
Berkat siaran langsung yang dilakukannya terakhir kali. Banyak dari kalangan penonton yang tertarik dan bersemangat karena siaran langsung itu sedikit berbeda dari biasanya. Membuat Leon mendapat banyak komisi dari hasil siaran langsung tersebut.
Saat ini dirinya tengah berada di Dreams Casino. Sejak masuk ke dunia malam ini, Leon menjadi sering mengunjungi Casino tersebut. Hal ini jugalah yang membuat Ray mengakusisi casino tersebut.
Terakhir kali Leon mengalami kerugian 1 Milyar. Meski begitu, Leon tetap ingin mencoba peruntungannya hari ini dan kembali bermain karena komisi yang didapatkannya.
Kali ini Leon memainkan poker khususnya texas hold'em. Masing-masing chips kini diletakkan di sisi meja kedua belah pihak. Diikuti oleh dealer yang kini mulai membagikan kartu tanda permainan sudah dimulai.
Leon yang kini memegang dua kartu yang berbeda sesekali mendongakkan kepalanya memandangi ekspresi dari lawan. Mencoba sebisa mungkin mengendalikan raut wajah resahnya. Karena saat ini dealer akan segera membuka kartu terakhir yang ada di atas meja yang merupakan babak penentu dari menang atau kalahnya.
Setelah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak, sang dealer segera membuka kartu terakhir yang ada di atas meja. Membuat para pemain memasang wajah gelisah berharap kartu terakhir dapat memberikan kombinasi terbaik.
Tanpa berlama-lama lagi, sang dealer segera membuka kartu tersebut kemudian menghadapkannya keatas sebagi tanda permainan akan segera berakhir. Diikuti kedua pemain meletakkan kedua kartu mereka di atas meja, membiarkan sang dealer menentukan pemenang malam ini.
"Straight untuk Kalvin dan Three Of A Kind untuk Leon. Kalvin pemenangnya" Kata sang dealer dengan tangan mengarah kepada Kalvin yang saat ini bersorak karena kemenangannya
Leon berdecak kesal karena sekali lagi Ia mengalami kekalahan. Semua chips yang sedari tadi berada di pihaknya kini berpindah ke arah pihak lawan.
Setelah kekalahannya, Leon kembali ke meja bartender. Menuang bir ke dalam gelas dan meneguknya dengan kesal. Rahangnya mengeras dengan wajah yang perlahan memerah karena emosi.
Leon melampiaskan kekesalannya dengan minuman hingga tanpa sadar ia sudah menghabiskan 2 botol bir. Ia kemudian melangkah ke luar casino dalam keadaan linglung karena kehilangan keseimbangan. Beberapa kali, tubuhnya menabrak benda-benda yang dilaluinya dan bersandar pada dinding untuk membantunya berjalan.
Sesampainya di luar casino, dengan segera Leon memcoba menghentikan sebuah taksi meski dalam keadaan sempoyongan. Hingga kemudian sebuah taksi berhenti setelah melihat Leon melambikan tangannya.
"Ke jal..an mela..ti no.17 pak" Ujarnya sembari masuk ke dalam mobil
Taksi tersebut kemudian melaju menuju alamat yang disebutkan oleh Leon tadi. Melaju di jalan yang perlahan lenggang karena kini waktu audah menunjukkan pukul 12 malam.
Tak berselang lama, Taksi tersebut perlahan memasuki sebuah kompleks perumahan yang terlihat mewah dan besar. Dan berhenti di depan sebuah rumah.
Leon turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah dengan jalan sempoyongan gambaran seseorang yang tengah mabuk.
"Leon.. " tegur seorang wanita paruh bayag dari dalam rumah dan segera menghampiri Leon yang setengah sadar "Kamu mabuk lagi?" Ujarnya mencium aroma tubuh Leon yang beraroma khas alkohol
"Aku tidak mabuk, aku hanya meminum sedikit saja" Ujar Leon yang kemudian terjatuh di lantai karena linglung
"Bi.." panggil Ibu Leon pada pembantu di rumahnya sembari membantu Leon berdiri "bantu saya memapahnya naik" pinta Ibu Leon saat pembantu tersebut menghampirinya
Keduanya kemudian naik sembari memapah Leon ke lantai dua tempat kamar Leon berada. Dengan susah payah, keduanya tiba di kamar Leon kemudian membaringkannya di kasur membiarkannya terlelap karena sudah tidak mungkin lagi untuknya membersihkan dirinya.
...***...
Keesokan paginya Leon terbangun sembari memegangi kepalanya yang terasa begitu berat karena mabuknya semalam.
Leon keluar dari kamarnya dan turun menuju dapur. Membuka kulkas dan meraih air minum kemudian menenggaknya karena tenggorokannya yang terasa kering.
"Siapa kamu?" Tanya Leon menghampiri wanita tersebut
"Saya Siti anak Bi Eka" jawabnya dengan suara lembut
Leon mengusap dagunya dan menatap ke arah Siti yang masih terlihat muda dan polos. Sebuah rencana jahat terlintas di pikirannya. Kemudian perlahan mendekat kearahnya.
Tanpa meminta persetujuannya, Leon meraih dagu lancip gadis tersebut membuatnya sedikit kaget dan tidak berani menatap ke arah Leon sehingga ia menundukkan wajahnya.
Leon mengeratkan pegangannya dan mengangkat dagu gadis itu membuatnya menatap ke arahnya. Kedua matanya bergetar karena gugup sekaligus takut. Hingga sepersekian detik kemhdian Leon ******* bibir mungil miliknya dengan tangan yang perlahan menuju ke arah bokong gadis tersebut.
Gadis itu mencoba memberontak dengan mendorong dada Leon dan menolak ******* dari Leon namun apa daya kekuatannya tidak sebanding dengan Leon membuatnya mau tidak mau pasrah diperlakukan seperti itu.
Hingga tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh kedatangan Ibu Leon.
"LEON...!" Teriak Ibu Leon "Apa yang kamu lakukan?" Tanyanya dengan nada emosi
"Ma.." Ujar Leon kaget dan segera menjauh dari gadis tersebut "Mama salah paham. Dia.. dia yang merayuku duluan" tunjuk Leon berusaha melimpahkan kesalahan pada Siti
"Benar yang Leon katakan?"
"Ti..tidak Nyonya. A..ku tidak pernah merayu tuan" jawab gadis itu sedikit takut namun tetap mencoba membela diri sendiri
"Bohong Ma. Percaya pada Leon" kekeh Leon
Sementara itu, Bi Eka yang baru saja tiba segera menghampiri Siti yang kini mulai menangis "Ini ada apa nak?" Tanya Bi Eka memeluk Siti
"Bu..kan A..ku Bu" ujarnya sesunggukan dalam pelukan Bi Eka ibunya
"Berhenti berbohong, aku hanya mengambil air minum dan kamu tiba-tiba datang menggodaku" ujar Leon kekeh membela dirinya
Ibu Leon menghela nafasnya panjang. Memijit pelipisnya karena merasa pusing "pergilah" pinta Ibu Leon kepada Bi Eka dan anaknya. Yang kemudian keduanya segera beranjak meninggalkan dapur menuju ke ruangan bagian belakang rumah tersebut yang merupakan tempat khusus untuk Bi Eka.
"Dan kamu balik ke kamar, jangan berbuat yang tidak-tidak. Mama masih belum menegurmu karena mabuk semalam" pintanya kemudian kepada Leon. Dengan terpaksa Leon menuju ke kamarnya menuruti permintaan ibunya.
Sementara di sisi lain, Siti masih menangis dalam pelukan Ibunya berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ibu percaya sama aku kan? Aku tidak mungkin melakukan hal menjijikkan seperti itu"
"Iya Ibu percaya. Berhenti lah menangis" jawab Bi Eka mengusap air mata putrinya
"Lain kali kamu tidak boleh berada di dekat Leon. Menjauhlah sebisa mungkin dan jangan pernah tergoda oleh rayuannya. Paham?" Pinta Bi Eka yang kemudian di angguki oleh Siti yang masih sesunggukan karena menangis
Ini merupakan hari pertama Siti datang ke rumah tersebut karena ingin melanjutkan sekolahnya. Namun tanpa terduga, Ia justru dihadapkan pada seorang pria bre****k seperti Leon.