya dan kembali ke dalam kamar mandi mengingat Keyrani masih berada di kamar


Tak berselang lama, Ray keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya. Hari ini tidak ada jadwal kuliah begitu pun dengan Keyrani.


Ray menghampiri Keyrani kemudian meraih piring yang ada di pangkuannya membawanya ke atas meja "Mandilah" Pinta Ray kemudian duduk di pinggir kasur sembari menatap Keyrani


"Hmm" Gumam Keyrani mengiyakan kemudian melepas selimut dengan dibantu oleh Ray


Keyrani kemudian berjalan ke kamar mandi, Sementara Ray berjalan ke luar kamar menuju ke kamar sebelah untuk mengambil pakaian untuk Keyrani.


Ray mengambil sebuah hoddie dengan celana jeans yang memang sudah disiapkan olehnya sedari lama. Bukan hanya gaun-gaun pesta semua keperluan Keyrani sengaja ia persiapkan. Begitupun dengan kamar yang kini ditempati Keyrani memang khusus dipersiapkan untuknya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Key, bajunya aku taruh di kasur. Aku akan menunggumu di ruang tamu" Ujar Ray kemudian beranjak keluar dari kamar tersebut


Setelah selesai Keyrani turun ke bawah menghampiri Ray yang sudah sedari tadi menunggunya.


Sementara itu Ray yang melihat kedatangan Keyrani segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Keyrani. Meraih tangannya dan menuntunnya menuju ke parkiran tempat mobilnya berada.


Keduanya memutus kan untuk datang ke rumah ibu Keyrani. Karena saat ini Ray masih berhutang satu penjelasan pada Keyrani.


Tanpa berlama-lama keduanya masuk ke dalam mobil. Sementara Ray segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya.


Perjalanan yang biasanya terasa cepat justru terasa begitu lama. Ada keheningan yang terasa di dalam mobil. Sejak semalam, Keyrani terus terdiam tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Sesekali ia merespon jika Ray bertanya kepadanya.


...***...


Setelah keheningan di dalam mobil tadi, keduanya kini tiba di rumah ibu Keyrani. Keduanya duduk di depan rumah, persis sama seperti 11 tahun yang lalu.


"Aku bingung harus memulai dari mana" Ujar Ray membuka pembicaraan "Saat aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, Aku benar-benar serius. Hanya saja di hari aku berjanji kepadamu, Ayahku meninggal dalam kecelakaan"


Keyrani sontak menoleh ke arah Ray saat mendengar hal tersebut. Ray yang saat ini menundukkan kepalanya tak sanggup menatap ke arahnya.


"Tapi bukan itu alasan kepergianku, Aku pergi karena Ibu Tiriku. Dia yang membuat ayahku celaka. Dan juga dia berniat memasukkanku ke panti asuhan dan merebut semua harta peninggalan ayahku. Hatiku sangat sakit dan rapuh saat itu, Aku tidak pernah menyangka bahwa dia akan begitu tega mencelakai ayahku" Ujar Ray dengan suara bergetar "Dari sejak aku pergi dari rumah, aku berjanji akan membalaskan dendam ini. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia hidup dengan baik setelah menghancurkan keluargaku" Sambung Ray


Keyrani tertegun mendengar penuturan Ray. Tangannya naik memeluk tubuh Ray yang kini bergetar, berusaha menenankannya. Ia benar-benar tidak menyangka alasan kepergian Ray ternyata lebih serius dari yang dipikirkannya.


"Maafkan aku Ray, aku terlalu menuntut dirimu tanpa mengetahui alasannya" Ujar Keyrani dengan air mata yang kini mengalir


"Tidak Key. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Seharusnya aku datang menemuimu dan memberitahu segalanya" Balas Ray yang kini berada di ceruk leher Keyrani


Keduanya menangis sembari berpelukan. Mencurahkan semua isi hati yang selama ini disimpan.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya Keyrani masih dengan posisi semula


"Seperti yang aku katakan, aku akan membalas mereka. Merebut semua harta milik ayah dan ibuku. Semuanya sudah aku rencanakan dari sejak aku kuliah" Jawab Ray


"Ray" Sebut Keyrani melepas pelukannya dan memegang rahang Ray "Berjanjilah padaku kamu tidak akan pergi tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Aku akan mendukungmu, tapi jangan pernah melempar dirimu sendiri kedalam bahaya" Tutur Keyrani khawatir


"Iya. Aku janji, kamu tidak perlu khawatir" Jawab Ray sembari mengangguk


"Beritahu padaku jika kamu membutuhkan bantuan, aku akan selalu bersedia mengulurkan tanganku padamu" Tutur Keyrani kemudian


"Aku tahu kamu akan selalu ada untukku, tapi kali ini biarkan aku yang melakukannya. Aku tidak ingin kamu berurusan dengan mereka" Ujar Ray kemudian memeluk Keyrani