Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Kakek dan Nenek


"Jadi dia?" Tanya Rian kembali memastikan


Sama halnya dengan Lisa, Rian masih belum bisa menerima semuanya begitu saja meskipun Jeri sudah menceritakan garis besarnya.


Fakta bahwa Sean menculik Keyrani sudah cukup membuat Sean terlihat jahat di matanya.  Pers*tan dengan perasaan Sean pada Keyrani, menurutnya ini hanya obsesinya saja. Bahkan jika dia benar-benar mencintai Keyrani, dia tidak akan berbuat hal seperti itu meski berada di bawah ancaman seseorang dan bahkan tidak berusaha mencari solusi lainnya.


"Kamu masih berani muncul setelah apa yang kamu perbuat" Imbuh Rian mencengkram kerah baju Sean dan menatapnya tajam


"Kamu pikir ini mudah bagiku? Aku bahkan lebih membenci diriku saat ini" Celah Sean pada dirinya sendiri karena tindakannya itu


"Lepas Rian.. Sudah cukup.. Aku benar-benar lelah dengan masalah ini" Ujar Keyrani mencoba melerai keduanya


Dengan bujukam dari Keyrani, Rian akhirnya melepas cengkraman nya kemudian berpaling meninggalkan tempat itu, sama seperti yang diperbuat Lisa tadi.


Sementara Alana yang sedari tadi hanya diam tidak bersua, sedikit dibuat kaget oleh sifat Rian.


"Betapa beruntungnya jadi dirimu Key.." Batin Alana merasa sedikit iri dengan Keyrani yang mendapat cinta dari banyak pihak


Meski pada kenyataannya, Keyrani tidak menyukainya dan justru dibuat pusing dengan semua yang terjadi hanya karena dirinya yang entah pantas atau tidak mendapat cinta dari mereka.


...***...


Setelah pertikaian barusan, hanya Keyrani dan Jeri yang masih tetap tinggal di ruang tamu. Sementara yang lainnya memilih kembali ke kamar, begitupun Rani yang kini berusaha membujuk Lisa.


"Aku setuju menikah dengan Ray" Tutur Keyeani tiba-tiba membuat Jeri kaget hingga tersedak


"Hah? Bukankah kamu belum setuju? Kapan dia membujukmu?" Tanya Jeri karena sebelum mereka meninggalkan Negara X, Ray mengatakan jika Keyrani masih belum setuju menikah dengannya


"Aku yang mengajaknya kemarin" Jawab Keyrani


Mendengar jawaban Keyrani, raut wajah Jeri berubah serius.


"Kamu yakin dengan keputusanmu itu? Aku memang menyuruh Ray untuk membujukmu, tapi aku tidak menyangka kalau kamu akan setuju secepat ini"


Keyrani mengangguk yakin "Aku yakin. Lagi pula dia sudah berulang kali mengungkitnya dan aku selalu menolaknya. Tapi entah kenapa, saat Sean menculik ku aku benar-benar merasa takut jika aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi"


Jeri hanya menghela nafasnya pasrah sekaligus lega dengan keputusan Keyrani yang entah akan baik atau tidak mengingat dia masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan.


"Kalau begitu ikut aku pulang menemui Kakek dan Nenekmu" Putus Jeri


"Aku akan ikut. Lagi pula, cepat atau lambat aku pasti akan menemui mereka" Ujar Keyrani membulatkan tekad


"Dan juga bukan hanya kamu yang memutuskan untuk menikah"


"Tunggu.. Jangan bilang kamu dan... " Tebak Keyrani menutup mulutnya tidak percaya dengan kabar baik ini


"Hmm.. Aku akan melamar Rani"


"Wahh.. Plot twist macam apa ini. Aku benar-benar tidak menyangka. Bukankah perkembangan hubungan kalian begitu cepat?" Ujar Keyrani merasa kagum


"Tidak ada yang salah dengan itu.. "


"Tunggu... Tunggu... Kalau kalian menikah, berarti Rani akan menjadi Bibiku.. " Ujar Keyranj setelah memikirkan hubungannya dengan Jeri


"Itu bukan salahku sepenuhnya, salahkan dirimu yang terlihat begitu muda di umurmu yang sudah tua ini. Entah apa yang dipikirkan Rani hingga menyukai seseorang seperti dirimu"


"Bukankah itu karena pengalaman pertamanya yang tidak mengecewakan" Ujar Jeri sedikit vulgar membuat bulu kuduk Keyrani berdiri seketika membayangkan hal-hal vulgar yang didengarnya malam itu


"Sudah cukup. Mengingatnya membuatku merinding seketika. Lagian bukankah sekarang seharusnya kamu memberitahuku tentang Kakek dan Nenekku" Ujar Keyrani mengingat hal yang lebih penting untuk dirinya sekarang


"Aku akan pelan-pelan menceritakan tentang mereka. Yang harus kamu ingat sekarang, kamu tidak perlu melakukan apapun yang mereka perintahkan, aku membawamu pulang bukan untuk membuatmu menjadi boneka mereka. Jadi apapun yang mereka perintahkan, kamu tidak punya kewajiban untuk menurutinya, kamu punya hak untuk menolaknya" Ujar Jeri memperingati Keyrani


"Tidak perlu khawatir, selama aku ada. Tidak akan ada yang bisa memaksa Keyrani" Sela Ray yang baru saja tiba dan tanpa sengaja mendengar percakapan keduanya


"Kamu sudah pulang" Ucap Keyrani semringah saat melihat Ray pulang dalam keadaan baik-baik saja


"Sepertinya sudah selesai" Tebak Jeri hanya dengan melihat ekspresi Ray


"Bukan hal sulit" Balas Ray santai


"Kalau begitu aku akan mengandalkan mu untuk kedepannya" Ujar Jeri kemudian bangkit meninggalkan keduanya


...***...


Setelah kembali ke kamar dengan Ray, Keyrani masih memikirkan perkataan Jeri tadi mengenai Kakek dan Neneknya.


"Apa kamu memikirkan perkataan Jeri tadi?" Tanya Ray ikut berbaring di samping Keyrani dalam keadaan telanjang karena ia baru saja keluar dari kamar mandi


"Hmm.. Mungkin kamu sudah bisa menebak sifat dari Kakek dan Nenekku. Aku bingung harus bersikap bagaimana saat bertemu mereka, sebagai cucu dari mereka sudah seharusnya aku bersikap baik tapi mengingat perlakuan mereka kepada Ibuku, aku benar-benar emosi hanya dengan memikirkannya" Ujar Keyrani bimbang


"Tidak perlu memikirkannya saat ini. Hal ini bisa kamu putuskan saat kamu bertemu dengan mereka" Ujar Ray memberi saran


"Baiklah" Ujar Keyrani mengangguk menyetujui "Sekarang ayo bangun, pakai pakaianmu dan keringkan rambutmu"


Ray kemudian bangkit dan meraih hairdryer di meja dan menyerahkannya pada Keyrani "Bantu aku mengeringkannya" Pinta Ray mulai bersikap manja


Keyrani tentu saja dengan senang hati meladeninya mengingat Ray jarang bersikap seperti itu.


"Key.. Apa kamu punya keinginan yang belum tercapai?" Tanya Ray


"Keinginan? Aku hanya ingin kita bersama selamanya. Jadi kamu harus jaga jarak dengan wanita lainnya di masa depan" Ujar Keyrani memperingati


"Bukankah kalimat itu ditujukan untukmu. Di rumah ini ada 3 pria yang pernah mencintaimu dan dua di antaranya masih tetap berharap mendapatkanmu"


"Bukankah kamu juga memiliki seseorang disini" Balas Keyrani mengungkit Alana yang dulu membuatnya bertengkar hebat dengan Ray


"Baiklah-baiklah... Anggap saja kita impas" Ujar Ray pasra karena tidak ada gunanya membela diri saat ini karena ia akan tetap salah


"Sudah selesai. Sekarang pakai bajumu" Tutur Keyrani mematikan hairdryer dan kembali memperbaiki posisinya di kasur


"Aku terlalu malas memakai baju, aku akan tetap seperti ini, malam ini" Ujar Ray tidak memperdulikan dan langsung berbaring memeluk Keyrani dari samping


Meski sudah beberap kali melihatnya, wajah Keyrani tetap saja memerah jika dihadapkan dengan tubuh Ray dan bahkan bersentuhan langsung seperti ini.


Aroma tubuhnya bahkan lebih dirasakan Keyrani mengingat dirinya baru saja mandi. Aroma yang membuatnya merasa tenang dan bisa menurunkan kewaspadaannya.