Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 97


Kini Anggia sudah berada di luar rumah sakit, sementara Brian baru saja sampai dan tanpa sengaja bertemu dengan Anggia dan Veli.


"Mas," Anggia menghentikan langkah Brian yang terlihat buru-buru.


"Anggia," Brian menghentikan langkahnya dan menatap Anggia yang berada di dekatnya, awalnya Brian tak menyadari tapi karena Anggia menyebut namanya ia kini dapat melihat mantan istrinya itu.


"Kok buru-buru?" tanya Anggia penasaran, teelihat juga wajah panik Bria.


"Iya, Ayah tadi di bawa ke sini, karena serangan jantung," kata Brian, sejanak ia melihat Veli yang tak suka menatapnya, "Saya ke dalam dulu ya," pamit Brian dengan cepat sebab ia sudah sangat khawatir pada Pasha.


"Ya Mas," jawab Anggia.


"Pigi aja sono," gumam Veli.


"Veli kamu apasih," Anggia menyenggol lengan Veli dengan sedikit kesal.


"Caelah, mantan di belain," kata Veli dengan jenuh.


"Heh....gw doa in lu jodoh ma dia ya, kalau lu begini terus," kata Anggia yang malah membuat Veli kesal.


"Ogah, amit-amit," Veli melihat sekitarnya yang terlihat sepi dan ia berbisik pada Anggia, "Dokter Farhan gw mah yes," Veli tersenyum mengingat bertapa tampannya dokter bedah itu.


"Udah ah..." Anggia menarik tangan Veli agar segera berjalan kembali, ia sudah sangat haus dan kalau terus mendengarkan Veli yang terus membicarakan dokter Farhan. Maka sampai besok pun tidak akan ada habisnya.


"Anggi itu," tulunjuk Veli menunjuk orang yang ia maksud, "Bebeb Farhan gw ganteng parah," Veli menutup mata seolah saat ini dokter Farhan tengah tersenyum padanya.


"Halo," sapa dokter Farhan.


"Abis dari mana Dok?" tanya Veli dengan perasaan berbunga-bunga, dan kini raut wajahnya justru seperti bunga layu yang di siram air seketika segar kembali.


"Saya baru sampai di rumah sakit ini," jawab dokter Farhan, sambil memperlihatkan tas kerjanya pada Veli, "Nanti kita ketemu lagi ya, saya harus segera masuk," kata dokter Farhan.


"Dokter mau ketemu saya nanti?" tanya Veli dengan bahagia dan seperti tak percaya.


"Iya, di tempat biasa ok..." kata dokter Farhan sebelum benar-benar pergi meninggalkan Veli dan Anggia.


"Ok," sejenak Veli diam, namun tiga detik kemudian ia bersorak kegirangan, "Wuuw," teriak Veli sambil bergoyang-goyang.


"Veli, malu di lihat banyak orang," Anggia memeluk Veli agar tak bergoyang lagi, sambil melihat sekitar mereka yang melihat mereka dengan aneh.


"Eh," Veli membetulkan kaca mata yang ia pakai, "Untung gw ketemu ayang bebeb gw lagi cantik, kaca mata keren gw lagi.....kebetulan gw pakai," kata Veli yang lagi-lagi hanya bisa membuat Anggia geleng-geleng.


"Udah ayo, kapan aku makan eskrimnya kalau begini?" kesal Anggia.


"Eskrim si Bilmar juga lu sering makan kan!"


"Mulut lo," kesal Anggia mengetuk kepala Veli, "Aku berdoa banget ya Vel, semoga suami kamu nanti bisa buat kamu berubah lebih baik tau nggak," tutur Anggia lagi sambil keduanya menyebrang jalanan.


Kini Anggia dan Veli sampai di mini market, keduanya langsung mencari sesuatu yang sebelumnya mereka bicarakan, apa lagi kalau bukan eskrim. Setelah keduanya selesai dengan membeli eskri dan menghabiskan eskrim mereka masing-masing, kini keduanya kembali ke rumah sakit untuk menyebrang.


"Veli," kata Aran yang baru saja datang.


"Saya kemari mau ngaterin ponsel kamu ni," Kata Aran memberikan ponsel Veli yang ia pegang.


"Wah, bener nih, pantesan gw nyariin satu lagi ponsel gw di mana nyata ketinggalan di mobil lo," Veli tersenyum bahagia mendapat ponselnya kembali.


"Emang kamu punya ponsel berapa?" tanya Aran penasaran, ia baru tau ternyata Veli punya ponsel lebih dari satu.


"Tiga lah."


"Banyak banget," Aran kaget mengetahui Veli banyak memiliki ponsel.


"Emang napa?Bukan urusan lo," ketus Veli hendak pergi meninggalkan Aran, namun Aran malah memegang lengan Veli agar tak pergi begitu saja.


"Bilang makasih kek gitu," kesal Aran, tadinya ia berniat ingin bisa berteman baik dengan Veli mungkin setelah ia mengantarkan ponsel Veli yang terjatuh di mobilnya. Tapi justru itu tidak berpengaruh sedikit pada keadaan yang lebih baik.


Padahal tadinya Aran sudah tersenyum bahagia membayangkan, jikalau misinya akan segera berhasil. Misi membuat Veli jatuh hati padanya lalu ia akan bertepuk tangan karena berhasil membuat Veli patah hati setelah ia hempaskan, itulah tujuan Aran saat ini.


"Ngapain bilang makasih sama lo, tadi pagi aja lu udah bertingkah semaunya ama gw, lu bahkan tanpa seijin gw maksa buat ikut lu ke perusahaan. Jangan-jangan ini juga lu mau modus atau jangan-jangan lu suka ya sama gw," telunjuk Veli mengarah pada wajah Aran, dengan wajah menyelidik.


"Apa sih," Aran menepis tangan Veli yang ada di dekat wajahnya dengan kesal, niat hati ingin membuat Veli yang ia buat di permalukan, tapi ternyata Veli sudah terlebih dahulu membuatnya merasakan malu.


"Kalau ia juga bilang dong, gw tau gw emang cantik banyak yang ngantri juga buat jadi pacar gw. Tapi sorry bro.....lu bukan tipe gw," kata Veli lagi dengan sombongnya


"Wah lu bener-bener ya," Aran tak tau bagaimana caranya berhadapan dengan wanita yang super pede di hadapannyanya ini, ia justru seperti di buat kebingungan sendiri bahkan tadi di depan Aran sendiri, Veli mengatakan jika ia bukan selera Veli.


"Apa?" Veli berjinjit dan berkacak pinggang, tak ada rasa syukur atau pun ucapan terima kasih karena sudah di kembalikan ponselnya, tapi justru kekesalan yang ia tunjukan pada Aran.


"Lu manusia paling aneh yang pernah aku temuin tau nggak, tau gini...mending gw pecahin aja tu ponsel dari pada balikin ke lu," kata Aran yang tak mampu lagi menahan kesalnya.


"Gw nggak minta lu buat balikin ponsel gw, gw lebih milih, ponsel ilang dari pada lu yang balikin," kesal Veli.


"Wah lu....." Aran menatap Veli dengan mengepalkan tanggannya.


Anggia merasa kesal ia ingin pergi dan menyebrang jalanan percuma saja berada di antara Aran dan Veli, ia hanya akan menjadi wasit di antara pertandingan tinju yang akan di mulai.


Anggia berdiri di sisi jalanan ia melihat, dengan baik sebelum menyebrang jalanan, namun anehnya satu mobil yang melintas di jalanan itu terlihat mengarah padanya.


"Aaaaaaaaaa," teriak Anggia.


BBUUK.


Suara mobil yang menabak itu.


"Anggia......." teriak Veli histeris.


***


Jangan lupa VOTE makasih.