Dosenku Seorang Mafia

Dosenku Seorang Mafia
Penasaran


Setelah kepergian Ray, Keyrani masuk ke dalam rumahnya. Dan seperti biasa, saudara tirinya Devi akan dengan semangat mencari masalah lagi dengannya.


"Tadi siapa?" Tanya Devi penasaran dengan orang yang mengantar Keyrani


"Bukan urusan kamu" Jawab Keyrani masa bodoh dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya di lantai dua


"Pelit banget sih" Sinis Devi


"Kenapa? Mau kamu rebut lagi? Belum puas sama Leon? Atau karena dia selingkuhin kamu, makanya kamu buru-buru cari pengganti?" Lawan Keyrani


"Jaga omongan kamu" Tekan Devi melotot ke arah Keyrani


"Yang seharusnya jaga omongan itu kamu, berhenti bertingkah di depanku! Moodku rusak gara-gara kamu" Kesel Keyrani menatap tajam ke arah Devi sembari menunjuknya


Setelah itu, Keyrani berbalik dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi. Begitu pun dengan Devi yang memilih pergi sembari menghentakkan kakinya karena kesal.


...***...


Keesokan paginya, mobil sedan hitam milik Ray kini terparkir di depan rumah Keyrani. Dengan Ray yang masih di dalam mobil sembari memainkan ponselnya menunggu kedatangan Keyrani.


Tak berselang lama, pintu rumah terbuka memperlihatkan Keyrani dengan penampilan casualnya sembari menenteng tasnya. Sebuah tshirt berwarna putih dengan balutan jaket jeans serta celana jeans. Ditambah sepatu kets putih yang sering dipakainya.


Tanpa berlama-lama, Keyrani segera masuk ke dalam mobil sebelum yang punya mobil kesel setelah menunggunya hampir 30 menit karena Keyrani yang terlambat bangun.


Maklum saja karena tadi malam Keyrani menghabiskan waktunya semalaman begadang untuk menonton drama korea kesukaannya terutama karena bulan ini banyak drama-drama baru yang baru saja rilis misalnya saja Happines yang diperankan oleh dua aktor dan aktris favoritenya yakni Han Hyo Jo dan Park Hyung Sik. Judulnya sih Happines, tapi nggak ada happy-happynya sama sekali karena isinya zombie semua.


Oke Kita kembali ke laptop..


Setelah Keyrani masuk ke mobil, Ray segera menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Keyrani.


Selama di perjalanan keduanya hanya terdiam tanpa adanya pembicaraan. Hal ini membuat Keyrani tertidur mengingat semalam Ia begadang, mencoba memanfaatkan waktu walau hanya sebentar.


Tak berselang lama mobil yang dikendarai Ray kini memasuki parkiran khusus dosen di kampus.


"Key.. " Panggil Ray mencoba membangunkan Keyrani sembari menggoyang bahunya pelan


"Sudah sampai?" Tanya Keyrani membuka matanya yang kemudian diangguki oleh Ray "kalau begitu aku pergi dulu, Terima kasih tumpangannya" Ujar Keyrani berniat keluar dari mobil namun segera dicegat oleh Ray yang kini memegang lengannya membuat Keyrani menoleh ke arahnya


"Pulang kuliah kamu ada kegiatan?"


"Tidak ada. Kenapa? Mau mengajakku ke Mall lagi?" Tanya Keyrani iseng


"Bukankah kamu penasaran dengan wanita beruntung yang aku belikan kalung" Jawab Ray


"Hah? Kamu mendengarnya?" Kaget Keyrani karena ternyata Ray mendengar kata-katanya kemarin saat di toko perhiasan


Ray mengangguk mengiyakan pertanyaan Keyrani "Temani aku" Pinta Ray kemudian


"Imbalannya apa?"


"Terserah. Kamu bisa meminta apa pun" Jawab Ray tidak perduli


"Kalau begitu sepakat, soal imbalannya biar aku pikir-pikir dulu" Jawab Keyrani sembari menaikkan alisnya satu menggoda Ray dan segera pergi meninggalkan Ray sebelum ia terlambat masuk ke kelas


Selama pembelajaran berlangsung Keyrani tidak bisa fokus. Berbagai pertanyaan muncul di otaknya saat ini.


"Siapa wanita itu? Mengapa Ray memintaku menemaninya? Kalau Ia pacarnya bagaimana? Apakah aneh jika aku ikut dengannya? Apa aku tolak saja yah?" Batin Keyrani sembari mencoret-coret kertas yang ada di depannya dengan tangan menopang dagunya


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, meninggalkan Keyrani dengan berbagai pikiran yang ada otaknya. Beberapa mahasiswa mulai bangkit dari tempat duduknya karena sekarang merupakan jam istirahat.


Keyrani merapikan buku-bukunya dan berniat pergi ke kantin karena perutnya yang sedari tadi berbunyi menuntut hak. Dengan langkah terpaksa Keyrani berjalan menuju ke kantin seorang diri.


Sesampainya di kantin, Keyrani segera memesan bakso dengan teh manis sembari mengedarkan pandangannya mencari meja yang kosong.


"Terima kasih" Ujar Keyrani kemudian meraih nampan yang berisi pesanannya kemudian duduk di meja kosong yang berada di pojok


Bukannya Keyrani bersifat introvert. Hanya saja berbicara dan membahas masalah orang lain itu benar-benar sangat di benci Keyrani. Karena apa yang dilihat dan didengar belum tentu sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Terutama jika orang yang kita bahas mendengar kata-kata yang diucapkan, bisa berakibat fatal jika orang tersebut memahaminya dengan cara yang berbeda.


Intinya lidah seseorang dapat menjadi pedang paling tajam di dunia saat orang tersebut tidak menjaganya. Karena apa yang terucap dari lidah mencerminkan hati seseorang. Mengingat hati yang terluka karena ucapkan tidak mudah untuk menyembuhkannya meski tak berbekas sekalipun karena akan selalu terngiang baik di hati ataupun pikiran orang lain.


Yah.. Keyrani tidak terlalu perduli dan kembali fokus menyantap makanannya. Namun tiba-tiba teralihkan karena kedatangan Aaron yang kini duduk di depannya.


"Key.. " Panggilnya dengan senyum di wajahnya


"Hmm.. " Gumam Keyrani tidak perduli, melanjutkan kembali makannya


Aaron menghela nafasnya panjang "Cuek banget" Ujar Aaron berenggut sembari melipat tangannya di dada


"Kamu ngga punya teman yah?" Tanya Keyrani penasaran karena selalu diikuti Aaron


"Kan kamu teman Aku"


Keyrani menghela nafasnya tidak mengerti dengan sikap Aaron lagi "Yang lain?"


"Ada, tapi kalau sama mereka ngga seru. Soalnya pada bodoh amat apalagi Damar yang super dingin itu"


Keyrani mengerutkan dahinya semakin tidak mengerti karena seingatnya selama ini saat dia bersama dengan Aaron dia tidak pernah menanggapinya dengan serius. Jadi apa yang seru darinya hingga membuat Aaron melengket layaknya lem Korea?


"Terus sama Aku seru?"


"Hmm, gimana yah. Dibilang seru nggak juga. Dibilang ngga seru nggak juga. Nggak tahu, pokoknya suka aja kalau sama kamu"


"Haahhh.. Terserah kamu" Ujar Keyrani pasrah sembari memijit keningnya dengan kepolosan Aaron


Keyrani menenggak minumannya karena kini bakso yang dipesannya sudah habis "Aku selesai, duluan.." Ujar Keyrani kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan Aaron yang masih menyantap makanannya


Selama diperjalanan Keyrani sibuk menyetel musik di ponselnya. Kali ini bukan boyband EXO. Melainkan salah satu boyband baru yang baru saja merilis lagunya yakni Ateez dengan judul lagu Turbulance yang bisa dibilang sedikit melankolis dan benar-benar menyentuh karena makna dari lagunya sendiri  menceritakan tentang seseorang yang membutuhkan semangat dan dukungan dari orang lain.


🎶


Di ujung jalan ini, di mana kita seharusnya


Menjadi apa kita seharusnya, dalam bentuk apa pun


Aku sudah kewalahan, menjadi diri sendiri


Nyaris tidak ada yang mendengarkan


Bisakah seseorang memelukku


Di tempat seharusnya kita berada


Dan bisa menjadi apa saja


Dan aku


🎶


Dari lirik ini benar-benar sangat mencerminkan kehidupan Keyrani yang terasa kosong tanpa adanya seseorang yang mengulurkan tangan kearahnya. Bahkan orang terdekat nya perlahan tidak percaya dan menjauh darinya karena hasil dari buah bibir orang lain.


Tak berselang lama Keyrani tiba di dalam kelas dan segera menuju ke bangku paling ujung di belakang tempat biasanya dia duduk.


Sembari menunggu kedatangan dosen. Keyrani  menatap kearah luar jendela mengingat kelasnya berada di tingkat 4 sehingga membuatnya bisa dengan mudah melihat hampir ke seluruh kampus.


Keyrani menyipitkan matanya menatap lurus ke arah taman, memperhatikan seorang mahasiswa perempuan yang duduk sendiri sembari mengayungkan kakinya bergantian.


"Lisa? Mengapa dia duduk sendiri?" Heran Keyrani melihat Lisa yang dulu merupakan sahabat dekatnya duduk sendiri di taman karena seingatnya setiap kali Lisa mengalami kesulitan ia akan duduk merenung sendiri tanpa memberitahu orang lain di tempat yang sepi seperti yang dilakukannya saat ini


Namun karena tidak ingin terlalu memikirkannya, Keyrani kembali mengalihkan pandangannya karena dosen sudah memasuki kelas.