
Pagi ini suasana tampak tegang di ruang rapat perusahaan Snow Group. Beberapa pemilik saham tampak menyeka keringat karena gugup setelah mendapat pemberitahuan tentang pengadaan rapat tersebut. Tentunya hal ini hanya bisa dilakukan oleh pemilik saham terbesar di perusahaan tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ibu Leon bingung saat memasuki ruang rapat dan duduk di kursi depan kemudian menatap pria yang ada di sampingnya
"Sebelumnya aku meminta maaf karena telah mengganggu waktu kalian. Tapi rapat ini begitu penting dan mendesak" Jawab Pria yang duduk di sebelah kanan Ibu Leon dengan wajah yang serius
Dia adalah Irfan. Salah satu pemilik saham perusahaan terbanyak di Perusahaan Snow Group. Saat ini Ibu Leon hanya memiliki 25% saham di perusahaan tersebut. Sementara Irfan memiliki 20%-nya lagi.
Rapat bisa diadakan bukan hanya karena Irfan yang mengusulkan rapat ini, melainkan pria yang juga duduk di hadapannya yakni Adnan yang juga memiliki 15% saham.
Ruangan kembali lenggang. Semuanya terdiam dan sesekali saling berpandangan bingung dengan apa yang terjadi.
Hingga kemudian, pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka memperlihatkan sosok pria dengan setelan jas hitam diikuti oleh asistennya di belakang yang kini membawa sebuah Ipad di tangannya. Dia yang tak lain adalah Ray, yang menjadi alasan di laksanakannya rapat tersebut.
Baik Irfan maupun Adnan bangkit dari duduknya menyambut kedatangan Ray dan mempersilahkan nya duduk dengan tubuh yang sedikit membungkuk membuat orang-orang yang ada di ruangan menatap bingung khususnya Ibu Leon yang kini mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Ada apa ini sebenarnya? Dia siapa?" Tanya Ibu Leon ikut berdiri dari duduknya
"Biarkan saya menjawabnya" Sela Jhon kemudian berdiri di samping Ray
"Dia adalah Raymon Parveen Thesman. CEO Perusahaan J&J Group saat ini"
Mendengar penuturan Jhon, Semua yang ada di ruangan sontak menoleh kaget karena pria yang duduk di hadapan mereka ternyata adalah CEO dari perusahaan terbesar di negara ini. Yang selama ini tidak pernah menampakkan dirinya di depan umum.
"Seperti yang kalian semua ketahui selama ini, Pak Irfan memiliki 20% saham dan juga Pak Adnan memiliki 15% saham di perusahaan ini. Jika diakumulasikan semuanya menjadi 35%. Yang mana 35% saham ini merupakan titipan dari Tuan kami" Tutur Jhon menjelaskan
"Apa maksudmu? Titipan?" Bingung Ibu Leon semakin mengerutkan dahinya dan menatap ke arah Ray yang kini duduk dengan santai
"Itu benar. 35% saham ini merupakan milik saya dan atas nama saya. Keduanya merupakan bawahan saya, yang khusus saya perintahkan untuk mengelola saham ini" Sahut Ray menatap mata Ibu Leon dengan smirk di wajahnya
"Yang artinya saya adalah pemilik saham terbanyak di perusahaan ini. Kedatangan saya hari ini hanya untuk menyapa dan memperkenalkan diri saja. Karena tidak lama lagi, kita akan segera bertemu kembali" Tutur Ray sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan tanpa memperdulikan reaksi orang-orang yang ada di ruangan di ikuti oleh Jhon dari belakang
Seketika Ibu Leon mengerti, pria yang baru saja duduk di hadapannya memiliki maksud tersembunyi terutama karena jumlah sahan yang dimilikinya membuatnya khawatir dan cemas. Di lain sisi, dirinya juga merasa tidak asing dengan wajahnya seolah pernah bertemu dengannya sebelumnya.
Setelah kepergian Ray dari ruangan, pemilik saham yang lainnya juga ikut keluar. Sementara Ibu Leon kini menghubungi asisten ya untuk datang ke ruangan tersebut.
"Cari tahu pria itu. Semua yang berkaitan dengannya termasuk masa lalunya" Perintah Ibu Leon saat asistennya tiba di dekatnya
"Baik Bu" Balas asisten tersebut kemudian segera berjalan pergi keluar dari ruangan meninggalkan Ibu Leon yang kini memasang wajah khawatir karena tidak mengetahui maksud dari kedatangan tiba-tiba pria itu.
...***...
Mobil Ray melaju dengan cepat di jalan yang kini tampak lenggang, menuju ke kampus mengingat dirinya saat ini masih berstatus sebagai seorang dosen di Universitas X.
Dan lagi, Keyrani saat ini berada di kampus. Setelah berdebat di pagi hari karena Ray tidak setuju jika Keyrani berangkat bersama dengan Rian. Di sisi lain, dirinya harus menghadiri rapat. Sehingga dengan terpaksa dirinya membiarkan Keyrani bersama dengan Rian ke kampus.
Jhon yang saat ini mengemudi mobil hanya bisa terdiam melihat ekspresi kesal Ray dari cermin. Meski dalam hati dirinya benar-benar merasa lucu akan sikap bucin dari tuannya itu. Namun tidak bisa ia tunjukkan karena rasa takut seketika menghampiri dirinya.
Tak berselang lama, mobil yang dikendarai Jhon kini memasuki gerbang kampus dan berhenti di depan Gedung A yang merupakan Gedung khusus untuk para dosen.
Setelah mengambil beberapa dokumen yang berisi materi perkuliahannya di ruangan, Ray segera berjalan menuju ke kelas.
Tak butuh waktu lama bagi Ray untuk tiba di kelas mengingat dosen diberikan hak khusus untuk menggunakan Lift tidak seperti mahasiswa yang hanya bisa menggunakan tangga.
Melihat Ray masuk ke dalam kelas, para mahasiswa langsung memperbaiki posisi duduk masing-masing dan mengeluarkan buku meski tanpa perintah dari Ray.
Begitu pun dengan Keyrani yang saat ini duduk di tempatnya yang biasa, bersama dengan Rani yang mulai menyukai duduk di belakang karena terpengaruh oleh Keyrani.
"Aku kapan yah punya pacar ganteng, perhatian dan juga kaya kayak Pak Ray" Ujar Rani yang kini menopang dagunya dengan tangan sembari memperhatikan Ray yang saat ini sibuk menjelaskan di depan tanpa kehilangan karismanya
"Tapi posesif... " Timpal Keyrani menghela nafasnya karena sifat Ray yang sekarang semakin posesif khususnya setelah dirinya mengalami kecelakaan
"Justru bagus tau, punya pacar posesif kayak Pak Ray. Itu tandanya dia benar-benar sayang sama kamu. Bukan cuma sekedar omongan doang" Celetuk Rani tidak setuju dengan pola pikir Keyrani karena dirinya justru lebih memilih memiliki pacar posesif ketimbang pacar yang cuek
"Huuhh.. Kata orang yang belum pernah ngalamin" Balas Keyrani kemudian menopang dagunya dengan tangan kanan dan memperhatikan Ray
"Ihh.. Dibilangin juga" Imbuh Rani menyenggol tangan Keyrani membuat dagunya jatuh membentur meja dan...
"Yang dibelakang.. " Tegur Ray menatap ke arah keduanya yang kini menunjuk diri sendiri
"Eh.. I..iya Pak" Sahut Keyrani sembari menggigit bibir bawahnya kemudian menyenggol lengan Rani karena ulahnya tadi
"Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak mendengarkan materi saya?" Tanya Ray tegas
"Dengar kok Pak.. " Balas Keyrani cepat
"Kalau begitu ulang apa yang saya jelaskan tadi .. " Pinta Ray
Keyrani menepuk jidatnya sembari menundukkan kepalanya menatap ke arah Rani yang kini memalinkan wajahnya ke arah lain.
"Kok bisa aku punya pacar sama teman durhaka kek gini.. " Batin Keyrani merutuki dirinya
"Kenapa diam? Tidak bisa bukan. Kalau begitu datang ke ruangan saya sebentar" Pinta Ray masih dengan suara tegasnya
"Baik Pak" Balas Keyrani kemudian kembali duduk di kursi sembari memukul paha Rani karena geram
Sementara Rani hanya memutar bola matanya, karena sudah pasti Ray memanggil Keyrani ke ruangannya bukan untuk memberinya peringatan melainkan hadiah🤧