Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Pergi?


Keyrani yang saat ini duduk di parkiran menunggu kedatangan Ray setelah menyuruh Jeri pulang, tiba-tiba dikagetkan oleh seorang pria yang langsung duduk di hadapannya tanpa izin sama sekali.


"Kita bertemu kembali.." Ujar pria itu yang tak lain adalah Arnold. Pria yang tak sengaja ditabrak nya beberapa hari yang lalu dan juga orang yang saat ini dekat dengan Devi


Keyrani menatapnya sejenak kemudian kembali fokus pada ponselnya, karena ia tidak berniat untuk meladeninya khususnya setelah mendengar cerita Dafa beberapa hari yang lalu.


"Cuek banget.. " Ujar nya kembali sembari menyentuh tangan Keyrani


Sontak Keyrani menarik tangannya dan menatap ke arah Arnold risih dengan pria itu.


"Ohh.. Ohh.. Galak banget.. Benar-benar tipe ku" Ujar Arnold dengan smirk di wajahnya


"Apasih... " Ujar Keyrani ketus kemudian bangkit dari duduknya dan berniat untuk pergi  karena muak melihat wajah Arnold


"Mau kemana? Buru-buru banget" Ujar Arnold mengikuti Keyrani dan berniat menyentuh lengannya namun tiba-tiba terhenti saat sebuah tangan menghentikan gerakannya


"Siapa sih?" Geram Arnold menepis tangan tersebut dengan kasarnya


"Seharusnya gue yang tanya lo siapa? Mau ngapain lo?" Ujar Rian penuh penekanan dengan jari menunjuk tepat di wajah Arnold


"Bukan urusan lo.. " Balas Arnold menatap Rian tajam sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan keduanya


"Kamu nggak papa?" Tanya Rian setelah kepergian Arnold


"Iya" Jawab Keyrani menganggukkan kepalanya


"Kamu mau balik?" Tanya Rian kembali


"Iya. Aku lagi nungguin Ray, taunya malah dia yang datang" Ujar Keyrani kesal


"Mau aku temani?" Tanya Rian sedikit takut jika sewaktu-waktu Arnold kembali lagi mengganggu Keyrani


"Tidak. Paling sebentar lagi Ray datang, kamu duluan aja. Nggak papa kok" Jawab Keyrani


"Kalau gitu, aku duluan. Kalau ada apa-apa hubungi aku cepat" Ujar Rian setelah berfikir sejenak kemudian beranjak pergi meninggalkan Keyrani menuju ke motornya


Sementara Keyrani kembali duduk di tempatnya yang tadi. Namun belum cukup 5 menit dirinya duduk disana, Ray sudah datang.


"Ayo.. " Ajak Ray saat tiba di dekat Keyrani


Tanpa berlama-lama Keyrani segera bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Ray ke mobilnya.


...***...


Setibanya di rumah, keduanya mendapati Jeri yang kini duduk di sofa ruang tamu dengan tangan di salingkan di dada dengan raut wajah kesalnya.


"Kamu marah?" Tanya Keyrani menghampiri Jeri dan memegang lengannya


"Hmmm.. " Jeri tidak menggubris pertanyaan Keyrani dan justru memalinkan wajahnya ke samping


"Jer.. Maafin.. " Bujuk Keyrani menggoyang lengan Jeri


Sementara Ray memilih naik ke kamar tanpa menghiraukan Jeri, karena Ia yakin Jeri tidak akan bisa marah terlalu lama pada Keyrani khususnya karena masalah sepele seperti ini.


"Jer.. " Panggil Keyrani sekali lagi


"Aku akan pergi" Ujar Jeri tiba-tiba membuat Keyrani kaget seketika


"Pergi?" Ulang Keyrani


"Iya. Aku akan pergi" Jawab Jeri memastikan kembali


"Tapi kenapa? Jangan bilang karena tadi siang? " Tanya Keyrani yang kini berdiri meminta penjelasan


"Bukan. Aku memang sudah berniat untuk pergi, aku ada urusan mendadak di Negara S" Ujar Jeri menjelaskan


"Jadi kamu akan kembali kan?" Tanya Keyrani sedikit tidak rela yang kemudian di angguki oleh Jeri


"Untuk itu, sebelum aku pergi ayo keluar bersama ku. Karena aku belum tahu, kapan aku akan kembali lagi" Pinta Jeri kepada Keyrani seolah-olah dirinya tidak akan kembali


Setwlah itu, keduanya kemudian naik ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian.


Keyrani yang baru masuk ke dalam kamar mendapati Ray yang kini duduk di kasurnya sembari memainkan ponselnya.


"Kamu disini.. " Ujar Keyrani kemudian menghampiri Ray "Aku akan keluar bersama Jeri" Ucapnya kemudian


Ray berpaling menatap Keyrani dengan Alis yang terangkat sebelah.


"Jeri akan pergi, jadi dia memintaku untuk menemaninya keluar hari ini" Ujar Keyrani


"Pergi?" Tanya Ray memastikan kembali


"Iya. Dia ada urusan di Negara S" Jawab Keyrani


Mendengar hal itu, seketika ekspresi Ray berubah "Kalau begitu, cepatlah bersiap-siap. Jangan membuatnya menunggu lama" Ujar Ray sedikit antusias dan mendorong tubuh Keyrani menuju ke lemari pakaian


Keyrani memiringkan kepalanya sedikit bingung dengan sikap Ray yang berubah-ubah, padahal tadi raut wajahnya seolah mengatakan kamu tidak boleh pergi dan sekarang raut wajahnya kembali antusias dan menyuruhnya mempercepat gerakan.


...***...


Tak berselang lama kemudian, Keyrani turun ke bawah yang mana Jeri sudah berada di ruang tamu menunggunya.


"Ayo.. " Ajak Keyrani saat tiba di dekat Jeri


Jeri kemudian bangkit dari duduknya dan merangkul pundak Keyrani, menuntunnya keluar menuju ke parkiran tempat mobilnya berada.


Ray yang sedari tadi berada di lantai atas hanya diam memperhatikan "Untuk kali ini saja" Gumam Ray sedikit pasrah dengan perlakuan Jeri kepada Keyrani sebelum akhirnya beranjak masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu ingin membawaku kemana?" Tanya Keyrani penasaran dengan tujuan Jeri


"Kamu akan tahu saat tiba disana" Jawab Jeri sedikit misterius


Mendengar jawaban Jeri, Keyrani memutuskan untuk diam dan menyandarkan kepalanya pada kursi berniat untuk tidur sejenak.


20 menit kemudian...


Mobil yang dikendarai Jeri kini berhenti di sebuah parkiran yang tampak begitu sepi seolah belum pernah dikunjungi.


"Key.. Kita sudah sampai" Ujar Jeri memegang lengan Keyrani


Perlahan Keyrani membuka kedua matanya dan mengedarkan pandangannya "Ini.. " Ucap Keyrani terpotong


"Iya. Ayo turun" Sela Jeri kemudian turun dari mobil di ikuti oleh Keyrani


Tempat pertama yang didatangi Jeri adalah kuburan dari Ibu Keyrani, Kristina. Yang selama ini selalu di datangnya sendiri dan sembunyi-sembunyi.


"Aku tidak tahu apakah aku akan pulang saat hari peringatan kematian ibumu, untuk itu aku menggantinya hari ini" Ujar Jeri menarik tangan Keyrani


"Kamu sering kesini?" Tanya Keyrani penasaran


"Iya. Aku sering kesini, tiap kali aku punya masalah. Pasti aku akan datang dan bercerita di sini" Jawab Jeri pilu


Selama bertahun-tahun dirinya benar-benar merindukan Kakak kandungnya, namun siapa sangka sebelum keduanya bertemu, maut justru memisahkan keduanya.


"Kak, aku datang bersama anakmu. Aku tidak sendiri lagi" Ujar Jeri menyentuh batu nisan yang bertuliskan nama Kristina


"Ma.. " Ujar Keyrani sedikit terisak


Setiap tahun, Keyrani selalu berkunjung sendiri tanpa dampingan seorang ayah sejak ayahnya menikah. Ia tidak pernah menyangka akan ada hari, dirinya datang berkunjung dengan seseorang yang juga merupakan keluarganya.


Keduanya cukup lama disana, saling berbagi permasalahan. Sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan kuburan dan kembali ke parkiran tempat mobil keduanya berada.


"Untukmu" Ujar Jeri memasangkan sebuah anting pada telinganya Keyrani


"Apa ini? " Tanya Keyrani sedikit bingung karena anting yang dipasang Jeri hanya ada satu


"Suatu saat nanti kamu akan tahu" Ujar Jeri misterius semakin membuat Keyrani kebingungan karena semenjak Jeri mengungkapkan identitasnya Jeri menjadi semakin misterius