
Flash back.
Setelah ada ketegangan antara Anggia dan juga Sasa, lalu Anggia pergi bersama dengan Veli. Meninggalkan Sasa yang masih kesal padanya, dengan perasaan sangat kesal dan marah Sasa juga kembali ke ruangannya, rasa tidak terima atas apa yang sudah Anggia katakan padanya terus saja membuat jiwa iblisnya keluar. Setelah sampai di ruangannya Sasa mondar mandir tak jelas memikirkan sesuatu, hingga ide gila itu muncul di otaknya.
Kini Sasa sudah berada dalam mobilnya, ia ingin membuat Anggia keguguran dengan cara mencampurkan zat kimia pada minuman Anggia. Dan kini ia ingin memikirkan cara bagaimana bisa mencampurkan racun tersebut. Namun saat Sasa mengemudi ia melihat dari kejauhan Anggia yang berdiri di sisi jalanan, Sasa yakin Anggia akan menyebrang.
"Ngapain susah-susah, sekalian aja dia abis disini kan," gumam Sasa tersenyum bahagia, dengan mobil yang baru saja ia beli dengan yakin orang-orang tidak akan tau bila ia lah pelakunya.
"Selamat tinggal Anggia Tiffani," kata Sasa lagi di selingi tawa, dengan mulai menambah kecepatan mobilnya ia memang sudah mengarahkan mobilnya dari kejauhan untuk menabrak Anggia.
"Aaaaaaaa," teriak Anggia saat mobil akan mendekat padanya, sebab ia berdiri bukan di tengah jalanan melainkan di sisi jalanan. Jadi Anggia cukup kaget, namun Anggia merasa tubuhnya melayang seperti ada yang mendorongnya.
BBUUUK.
Mobil Sasa menabrak seorang pria yang menolong Anggia.
"Sial, kok bukan Anggia," gumam Sasa sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sebelum orang-orang di sana tau ia lah yang berencana ingin menghabisi Anggia.
Flash back of.
Anggia terduduk di jalanan dan melihat sekitarnya, hanya sedikit lecet pada bagian siku tangan, sebab saat terhempas ke jalanan ia melindungi perutnya dengan tangan. Veli yang juga panik dengan cepat berlari untuk menolong Anggia.
"Anggia, lu nggak papa," Veli memapah Anggia untuk berdiri, perasaan panik tak bisa di tutupi Veli. Veli menunduk dan memastikan jika tak ada yang harus di khawatirkan.
"Aku nggak papa tapi...." mata Anggia mengarah pada orang yang menolongnya, "Veli...itu Mas Brian," Anggia dengan cepat masuk di antara kerumunan orang yang melihat keadaan Brian di sana.
"Aran, Kok lu bengong bantu Brian cepetan," kata Veli sambil menarik lengan Aran.
"Ah...." Aran yang masih bingung mulai sadar, ia masih belum sadar hampir saja ia menjadi saksi saat Anggia tertabrak, namun ada Brian dengan cepat mendorong Anggia dari jalanan hingga istri Bilmar tersebut masih baik-baik saja.
"Aran cepat dong."
"Iya," Aran di bantu dengan beberapa pria lainnya dengan cepat mengangkat tubuh Brian membawanya masuk ke ruang IGD.
"Anggi, lu di sini aja ya," kata Veli sebab Anggia juga ingin masuk melihat keadaan Brian, bagaimana pun Brian sudah menolongnya.
"Tapi Vel," Anggia sangat takut bila Brian tak bernyawa lagi karena menolongnya.
"Lu duduk," Veli menuntun Anggia untuk duduk di kursi tunggu, "Aran lu telpon tuan Bilmar, gw harus liat keadaan Brian di dalam yang lagi di tanganin sama dokter," kata Veli menatap Aran yang berdiri di dekat keduanya.
Veli masuk ke ruang IGD melihat kondisi Brian, walau pun ia dokter kandungan tapi ia ingin memastikan Brian baik-baik saja. Veli memang sangat membenci Brian yang dulu selalu menyakiti sahabatnya, namun perasaan Veli mendadak luluh saat melihat Brian mengorbankan nyawanya demi Anggia.
Sementara Aran langsung menghubungi Bilmar untuk melihat Anggia yang masih merasa panik, sesuai dengan perintah Veli. Entah sadar atau tidak tapi Aran dan Veli mendadak kompak saat ini, bahkan kedua terlihat tanpa masalah. Tak ada penolakan Aran saat di perintah oleh Veli dan Veli pun tak mengajak Aran untuk bertengkar, kalau berbicara masalah gaya bicara Veli. Veli memang jutek dan itu sudah melekat pada dirinya, namun bukan berarti ia juga memiliki sipat yang tercela seperti gaya bicaranya itu.
"Anggi," Bilmar yang sedang meeiting, langsung menuju rumah sakit, saat Aran menghubunginya. Ia tak perduli dengan pekerjaannya yang sedang ia kerjakan yang ia takutkan saat ini istrinya juga nyawa bayinya, itu jauh lebih berharga dari pada nominal rupiah yang akan terbuang begitu saja.
"Abang, hiks....hiks..." Anggia dengan cepat memeluk Bilmar untuk menghilangkan ketakutannya saat ini.
"Tenang ya," Bilmar mengecup pucuk kepala Anggia.
"Tadi Anggi hampir di tabrak, tapi Mas Brian nolong Anggi," kata Anggia di sela-sela memeluk Bilmar.
"Brian nolong kamu?" Bilmar tak percaya bila Brian yang menolong Anggia, bahkan di otak Bilmar kini malah Brian yang membuat jebakan ini agar Anggia merasa berhutang budi padanya. Hingga kemudian ia bisa dekat dengan Anggia lalu bisa membuat Bilmar dan Anggia berpisah.
"Iya," kata Anggia menganggukan kepala, Bilmar melepas pelukannya pada Anggia sebab ia masih cukup terkejut.
"Terus sekarang dia di mana?" tanya Bilmar.
"Mas Brian lagi di tangani dokter," jawab Anggia.
"Kamu kok panik banget," tanya Bilmar sedikit kesal.
"Bini lu hampir kehilangan nyawanya dan juga nyawa anak yang di kandungnya, sadar nggak samaper tanyaan lo," kesal Aran yang ikut menyela pembicaraan pasangan suami istri itu, Aran masih ingat dengan jelas bagaimana kejadian tadi dan ia merasa wajar bila Anggia ketakutan. Walau pun Anggia seorang dokter, tapi sama saja Anggia juga manusia biasa yang punya perasaan bukan berarti seorang dokter itu harus kuat, dan tidak boleh cegeng bukan? Apa lagi dengan suaminya sendiri.
"Yaudah," Bilmar kembali menarik Anggia ke dalam pelukannya, "Abang tanya Anggi panik mikirin Brian atau karena kejadian tadi?" kata Bilmar lagi.
"Dua-duanya Oon!" jawab Aran lagi ia masih saja kesal, ia tau sepupunya itu kini tengah cemburu tapi untuk saat ini rasanya tak wajar bila Bilmar cemburu.
"Ck," Bilmar berdecak kesal menatap Aran yang ikut campur saat ia sedang berbicara pada Anggia.
"Tadi Anggi berdirinya nggak di tengah jalanan, terus Anggi juga udah lihat kanan dan kiri tapi mobil itu tetap maun nabrak Anggia yang di sisi jalan. Tapi Anggi nggak yakin mau nabrak gitu soalnya Anggi memang belum nyebrang, dan untuk ada Mas Brian nolong Anggia tapi malah dia yang jadi korban," kata Anggia menangis memeluk Bilmar semakin erat.
Ia masih saja tak bisa lupa dengan apa yang barusan ia alami, bahkan Anggia pun tak bisa menerima. Apa lagi kini Brian sedang di tangani dokter entah parah atau tidak keadaan Brian yang jelas Brian tadi sudah tak sadarkan diri dan mengeluarkan cukup banyak darah, dengan jelas darah Brian mengenai jas putis Anggia sebab tadi ia sempat memangku kepala Brian yang berdarah.
***
Jangan lupa VOTE.