
"Mas kita mampir di supermarket depan ya," pinta Veli yang duduk di samping Aran.
"Iya."
Aran memarkirkan mobilnya, dan keduanya turun dari mobil. Dengan Veli yang berjalan di depan Aran.
"Aran," terdengar suara seorang wanita yang menyebut nama Aran, wanita itu mendekat dan tersenyum manis.
Veli mengibaskan tangannya dan ia melengkah pergi meninggalkan Aran yang sedang berbincang dengan teman wanitanya, Veli terus memilih barang yang akan ia beli tanpa perduli pada sang suami yang terlihat terlibat perbincangan dengan asiknya. Saat Veli sedang memilih barang untuk ia beli ia bertemu dengan Daniel, yang udah baca novel Brian dan Sasa pasti tahu siapa Daniel.
"Dokter Velisya," sapa Daniel tersenyum ramah.
Veli yang mendengar namanya ada yang memangil langsung menatap asal suara tersebut, "Dokter, Daniel," Veli tersenyum ramah membalas sapaan Daniel, "Dokter, di sini bersama siapa?" tanya Veli lagi.
"Saya sendiri saja, dan anda bersama siapa?" tanya Daniel kembali, namun belum sempat Veli menjawab Aran yang dengan cepat menjawab pertanyaan Daniel. Dan entah sejak kapan ia ada di belakang Veli.
"Bersama saya," kata Aran menatap Daniel, siapa yang tak mengenal Aran. Begitu juga dengan Daniel.
"Tuan Aran," kata Dokter Daniel tersenyum ramah.
"Ya saya suaminya Veli, ada apa?" Aran bertanya dengan wajah datarnya, bahkan Veli sampai memutar bola mata dengan jenuh karena Aran langsung memberi tahu status mereka padahal Dokter Daniel sama sekali tak bertanya.
"Suami?" tanya Daniel, "Dokter Velisya, kapan anda menikah?" Dokter Daniel cukup kaget mendengar ucapan Aran, sebab setahunya Veli masih sendiri.
"Kemarin," jawab Aran dengan cepat, padahal Veli hendak menjawab. Tapi Aran sama sekali tak membiarkannya berbincang dengan Dokter Daniel, akhirnya Veli kesal dengan sikap Aran.
"Ouw," Dokter Daniel mengangguk mengerti, ia mengerti kini tentang Aran yang sedang cemburu. Padahal ia dan Veli tak ada hubungan spesial, hanya sebatas teman saja, "Mendadak sekali ya?" tanya Dokter Daniel.
"Urusan kami, bukan urusan anda!" jawab Aran dengan tegas.
"Mas apasih," Veli menyenggol Aran dengan kesal, karena Aran terlihat tak suka pada Daniel.
"Ok....saya permisi Dokter Velisya, dan tuan Aran," pamit Daniel.
"I....." belum sempat Veli menjawab Aran terlebih dahulu sudah memotongnya.
"Cepat pergi dari sini, sebelum saya paksa kau pergi dari dunia ini," jawab Aran.
Setelah kepergian Dokter Daniel, Veli menatap tajam Aran.
"Mas kenapasih, itu Dokter Daniel. Dia itu temen Veli," ucap Veli dengan kesal, dan meninggalkan Aran sambil mendorong troli.
"Kenapa kamu malah membela dia, suami kamu saya atau dia. Dan satu lagi. Saya tidak suka melihat kamu berbicara apalagi tersenyum kepada laki-laki selain saya," jawab Aran yang kini mensejajarkan diri dengan Veli.
Veli yang sedang memilih barang, sejenak menatap Aran, "Mas kenapasih, aneh banget. Masa iya nggak boleh ngomong sama laki-laki. Dokter Daniel itu temen Veli Mas, kami satu profesi," jawab Veli sambil melanjutkan kembali memilih camilan kesukaannya.
"Kalau gitu, Mas bakalan buat rumah sakit khusus buat perempuan saja. Mulai dari pasien, Dokter, perawat sampai Satpam semua perempuan. Tidak ada yang laki-laki," ucap Aran mengutarakan pendapatnya.
"Ahahahaha," Veli tak bisa menahan tawa saat mendengar apa yang di katakan Aran.
Sementara Aran malah tak bisa berpaling saat melihat senyum Veli yang begitu lepas, ia baru sadar ternyata Veli begitu manis saat tersenyum hingga matanya tak bisa berkedip sedikit pun. Mungkin karena saat bersama dulu kebiasaan keduanya selalu terlibat cekcok dan tak pernah akur, hingga Aran tak menyadari ternyata ada mahkluk yang begitu indah di dekatnya. Namum baru kini ia menyadari keindahan itu.
"Eh......." Aran tersadar dan sedikit salah tingkah, sebab ia mendadak bodoh saat melihat senyum Veli yang begitu lepas untuk pertama kalinya.
"Jangan bilang Mas lagi mikirin ide Mas tadi?" tabak Veli, ia berpikir Aran tengah membayangkan tentang rumah sakit yang akan ia bangun tapi dengan pasien dan semua petugasnya hanya perempuan saja.
Ya Allah ternyata cip**taan mu ini begitu indah, kenapa baru terlihat sekarang?....
Veli yang lagi-lagi melihat Aran mematung, mulai kesal, "Mas!" Veli menepuk pundak Aran.
"Ya....." Aran dengan cepat menormalkan kembali dirinya.
"Mas kenapasih, aneh banget banget deh. Nih bawain, bantuin istri," Veli memberikan troli yang ia dorong pada Aran.
Aran mengambil alih troli itu dengan cepat sambil menarik napas dengan dalam, ia mulai tersadar tenyata ia barusan mendadak bodoh hanya karena melihat senyuman Veli.
"Mas," Veli kembali kesal saat Aran hanya diam mematung di tempat sementara ia sudah berjalan cukup jauh.
"Iya....." Aran mendekati Veli yang hendak meletakan belanjaannya di troli.
"Mas kenapasih?" omel Veli sambil terus meletakan barang-barang yang sudah ia pilih di troli, "Mas mau beli apa, apa semua perlengkapan Mas ada?" tanya Veli.
"Perlengkapan?" tanya Aran bingung.
"He'um, deodorant mungkin atau apa biar Veli pilihin," kata Veli sebab ia sudah selesai berbelanja namun untuk Aran belum sama sekali.
"Mas nggak ngerti, biasanya yang beliin itu semua Marni. Asisten Mas," jawab Aran.
"O....yaudah....Mas mau tetap Asisten yang beliin apa Veli," tanya Veli tersenyum manja pada Aran.
"Hem.....,"Aran tersenyum dan merasa gemas dengan senyuman Veli, dengan cepat ia menarik Veli dan memeluknya.
"Aw......" Veli tersentak karena Aran yang tiba-tiba menariknya, perlahan Aran semakin mendekat Veli padanya dengan tangan kanan yang memegang pinggang Veli dan tangan kirinya memegang tengkuk Veli dengan tatapan yang termakan gairah. Saat pandangan Aran fokus pada bibir Veli tiba-tiba seorang karyawan menghampiri mereka.
"Tuan, Nyonya. Kalau mau berbuat mesum jangan di tempat seperti ini, apa lagi di bulan puasa begini!" kata Karyawan tersebut berusaha menegor Aran.
"Mesum?" Veli kesal tentu dengan ucapan karyawan tersebut, sebab ia pun terkejut dengan Aran yang tiba-tiba menariknya.
Aran yang dengan berat hati harus melepaskan Veli, kini beralih menatap karyawan tersebut dengan pandangan tajam. Saat Aran akan berbicara tiba-tiba seorang karyawan lainnya datang.
"Heh, biarin aja. Dia itu tuan Aran Rianda. Adik dari Bilmar Rianda pemilik supermarket ini," bisik seorang temannya pada teman yang berusaha menegor Aran dan Veli.
"Hah," karyawan yang menegor tersebut tercengang dan merasa takut, "Maaf tuan, silahkan di lanjutkan," kata Karyawan tersebut dan dengan cepat pergi dari hadapan Aran juga Veli karena takut mereka akan mendapat masalah.
"Sial!" Aran bergumam tak jelas karena kesal dengan dua karyawan yang merusak suasana hatinya, padahal hampir saja ia merasakan indahnya bibir sang istri.
***
Jangan lupa VOTE ya Kakak semuanya, bintang limanya juga. Makasih.